
"Hai," sapanya dengan raut datar.
Pria yang baru saja terbangun di atas bangsal rumah sakit itu sedikit meringis merasakan kepalanya yang pening. Namun saat setelah mendengar nada sapaan yang seharusnya terdengar ramah ditelinga; Theo menoleh pada sang penyapa yang sudah berdiri di samping kanannya dengan melipat tangan di bawah dada.
Lidah Theo kelu, bahkan mulutnya hanya mampu ternganga, menutup, lalu ternganga lagi, lalu menutup lagi, matanya kesusahan untuk fokus, tangannya berusaha menepuk kedua pipi, ini bukan mimpi, begitulah ia meyakinkan dirinya jika yang dilihatnya bukan hanya yang mampu ia bayangkan selama ini.
"Hai, Dad, senang bertemu denganmu, perkenalkan, namaku Braga. Putramu, kembaran Bryna."
Sekali lagi. Braga mengatakan dengan sangat teramat datar, bahkan adat mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan tidak ia lakukan. Mungkin memang Braga tidak ada minat, walaupun ia sendiri tahu jika jantungnya berdetak tak karuan menahan kerinduan.
Jujur, Braga ingin memeluk ayahnya yang masih ternganga lebar setelah pengakuan mendadak yang ia lakukan.
"Bra…Braga. Boleh Daddy memelukmu." Pinta Theo seketika itu.
Theo sampai melepas infus dengan paksa, yang ia rasakan hanya pening di kepala, ia tidak lemas ataupun tak mampu untuk menopang tubuhnya, jadi buat apa benda sialan itu menancap di pembuluh darahnya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan putranya, meskipun saat ini juga sudah terlambat untuk mengatakan itu semua.
Braga berjalan mundur saat Theo mencoba mendekatinya. Hatinya masih sakit, ingin sekali Braga menerima Theo untuk merengkuh tubuhnya, ingin sekali, tapi entah kenapa bagian dari dirinya menarik kebelakang untuk memulai sebuah penolakan.
Braga menggeleng. "Aku membencimu, Dad."
"Daddy tahu, Daddy tahu kamu membenci Daddy. Daddy harus bagaimana. Katakan, Son. Daddy harus melakukan apa?"
Braga menggantungkan air mata yang masih menumpuk di pelupuknya. Ia hanya bocah kecil kurang kasih sayang, ia berwatak keras seperti Theo yang sayangnya sudah terbentuk sejak dini, trauma ditinggalkan seorang ayah membekas dan sulit untuk dilupakan, terlebih ia tahu jika Theo bersama keluarga yang seharusnya bukanlah tanggung jawabnya.
"Is there no way to turn back time?" Braga mati-matian menegaskan nada bicaranya, mati-matian juga agar parau yang menggantung di tenggorokan tidak lancang untuk keluar.
**. “Apa tidak ada cara untuk memutar kembali waktu?”*
Petanyaan konyol, iya itu adalah pertanyaan konyol, jika saja bisa, Theo akan dengan sangat senang melakukan itu semua. Bahkan, jika memang bisa memutar waktu, Theo akan kembali di hari saat ia bertemu pertama kali dengan Yura, Theo tidak akan pernah menjalin persahabatan dengan orang yang telah menghancurkan hidupnya. Atau bahkan, Theo meminta agar tidak terlahir didunia karena hadirnya dia membuat banyak orang menderita.
"No, Dad, you can't do that!"
**. “Tidak, Dad, kau tidak bisa melakukannya.”*
"Bra...."
"Aku membencimu, Dad. Sungguh." Tangan Braga mengepal.
"Maafka......"
Theo membenci dirinya sendiri karena saat ini tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk menenangkan Braga yang sudah dirubung amarah saja tidak bisa, bagaimana Theo menjadi orang sepengecut itu. Bahkan saat Braga mengatakan hinaan, Theo tidak berhak merasa marah, ia pun juga merasa tidak pantas untuk tersinggung. Itu adalah kebenaran. Kebenaran yang memalukan.
"Daddy mohon...." tidak disangaka, Theo berlutut menyamakan tingginya dengan Braga, meminta belas kasihan, menjatuhkan harga dirinya, ia tidak perduli, apa arti harga diri jika yang dimintai adalah anaknya sendiri. "Apapun, yang membuat kamu lega, apapun, Daddy akan melakukannya."
