ROSETA

ROSETA
Kejutan



Langit sore begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya yang penuh kelabu dan mendung, semburat warna orange yang indah membuat Roseta semangat untuk mendapatkan keberuntungan baik.


Roseta begitu tegang, mengusap peluh di kening sebelum berkonsentrasi lagi untuk memasukkan bola ke hole yang ada di depannya. 


Untuk pertama kalinya, Roseta berhasil memasukkan bola semenjak beberapa hari menekuni bidang olahraga sederhana ini. Ia sangat senang meski enggan mengakui kepada Theo yang sejak pertama Roseta tahu begitu sombong karena sudah jago.


Apakah Roseta tidak bekerja?


Jawabannya, iya.


Itulah fakta yang sekarang ia jalani.


Biarkan kakaknya Jack yang mengurus segalanya, yang terpenting otak Roseta masih masih bisa dipakai untuk mengawasi dari rumah, memberi masukkan jika Jack kesusahan, dan memberi solusi untuk masalah yang tidak bisa Jack atasi sendiri.


Bukan perkara pengecut, namun Roseta butuh ketenangan.


Masih perkara keributan rumah tangga yang viral tanpa bisa menyusut dengan cepat. Roseta enggan menampakkan diri di depan umum, apalagi diperhatikan banyak orang, jelas tidak mau. Makanya, disinilah keseharian Roseta, olahraga untuk menghabiskan tenaga.


Bola menggelinding pelan, setelah Roseta memukul dan berhasil masuk ke hole.


"Selamat nyonya, sudah berhasil masuk untuk pertama kalinya." Ujar caddy girl yang sedari awal membimbing Roseta sampai tahap ini. 


Roseta merasakan kembang api di atas kepalanya karena terlalu bahagia. Melihat bolanya yang mulus meluncur, Roseta sedikit menarik bibirnya, sangat sedikit dan samar.


"Kalau mau tersenyum, ya tersenyum saja, nggak usah ditahan-tahan."


Euugh.


Bibir Roseta datar kembali. Selain Theo menyebalkan dan selalu sombong untuk urusan olahraga ini, Roseta masih dongkol akibat ajakan nikah yang ia proposalkan semenjak awal tidak digubris atau sekedarnya dianggap serius oleh pria itu.


Sebenarnya Theo cinta tidak sih dengan dirinya? Kalau tidak pergi saja sana.


Roseta menoleh.


Brengsek.


Kenapa Theo tampan sekali saat wajahnya ditempa semburat orange dari langit yang indah, sial, Roseta ingin mengumpat, wajah yang diawal terlihat tampan bertambah berkali-kali lipat. Rose jadi ingin.


Tidak jadi.


"Aku tidak ingin tersenyum, aku biasa saja."


"Kamu berhasil melakukannya, selamat." Puji Theo tak menggubris raut kecut dari Roseta.


Roseta mendesis. Tentu saja bisa. Semenjak Theo sibuk dengan urusannya sendiri, bersama orang-orang yang tidak dikenal Roseta dan beberapa orang misterius yang datang dan hilang tanpa Roseta tahu sehingga wanita itu leluasa belajar olahraga dengan giat, untuk mengalahkan Theo.


Roseta menatap sekeliling, tadi ia melihat Jordan dan Saga dengan raut muram menghampiri Theo, dan sekarang dua pria itu sudah pergi bersama Martinus dan Jay, Roseta melihat empat pria berjalan menjauh, sekelebat dari punggungnya saja Roseta bisa tahu.


"Papa dan Jay kenapa kesini?"


Roseta berada di Resort Diamond, sejak pagi, usut punya usut, Saga dan Jordan menginap ditempat ini. Theo yang datang bersama Roseta untuk bermain golf dihadang oleh Jordan, mengatakan jika perlu dengan calon suaminya itu.


"Meeting, sebentar."


"Lalu, kak Saga dan Jordan?"


"Mereka 'kan bekerja untukku sayang."


Pipi Roseta memerah. Huh. Tidak bisa dibiarkan. "Pipiku merah karena udaranya panas."


Padahal Theo tidak sebegitu memperhatikan pipi Roseta, dan fakta yang sesungguhnya adalah saat ini angin bersemilir sedikit dingin, jauh dari kata panas. 


Theo ingin tertawa tapi harus ditahan sekuat tenaga. "Iya sayang, yasudah ayo istirahat dulu."


Sialan Theo.


Theo yang sadar akhirnya memanggil caddy girl untuk menunjukkan skor yang diperoleh Roseta hari ini beserta skor Theo yang diperoleh kemaren. 


Dua lembar kertas dikuasai oleh Roseta, cara membacanya rumit dan Roseta tidak paham dengan isinya, sembari menaruh bokong pada rumput, fokus Roseta hanya pada angka di akhir yang menunjukkan score final, ditemani Theo di samping kanan.


