ROSETA

ROSETA
Marah



Roseta tidak ingat kapan ia pernah mengatakan alamat rumahnya yang berada di Negara A kepada Theo, pun Roseta tidak akan pernah lupa jika pria yang tepat berada diambang pintu rumahnya bisa melakukan apa saja.


"Kak, aku tutup dulu teleponya. Percayalah aku baik-baik saja."


Roseta menggeser pelan ponsel yang semula berada di daun telinga untuk ditaruh dalam kantung celana. Jack memang menghubunginya. Mengatakan jika anak-anak terpantau oleh Dera, jadi kakaknya itu menyuruh Roseta tetap diam dulu sampai keadaan cukup reda. Kali ini terlihat cukup sulit kata Jack, media masa cukup brutal, apalagi dengan tema perselingkuhan.


"Masuklah." ucap Roseta akhirnya saat Theo masih saja berdiam diri.


Roseta bukannya tidak ada pendirian setelah menolak Theo, tapi sekarang justru membiarkan pria itu masuk kedalam rumahnya. Hanya saja Roseta tak begitu tega saat angin dingin diluar merembes kedalam hanya dengan pintu yang terbuka tak begitu lebar.


Apa jadinya Theo yang hanya memakai setelan tipis berada diluar kelamaan. Roseta masih punya hati.


"Untuk apa kau kemari?"


"Kamu baik-baik saja?"


Keduanya masih sama berdiri. Bedanya mereka sudah berada di dalam hunian. Dibawah atap yang sama, hanya Roseta dan Theo saja, karena Maria sudah pulang ke rumahnya.


Roseta harus ingat, harus berpendirian. Perhatian dengan tutur lembut tak akan bisa menggoyahkan hatinya.


"Sangat baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sebaiknya kau pulang."


Katakan iya jika Roseta setega itu, di jam ini, yang nyaris menyentuh sebelas malam.


Tidak tahukah Roseta bagaimana kelabakannya Theo membereskan masalah di Negara I dengan Jordan, Jeko tadi di kantornya?


Belum juga masalah reda karena media tak sebegitu mudah bisa dikendalikan dalam hitungan hari saja. Bahkan ini masih beberapa jam dari kemunculan berita murahan yang sudah terlanjur meluas di dunia maya.


Braga juga tidak kalah kesusahan saat akun-akun kecil kurang kerjaan ikut memperluas skala berita. Bahkan putranya itu sempat mengumpat saat para ibu-ibu pendukung Yura mengasari Roseta secara verbal.


Roseta tidak tahu!


"Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara."


Theo masih ingat dengan jelas ancaman ibunya jika tidak berhasil membawa Roseta pulang. Theo juga tidak ingin dipisahkan lagi dengan anak-anaknya saat Dera dengan jelas mengatakan untuk pergi dari rumahnya setelah berita kontroversial itu sampai di telinga ibunya.


Theo sebenarnya juga cukup lelah.


Tepatnya sangat lelah.


"Kita sudah selesai, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."


Theo praktis menunduk sebelum ia menjawab, "Baik. Kalau begitu aku konfirmasi saja jika kau itu memang benar selingkuhanku."


Mau dibantah sekalipun, Roseta masih ingat jika keras kepalanya Theo itu tidak ada yang bisa menandingi. Mungkin jika itu terbuat dari batu karang sekalipun, tak ada air yang dapat membuatnya terkikis. Bahkan mungkin sampai menua, pria itu tetap sama. Isi kepalanya tak pernah bisa diajak dewasa.


Bukankah Roseta sudah berkali-kali mengatakan jika semua demi anak-anaknya. Kenapa Theo justru akan menjerumuskan Roseta kedalam lubang yang semakin dalam.


"Oke. Jika itu maumu. Aku sudah tidak perduli lagi."


Sebenarnya sudah tidak ada masalah lagi. Theo hanya bicara omong kosong mengenai konfirmasi. Tapi kenapa Roseta sekasar ini.


Apa salah Theo sebenarnya? 


Apa dirinya terlalu kejam?


Boleh bukan jika Theo emosi sekarang. Ia sudah lelah. "Ada apa dengan isi kepalamu itu, Roseta?"


"Aku sudah bilang padamu. Ayo berhenti, aku tidak mau lagi. Tidak ingin memulai lagi denganmu. Apa kau masih tidak paham soal itu?”


"Apa aku terlalu remeh untukmu. Apa begini caramu? Egois."


