
Apapun itu jika sudah menjadi bangkai maka akan mengeluarkan bau yang teramat busuk. Bayangkan jika hidup dengan bangkai dalam satu radar yang sama, mungkinkah akan bertahan dengan sengatan yang menyekatkan penciuman, atau bisakah menahan tampang menjijikannya?
Matheo Ranu Pandega menganggap Yura tak lebih dari hewan yang telah membusuk dengan lalat mengerubung di sekelilingnya, mungkin lebih pantas juga dibuang untuk dijadikan makanan hewan karnivora atau omnivora yang lebih membutuhkan.
Namun, anggapan hanyalah anggapan saja jika itu adalah Theo, ia tidak akan pernah memperlakukan Yura sebagai hewan. Theo masih punya akal dan hati nurani juga. Memilih angkat kaki dari rumah megah ini daripada repot-repot menyeret Yura untuk dibuang ke jalanan.
"Theo, kamu bercanda 'kan? Ini salah Theo! Kenapa!" protes Yura sembari meronta seperti orang gila.
Theo melipat tangan dibawah dada, menatap lurus Yura yang tengah bergetar dengan tangan kanan memegang selembar kertas. "Sejak kapan aku suka bercanda Yura!!”
Yura mendekat dengan melangkahkan kaki ke depan disaat itu juga Thei bergerak untuk mundur menghindar.
"Jangan mendekat!" larang Theo. Tangan pria itu pun melambung ke udara untuk memperingatkan.
Yura sontak berhenti. "Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku. Tapi kenapa justru menceraikanku?" tanyanya.
Theo sempat membuang muka mendengar pertanyaan yang mungkin tak pantas untuk dijawab. Sedetik kemudin tawa pria itu meledak mengingat CCTV yang menunjukkan perlakuan menjijikkan Yura di bar delapan tahun yang lalu yang dengan senonohnya mencium dan menelanj**ginya. Bahkan untuk mengungkapkan kebenaran saja rasanya kelu dilidahnya, terlalu kotor untuk terucapkan dengan kata-kata.
Yura bahkan sampai terjingkat, melihat Theo yang tertawa seperti itu, lebih menyeramkan daripada Theo yang terdiam tanpa kata. Masih sangat terpatri jelas di kepala Yura saat Theo dulu pernah menunjukkan perangai mengerikan yang persis sama seperti ini, saat Roseta kekasihnya berhianat padanya.
"Theo…."
"DIAM," kelakar Theo keras.
Theo membentak bagai raja hutan yang mengaung, suara menggelegarnya pun bahkan sampai menghentikan para pekerja pengangkut barang yang akan memindahkan seluruh barang pribadi milik pria miliarder itu.
"Rahel bukan anakku, sialan, kau menjebakku Yura." sungut Theo penuh penekanan di setiap katanya.
Nyali Yura kontan menciut, memandang Theo yang terkerubung rasa amarah dan kecewa seakan menandakan jika dirinya sudah dalam bahaya, kedok yang dibangun dengan susah payah hancur dalam sekejab mata. Tapi Yura tidak mau menyerah begitu saja, Theo tetap harus menjadi miliknya.
"Tidak, Rahel anakmu, anak kita, Theo. Kamu jangan sembarangan bicara, bagaimana bisa kamu menganggap Rahel bukan anakmu," tampik Yura dengan kepercayaan diri yang luar biasa.
Theo bertambah murka, matanya memerah menyulutkan amarah. Apa yang dilakaukan Yura? Wanita itu subgguh tidak tahu malu. "TUTUP MULUTMU, YURA," bentaknya.
Beruntung Rahel tidak ada di rumah, bagaimana jadinya jika gadis kecil itu mendengar orang tuanya saling berteriak, bisa merusak mental.
Sepagi tadi saja Rahel merengek pada Theo untuk mengantarkannya ke Sekolah. Pria itu tak tega, lantas menyempatkan waktu untuk menuruti permintaan putri yang ternyata bukan anaknya.
"Theo. Aku mohon padamu, tolong dengarkan aku dulu, kau salah pah-,"
"Baca," perintah Theo setelah melempar kertas dalam map tepat di depan kaki Yura.