"Termasuk meninggalkan Mommy, meninggalkan Bryna? Daddy mau menuruti permintaanku soal ini?"
Bahkan Braga membalik bertanya spontan tanpa berpikir panjang. Theo yang mendengar seperti di ambang kematian, maju jatuh mundur pun jatuh. Apa jadinya hidup tanpa mereka semua. Theo tidak bisa, bahkan terlalu sulit untuk bertahan selama ini. Alasan Theo mempertahankan hidup dulunya karena ia menganggap Rahel adalah anaknya sendiri. Namun setelah tahu jika itu adalah kesalahan besar, Theo menjadi sadar dan beralih mempertahankan hidup demi orang-orang yang memang patut untuk dipertanggung jawabkan.
"Apa Daddy boleh menolak, Son? Tidak ada pilihan lain?" untuk menjawab pertanyaan Braga pun Theo masih mencoba untuk bernegoisasi, sungguh pria itu tidak rela kehilangan Roseta beserta anak-anaknya lagi.
"Daddy tidak bisa kehilangan kalian lagi. Daddy mohon." Imbuh Theo lagi, ia tidak malu karena saat ini satu titik air mata sudah jatuh di pipinya.
Harga diri tidak ada lagi. Sangat terlambat untuk mengagungkan ego untuk kepentingan yang tidak begitu berarti. Theo sangat sadar, Braga lebih sulit daripada Roseta untuk dihadapi.
Braga tersenyum. Tidak tahu apa yang dipikirkan bocah cilik itu, mungkin sangat senang melihat ayahnya yang frustasi. Theo tahu betul, bahkan matanya begitu jelas melihat Braga yang mengangkat kedua sudut bibirnya, namun hatinya tidak tenang karena belum mendapatkan jawaban.
"Braga tidak bodoh, Dad. Mana mungkin Braga membiarkan Bryna menangis karena kehilangan Daddy nya. Tapi bukan berarti Braga sudah memaafkan Daddy ya. Daddy harus mendapatkan balasan yang setimpal dari Braga."
Langsung saja Theo tergesa menarik Braga dalam pelukan. Masa bodoh dengan Braga yang saat ini memberontak mencoba menolak. Bahkan kekuatan bocah itu tak sebanding dengan Theo yang sudah mengungkung tubuh kecilnya dalam dekapan, meskipun Braga berusaha keras untuk lepas, namun hatinya memberontak agar jangan lepas dari pelukan ayahnya, ego Braga sangat tinggi ternyata.
"Terimakasih, Son. Balas semaumu, sampai kamu puas, bunuh Daddy juga tidak apa-apa." Theo mendekap erat Braga sudah tenang.
Braga tersenyum di balik pelukan Theo, lantas berkata, "No, Bryna akan menangis nantinya, Braga tidak mau di benci seumur hidup meskipun Braga sangat ingin menembak kepala Daddy seperti yang dikatakan Om Saga."
"APA?" Theo melepaskan pelukannya.
Braga memeragakan dengan tangan kanannya, membidik tepat di depan kepala Theo. "Fyu. Dor. Begitu, pas dikepala Daddy." ungkapnya tanpa ragu dan ringan.
Theo lantas melotot, tangannya mengepal erat. Ia bersumpah akan memukul kepala Saga. Ia berjanji untuk itu. Meskipun kesalnya menumpuk pada Saga, lantas Theo tak pernah bisa membenci.
Theo tidak mau dulu memikirkan Saga. Ia melanjutkan untuk menarik Braga lagi dalam pelukan. Kali ini Braga pasrah. Tidak apa-apa pikirnya, tapi lain kali Braga tidak akan mau. Jika Bryna tidak apa-apa karena dia seorang perempuan yang wajar saja bersikap manja, tapi jika itu Braga, pasti akan sangat memalukan jika disaksikan banyak orang, untung saja disini hanya mereka berdua.
"Oma sebentar lagi datang." Braga bersuara membuat jantung Theo terasa ingin berhenti saat ini juga.
"Daddy tahu." jawaban Theo yang lugas membuat Braga membolakan mata, terkejut.