
Bel berbunyi, tepat pukul sepuluh pagi. Selama hidup, Braga tidak pernah merasa bahagia luar biasa setelah mendengar lonceng tanda istirahat seperti yang baru saja terjadi. Sebab, kurang lebih dari 30 menit yang lalu, ia mati-matian, menyelinap, mencuri-curi untuk menyembunyikan tangan yang dengan terang memegang ponsel di bawah meja, menyaksikan dan mendengarkan lewat earphones saat ayahnya berhadapan dengan sepuluh wartawan untuk menuntaskan kontroversi sialan.
Belum terlambat. Secara otomatis, Braga menyusun rencana. Huh. Jika saja Mis Kendal adalah guru yang menyebalkan, Braga sudah pasti kabur dari kelas, tapi sayang, wanita berkacamata dan berpoles lipstik merah muda itu adalah idaman para pelajar, jadi Braga mengurungkan niat berbuat keributan.
"Dek. Mau ikut rencana kakak?" Braga yang sedang membereskan buku di bangku paling depan lantas menoleh karena ucapan Braga menggugah selera.
Rencana?
Apakah Bryna akan menjadi keren seperti kakaknya ini? Gadis itu sangat ingat jika Braga bukan kakak yang biasa saja, banyak rahasia, pun mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.
Bryna menggangguk semangat. "Mau." jawabnya.
Braga mendekat serta berbisik di depan telinga Bryna. "Kita kabur dari sekolah. Ada sesuatu yang mendesak. Berkaitan dengan mommy, gawat."
"No." Bryna spontan menjawab. Kabur bukan ide bagus. "Banyak bodyguard di luar, mereka bukan lawan kita kak. Otak boleh encer, tenaga, huh, You sure you can handle it?"
Braga menggaruk kepala. Iya juga. "Tapi, ini benar-benar mendesak."
"Just tell me, bro!! Ada apa? Situasinya bagaimana?"
Fine. Braga sepertinya harus menjelaskan sedari awal.
Earphones ditempelkan di telinga Bryna, tangan Braga menggulir layar ponsel. "Situasinya sangat mendukung. Mengaku sebagai anak daddy, agar masalah beres, aku cukup pusing melihat daddy dan mommy."
Bryna terkena serangan panik.
Bagiamana bisa. Hei. Ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Bryna membayangkan datang ke tempat itu, membicarakan omong kosong beserta mengaku sebagai anak dari Matheo Ranu Pandega meski memang ia adalah anaknya. Mungkin itu terlihat mudah, tapi tidak, Bryna tidak bisa.
"Nggak, kak. Aku nggak mau."
"Apa lagi? Jika bukan kita, daddy tidak akan pernah bisa, Dek. Trust me. Itu yang daddy mau, tapi tidak diberi izin oleh mommy."
"Mommy punya alasan, Kak." satu sanggahan tersampaikan.
"Apa? Sejauh ini alasan mommy karena kita."
Bryna memegang kepala. Dibelakang sana, agak jauh ada Rahel yang duduk di bangku. Sampai kapanpun Bryna tidak bisa menyakiti hati orang lain. Meski Bryna sangat ingin pergi bebas tanpa menggunakan atribut seperti ninja bersama ayahnya, tapi ia tak begitu tega kepada gadis yang saat ini tahu-tahu sudah berjalan pelan mendekatinya.
"Aaakh. Rahel lepas." Bryna berteriak.
Akibat pekikan luar biasa dari Bryna, praktis membuat semua murid berkumpul menyaksikan keributan. Rahel dengan terang menjambak rambut Bryna yang terkepang kuda. Sumpah demi hak asasi rambut yang tak boleh terpisah dengan kepala, Bryna merasakan pening yang luar biasa.
"Kau merebut papaku, Bryna."
What the.... Bryna sebenarnya ingin mengumpat, atau ingin membalas jambakan, tapi ia mengurungkan niat itu, sebab jika Bryna sudah bertindak, sudah dipastikan Rahel hanya akan babak belur setelah ini.
"Kenapa kau diam saja, benar 'kan kau merebut papaku." Rahel kembali menjambak Bryna lebih kuat daripada tadi, tidak hanya itu, seakan murka karena Bryna diam saja, gadis yang sedang dikerubung amarah itu menarik Bryna kesamping hingga suara dentuman tubuh bertubrukan dengan kursi terdengar.
