
*"Uncle*, ayo sini coba, nanti Bryna ajarin, beneran nggak akan jatoh. Katanya uncle jago dalam segala hal!!!"
Jordan ingin mengumpat. Boleh tidak mengirim Bryna ke planet luar angkasa agar dijadikan bahan percobaan Hades untuk penelitian gadis langka.
Bagaimana tidak.
Jordan merutuk seharian penuh menghadapai putri dari temannya yang punya segudang keberanian menantang adrenaline. Bukan itu saja, otak bahkan diperas habis-habisan untuk meladeni ocehan kelewat berat yang praktis membuat Jordan pening tujuh keliling.
"Bryna, bagaimana kalau kita istirahat dulu. Bermain basket cukup melelahkan. Uncle sudah tua."
*Bryna memincing. "Diih," cibirnya, "Uncle* masih sangat muda tau. Nggak usah bohong. Uncle takut 'kan." tuduhnya diakhir.
Jordan meradang dengan muka merah matang. Untuk urusan bermain basket, pria lajang itu lulus seratus persen melawan Bryna. Tapi, ayolah, skateboard bukanlah keahlianya Jordan. Bahkan seujung kukunya saja tidak pernah menyentuh bahan tipis dengan roda menempel dibawahnya itu. Kurang kerjaan.
"Bagaimana kalau Bryna ajak saja pria-pria itu." Jordan menawari sembari mengarahkan telunjuknya kepada beberapa pria yang berdiri dengan earpiece terpasang lengkap, sekaligus kaca mata hitam membingkai mata mereka.
"Bryna nggak mau. Serem. Kenapa sih mereka ngikutin kita uncle?"
Yang dikatakan Bryna jujur. Penampakan mereka memang dingin, angkuh dengan dilengkapi postur tubuh yang gagah namun cenderung besar dan tinggi. Bryna sampai merinding tiap kali melihat.
"Mereka bodyguard."
*"Bryna nggak bodoh ya uncle*. Bryna tahu itu bodyguard. Tapi kenapa ngikutin Bryna tiap hari. Risih."
*Untuk informasi ini memang Theo sendiri yang turun langsung untuk menugasi Jordan dan beberapa bodyguard* untuk mengawasi Bryna beserta Roseta juga. Jordan jadi bingung bagaimana cara menjelaskannya. Tidak mungkin juga memberi informasi bahwa nyawa sedang terancam hingga menggunakan bodyguard sebagai jasa perlindungan, bisa jadi Bryna tidak merasa aman melainkan ketakutan.
Jordan juga sangat dongkol dengan Theo. Bagaimana bisa peretas handal seperti dirinya beralih peran menjadi bodyguard putrinya, namun juga masih diberi beban menggali informasi tambahan, otak Jordan seakan bisa meledak kapan saja, mungkin bom waktu sudah bersarang dikepalanya.
"Ayo, ajari uncle." putus Jordan, tidak mau menjawab rasa penasaran Bryna.
Jordan juga heran. Bodyguard yang ia bawa sudah beberapa hari bahkan melewati satu minggu mengawasi Bryna. Kenapa gadis itu baru mempertanyakannya hari ini. Apa baru sadar. Tapi tidak juga. Bahkan barusan Bryna mengatakan kalau risih diikuti setiap hari.
"Apa nyawa Bryna terancam, uncle?"
Jordan terkesiap. "Hah. Tidak. Ayo, katanya nantangin, uncle berani."
*"Uncle*. Bryna bukan gadis piyik bodoh. Bisakah uncle kasih informasi ke Bryna?"
Bom waktu yang baru saja meledak dikepala Jordan menyadarkan pria itu bahwasana gadis yang berada di depannya sembari memakai helm perlindungan itu adalah gadis cerdik dengan otak encer. Jordan jadi punya ide cemerlang.
"Robert Anderson." gumam Jordan. Ia berharap Bryna tidak mendengar, tapi juga berharap Bryna mendengar.
