ROSETA

ROSETA
Pertemuan Tak Terduga



Roseta mengoyak isi etalase dengan matanya. Sembari tersenyum, ia menatap berbagai kue yang sudah di desain sangat indah di dalam sana. Hari ini, Roseta akan membelikan kue khusus untuk Bryna, seperti biasa, mencari kue dengan coklat kental yang menumpah ruah diatasnya. Beruntung, hari ini sangat banyak stok yang sesuai kriteria kesukaan putrinya.


Tempat ini begitu sunyi dengan musik lirih mengiringi. Suasana hati Roseta sangat buruk jika saja orang-orang melihat melihat benar sendu matanya. Hidupnya terusik lagi dengan hanya melihat Theo yang beberapa kali berhadapan langsung di depannya.


Mengingat lagi, dua hari yang lalu saat Jeko menerima telefon dari Theo dengan raut mengawatirkan juga membuat Rosey kalang kabut memikirkan. Berbagai spekulasi mengerubung tidak jelas dalam benaknya. Ingin acuh namun jujur wanita itu tidak bisa.


Roseta melihat sebentar jendela kaca dengan bingkai kayu di samping kanan. Melirik sebentar cahaya malam yang semakin merenggut warna bumi. Waktu hampir jam sembilan malam kala pandangannya berpindah pada jam dengan bentuk kotak terpajang di dinding ruangan. Roseta harus cepat-cepat pulang mengingat tiga jam lagi putrinya akan bertambah usia.


Saat Roseta ingin memanggil pelayan, suara dentingan pintu berbunyi, menandakan ada customers yang sedang memasuki cafe pastry. Tidak begitu lama, presensi seorang wanita pemilik rambut hitam yang nampak mengkilau hadir dalam ruangan. Roseta semula tidak berminat walau untuk sekelebat melirik bayangannya. Namun karena kefamiliaran yang terpancar mengoyak hatinya hingga sakit itu muncul dan menjalar di sekujur tubuhnya.


"Yura," lirihnya, walau tidak terdengar oleh siapapun. Wanita bernama Yura yang sudah tepat dihadapannya tersenyum dengan ramahnya.


"Hai, Roseta. Kebetulan sekali kita bertemu disini. Bagaimana kabarmu?"


"Sialan." Roseta mengumpat dalam hati dengan sudut bibir tertarik keatas merespon sapaan yang sangat luar biasa diluar dugaan.


Yura tidak begitu mendapat respon dengan ungkapan kata. Berbelok arah, mendapatkan semacam ide yang ingin sekali diungkapkannya. Sebenarnya, wanita ini juga sangat terkejut mendapti Rosey tanpa rencana. Seakan Tuhan sudah mentakdirkan.


"Aku tidak tahu kau sudah kembali ke Negara ini Roseta. Aku tahi saat melihat kau dan putriku di depan layar kaca. Sungguh suamiku itu tidak membicarakan dulu padaku," ungkapnya berlebihan dengan diiringi tawa renyah yang memuakkan bagi Roseta.


Di masa lalu mereka memang tidak pernah bermasalah. Wajar jika saat ini semuanya terlihat normal-normal saja. Roseta menyadari memang Theo yang tidak begitu mencintainya, melainkan Yura lah yang selalu ada dihatinya. Pikir Roseta, kedua orang itu hanya terjebak dalam ikatan persahabatan dan tidak menyadari saling menyimpan perasaan. Hingga mereka mungkin tahu, lalu memutuskan untuk membuat ikatan pernikahan.


Roseta melebarkan ranumnya hingga tampak seperti orang yang kelewat senang. "Kabarku baik Yura. Putrimu sungguh manis dan sopan. Beruntung kau memilikinya." Roseta menimpali dengan gugup yang sangat mendera kebebasannya. Walaupun begitu, ia adalah pemain ulung dalam sandiwara. Jadi, jangan meragukan kemampuannya.


Yura terkekeh mendengar penuturan itu. "Aku dan suamiku mengajarinya dengan baik, kami sangat bangga memiliki putri seperti dia. Tapi ayahnya terlalu memanjakannya asal kau tau." ucapnya berakhir dengan gelengan kelewat bangga, mencoba menunjukkan betapa harmonisnya keluarga besar Pandega yang terkenal seantero kagat raya itu.


