
Senandung lirih dari bibir berwarna cherry itu terlihat biasa-biasa saja, bahkan kakinya terlalu sibuk untuk menata adonan di atas meja. Jangan lupakan juga tepung yang berserakan beserta alat-alat yang sudah tak berwujud rupa.
Roseta bisa juga dikatakan gila, atau mungkin tidak, tapi satu fakta setelah dirinya hampir dilecehkan tak bisa membuatnya lantas bisa bersikap layaknya orang bahagia. Tapi lihat, wanita itu masih bisa menyempatkan diri membuat kue manis dengan tiga penonton yang sedari tadi duduk mengamati dirinya.
"Sarah. Sahabatmu itu kenapa sih tidak bisa jujur?"
"Itu juga sahabatmu, Liliana. Aku juga tidak mengerti. Tapi seharusnya kita juga paham jika keras kepalanya itu melebihi tempurung besi."
Roseta dengan jelas mendengar percakapan Liliana dan Sarah yang sama sekali tak jauh dari jangkauannya. Pun Roseta juga sangat tahu jika kedua sahabatnya itu sedang menyindir dirinya.
"Roseta Kau mau begini terus? Keadaanmu sedang tidak baik-baik saja. Apa sih susahnya jujur sama kita?"
Kali ini Matia yang semenjak dari Negara A sudah menaruh gondok di dadanya akibat Roseta yang tanpa lelah berpura-pura angkat bicara.
"Aku baik-baik saja." Saut Roseta tanpa berbalik badan masih sibuk dengan adonan.
Maria semakin tidak terima. Kepalanya pusing, sungguh wanita itu tidak berbohong. "Sarah, Liliana. Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya aku harus turun tangan."
Seharusnya disini Roseta tersanjung dengan keinginan Matia untuk turun tangan. Biasanya memang seperti itu jika wanita itu sedang marah.
"Jangan lakukan apapun. Percayalah, aku baik-baik saja." Tapi Roseta tetap dengan pendiriannya.
"Mana bisa. Aku tahu itu pasti ulah Yura, aku akan membuat perhitungan, kau sangat lambat!" Kali ini Sarah menimpali setelah menaruh ponsel dengan kasar di meja.
Sarah baru saja melihat masih banyak komentar jahat di media masa mengenai sahabatnya. Terlebih para ibu-ibu beristri korban perselingkuhan para suami hidung belang, yang total praktis meluapkan amarah dengan perkataan yang tak pantas untuk dibaca.
Keterlaluan.
"Dan akan ada korban setelah kau menghancurkan Yura!" Kali ini Roseta menaruh celemek cokelat sembarangan setelah terlepas dari tubuhnya.
Roseta bahkan sudah membahas ini saat enam jam lebih di dalam private jet perjalanan dari Negara A-Negara I bersama Theo, pun Maria juga sebenarnya ada disana juga, bedanya wanita itu tertidur pulas akibat kelelahan. Disaat habis hampir dilecehkan, Roseta tetap tak bisa berbuat apa-apa selain pulang meski sudah tengah malam dan merecoki Maria untuk ikut dengannya.
(Kau tidak usah berbuat apa-apa, kali ini akan aku selesaikan dengan tanganku sendiri. Ini pasti ulah Yura juga.)
Theo bahkan ngotot akan memenjarakan Yura yang praktis membuat Roseta talak menolak.
"Disini korbannya hanya kamu, Roseta. Apa kamu lupa apa yang dilakukan Yura sudah keterlaluan." Liliana yang sedari tadi diam-diam mengamati juga sedikit kesal dengan pemikiran Roseta yang kolot.
Korban?
Apa-apaan?
Roseta menaruh tangan dibawah dada setelah sesaat mengela napas berat, haruskah ia katakan pada teman-temannya tentang segala kecamuk yang sudah lama ia pendam. Ada dilema memanjang yang tak ada habisnya, yang total membuat Roseta tak bisa berbuat banyak dan hanya diam selagi tidak terjadi apa-apa dengan anak-anaknya.