Membingungkan.
Bryna membinarkan matanya. "Uncel tampan kesukaan Bryna." Serunya.
*Jordan tercenung. Oh God*. Uncle tampan memang perumpamaan yang tidak bisa disangkal. Tapi respon Bryna terlihat begitu keterlaluan, bahkan pria yang diberi gelar kesukaan oleh gadis itu adalah orang yang bisa membahayakan nyawanya.
"Uncle mengenalnya?" pertanyaan Bryna menunjukan rasa penasaran yang begitu tinggi. Aura yang sangat berbeda seperti saat gadis itu memaksanya untuk bermain skateboard yang bisa saja membuat Jordan jatuh tak karuan. Masih lebih baik pistol saja yang dijadikan mainan.
*Jordan berjongkok menyamakan tinggi dengan Bryna. Ingin berbicara secara intensive* dan mendalam. Jordan menggeleng sebelum menjawab, "Tidak, bisakah Bryna ceritakan pada uncle."
Sorot mata Jordan mengundang kekaguman bagi Bryna. Baru pertama kalinya gadis itu melihat sosok Jordan yang begitu menawan dengan obrolan yang menekankan keseriusan. Bryna sangat suka dengan hal yang berbau berat, karena hidupnya sedari dulu sudah dihinggapi dengan problema yang rumit.
Entah seperti terhipnotis oleh Jordan, Bryna dengan senang hati mengangguk dan duduk di pinggir lapangan basket tengah kota dengan Jordan yang sudah duduk disampingnya.
Jordan mengambil bola basket yang disodorkan Bryna. "Uncle lihat deh. Itu ada tulisan timbul 'Robert', yang khusus dihadiahkan buat Bryna dan kak Braga."
Tiba-tiba mata Bryna buram setelah menyebut nama Braga. Seakan sekuat tenaga menahan air mata yang akan jatuh, Bryna menghembuskan napas berat.
*"Jay daddy sangat jarang pulang kerumah, Bryna tahu kok, Jay Dad bukan ayah kandung Bryna melainkan pria yang baik hati yang mau merawat Bryna. Jadi Bryna tidak pernah marah saat seminggu bahkan seminggu lebih Jay daddy* tidak pulang. Selain urusan pekerjaan, Jay daddy pasti punya kehidupan sendiri."
Bryna benar-benar berusaha untuk menghalau segala cairan yang menggantung dimatanya. Jordan tidak bodoh saat mendengar penuturan Bryna dengan nada parau, secara tidak langsung pria itu menggorek luka yang baru saja ia sadari belum sembuh benar.
Gadis nakal ini kenapa begitu mengagumkan, dewasa juga. Jangan sampai Jordan jatuh cinta.
Bryna mencoba untuk tersenyum. "Entah hari apa Bryna lupa. Hari itu Bryna dan kak Braga tahu tentang Theo daddy, istri Theo daddy, princess Theo daddy. Bryna menangis dipelukan kak Braga. Tepat dibawah ring lapangan bola basket samping sekolah. Saat itulah, Robert uncle datang dengan menimpuk kepala kak Braga. Katanya laki-laki itu tidak boleh menangis." Lalu Bryna tertawa pelan mengingat kejadian itu. "Kak Braga marah karena Robert uncle mengganggu hari paling menyedihkan untuk kami. Hari bersejarah yang harus kami lupakan tepatnya kapan. Kami tidak mau mengingat. Kita pasrah karena ini memang urusan orang tua. Hanya saja kak Braga pernah bersumpah akan meninju Theo daddy dengan bogemnya. Wuuuuz." gadis itu pun mempraktekkan jurus meninju menjurus ke udara.
"Tapi sayang sekali, kak Braga tidak berumur panjang." Bryna tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Hei, gadis pintar, jangan menangis." Jordan menengangkan, tangan imutnya mengusap pipi Bryna dengan kasih.
