
Langit mulai menggelap dengan taburan bintang yang begitu meriah. Mungkin jika rumah Theo ditengah perkotaan, hiasan langit itu tidak akan terlihat sempurna. Pria itu sedang berdiri di balkon, menyesap rokok dengan nikmat.
"Daddy," teriak Beyna yang terdengar setelah suara keras hasil bantingan pintu.
Theo sontak kelimpungan, membuang asal putung rokok yang masih menyala ke tanah, lalu tangannya mengibas udara hasil asap yang bengitu menyengat di kerongkongan hidung. Takut jika ketahuan Bryna-nya, Theo segera berlari ke dalam kamar. Matanya menemukan Bryna yang sedang kebingungan mencarinya dengan membawa boneka Tata.
"Oh, daddy habis dari balkon?" tanya Bryna setelah membalik badan dan menemukan keberadaan ayahnya.
Theo tersenyum, "Ada apa sweety? Mau tidur bareng daddy?" tanyanya mengalihkan.
Bryna mendaratkan bokongnya ke pinggir ranjang, raut mukanya menunjukkan kefrustasian. "Daddy, sepertinya mommy masih marah sama Bryna. Nggak mau ngomong sama Bryna. Mau sih, tapi sekedarnya saja. Bryna bingung nih harus berbuat apa.” adunya kemudian.
Theo menghampiri Bryna dan ikut duduk disampingnya. "Masih marah? Kok awet banget ya mommy kamu marahnya? Emang biasanya begitu kalau marah?” tanyanya.
Bryna menggeleng. “Enggak sih Dad, tapi kan ini beda kasus, soal Bryna yang udah tahu tentang daddy."
Theo mengelus pucuk rambut Bryna, mencoba menenangkan, perkara ini bukanlah mudah. Ia juga merasa bersalah, walau bagaimanapun ia juga terlibat persengkongkolan dengan putrinya dalam acara membohongi Roseta.
"Oke. Nanti daddy coba bicara sama mommy, kamu jangan sedih."
Bukannya tenang, Bryna semakin muram, gadis itu mendongak menatap Theo. "Daddy aja sering adu debat sama mommy. Gimana mau bicara. Kita kalah talak, dad. Nggak ada harapan sama sekali.”
Damn. Benar yang dikatakan Bryna. Tapi sebagai seorang pria dan sebagai ayah yang keren, Theo tidak akan menyerah didepan putrinya. Enak saja, Theo adalah solusi dari setiap masalah yang dihadapi putrinya, setidaknya itu semboyan baru yang mulai diikrarkan olehnya.
"Mommy kamu dimana sekarang? Daddy akan bicara, Daddy tidak mau ini berlarut terlalu lama.”
"Percuma, daddy." jawab Bryna tidak yakin dengan Ayahnya.
Oh tidak. Theo diremehkan. Hal ini tidak boleh terjadi. Theo harus keren. Putar otak, putar otak. Itulah yang dipikirkan oleh Theo saat ini.
Theo berdehem. Berdiri, membenahi tatanan rambutnya serta balutan santai yang dipakai ditubuhnya. Dengan keyakinan seribu persen ia pun berkata. "Bryna, kamu harus percaya, daddy akan menuntaskan segala permasalahan rumah tangga ini." ucapnya diakhiri kepalan tangan yang membumbung di udara.
Lantas Bryna mengerutkan dahi, setahunya, daddynya ini sangat cool sekali, tapi kenapa terlihat sangat aneh untuk malam ini.
Bryna akhirnya mengangguk, mengiyakan dengan raut muka datar. "O-oke, daddy semangat," ucapnya tidak yakin.
Setelah itu, Theo bergegas mencari keberadaan Roseta. Saat setelah keluar dari kamarnya, ia melihat pintu kamar milik Roseta sedikit terbuka. Theo berjalan berniat menghampiri dan melihat ada tidaknya Roseta didalam.
Roseta terduduk di tepi ranjang dengan memegang sesuatu yang Theo sendiri tidak tahu, karena yang dilihat pria itu hanyalah punggung saja. Tanpa mengurangi rasa hormat, Theo mengetuk pintu dan dihadiahi wajah ayu Roseta yang menoleh ke arahnya.
"Boleh aku masuk?"
Roseta tersenyum tipis. "Meskipun ini kamarku, tapi ini adalah rumahmu," jawabnya.