"Rahel." Roseta menjeda, memandang satu-persatu ketiga temannya. "Yura dipenjara, lalu Rahel hidup dengan siapa? Mark? Pria yang baru dikenalnya sebagai ayahnya? Saat ini kita tidak tahu apa yang terjadi pada bocah itu tanpa Theo."
"Mark?" Sarah terpekik. Pasalnya wanita itu sedikit tahu dan juga tidak tahu jika Rahel ada kaitannya dengan Mark. "Apa Mark senior Theo? Seniorku dikampus juga?"
Tak hanya Sarah. Mark dan Liliana yang tak tahu menahu juga dibuat penasaran, lantas hanya menyimak.
Roseta mengangguk. "Ya, Mark senior Theo. Mantan kekasih Yura dan dia ayah biologis Rahel."
"Jadi..." Liliana Cengo.
Dengan anggukan cepat Roseta menjawab. "Ya. Itu kenyataannya. Theo yang mengatakan padaku."
Maria masih tetap tidak terima. "Bryna dan Braga juga pernah merasakan hal yang sama. Ditinggal ayah mereka. Apa kamu lupa fakta menyakitkan itu Roseta?"
"Maria. Semua tidak sesederhana itu. Bryna dan Braga punya aku, punya kamu, punya Jay. Bahkan mereka tumbuh dengan baik meski membohongiku dan menyimpan sedih mereka karena tahu keadaan yang sebenarnya. Kamu juga amat paham dengan mereka. Bahkan bisa dikatakan aku lebih lemah dan tidak dewasa. Mereka menjejal masa sulit dan dapat malalui dengan mudah. Memaafkan Theo tanpa pandang bulus meski tahu ayahnya itu keterlaluan. Sedangkan aku, merasa orang paling nelangsa di dunia."
"Tapi, Roseta, sem..." ucapan Maria terpotong.
Roseta memajukan langkah. "Akar masalah dari masalah sebenarnya adalah aku. Coba aku jujur sedari awal. Tapi aku justru meratapi nasib dan menghilang dari semua orang. Aku egois tidak memperjuangkan apa yang harus Bryna dan Braga dapatkan. Harusnya aku lebih tegas sejak delapan tahun yang lalu. Aku marah, aku marah pada diriku sendiri."
Semua diam. Tak ada yang bisa menyaut selain merenungi perkataan Roseta yang panjang.
"Tapi Bryna dan Braga masih beruntung. Coba bandingkan dengan Rahel. Apa kalian pikir aku tidak memikirkan gadis itu? Apa aku setega itu membiarkan dia kehilangan ibunya. Oke. Aku tahu Yura sudah keterlaluan. Aku bisa bertahan meskipun di permainkan. Tapi jika itu Rahel. Jujur hati nuraniku terusik. Mungkin aku tak akan bisa tidur nyenyak seumur hidupku."
Dengan begitu Roseta mengakhiri perbincangan yang sudah membuat mulutnya berbusa.
Oh sungguh. Pagi ini Roseta sangat ingin membuat kue untuk diberikan kepada Bryna dan Braga setelah pulang sekolah nanti. Niatnya mengobrol santai di teras belakang dan mendengarkan cerita Braga mengenai sekolah barunya.
Tampaknya Roseta mengurungkan niat dan masuk ke kamar meninggalkan ke tiga temannya yang masih diam.
...****************...
"Kalian belum pulang? Sudah hampir siang?" Mata itu melirik jam di dinding sembari menuruni tangga.
Roseta keluar kamar setelah mendekam satu jam. Pemandangan yang ia lihat tetap sama. Ketiga temannya yang masih betah duduk di sofa.
Astaga.
Mau apa lagi coba?
Roseta cukup kaget saat sepagi tadi para wanita yang hari ini menjadi pengangguran itu merecoki paginya. Bahkan mendesak Roseta untuk memikirlan masalahnya.
Hello.
Roseta tidak akan lupa dengan masalahnya. Ia wanita normal yang juga terusik hatinya saat dirinya yang tak salah diperbincangkan se penjuru Negara.
"Kau mau kemana?" Sarah yang tampak syok melihat penampilan Roseta yang tak lebih seperti perampok jalanan lantas bertanya.
"Keluar." Jawab Roseta singkat.