*"Baru pertama uncle* memujiku. Kemaren kemana saja. Issh." raut itu merajuk lucu.
"Bryna akan melanjutkan. Jadi, Robert uncle adalah pria yang mengajari kami bermain basket sampai hebat. Hingga kak Braga meninggal, saat itulah uncle tidak muncul lagi dihadapan Bryna. Seberapa lamapun Bryna menunggu dilapangan basket tempat dimana kami berlatih bersama, Robert uncle tidak lagi datang. Bryna sempat kesepian."
Jordan mengangguk. "Jadi hanya sebatas pelatih basket?"
"Teman juga. Robert uncle sangat baik."
Keheningan tampak merenggut waktu mereka. Hingga Bryna menoleh ke arah Jordan yang merenung memandang langit sore. Entah apa yang dipikirkan uncle tampan itu. Ah. Bryna kenapa memuji. Nampaknya Bryna sangat suka dengan pria tampan. Masih piyik juga.
*Tidak ada yang pernah tahu dengan perasaan manusia. Begitu juga dengan Bryna. First* impression; terhadap Jordan buruk dekali, karena pria itu sering mengomel, Bryna merasa seperti ada Swan versi dua, tapi setelah hari ini, ia melihat Jordan dengan sosok yang berbeda. Bryna bukanlah orang yang gampang mengambil kesimpulan, namun apa yang ia yakini dengan dadakan sudah dipertimbangkan. Gadis itu punya feeling yang tak bisa di ganggu gugat.
"Uncle sudah punya kekasih?"
Jordan sontak menoleh, menjitak kening Bryna pelan. "Siapa yang mengajarimu membahas hal seperti itu?"
Bryna memutar bola matanya. "Oh ayolah, uncle sangat kuno, aku sudah gadis ngomong-ngomong. Swan sering melamarku, tapi aku tolak mentah-mentah."
Jordan melongo, "Usiamu belum mencapai jumlah jari tangan, Bryna, jangan biasakan membicarakan yang berbau dewasa, belum waktunya, kau harus belajar dengan rajin, bermain sampai lelah, explore pengetahuan sampai penuh di kepala, kau harus jadi gadis hebat."
Benar bukan. Jordan adalah pria cerewet, tapi anehnya Bryna suka. Braga perihal menasehati persis seperti Jordan. Bryna jadi rindu kakaknya. "Bryna rindu kak Braga."
Jordan sebenarnya masih ingin mengoceh perihal Bryna yang terlewat mengerti ***** bengek urusan orang dewasa. Namun ia urungkan karena pernyataan kerinduan kelewat menyedihkan yang keluar dari mulut Bryna membuat ia patah hati. Sakit membayangkan apa saja yang dilalui gadis itu semenjak teman bajingannya tidak punya akal. Tiba-tiba Jordan ingin sekali memukul Bryna.
*"Bryna juga rindu daddy*, baru saja sehari daddy pergi."
Semalam Bryna berpamit kepada putrinya jika ada hal mendesak yang mengharuskan ia pergi ke Negara S. Hal itu di iyakan oleh Bryna asalkan pulang membawa skateboard baru.
"Ayahmu memang selalu sibuk."
"Bryna tahu."
Jordan tersenyum. "Kau menyayanginya?"
"Lebih dari apapun, Bryna tahu, daddy memang bersalah, meninggalkan mommy, meninggalkan Bryna dan kak Braga. Tapi daddy punya alasan, punya hal yang tidak dapat ia selesaikan sendirian. Sekarang sudah membaik meskipun sedikit terlambat. Tidak ada yang perlu di sesali. Mommy pun juga sudah memaafkan daddy." jawab Bryna spontan.
Oh my goodness. Kenapa Theo bajingan itu punya putri sepintar ini. Jordan yakin seratus persen jika Roseta lah yang dominan menurunkan segala sifat baik, kecerdasan, dan bagian Bryna yang tengil dan suka membuat ulah itu menurun dari Theo.