ROSETA

ROSETA
Buruk



Sebegitu membingungkan segala urusan yang berada di depan mata, pun dengan keadaan terluka hatinya. Roseta masih terbayang akan satu kata yang kian lama kian menusuk tanpa ampun.


Murahan?


Bagai luka yang digoreskan begitu dalam, Roseta hanya mampu membayangkan bagaimana caranya untuk tenggelam, bersembunyi dari masa kelam. Baginya, murahan yang ia dengar beberapa hari yang lalu masih saja terngiang dan menimbulkan luka baru.


Tidak pernah Roseta membayangkan, walau sekali saja, pun untuk menjawab segala pertanyaan di hatinya seakan buntu. Wanita dengan kacamata membingkai matanya itu sampai bingung tak menentu. Menurutnya ada sesuatu yang mengganjal di balik kata, murahan.


Meski Roseta berkali-kali mengatakan jika hanya Bryna saja yang mampu mempengaruhi hidupnya saat ini, namun dengan adanya pria itu, yang berada dihadapannya langsung mampu mebuat otaknya kembali kotor oleh prasangka buruk, seperti polusi, membuat pengap jalanan.


Segala pikiran berkecamuk tanpa aturan. Roseta menghembuskan napas pasrahnya, mau dipikir beribu-ribu kalipun, jika hanya diam saja, tidak akan mendapat hasil apapun. Ingin bertanya, tapi apa daya. Semua sudah berbeda, Roseta dengan Bryna-nya dan Theo dengan kehidupannya.


"Mommy."


Roseta yang sedang sibuk menatap layar komputer sedangkan tangan yang menari diatas keyboard itu sontak menatap di sertai mulut yang menganga lebar tak percaya akan presensi pajangan dua orang yang sedang berdiri di ambang pintu. Bahkan tanpa mengetuk ataupun permisi terlebih dahulu.


Roseta sangat tahu siapa pemanggil dengan suara cempreng terlebih nyaring yang baru saja menyapa rungunya. Bryna anaknya sendiri. Sedangkan sosok yang berdiri disamping putrinya itu, tentu saja Roseta sangat menegenal juga, bahkan orang itu ikut berkontribusi dalam pembuatan Bryna.


Oh sial, kenapa otak Roseta berada diatas ranjang?


Apa Roseta memang kurang belaian?


Segala umpatan itu hanya mampu menggantung ditenggorokan tanpa mampu terucapkan.


"Oh, Mommy. Kepala Adek pusing sekali. Untung ada Theo Uncle yang menolong dan mau mengantar kesini."


Pembohong.


Drama ala Bryba sedang diputar, sampai di sini Theo tahu jika Bryna pembohong ulung dan pintar.


"Jadi begini Mom. Karena Uncle mau menolong adek, sebagai imbalan, Mommy harus menolong Uncle. Tidak ada penolakan ya Mom."


Pemaksa.


Bryna pemaksa, pemaksa yang tidak bisa dibantah, atau akan ada drama lainnya yang semakin merambah.


"Lihatlah Mom, kaki Uncle sobek lo ini, perlu dijahit." seru Bryna memberitahu, tangannya pun ikut menyeru menunjuk arah yang dituju, yaitu kaki Theo.


Baiklah. Sampai disini, Roseta ternganga lebih lebar lagi. Matanya kini berubah atensi melirik ke bawah menuju kaki milik Theo. Roseta melotot, sungguh geram saat ia melihat pembungkus dengan motif bunga mawar, itu miliknya.


"Adek, kenapa kain Mommy bisa ada disitu?"


Permasalahan merambah, Bryna sekali lagi berbuat ulah.


Sedangkan Theo sedari tadi hanya diam, sekalinya terpengarah karena melihat mata Roseta yang memerah karena dikerubung amarah.


Bryna sangat nakal rupanya.


"Mom, ayolah, nanti Adek bakalan cari kain yang sama persis buat Mommy. Oke. Sekarang Mommy harus mengobati Uncle."


Roseta menghela napas dengan berat, lagi dan lagi. "Oke," putusnya terpaksa.


Tahu betul putrianya itu keras kepala. Sekarang, Roseta harus berhadapan dengan orang yang teramat dibencinya. Umpatan dengan kata 'murahan' dari Theo yang baru saja mengepul mendidih di otak Roseta muncul lagi kepermukaan. Mungkin jika tadi Roseta masih bisa berpikir rasional, tidak dengan sekarang. Roseta sungguh merasa sial dan melihat presensi pria itu juga membuatnya semakin mual.


Roseta masih tidak percaya kenapa mendapat hinaan yang begitu merendahkannya, jujur dirinya kecewa. Tidak apa jika Theo memang tidak mencintainya, meninggalkannya dan menikah dengan orang lain. Tapi, jika harus ada perkataan kotor yang dilemparkan keras padanya, pun Roseta tidak pernah melakukan. Tidak pantas pria itu untuk dimaafkan.


"Ayo, Uncle."


Bryna tersenyum cerah tanpa celah yang mendominasi dengan rayuan yang tak kenal lelah. Bryna menarik Theo untuk mendekat ke arah meja periksa. Duduk manis dengan gugupnya, Theo tetap saja menunjukkan topeng datarnya.