"Jangan keluar. Kita menemanimu dirumah. Diluar berbahaya."
Roseta memutar bola matanya meski makhluk lain di ruangan ini jelas tak bisa melihat oleh sebab bingkai dengan kaca hitam itu menutup bagus sebagai penunjang penampilan.
"Tidak kalian, kak Jack, Jay, semuanya, melarangku keluar. Aku penat."
Liliana menggebrak meja. "Photomu bersama Theo sewaktu SMA tersebar luas, hingga pertanyaan siapa suamimu sebenarnya sampai kamu bisa menjadi selingkuhan Theo. Keterlaluan."
Sarah yang tak kalah terkejut lantas menemukan ponselnya di atas sofa. "Sudah banyak yang berkomentar."
Sudah jelas bukan jika status Roseta dipertanyakan. Roseta sedari awal bukanlah wanita terkenal. Jadi sudah praktis semua dikulik saat kasus kontroversial itu menyangkut Theo yang notabennya adalah pria kaya raya dengan kehidupan rumah tangga sebelumnya.
Predikai Roseta meleset jauh. Jika sebelumnya Roseta sangat aman karena ia adalah konglomerat yang pasti orang dengan kelas yang sama tidak perduli dengan kehidupan pribadinya, yang dibicarakan hanya bisnis dan uang saja.
(Jangan bicara kepada media, biar aku yang mengurus.)
Perkataan Theo terlintas lagi di kepala. Keadaan ini tidak pernah sekalipun ada di bayangan Roseta. Terlibat sekandal yang harus menghancurkan namanya. Sampai media membahas pula. Roseta merasa seperti selebritis yang patut dibicarakan oleh semua kalangan.
"Aku akan berterimakasih pada Yura telah membuatku seterkenal ini. Aku pergi dulu, dan aku tidak perduli dengan berita apapun."
Sikap setenang air telaga dengan hati yang bergemuruh muak sangat bertolak belakang. Tapi bagaimana. Roseta harus memasang topeng kuat layaknya Wonder Woman. Enak saja. Kali ini Roseta tak boleh jatuh.
...****************...
Roseta tak jauh-jauh amat pergi dari kediamannya. Kemana lagi tempat paling aman jika bukan taman bunga mawar buatan Theo. Ia duduk di kursi, sendirian.
Kostum serba hitam, masker ditambah kaca mata yang memang pantas disebut oleh Sarah seperti perampok jalanan, tapi nyatanya mampu membuat Roseta nyaman dari tatapan.
Tidak.
Masih ada yang mengamatinya. Mungkin memang terlihat aneh. Karena cuaca sangat terik. Roseta pasti gerah sendiri.
Oke. Roseta mengakui akar masalah photo tersebar adalah karena kecerobohannya mencium Theo di tempat terbuka, tahu begitu di kamar kan lebih aman.
Roseta menggeleng cepat setelah ingat itu. Terlebih hal paling membuatnya resah adalah tatapan Theo saat merangkum tubuhnya di malam emosional. Roseta masih kecewa.
Roseta lelah dikata-katai sepanjang hari. Tidak di dunia maya, bahkan teman-temannya juga tak berhenti memperhatikan. Meski Roseta tahu jika perhatian temannya adalah tanda kasih sayang. Tapi tolong beri Roseta jeda untuk sedikit memikirkan.
Tapi lebih daripada itu, Roseta saat ini dihadapkan masalah yang baru saja muncul dan berdiri tepat di depannya.
Yura. Wanita gila itu menemuinya. Sendirian.
Roseta tahu wanita licik di depannya ini sakit mental. Jadi, daripada membuatnya mendekam di penjara dengan mengorbankan Rahel yang praktis bakalan kehilangan ibunya, bukankah membuatnya lebih menderita secara batin akan lebih menyenangkan.
Call it fate.
Bahkan saat Roseta sangat ingin sekali memukul Yura dalam angan-angannya, wanita itu muncul di depannya. Bukankah takdir sudah menjawab.
"Hai Roseta.”
Anehnya. Wanita dengan mental bermasalah itu menyapanya tanpa beban rasa bersalah. Oh, Roseta lupa, penyakit mental memang begitu cara bekerjanya.