Bryna hanya bergeming. Meremas roknya sendiri, berharap bisa menguatkan pikiran agar bisa lebih sabar. Sumpah Bryna ingin membogem Rahel, tapi itu tidak akan menyelesaikan apapun, kemungkinan buruk yang terjadi adalah, masalah baru akan muncul. Bryna harus mempertahankan harga diri untuk tidak bertindak brutal.
"Braga, apa kau akan diam saja seperti itu?" Bryna menggeram. "Lepaskan rambutku dari Rahel!! Atau kau ingin aku adu jotos disini."
Braga kira Bryna akan meminta bantuan untuk melawan, adiknya ini tidak seru, bahkan Braga antusias menjadi penonton. Kakak laknat memang.
Bukan. Braga tahu betul bagaimana Bryna, kuatnya gadis itu, bahkan Swan yang baru saja masuk ke kelas dengan berlari sambil membawa bingkisan roti tidak akan pernah bisa menang melawan Bryna.
"Calon istri." Swan memekik. "Rahel, lepaskan jambakanmu."
"Tidak. Bryna merebut papaku, Swan. Dia gadis jahat. Aku pernah melihat di ponsel mama photo Bryna memeluk Papa. Dia gadis jahat.”
Oke. Dari sini Swan memang jelas tahu permasalahannya. Beberapa waktu yang lalu, Rahel bercerita, pernah mendapati Theo yang memangku Bryna di depan taman bunga, dan satu lagi, Rahel juga mendapati Theo mengantar Bryna berangkat sekolah. Awalnya Rahel sabar, tapi, semakin lama ia memupuk kebencian, begitu dalam setelah ayahnya itu tidak kunjung pulang kerumah.
Swan tidak mau menanggapi. Ia lebih melirik ke arah Braga, menganggukkan kepala beserta serempak memisahkan dua gadis di depannya.
Swan mati-matian membuka cekalan Rahel pada rambut Bryna. "Rahel, lepas atau aku tidak mau lagi berteman denganmu." ancamnya.
"Bryna tidak hanya merebut papaku, kau juga direbut olehnya Swan.”
Swan muak. Bahkan tidak ada yang saling merebut di situasi ini. "Tidak ada hal sepeti itu, Rahel. Lepas, atau aku benar-benar tidak mau berteman denganmu."
Dengan begitu Rahel melepaskan rambut Bryna.
Tapi hal tak terduga dilakukan gadis itu lagi. Satu dorongan yang berhasil membuat pelipis Bryna sedikit berdarah karena berbenturan dengan kaki meja.
Bryna tersenyum miring. "Ini sudah keterlaluan, Rahel!!" ucapnya setelah mengusap darah pada pelipis. "Akan aku tunjukkan bagaimana caraku membalasmu."
"Braga. Ayo ke ruangan John uncle."
...****************...
"Obati dulu lukamu, Bryna."
"No, uncle. Poniku sudah cukup untuk menutupi luka ini."
John Jeko mengusap rambut, pria itu bingung. "Bukan itu maksudnya, lukamu bisa infeksi."
"Sekarang juga, atau Bryna lapor daddy."
Dasar gadis pengancam. Bryna mengancam Jeko dengan melaporkan jika keadaan yang ia alami dengan luka dipelipis itu akibat lantai licin karena buruknya fasilitas sekolah, jelas sebagai pemilik, Jeko sudah pasti dipersalahkan.
Keinginan Bryna hanya satu. Minta direkam. Atau lebih tepatnya hanya minta ditemani oleh orang kepercayaan, di jam sekolah, karena kabur dari tempat ini bukanlah ide yang bagus sedari awal.
Dan satu lagi yang penting, bagian memanipulasi chanel siaran, serahkan pada Braga. Lihat saja, kakak Bryna itu sudah siap dengan posisinya, memangku ipad.
"Baik. Braga, apa sudah waktunya?"
"Belum. Sebentar lagi."
Braga masih mengamati siaran langsung itu. Bahkan disana menyediakan kolom komentar bagi pengguna ponsel. Masih banyak yang mengumpat kepada Roseta ibunya. Mengatakan jika orang ber-uang bisa melakukan segalanya. Dan lebih parah, ada yang menulis Roseta adalah wanita murahan karena mau saja dengan pria milik orang.
Bryna juga sama. Melihat situasinya. Di depannya ada ipad juga. Secara langsung matanya melihat bagaimana mulut kejam orang-orang mengumpati ibunya. Bryna ingin menangis. Ia baru saja tahu, hari ini, berkat Braga.
“Saya tidak akan membuang waktu menjawab, karena dari yang saya lihat, secara garis besar penjelasan sudah saya sampaikan. Ada juga beberapa pertanyaan yang sangat menyinggung privasi yang tidak perlu diumbar, anda tidak berhak untuk mendapat jawaban dari saya.”
