
Terkadang Theo tidak begitu memahami bagaimana ia nampak begitu mengesankan dengan ide cemerlang. Disaat genting seperti ini, ia mampu memutuskan perkara yang tak terpikirkan oleh orang-orang disekitarnya, meskipun, ya meskipun Braga putranya begitu tega mengolok dan mengatakan jika rencananya bodoh pun berbahaya.
"Jord. Kenapa Jay lama sekali." Theo menggerutu di dalam ruangannya, mengantongi banyak rencana yang sangat tidak sabar untuk diutarakan.
Seperti janji tempo hari, saat ini Theo menunggu kedatangan Jay beserta Martinus untuk melakukan rencana yang sudah ia susun dengan matang.
Jordan memutus pandangan pada jam yang melingkar di pergelangan tangan, titik merah berjalan di dalam benda itu. "Sebentar lagi, mereka baru keluar dari jalan tol." jawabnya.
Mungkin jika itu orang lain, sudah pasti mengira Jordan melihat acuan waktu, nyatanya pria itu sedang mengintai melalui alat canggih yang menjelma sebagai penanda waktu.
"Braga masih tidak terima." Theo bersuara, meski sangat nekat dengan rencana, Theo tidak serta merta bisa mengabaikan putranya yang masih marah namun pagi ini tetap membawa diri ke sekolah.
"Aku tau kau gegabah, pantas jika Braga tidak terima, tapi jika sudah kau putuskan, apalagi yang aku bisa, akan aku bantu sampai ke akar-akarnya."
Jordan. Temannya ini meski sering menyebalkan, tapi juga menjadi alasan Theo untuk tetap bertahan. Tanpa Jordan, Theo juga bukan apa-apa. Disaat banyak orang meninggalkannya, Jordan selalu ada, jika saja Jordan seorang wanita, mungkin Theo sudah menikahinya.
No.
No.
No.
Tidak ada lagi selain Roseta dalam hati Theo.
Memikirkan soal Roseta, Theo jadi ingat proposal dadakan yang diajukan wanita itu tempo hari.
Pernikahan.
Oh Tuhan. Theo praktis pening di kepalanya. Apa bisa? Hanya pertanyaan itu yang masih menggantung diotakknya.
"Jord, apa boleh aku bertanya sesuatu?"
Jordan mencureng. Dia itu teman tapi terasa kacung, sejak kapan Theo meminta persetujuan hanya untuk sebuah pertanyaan. "Dipersilahkan tuan Pandega." sarkasnya.
"Apa aku terlihat tampan hari ini?"
Sontak Jordan menoleh akurat, berkas yang ada ditangannya praktis jatuh berantakan. Lebay. Tapi itu kenyataan. "Ten-tentu. Apa anda butuh kaca Tuan?"
Jordan sampai sulit berkata-kata, pasalnya ini terjadi untuk pertama kalinya, pertanyaan soal keparipurnaan seorang Matheo Ranu Pandega yang tidak bisa diragukan lagi, apa pria itu masih tidak sadar?
"Lebih tampan mana jika dibandingkan dengan Jay?"
Rahang Jordan jatuh, mulutnya menganga, pria itu menangkap satu kekhawatiran, apa ini soal cemburu?
Mungkin.
Sebenarnya bagi sesama pria, tidak ada kata saling pujian jika membicarakan soal ketampanan, tapi kali ini saja, biarkan Jordan megatakan jika pria di depannya ini sangat tampan.
"Kau lebih tampan." Bagaimana lagi. Untuk melegakan Theo, Jordan terpaksa mengatakan itu.
Theo yang mendapat jawaban itu stagnam melihat Jay yang memasuki ruangannya, bersama Martinus yang berada dibelakannya.
Tampan.
Hanya kata itu yang ada di dalam benak.
Dalam hati Theo mengucapkan banyak rasa syukur karena Roseta tidak pernah berpaling, mungkin jika wanita lain, pasti sangat rela menjatuhkan tubuhnya untuk diserahkan utuh kepada Jay.
Jay Argiato Samanta. Sahabat Roseta, sekaligus pria yang digadang-gadang sebagai orang yang selalu berada di sisi putri dan putra Theo.