Roseta berdiri, mungkin terasa gugup. Keadaan ini memang sangat sulit untuk dirinya, pun Theo juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, perasaan keduanya memiliki level yang berbeda. Theo dengan kebenciannya dan Roseta dengan kecewanya. Namun, semua itu harus tersamarkan oleh situasi yang dibuat oleh gadis yang saat ini sudah mendudukkan bokong di kursi kerja milik Ibunya.


"Mau tiduran apa duduk saja?" tanya Roseta memastikan kepada Theo, walupun terkesan datar, jujur Roseta merasakan sesuatu yang bergetar menggelitik hatinya, sakit yang mencekik, seperti ada batu besar yang dipaksa dimasukkan ke tenggorokan.


Sedangkan Theo harus mengulas senyum, presensi gadis cilik yang sedang memandanginya itulah yang menjadi penyebab. Andai saja tidak ada Bryna, maka pria dewasa itu tidak sudi melakukannya.


"Duduk saja," jawabnya sebiasa mungkin.


"Angkat kaki anda dan taruh di kursi ini!" perintah Roseta mengudara dengan jelas.


Ada dua kursi di depan Theo, satu untuk kakinya dan yang satu lagi tentu saja untuk Roseta duduki. Setelah kaki Theo sudah berbaring mulus di atas kursi, Roseta membuka balutan itu dengan hati-hati. Roseta dibuat terkejut akan nasib kaki Theo, tak karuan dengan luka yang begitu parah.


"Astaga, bagaimana bisa seperti ini!" pekik Roseta spontan.


Theo menatap Roseta dengan gugupnya, seolah perkataan Dokter di depannya ini menunjukkan jika luka yang dimilikinya memang parah. "Ap-apa ini sangat parah?" tanyanya kemudian.


Sungguh pertanyaan yang bodoh jika Theo tahu. Bayi baru lahirpun juga pasti tahu jika luka itu begitu parah. Rasanya Roseta ingin membedah kepala Theo dan membenahi sedikit otaknya agar bisa digunakan untuk berpikir dengan jernih.


"Tentu saja, dasar pria ceroboh. Apa kau masih bocah seperti Nryna yang tidak bisa hati-hati? Lihat saja, akan aku potong sekalian kakimu."


What?


"Hei! Hei! Apa yang kau katakan!" ucap Theo gugup.


Kegelisahan juga nampak di raut wajah Theo, tentu saja, siapa yang tidak takut jika kakinya dipotong. Meskipun terkesan hanya omong kosong. Jujur, Theo mendongak dengan terbengong.


Roseta tidak menanggapi ketakutan Theo, terkesan tetap cuek dengan racauannya. Naluri sebagai Dokter memang sudah aktif total, tidak perduli siapapun pasiennya, Roseta akan mengutamakan pelayanannya.


Tidak ada terlintas untuk basa-basi, Roseta hanya sibuk sendiri dengan kaki Theo yang harus dibenahi. Tangannya begitu antusias untuk menyiapkan segala peralatan medis.


Bryna sedikit meloncat menuruni kursi, mengayunkan kaki untuk berhenti di samping Theo. "Uncle, kalau takut bisa peluk Bryna kok," ucapnya menawari.


Bryna selalu punya penawaran yang ampuh dalam setiap keadaan yang tak dapat Theo tempuh. Hal-hal kecil yang selalu ditawarkan oleh Bryna bagai bius penawar sakit. Bryna tidak bohong, pelukan dari gadis itu mampu menjadi penolong.


"Boleh?" tanya Theo lugu.


Pandangan Bryna beralih ke arah ibunya yang masih sibuk menyiapkan alat dengan membisu tak mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Mommy sakit gigi ya?"


Roseta mendongak memperhatikan Bryna yang baru saja menanyakan hal yang sangat random. Ada-ada saja. Roseta enggan menanggapi dan hanya meneruskan pekerjaannya.


"Hello, Mommy....."


"Diam bisa nggak sih dek." Roseta sedikit membentak.


Oke, Roseta sangat geram dengan Bryna. Sudah datang tak di undang, membawa orang dengan bentukan tak karuan. Melayangkan permintaan tanpa dipikirkan.


"Jangan dibentak, bisa nggak!"


Oh tidak. Matheo Ranu Pandega angkat bicara. Sorot matanya menunjukkan amarah yang Roseta tak tahu apa maksudnya. Percikan kebencian mencuat dari keduanya, saling menatap dengan aura permusuhan yang teramat kental.


"Siapa yang membentak?"


"Kau!"


"Siapa yang aku bentak?"


"Bryna."


"Bryna siapa?"


"Anakmu."


"Jadi apa hakmu melarangku untuk membentak anakku sendiri?"


Skak mat.


Theo bungkam. Benar juga, dirinya tidak punya hak melarang. Sejak kapan Theo punya keinginan adu mulut seperti ini.


Sedangkan Beyna menggeleng tidak percaya. "Mommy dan Uncle kenapa bertengkar coba. Seperti anak kecil saja."