Theo hanya melihat Roseta yang berkonsentrasi tanpa mau merusuhi. 


Mata Roseta berbinar, menoleh ke arah Theo dengan senyum begitu lebar. "Skorku lebih banyak, aku yang menang."


Jika peryataan itu disampaikan dengan biasa saja, maka jawabannya salah, Roseta sangat antusias hingga tidak sadar menc**m bibir Theo singkat.


"Ups. Nggak sengaja. Tapi aku jamin kamu suka."


Tanpa merasa berdosa atau sedikit saja memahami bahwasanya Theo terkena serangan jantung akibat ulahnya, Roseta justru kembali fokus dengan kertas yang ia pegang.


Namun bukan Theo namanya jika berdrama dengan menjaga image seperti remaja muda yang baru saja pacaran, pria itu justru mengelus pucuk rambut Roseta. "Iya, skor kamu lebih besar."


"Aku menang bukan?"


Theo tersenyum dan mengangguk.


Roseta masih tidak menyangka jika dirinya bisa mengalahkan Theo hanya dalam latihan beberapa hari. Roseta bukan ahli dalam bidang olahraga apapun selama ini, yang ia tekuni hanya bela diri, dan kemampuan tangannya hanya ia gunakan di meja operasi.


Mengingat meja operasi, perasaan sedih muncul kembali, tapi sebisa mungkin Roseta menepis jauh-jauh agar usaha yang ia bangun untuk bangkit dari keterpurukan membuahkan hasil, ia harus bahagia, ia harus menepati janjinya, kepada Yura.


Untuk menikahi Theo.


Tentu saja ancaman Roseta saat ditaman bunga mawar bukan bualan semata, wanita itu serius, berkali-kali lipat serius. Siapa suruh Yura memercikkan api lagi, Roseta sudah memperingati, jadi inilah yang harus Yura dapati, Roseta tidak akan melepaskan Theo lagi, tidak akan pernah.


"Aku senang." Roseta tersenyum sangat lebar, ia tidak perduli dengan wajah konyolnya yang saat ini benar-benar ditayap dalam oleh Theo.


"Karena menang?"


"Apa Yura sudah bunuh diri? Hari ini berapa kali dia mengancammu lagi?"


Theo masih sangat ingat, jika Roseta ini suka sekali mengalihkan topik pembicaraan sampai beberapa kali dalam satu obrolan, terkadang membicarakan hal menyenangkan, mengungkit masa lalu dan, ya, tiba-tiba menanyakan wanita itu. 


"Aku akan memblokir nomornya."


"Jangan, jangan sampai, awas." Ancam Roseta dengan mata melotot, jika ia pikir Theo takut, jawabannya salah, justru Roseta terlihat menggemaskan.


Theo tersenyum. Kalau saja Roseta tidak menghalangi, sumpah demi kesetiaan, Theo pasti sudah membuang jauh apapun hal yang berkaitan dengan Yura.


Tempo hari ancaman Yura hanyalah omongan semata, hanya untuk menarik simpati Theo saja. Jadi, Theo yang sudah tahu betul tabiat wanita gila itu, dengan percaya diri tanpa takut ancaman Theo menjadi kenyataan, Theo meninggalkan rumah yang dulu ditempatinya selama bertahun-tahun.


Namun bukan tenang, Yura lebih memilih untuk meneror Theo lewat pesan, atau panggilan telepon berulang-ulang. 


"Aku ingin Yura pergi ke psikolog." Tatapan nanar ditunjukkan oleh Roseta.


Roseta tahu jika tidak ada manusia yang benar-benar jahat di dunia ini. Keterpurukan Yura akibat buta akan cintanya, sedari awal melakukan hal curang dan berakhir mengenaskan. Yura butuh seseorang juga, namun jika Mark yang disodorkan, maka keadaan akan semakin sulit karena pria itu berada dipenjara.


Roseta sudah memaafkan, dan bersimpatik dengan dalam. Roseta yakin Yura mengalami depresi berat. Setiap orang punya tekanan yang berbeda-beda, pun penyelesaian masalah yang tak sama. Roseta pernah mengalami hal terpuruk, dan semua orang tahu. Tapi Roseta bisa mengendalikan diri, demi buah hati, tidak sampai benar-benar mengakhiri hidup ataupun mengusik kebahagiaan orang lain untuk mencari keadilan.


Sedangkan Yura?


Roseta sangat yakin jika Yura butuh bantuan.


"Jangan perdulikan dia." Theo berusaha agar Roseta tidak telalu perduli, wanita seperti Yura sudah harus dibuang jauh-jauh.


"Aku memperdulikan Rahel, Theo. Atau Rahel ikut kita saja jika Yura memang tidak normal."


Tepat saat Roseta mengakhiri kalimatnya, kepala Theo semakin memberat, pusing.