...****************...
"Bang, ada apa? Kenapa ada Bryna dilayar?" Itu Theo kelabakan sendiri dengan memburu Saga.
Di dalam layar ada sosok Bryna yang muncul setelah siaran langsung yang Theo lakukan secara mendadak hilang. Kondisi saat ini adalah, layar sebelah kiri menampilkan siaran langsung Bryna, dan layar sebelah kanan menampilkan siaran langsung Theo, yang terhubung satu sama lain.
"Pasti ulah Braga." Jawab Saga ringan. "Kau tahu 'kan, Redolent tidak bisa dicegah, sekalipun itu dengan tanganku."
Theo meremat tangannya yang sudah berkeringat. Ia melihat Bryna. Tampak jelas. "Tunggu. Ini jam sekolah, itu ruangan Jeko, bang."
"Aku sudah bilang 'kan, ini ulah Braga." Saga geram sendiri dengan Theo.
(“Tok, tok, tok, selamat siang.”)
"Ya, Tuhan. Apa yang akan dilakukan anak-anak." Theo lagi-lagi gundah gulana.
"Cucuku." Martinus dengan lantang mengatakan itu, yang praktis membuat wartawan menoleh kearahnya. "Kenapa? Gadis itu benar cucuku kok." Membuang wajah kesamping, Martinus melengos.
(“Perkenalkan. Nama saya Bryna Samanta. Saya tahu ini sebuah pelanggaran. Tapi saya masih dibawah umur. Jika ingin menuntut, saya serahkan kepada ayah saya, Theo daddy, Matheo Ranu Pandega atau ibu saya, Roseta mommy, Roseta Marveen. Sorry dad, mom, Bryna mencintai kalian.”)
Sepertinya satu Negara sedang terserang boom dengan serempak.
Theo benar-benar paham. Ceritanya anaknya ini ingin membuka identitas yang ia sendiri tak sanggup melakukan. Tubuh Theo praktis bersandar pada kursi dengan tenang. Kemarahan karena pertanyaan lancang dari wartawan yang sempat menggunung membentuk tumpukan es tiba-tiba mencair begitu saja. "Daddy sangat mencintaimu, sweety." gumamnya.
Theo menoleh ke kanan, melihat ekspresi Jay yang sama tenang. "Jay, dia putriku."
"Aku yang membesarkannya."
Ok. Cukup. Theo kalah.
(“Saya disini bukan untuk bermain.”) Tatapan Bryna menajam. Ini sangat mengejutkan untuk orang yang pertama kali melihat gadis yang masih sangat kecil sudah seberani itu, persis seperti Theo. (“Bukan juga untuk mendapat pengakuan jika saya adalah putri dari Matheo Ranu Pandega secara terang-terangan di depan publik, jujur itu tidak penting untuk saya. Yang saya harapkan hanya sebuah ketenangan.”)
(“Ketenangan untuk pergi bersama ayah saya tanpa harus memakai atribut layaknya ninja. Saya dan ayah saya harus berpenampilan seperti itu, anda pasti sudah tahu alasannya bukan?”)
Bryna sedikit menjeda. Gadis itu nampak biasa saja. Tapi Theo tahu, pasti sedikit gemetar di tangannya. "Bang, bagaimana anakku bisa seberani itu?"
Saga mengedikkan bahu, acuh. Pria itu sedang menikmati pertunjukkan. Lihat saja wartawan di depannya ini. Sibuk menyimak apa yang Bryna katakan tampa gaduh sedikitpun. Saga bersumpah, setelah ini akan menyusul Bryna untuk merayakan kemenangan.
"Jay, dari dulu Bryna seberani ini?"
"Aku baru pertama kali melihat Bryna sangat berani."
(“Satu hal lagi yang sangat saya sesali, kenapa photo saya tidak muncul di media. Mungkin akan lebih mudah dan cepat untuk mengungkap segalanya, tidak seperti sekarang ini. Terlalu lama dan imbasnya berkepanjangan.”)
(“Saya mengatakan imbas buruk bukan untuk diri saya. Tapi untuk pekerjaan ibu saya. Bagaimana seorang dokter tidak diperbolehkan bekerja, bahkan ada yang berkata buruk untuk melepas gelarnya, bukankah itu sangat kekanakan mengingat ibu saya tidak pernah membahayakan hidup orang atau menghilangkan nyawa dengan profesi yang disandangnya.”)