Roseta muak, sungguh muak. Yura seperti mencoba menyalakan api di atas kepala Roseta dengan cara yang sangat halus, dan tepuk tangan untuk Yura karena aksi mulusnya berhasil membakar wanita di depannya sampai hangus.


"Mommy, kenapa lama sekali."


Ooh!! Sosok mungil itu ternyata terlalu lama menunggu di dalam mobil hingga tak sabar dan menyusul ibunya. Roseta yang mendengar lantas mengalihkan pandangan yang dipunggungi oleh Yura. Langkah Bryna semakin cepat kala Roseta melambaikan tangan sarat mendekat.


"Adek, kok keluar dari mobil. Sini dulu, Mommy mau kenalin kamu dengan Yura Auntie."


"Selamat malam Yura Auntie, perkenalkan, saya Bryna Samanta," ucapnya sopan memperkenalkan diri.


"Hai, Bryna. Kau sangat menggemaskan. Perkenalkan juga nama Auntie, Yura, ibu Rahel," ucap Yura seperti terkesima, lalu mengelus tepat di pucuk kepala dengan membungkuk mensejajarkan tingginya.


Oh. Jangan kira Bryna biasa saja. Dirinya cukup terkejut mendengar jika wanita didepannya adalah ibu dari Rahel.


"Oh, Auntie ibunya Rahel." Sangat cukup dimengerti jika seorang anak kecil sangat sulit untuk mengendalikan keingin tahuannya bukan. Dan Bryna akan melakukannya. "Berarti Auntie istrinya Theo Uncle ya?" tanyanya sangat gamblang seolah mengenal Theo dengan baik.


Yura merasa kikuk namun tetap mengangguk dengan senyum tipis membingkai. Namun tak begitu lama kejutan lain menghampiri gendang telinganya, membuatnya mati kutu hingga tidak mampu berbuat apa-apa.


"Mommy, apa Theo Uncle sudah mendatangi Mommy lagi?" tanya Bryna yang ditunjukkan untuk Roseta.


Roseta mendengar sangat jelas untuk kelancangan putrinya yang bertanya tentang hal ini. Pasti akan ada kesalahpahaman setelah ini jika tidak cepat untuk diantisipasi.


"Eum. Yura bukan itu maksud Bryna. Beberapa hari yang lalu Thei datang ke Rumah Sakit untuk menjahit luka di kakinya. Kebetulan aku yang bertugas untuk menanganinya."


Roseta boleh sakit hati karena wanita di depannya ini sudah merenggut kebahagiaanya dulu. Namun, ia tidak sampai hati untuk merusak rumah tangga orang lain. Lagipula yang dikatakannya adalah hal yang sebenarnya bukan.


Sedangakan Bryna hanya ingin menanyakan perkembangak kaki Theo. Jujur bocah kecil itu terlampau khawatir jika itu berkaitan Theo, pria yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


Yura tertawa dengan renyah seakan merasa baik-baik saja. "Tenang saja Roseta. Suamiku juga bilang kok tempo hari. Jangan terlalu kaku, aku tidak salah paham."


Mungkin memang Roseta yang sangat berlebihan menghawatirkan sesuatu yang harusnya dilupakan. Wanita itu merutuki mulutnya yang dengan panjang lebar dan susah payah karena menjelaskan.


Sedangkan Yura diam-diam meremat kepalan tangannya dengan kuat. Mati-matian menahan amarah yang sudah sampai di ambang batas. Dirinya merasa payah karena kehilangan satu informasi yang sangat berharga. Memang diakui setelah kejadian beberapa waktu yang lalu saat ponselnya dibanting oleh Theo sampai hacur, sejak itu, Yura tidak pernah mengutus siapapun untuk membuntuti suaminya, lebih tepatnya sangat takut membuat Theo lebih murka.


"Mama kenapa lama sekali?"


Sosok baru datang lagi dari arah pintu. Kenapa hari ini begitu ramai pikir Roseta. Tak henti-hentinya kejutan datang tepat menjelang hari kebahagiaan putrinya. Roseta menghela napasnya sangat pelan saat melihat Rahel di ambang pintu ditemani pria gagah yang menggendong gadis itu.


"Theo Uncle. Rahel."