Satu lagi, Roseta menutup seluruh badan, bahkan Bucket Hat hitam model vintage menutupi kepalanya. Yura sangat jeli atau jika Roseta tidak salah menebak, wanita itu sudah menjadi stalker dadakan.
"To put it bluntly, Yura, why would I do that?"
Tidak mau basa-basi untuk membalas sapaan, Roseta lebih memilih to the point, dengan berbicara tanpa mau memandang. Yura berjalan dalam tempo lamban beserta mendudukkan diri tepat di samping Roseta.
"Karena aku merasa Theo masih suamiku. Semua orang akan tetap menganggap seperti itu."
Sakit mental.
"Benarkah? Tapi semua orang juga tahu jika Theo sekarang adalah kekasihku. Aku menciumnya tepat disana." Roseta membidikkan jemari lentiknya tepat di depannya, dimana ia berdiri bersama Thei saat pangutannya waktu itu. "Terimakasih sudah membuatku terkenal." imbuhnya.
Yura mengangkat sebelah bibirnya berlanjut dengan tawa yang sedikit hambar. "Dan kau bangga dengan itu semua?"
Roseta paham yang dimaksud Yura. Bangga menjadi perusak rumah tangga orang.
Roseta tak gentar. "Tapi satu fakta yang tak bisa kau abaikan, Yura. Kenyataan jika Theo sangat senang saat melakukan itu denganku. Bahkan kau saja sampai memaksa dengan cara yang luar biasa menjijikkan. Jujur aku bangga."
Roseta total telah menjatuhkan harga dirinya. Biar saja, memang tujuannya menyulut api dalam diri Yura. Satu kenyataan yang tak bisa dilupakan adalah; bahwa Theo adalah satu-satunya pria yang dapat melemahkan keduanya, Roseta dan Yura.
Sangat hebat sekali ya Theo itu.
"Ya jujur saja. Aku tak pernah melakukan hal murahan seperti yang kau banggakan, Roseta."
Roseta muak. Tapi mencoba tetap tenang.
Sabar. Sabar. Sabar.
"Lalu bagaimana dengan jebakan konyol di bar milik Kiano. Melucuti diri seperti tak punya harga diri. Mungkin semua orang tahu jika kau adalah istri sempurna. Tapi jantung Theo berkata lain saat detakannya cepat ketika bersamaku saja. Apa aku salah bicara?"
Roseta tidak pernah merebut pria milik orang. Tapi saat ini ia tahu begini rasanya meski ia tak ada niat lagi untuk bersama Theo. Wajah merah padam milik Yura membuat Roseta merasa seperti orang jahat.
Tapi Roseta puas.
Yura berdiri dengan tergesa. Ingin menyudahi semua karena tak bisa menyangkal apa-apa. "Nikmati setatus barumu." Ucapnya tenang meski kepalan tangannya menguat.
Roseta mendengar jadi geli sendiri. Status pelakor maksudnya. Roseta dengan sangat berat menikmatinya saat ini.
"Oh iya. Jangan diulangi lagi, karena itu percuma, lihat aku baik-baik saja. Tapi jika kau tak mau berhenti, aku benar-benar akan menikahi Theo. Aku bersumpah."
Roseta sebenarnya sangat ingin sekali Yura tahu jika Bryna adalah hasil dari pergelutan panasnya dengan Theo, biar Yura tahu bedanya kenyataan dan khayalan. Apa tidak capek bermimpi terus-terusan.
Tapi, ia tidak bisa menyeret anak-anaknya dalam masalah ini, mereka tidak boleh terlibat.
Apalagi Braga. Bocah laki-laki itu masih belum boleh tersorot kamera jika saja Theo mengakui kebenaran. Foltrees masih berbahaya, itulah yang dikatakan Theo.
Yura tanpa menoleh lagi meninggalkan Roseta dengan langkah lebar dan cepat. Roseta yakin wanita itu sakit hati begitu dalam.
Roseta tidak ahli melemparkan bumerang dengan dalih balas dendam. Meski sedikit ini saja mungkin sudah bisa memperparah mental yang terlanjur rusak milik Yura.