Bryna menghela napas terlihat dari dadanya yang baru saja membusung. (“Saya juga baru sadar, semua yang terjadi karena ayah saya yang begitu terkenal.”) Bryna tersenyum miris setelah mengatakan itu, raut sedih muncul di wajahnya. Theo menyaksikan.
(“Baik. Jika Theo daddy mengatakan banyak privasi yang tidak bisa dijawab. Maka saya yang akan menjawab satu fakta lagi, karena masih sangat banyak yang ragu melalui komentar live ini.”)
"Ini anakku yang kelewat berani apa aku yang terlalu takut dengan Roseta?" Lagi-lagi Theo bertanya karena takjub melihat putrinya.
"Itu karena kau yang bodoh, Theo." Saga menanggapi dengan cepat.
"Aku setuju denganmu bang." Jordan yang sedari tadi diam dan hanya menyimak lantas langsung masuk obrolan jika itu membahas kebodohan Theo. Teman yang sangat baik.
"Kalau menurutku, Theo dan Roseta itu sama saja. Tidak ada yang tegas. Terlalu banyak memikirkan hal tidak penting." Kali ini Jay menyampaikan opininya.
(“Saya akan menjawab satu pertanyaan yang mungkin akan mewakili rasa penasaran banyak orang. Cukup menarik.”)
(“Gadis bodoh, apa kau sedang bermimpi menjadi anak seorang Pandega?”
Theo lantas berdiri, kepalanya mendadak mengepul layaknya mengeluarkan asap panas, (“Dad, calm down. Biar Bryna yang menjawab.”) ucap Bryna saat layar ipad di sebelah kanannya menampilkan Theo yang sedikit murka.
Setelah itu Theo duduk kembali.
Bukti tes DNA: Matheo Ranu Pandega—Bryna Samanta. Kecocokan DNA 100%.
(“Bisa dilihat di layar bawah saya. Itu hasil DNA resmi tiga tahun yang lalu. Tapi baru-baru ini saya tahu John uncle mencuri rambut saya untuk diserahkan pada Theo daddy. Akhirnya ketahuan deh.”) Diakhir kalimat terlihat Bryna tersenyum mengejek.
Theo mendekatkan mulut ke arah speakers. "Iya, benar. Bryna Samanta adalah putriku bersama Roseta Marveen. Fakta itu sudah seratus persen benar." jelasnya sekali lagi.
(“Jadi, bisakah saya hidup normal seperti biasanya setelah fakta yang sudah sangat jelas ini sampai kepada anda semua?”)
(“Bolehkan keluarga kecil saya hidup dengan tenang tanpa kamera yang selalu mencuri untuk dijadikan bahan gosip di media sosial?”)
(“Saya tidak bisa menjamin anda bisa berhenti dari sini. Tapi saya mengharapkan hal baik akan terjadi kedepannya.”)
(“Saya benar-benar mohon maaf atas gangguan yang sengaja saya timbulkan di depan awak media. Jika menyesal, rasanya saya tidak merasakan itu. Tapi, saya tahu jika hidup saya dan keluarga saya tidak akan sama mulai sekarang. Selamat siang.”)
Maka setelah Bryna mengakhiri kalimat dengan salam. Layar hitam muncul lagi.
"Klarifikasi berakhir. Silahkan meninggalkan tempat." Theo tegas mengatakan itu.
Mengingat bagaimana seorang Pandega berkuasa. Maka wartawan membubarkan diri dengan tenang, teramat tenang karena mangantungi banyak informasi yang akan di cetak dalam sejarah pergosipan.
"Jay, bisa temui aku dengan Pak Martinus? Ada hal yang perlu kita bahas."
"Lebih daripada itu, kau temui Roseta dulu."
Theo praktis menunduk, menggaruk pelipis lalu menatap Jay lagi. "Dia tidak membutuhkanku. Alih-alih diterima, aku akan diusir seperti tempo hari."
Martinus menepuk bahu Theo. "Suasana sedang tidak baik. Kita tunda dulu, besok pagi kita bertemu."
Jika yang dibutuhkan Theo menolak, jadi tidak bisa ia memaksa. "Baik, besok bertemu di kantor saya. Saya akan menyelesaikan pekerjaan dulu."
"Astaga. Sudah kubilang, temui Roseta dulu, Theo. Dia dirumahku, pingsan, ada Sarah yang menjaganya disana. Temui dulu, atau lihatlah dulu."
Theo bersumpah akan menyeret Yura dalam penjara. Bisa-bisanya membuat Roseta tumbang sampai pingsan.