Theo kembali menyelam ke masa lalu dimana ia tahu betul jika seorang Samanta itu sangat menginginkan Roseta dalam hidupnya. Sempat mengira jika keduanya berkeluarga dan menghasilkan anak dengan kasus yang terjadi sebelumnya. Meski itu bukanlah fakta, tapi Theo tetap bertaruh tidak suka.
"Langsung ke inti saja." Tidak mau ekspresi sial dari wajah Theo terbaca mengingat ia tidak mau ditertawai oleh sebab cemburu, pria itu menggiring semua peserta meeting untuk duduk di meja bundar yang sudah disediakan.
"Sudah bisa dimulai?" Saga datang dari arah kamar milik Theo yang berada di dalam ruangan.
Jangan lupakan satu pria bernama Saga, meski kerab bermuka sembab dan berkesan suka tidur, tapi jika soal kemampuan, tidak ada yang bisa melawan, kecuali Redolent, keponakannya sendiri, alias Braga, puta Theo. Namun tanpa berkata-kata lagi, Theo menggerakkan kepalanya meminta Saga segera duduk ditempatnya.
"Aku rasa pekerjaan ini cukup mudah mengingat Foltress tidak pernah membawa boddyguard terlalu banyak di setiap transaksi." Jordan mengatakan itu, membuat Jay yang tidak tahu apa-apa lantas kebingungan namun tetap diam menyimak.
Sedangkan Theo langsung menangkap kekhawatiran Jay. "Aku memintamu datang kemari karena ingin sebuah bantuan. Menangkap Foltress dengan aku yang menjadi umpan, rencana sementara, aku menginginkan Bandara Samanta untuk dijadikan tempat transaksi, aku rasa hanya tempatmu yang aman daripada lainnya."
Setelah mengatakan itu, Theo memandang ke arah Martinus yang sudah menganggukan kepala setuju.
Martinus sebenarnya sudah tahu. Sebelum rencana ini tersusun rapi, Theo mendatangi Martinus langsung di Negara A dengan mengatakan semua kronologi yang ada, dan salah satu hadiah dari Martinus untuk Theo hanyalah jotosan bertubi yang membentuk memar di wajah, dan untuk hal seperti menghancurkan Theo sudah dikubur dalam-dalam oleh Martinus.
Martinus tidak cukup tega kepada Bryna dan Braga yang sudah dianggap cucu sendiri dengan menghancurkan hidup ayah biologisnya, apalagi niat Theo saat ini ingin membebaskan Braga dari kemungkinan ancaman yang akan datang dari Foltress setelah beberapa kali lari dan berlindung pada AIA Negara A.
"Jadi begini tuan Jay, " Saga menengahi, jujur ia sangat ngantuk dan ingin segera mungkin sampai pada titik temu. "Saya ingin anda menyiapkan tempat strategis untuk menjalankan rencana, saya meminta denah lengkap Bandara Samanta, saya sebenarnya bisa mendapatkannya tanpa repot-repot meminta, tapi karena saya menghormati Roseta, makanya saya ijin anda saja yang menyiapkan segalanya."
Agaknya Saga disini terlihat sombong. Tapi sumpah demi kantung mata yang semakin melebar, sebenarnya meeting ini tidak terlalu penting untuk Saga, karena dua malam penuh pria itu sudah mengatur strategi yang bisa dibilang sangat matang, selain itu, Saga sudah menghubungi beberapa anggota pilihan milik Negara I yang akan melancarkan aksi di saat malam menegangkan yang akan terjadi beberapa hari lagi.
"Baik saya akan menyiapkan apa yang anda minta." Jay menyanggupi meski garis besar rencana masih menggantung untuk di cerna.
Saga dan Jay tak begitu saling mengenal dengan dekat, mereka hanya tahu masing-masing karena keterlibatan keluarga, maka keduanya berbicara sedikit sopan. Meskipun Saga sedikit sombong, Jay tahu persis itu adalah karakter dingin dari seorang keluarga dari Pandega.