Theo mendengus tidak suka, bukankah ia sudah pernah bilang jika rumah ini didedikasikan untuk wanita itu. Tak mau memikirkan hal itu terlebih dahulu. Lantas kaki Theo berjalan menghampiri Roseta yang mulai menunduk lagi.
Saat Theo sudah berdiri di depannya, Roseta menyodorkan benda tipis yang ada di tangannya. "Braga, putramu, sangat tampan, persis sepertimu," ucapnya.
Tangan Thei bergetar saat ingin meraih photo berukuran sedang itu. Matanya tak bisa dihiraukan untuk memanas, liquit bening sudah saja bergerombolan untuk berjatuhan.
"Ada kemajuan dari Robert?" Tanya Roseta membuyarkan otak Theo yang sedang berpetualang mencari sedikit saja jawaban.
"Ha?" Pria itu seperti orang kinglung dengan jawabannya.
"Robert, katamu pria itu berbahaya, sudah ada kabar lagi?"
"Sejauh ini belum, pria itu masih belum bergerak sama sekali, tenang, dia dalam pantauanku, orangku akan mengurus dan menyelidikinya terus."
Roseta mengangguk, sedikit lega. Sangat takut beberapa hari ini.
"Jangan diami Bryna, beberapa kali aku tahu dia sedih."
Roseta juga bingung, bukan maksudnya mendiami Bryba. Ia hanya masih merasa bersalah dengan putrinya. Kebohongan yang dilakukan sampai Bryna dewasa membuatnya sangat malu.
"Aku malu." Roseta menjawab, ia sedikit tersenyum, tapi terlihat getir.
"Malu?" Theo sedikit memiringkan kepala, melihat Roseta yang tertunduk pilu.
Roseta mulai menangis, wanita itu sedang tertekan, butuh sandaran, tapi mengelak saat ada tampang gagah yang siap sedia menjadi temboknya.
"Aku malu membohongi Bryna, aku bukan ibu yang baik sampai Bryna juga merasakan kepedihan yang selama ini aku simpan. Aku hanya ingin dia hiduo dengan noral tanpa tahu permasalah orang dewasa, tapi tanpa aku sadar, dia juga merasakan apa yang aku rasakan.”
Theo bergegas untuk menyandarkan lututnya di lantai, memandang Roseta yang sedang duduk membilu dengan tangisnya.
"Sst!" Theo menempelkan jari tangannya tepat di bilah merah muda mikik Roseta. "Kamu ibu paling hebat, kamu ibu paling kuat, tidak ada celah sedikitpun untuk mencercamu sebagai ibu yang buruk." ucapnya mencoba menenangkan.
Roseta semakin menangis. Perasaannya sedang terombang ambing. Apalagi saat Theo yang saat ini tengan mengelus pipinya untuk mengusap air matanya. Roseta ingin menepis tangan hangat itu, tapi hati dan tangan tidak bisa diajak berkompromi. Roseta seperti menyediakan lahan untuk Theo agar dapat menyentuhnya berkali-kali meskipun masih dalam konteks yang bukan intim.
Sialan.
Kenapa Roseta malah berpikir ke arah intim juga. Manusiawi juga berdampak buruk ternyata. Ataukah mungkin saking lama kesepian jadi pengaruh besar. Apalagi yang dihadapannya adalah pria satu-satunya yang sangat dicintainya.
"Udah ah, jangan nangis, aku pengen peluk kamu kalau kamu nggak berhenti nangis." ucap Theo gamblang sontak membuat tubuh Roseta menginginkan.
"Kau boleh memelukku."
Rasanya Roseta ingin mengumpat. Baru saja tadi siang ia menolak mentah-mentah dengan mengucapkan rasa benci.
Hell.
Lihat sekarang, hati dan mulutnya seperti sedang bersekutu untuk menghancurkan egonya yang begitu besar.
Theo bukan orang yang mudah menyia-nyiakan kesempatan. Belum sedetik setelah Roseta mengucapkan, Theo langsung saja menarik tubuh wanita itu untuk di dekap.
Hangat.
Itulah perasaan yang saat ini mereka rasakan. Roseta juga pasrah, sekali saja, pikirnya sekali ini saja ia membiarkan sosok rapuhnya direngkuh dalam ketenangan.