Maka Theo benar-benar marah untuk kali ini. "Aku tahu aku pernah salah. Itu sangat sulit juga untukku Roseta. Tidak ada yang mau disalah pahami. Aku tidak pernah menginginkan itu. Aku juga kesusahan saat tidak tahu harus berbuat apa. Apa kau pikir aku juga tidak menderita disaat aku tahu kau meninggalkanku? Itu sangat sulit."


Roseta kesusahan meneguk ludahnya sendiri. Ia mendongak menatap lurus Theo yang sedang dikerubung amarah. Roseta mencoba tak gentar dengan tetap mempertahankan keangkuhannya.


"Butuh waktu delapan tahun sampai aku bertemu kembali denganmu, Roseta. Disaat aku masih membencimu, tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Aku juga lelah, tapi kau selalu membuatku luluh, tanpa ampun membuatku tak bisa jauh. Kau tidak akan pernah tahu karena kau bukan diriku."


Sorot mata Theo begitu terluka. Ini untuk pertama kalinya bagi Roseta. Pemandangan ini begitu memilukan, tapi ia tetap tidak mau kalah untuk menurunkan egonya.


"Theo." Roseta juga lelah, ia tak bisa menanggapi apapun yang diucapkan oleh Theo. Soalah banyak cairan yang sudah menyumbat isi kepalanya, ia pening.


"Aku minta maaf. Aku memang salah. Sangat salah untuk semua keadaan yang aku buat. Aku keras kepala." Theo tidak bisa berhenti berbicara saat ia tahu ekspresi Roseta bwrubah


"Theo."


Jangan lagi. Theo sudah terlihat putus asa. Tidak bisa dibiarkan.


"Aku sama lelahnya. Aku tidak bisa lagi, ini sangat melelahkan. Theo..."


"Berhenti bicara." Kali ini Theo benar-benar tak ingin mendengar kalimat perpisahan untuk kesekian kalinya.


"Percaya padaku, masih banyak wanita yang lebih baik daripada aku. Aku yakin kau akan me-"


Roseta tak kuasa melanjutkan kalimatanya saat pinggang dan satu tangan ditarik spontan, bersamaan dengan itu bibirnya sudah dikatup dalam keganasan. Sensasi dingin dari bilah bibir dan hangatnya hembusan napas membuat jantung yang semula berdegup kencang seperti mendadak berhenti untuk berdetak.


Theo menci**nya.


Roseta merasa oksigen yang bebas mengudara dirambas begitu saja. Dengan cekalan yang terasa menguat hingga tubuh yang semakin merapat, Roseta disadarkan, mencoba melepas namun Theo tidak membiarkan.


Mata itu Theo pandang meski tak setegas sebelumnya.


Roseta tetap memaksa, mengambil kesempatan disela jeda, bukan berhasil yang ia dapat, justru Theo yang jauh semakin melekatkan tubuh hingga nyaris tak berjarak.


"Berh-"


Dengan satu kata yang belum penuh terucap, Theo melanjutkan untuk meluapkan amaran lewat decapan kala lidah yang leluasa itu tak berhenti mengecap, menyesap sembarang meski tanpa melihat karena menutup mata. Roseta lemas dengan getaran dada yang panas.


Masih tak berhenti. Thei justru memanfaatkan kesempatan tak berdaya Roseta dengan mengangkat tubuh itu dengan mudah. Memasuki ruang lebih dalam hingga menemui sofa. Membanting Roseta diatasnya.


"Masih ingin bicara? Hm?" Tatapan itu menusuk hingga membuat dada Roseta semakin sesak. Theo jelmaan Ib**s. "Aku ingin menghamilimu."


Maka satu butir air mata jatuh begitu saja, Roseta merasa tak punya daya apa-apa. "Dan kau akan menjadikanku wanita murahan seperti perkataanmu sebelumnya?"


"Jangan merendahkan dirimu, Roseta." Teriak Theo menggema hingga dengung terdengar berirama.


"Kau yang membuatku rendah di depanmu." Teriak Roseta tak kalah kencang. "Apa selama ini tidak cukup?"


Wajah Theo semakin mendekat dengan tubuh yang mengun**ung penuh diatas. Setitik emosi yang awalnya kecil sekarang semakin membesar. Netra mata pria itu bergetar, otot di pelipis juga ikut muncul serempak. Jika dibilang Roseta takut, maka jawabannya sedikit, tapi lebih daripada itu, ia teramat kecewa.


"Lakukan Theo. Lalukan semaumu, maka setelah itu, aku jamin kau tidak akan pernah melihatku lagi, di dunia ini."