Yura mangambil kertas masih dengan gemetarnya, wanita itu sesegukan. Theo dapat melihat Yura yang perlahan membuka map dengan berisikan ketidak cocokan DNA Theo dengan Rahel. Yura menahan napas sebelum seuntai kalimat pembelaan terujar kembali dari mulutnya.
"Rumah Sakit mungkin salah, ayo kita tes lagi," pinta Yura. Wanita itu mengucapkan setenang mungkin, tipikal pembohong ulung pikir Theo.
Jika saja, Theo masih bodoh, mungkin dirinya akan menuruti usulan wanita sialan itu. Tapi ia sudah kembali, akalnya yang sakit sudah sembuh. Mau di tes sampai seribu kalipun hasil DNA Theo dengan Rahel pun juga akan sama, karena pada kenyataannya Theo dan Yura memang tidak pernah bersenggama bersama.
Theo sempat menutup mata bersamaan itu menekankan napasnya. Yura tidak main-main untuk mempertahankan Theo agar tetap berada si sisinya, dan itu semakin membuat Theo murka. Sebenarnya Theo ingin menunjukkan CCTV yang menjadi bukti autentik, namun sekali lagi, rekaman itu sangatlah menjijikkan.
"Yura. Berhenti untuk mengelak. Masih banyak bukti lagi yang tidak akan oernah bisa menolongmu, dan aku memounyai itu semu. Mari bertemu di pengadilan," Rasanya akan percuma jika terus melanjutkan obrolan yang tidak akan ada habisnya, dan itu menjadi kalimat terakhir dari Theo untuk didengarkan Yura.
"Bagaimana dengan Rahel? Kau tega meninggalkannya?" tanya Yura. Wanita itu mencoba menekan titik kelemahan Theo.
Jika dulu, sebelum Theo tahu kebenaran, pria itu bersumpah Rahel adalah satu-satunya yang mampu membuatnya bertahan. Ada sedikit beban untuk menghilangkan kecintaan Theo pada gadis yang sudah hidup delapan tahun dengannya, tidak semudah itu untuk lupa. Namun saat ini ada gadis lain yang harus Theo perjuangkan, dan itu mutlak menjadi tujuan utamanya, Bryna Samanta putri kandungnya.
"Bawa dia kepada ayahnya!"
"KAU AYAHNYA RAHEL MATHEO," Sepertinya Yura memang benar-benar gila.
Tangan Theo mengepal kuat. Yura tetap tidak mau mengalah dan tetap mengelak. Ia kecewa, teramat kecewa sampai menyesal telah percaya kepada wanita yang dulunya adalah sahabatnya.
Yura telah menghancurkan hidup Theo sampai sebegininya. Tidak tahukan wanita itu jika Theo telah mengabaikan putrinya sendiri akibat ulah gilanya? Tidak tahukan Yura bahwa Theo juga kehilangan putranya yang sudah kembali ke pangkuan Tuhan?
Theo mendekatkan tubuhnya untuk berjarak lebih minim di depan Yura. Sorot matanya menggambarkan kekecewaan, kesediahan, kesakitan yang tidak dapat lagi diukur dengan bilangan. Ia teramat hancur sampai berkeping-keping, Theo sampai tak mampu untuk memaafkan Zara sebagai manusia.
"Aku adalah ayah dari putriku dan putraku sendiri. Jangan harap aku sudi menjadi ayah dari anakmu.” Sedetik kemudian Theo melangkah untuk berlalu dari rumahnya.
Yura tertunduk sepeninggalan Theo. Masih mencerna apa yang dimaksud dari putri dan putra yang keluar dari mulut pria yang menggugat cerai dirinya. Jujur Yura tidak tahu menahu soal itu. Kenyataan apa yang telah bersembunyi selama ini yang tak mampu terendus darinya.
Yura tidak akan tinggal diam. wanita itu mendongak menatap punggung Theo yang hampir dilahap pintu, senyum iblis terpatri jelas diramunnya, dan berbagai rencana sudah tersusun dengan cepat di otaknya.
"Aku tidak akan kehilangan kamu Theo, tunggu aku, aku pasti akan mendapatkan kamu kembali, dengan cara apapun."