Lihat saja Theo, sedari tadi matanya nampak gelisah, beberapa kali memandangi Jay dengan pikiran yang berkecamuk tanpa henti. Kekhawatiran Jika Roseta-nya akan berpaling saat Theo tidak bisa menjaga beberapa waktu mendatang.
"Jay, kau sudah punya kekasih? Kapan kau akan menikah?”
Pertanyaan spontan yang diajukan Theo membuat orang yang menegang diruangan sontak menoleh kearahnya. Hanya satu kata dalam benak mereka, konyol.
"Aku tidak akan merebut Roseta, buang jauh-jauh pikiranmu itu Theo." jawaban sedingin itu dilemparkan oleh Jay, pria itu tidak habis pikir, Theo masih saja, cemburu.
Sedangkan Saga memutar bola matanya, adik sepupunya ini ada-ada saja. Namun, berbeda dengan Jordan yang tahu dengan apa yang ada di dalam kepala keras kepala milik Theo, Jordan hanya akan diam untuk sementara.
"Tuan Pandega, apa tidak terlalu ceroboh bagi seorang Foltrees tidak membawa beberapa bodyguard untuk menjalankan beberapa transaksi?" Martinus yang sedari tadi penasaran akhirnya membuka suara, mengalihkan fokus semua manusia dari memandang dua orang pria yang saling bertatapan dingin.
Yang membuat Martinus takut sampai ia bertanya begitu adalah soal kesiapan, apakah rencana yang akan Theo lakukan sudah benar-benar kuat untuk melawan, meski Jordan dari awal mengatakan cukup mudah, tapi jika yang dihadapi adalah seorang Foltrees, maka tidak akan ada hal sederhana.
Martinus juga masih ingat betul bagaimana Theo meminta bantuan kepadanya, meminta untuk ikut terlibat mengingat Foltrees bukanlah orang dari Negara ini melainkan dari Negara asal Martinus, pemerintah disini tidak mungkin bisa meringkus begitu saja. Makanya, Martinus juga sudah sedikit menyiapkan bala bantuan.
Martinus merasa kasus ini adalah tanggung jawabnya juga.
"Saya akan menjawab tuan Martinus." Akhirnya Jordan berguna. "Saya sudah membaca pergerakan Foltrees, Government-assised trade."
"Konspirasi." Martinus sedikit menaikkan nada bicara, sedikit paham dengan apa yang diucapkan Jordan diakhir kalimat.
"Itu sudah umum dilakukan oleh penjahat seperti mereka, melakukan hal kotor demi mengenyangkan perut semata, pemerintah ikut terlibat, bahkan tidak hanya satu, beberapa pejabat tinggi yang tergiur dengan suka rela memberikan akses sempurna dengan adanya penyelundupan barang dagangan palsu, keuntungan sangat besar, dan itu sangat memuaskan, makanya Foltress mengincar Theo yang berkemungkinan besar bisa memberikan keuntungan yang bukan main, apalagi untuk barang elektronik yang tidak ada matinya, Foltress menargetkan pabrik elektronik milik Theo dengan mengganti orisinil minim kualitas, melakukan kesepakatan penipuan tanpa ketahuan."
Dengan penjelasan Jordan, Jay sedikit terpincut, pria itu jelas sudah tahu jika didunia ini ada hitam dan putih, tapi tak pernah menyangka Theo adalah incaran yang akan diseret Foltress dalam dunia gelap. "Aku siap membantumu, demi anak-anak."
"Itu sebuah kewajiban," timpal Martinus kepada putranya.
"Tuan Jay, mafia biasanya bertransaksi di daerah dermaga ujung kota Mawar, disana tidak ada operasi rutin yang dilakukan oleh pihak berwajib karena memang sudah disepakati, saya juga sudah membaca pergerakannya, disaat transaksi, tak ada sedikitpun pihak berwajib yang berada disekitar mereka, maka dari itu, Foltress dengan percaya diri membawa antek-antek tak begitu banyak."
"Lalu, kenapa sekarang memilih Samanta?" Tanya Jay lagi
"Karena aku punya misi dibalik itu." Jawab Theo membilu. "Jay, aku ingin berbicara empat mata denganmu, setelah ini, penting."