Ingatkan Roseta jika buntelan cilik itu adalah anaknya sendiri, jika bukan, dirinya tidak segan-segan untuk melipat dan dimasukkan di kantung celana. Katakan Roseta memang kejam, tapi Bryna tidak bisa di biarkan.


"Adek keluar, ke kantor atas. Istirahat. Atau komputer milikmu Mommy buang, puluhan papan skateboard bakalan Mommy buang, dan satu lagi, bola basket kesayanganmu Mommy berikan pada Swan."


Sampai disini, Bryna menganga lebar. Matanya melotot hampir keluar.


"Please, Mom, don't do this to me. Ok. Bryna diam, asalkan tetap disini menemani Uncle."


Pertahanan Roseta luluh. Sangat terkejut melihat putrinya sampai memohon. Pemandangan ini langka, tidak perlu memohon sampai begininya, sebenarnya Bryna bisa mendapatkan apapun yang di inginkannya. Tidak tega juga melihat mata Bryna yang sudah berkaca-kaca. Modelan seperti Bryna jarang menunjukkan sisi lemahnya, tapi kali ini semua muncul begitu saja. Hanya karena orang yang selalu disebutnya sebagai Uncle.


Sedangkan Theo lagi-lagi seperti mendapatkan tontonan gratis drama serial keluarga. Roseta dan Bryna menurutnya sangat unik sampai menggelitik. Tidak seperti suasanya rumahnya yang terkesan gersang. Atau mungkin karena Theo yang kurang perhatian. Entahlah, pria itu tidak mengerti dengan kehidupannya sendiri, sedikit sadar jika dirinya sering mengabaikan, sekali lagi hanya satu seorang yang mampu membuatnya bertahan, yaitu Rahel.


Roseta hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepala putri kesayangannya. Peringai kelewat melas mampu membuat Roseta luluh. Asalkan Bryna bahagia, apa mau dikata. Lagian orang itu juga ayahnya, jadi sebut saja Roseta sedang menebus dosa, dosa karena sampai sekarang belum sempat jujur pada Bryna. Tapi Roseta janji, jika dewasa nanti, ia akan memberitahu kenyataan ini.


Bukan tanpa alasan mengapa Roseta tetap menyembunyikan rahasia dari putrinya. Terlampau kawatir jadi alasannya, Bryna terlalu kecil untuk menerima cinta dari seorang ayah yang terbagi, untuknya dan untuk Rahel tentu saja. Pikir Roseta cukup rasional dan masuk akal. Wanita seperti dirinya saja sangat kesakitan dikhianati dengan sebegitunya, Roseta tidak akan membiarkan Bryna juga mengalaminya.


"Saya akan mulai menjahit luka anda Tuan Matheo."


Detik ini juga, Theo menegang sempurna. "Se-sebentar. Apa tidak ada bius atau semacamnya?" tanyanya memastikan.


Roseta tersenyum setan dalam hatinya, sungguh dirinya ingin Theo merasakan kesakitan. "Tidak ada, bagaimana? Apa anda masih bersedia?" jawabnya sedikit menguarkan nada ejekkan.


Theo benar-benar tidak tahu jika dirinya sedang dipermainkan. Tapi apa boleh buat. "Ba-baiklah, silahkan dimulai." putusnya mengakiri.


"Uncle, sini Bryna peluk."


Bukan Bryna yang bergerak, Theo lebih mendahului. Meraih tubuh mungil gadis cilik itu dalam pelukannya. Menahan perih karena setiap tusukan itu menyakitkan. Sampai sini, Roseta memang benar-benar tega, tidak memberikan keringanan pada Theo sedikitpun.


"Uncle, berhitunglah sampai angka 100, disaat itu juga, pasti jahitannya sudah selesai."


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku dulu juga pernah mendapatkan luka seperti Uncle saat umur lima tahun karena disrempet sepeda motor. Mommy juga yang menjahitnya, kepala Bryna kemaren juga baru dijahit. Tapi asal Uncle tahu, obat bius itu ada, dulu aku mendapatkannya, kemaren juga," bisik Bryna lirih memberitahu.


Sialan. Theo mengumpat dalam hati.


"Tapi Uncle jangan protes, nanti Bryna dimarahin Mommy lagi."


Walaupun kemarahan karena dipermainkan berdiri di pucuk tertinggi. Theo mencoba untuk meredam, demi Bryna. "Baiklah, Uncle akan diam, tapi ini sangat sakit sekal Bryna," keluhnya kemudian.


Roseta mendengar semuanya, jangan anggap dia tuli. Diam-diam wanita itu mengukirkan sedikit senyuman, mendengar persengkongkolan yang begitu akrab dan sangat baru dilihatnya.


Hatinya menghangat mana kala mata yang dikelilingi peluh yang tak bisa keluar itu melihat tangan gagah Theo memeluk erat tubuh mungil putrinya. Tidak bisa diabaikan, kedatangan Theo diruangannya sedikit banyak membuat dirinya sakit sekaligus lega, lega karena Bryna tersenyum bahagia.


Walaupun ia menderita.