
roseta terpaku dengan ucapan rara, secara tidak langsung rara menunjukkan bahwa dialah penghalang antara adi dan rara
" loe keterlaluan ya di, roseta kurang baik apa sama loe... " tunjuk sasa kearah adi dengan tatapan sinis
" g-gue... " jawab adi dengan raut muka panik, dia takut roseta akan meninggalkannya karena sebenarnya adi mencintai roseta, tapi dia juga tau kalau dia salah sudah menduakan roseta dengan rara
" adi ayo kita udahin aja ini, untuk kesalahan kali aku gak bisa maafin kamu " tutur roseta dengan mata sembab dan hati pilu
" ros dengerin aku dulu, maaf memang aku salah tapi aku gak mau kita pisah " wajah memelas adi berharap dapat membuat luluh hati roseta
" udah deh sayang ngapain sih mohon-mohon kan memang lebih bagus gini, katanya kamu cinta aku, mana? udah ya kita pulang aja " rara yang tanpa rasa bersalah memeluk lengan adi di depan roseta, membuat roseta semakin tak kuat menahan tangis
adi yang berusaha menepis pelukan rara dan mencoba memohon kepada roseta agar tidak meninggalkannnya, roseta yang sadar akan hal itupun berusaha menghindar
" CUKUP! " teriak roseta, " mari kita akhiri ini adi, aku gak bisa, KITA PUTUS " tutur roseta dan berlari menjauh diikuti sasa dibelakangnya
Adi menatap kepergian roseta dia tau jika ini sudah keputusan akhir yang dibuat roseta, tak ada hal yang bisa dia lakukan walaupun dadanya sesak menahan sakit tapi mau apa lagi memang dia yang salah
flashback off
" iya loe bener sa, seharusnya gue gak usah nangisin laki-laki itu lagi " walaupun mulut berbicara seperti itu tapi hatinya berkata lain, sakit yang roseta rasakan membuatnya enggan untuk menjalin hubungan lagi, dia berkata seperti itu agar sasa berhenti untuk membahas adi
" yaudah loe minum air dulu ya biar agak tenang " sasa mengambil air mineral yang masih tersegel utuh dan memberikan ke roseta
" makasih ya sa loe memang yang terbaik " sambil mengangkat jempol tangannya
merekapun memilih lagu lainnya, sampai ketukan pintu menyadarkan mereka
" kak permisi sudah 2 jam apakah mau di tambah? " tanya pegawai itu
" oh nggak usah mas " seraya berdiri meninggalkan room, mereka menuju resepsionis membayar tagihan, mereka pun berjalan keluar dan
bruugh~
" auuu... " roseta terjatuh dia meringis merasakan sakit di sikut tangannya, sadar akan sahabatnya terjatuh sasa pun membangunkan roseta " loe gak papa kan ros? " ucap sasa tak kalah kagetnya
" mas kalau jalan itu lihat-lihat jangan asal nabrak orang" tutur roseta dengan muka menahan sakit
" loe yang jalan gak lihat-lihat, daritadi gue ada disini, dan loe yang nabrak gue " jawab laki-laki itu
" oh maaf ya mas, sahabat saya gak lihat tadi maaf ya mas" ucap sasa yang tau akan kejadian yang sebenarnya
" ssstt diem deh " sasa menyuruh roseta untuk diam sejenak daripada masalah tambah runyam pikirnya " maaf ya mas, sekali lagi kita minta maaf, kita permisi dulu ya mas" sambil menarik tangan roseta untuk menjauh dari sana
" loe kok malah minta maaf sih dia kan yang salah " sasa yang mendengar ucapan roseta mengeleng-gelengkan kepalanya " loe itu yang salah ros, loe yang nabrak dia, gue lihat sendiri, dengerin dulu deh, loe tadi kan bayar tuh dia udah di situ sama temen-temennya lha waktu kita keluar loe gak sengaja nabrak dia " penjelasan yang diberikan sasa membuat roseta merasa bersalah " ada yang sakit nggak? mau ke klinik? " tanya sasa yang sedari tadi melihat roseta seperti menahan sakit
" ah gak usah ntar gue kasih betadine sama salep aja, gue ada kok dirumah, yaudah yuk kita pulang aja " tutur roseta " cuci dulu gih, ntar infeksi" jawab sasa
sasa membawa roseta ke arah toilet, roseta pun membasuh tangannya yang terluka dengan hati-hati memang tak berdarah banyak tapi rasanya perih, setelah itu mereka berjalan menuju motor mereka yang terparkir
"gue yang di depan aja ya tangan loe kan masih sakit gue aja yang naik di depan " permintaan sasa karena sebenarnya dia juga mengkhawatirkan temannya, dijawab dengan anggukan dari roseta, mereka pun akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut
sesampai dirumah roseta pun mengambil kotak p3k di bawah tv, dia mengobati lukanya dan dibantu oleh sasa
" gue pulang dulu ya udah jam 5 nih" ucap sasa sambil mengembalikan kotak p3k ke tempat semula
" loe naik motor gue aja " roseta tau sahabatnya ini tak membawa motor " gak usah gue pesen taksi online aja " sambil menunjukan ponselnya
mereka pun berbincang sebentar sebelum taksi onlinenya sampai
" ros gue pulang ya, ini udah sampai " sahut sasa sambil menenteng tas miliknya
"oh iya kalau gitu, hati-hati ya " mereka pun beranjak dari tempat mereka
seperti biasa waktu menunjukan jam 5 lebih rosetapun bergegas untuk melaksanakan sholat
drrt drrt drrt
diraihnya ponsel yang masih di dalam tas
( Assalamualaikum hallo ros udah kamu beliin belum bahan-bahannya? kalau udah kamu rapiin ya taruh sesuai tempatnya ya! ) suara di ujung telepon membuat roseta kaget lantaran dia lupa membelikan bahan-bahan yang tadi dititipkan kakaknya
" haduuuh mati gue lupa beliin " batin roseta
" Walaikumsalam hmmm... maaf kak tadi aku lupa buat beliin, apa aku beliin sekarang kak? "
( oh lupa yaudah gpp, kakak aja yang beli ini juga udah mau pulang, yaudh klo gitu kakak matiin ya assalamualaikum ) ucap nindy sambil mengakhiri panggilannya
begitulah seterusnya kehidupan roseta selama menunggu hasil pengumuman kelulusannya
Jangan lupa like dan komen ya dan tambahkan novel ini menjadi novel favorit kalian