ROSETA

ROSETA
What?



John Jeko Aditama atau biasanya disapa Jeko, pria itu sedang berlari terbirit seperti tidak kuat menahan kencing, langkah kaki panjangnya tak berhenti menghentak bangunan tinggi dan besar sebuah perusahaan, Vante Group.


Jeko datang dengan wajah gelisah, tak bisa dipungkiri bahwa dia sedang membawa berita yang sangat genting terlebih penting.


Pandangan Jeko terus brfokus ke arah depan, mata bergetar itu seolah mengatakan bahwa dirinya datang membawa sesuatu yang sangat berharga dan langka untuk didapatkan. Ya benar sekali, dengan senyum yang terpampang di lengkungan bibirnya walaupun bertolak belakang dengan gestur tubuhnya itu mampu membuat seseorang yang berada didepannya mengrenyit heran dan bertanya-tanya.


"Theo, aku menemukannya!!"


Jeko berbicara dengan napas terengah-engah bersama badan yang membungkuk seraya tangan memegang lutut untuk meredakan napas yang memburu, ia tersenyum miring dengan bangganya.


"Apa yang kau temukan?”


"Redolent," jawabnya singkat.


Tumpukan berkas yang sedari tadi dibawa oleh Theo secara spontan terjatuh dari tangan berbalut jas biru dongker miliknya.


"Dimana? Cepat katakan padaku?" Theo bertanya karena penasaran sekali dengan sosok yang selama ini ia cari.


Jeko berjalan menghampiri Theo dengan wajah datar. "Ada berita baik dan buruk," ungkapnya tak memberi jawaban yang diinginkan oleh Theo.


Theo menautkan alisnya sebelum bertanya, "Apa itu?"


"Berita baiknya, dia ada di Negara ini, di Kota Melati tepatnya, sinyalku sempat melacak, tapi dia terlalu pintar, aku tidak mampu mengikuti walau dua detik saja, mungkin memang cara kerjanya seperti itu." papar Jeko detail.


"Dan kabar buruknya, lokasinya menghilang? Begitu?" Theo sedikit menghakimi bersamaan menghempaskan tubuhnya di sofa, merasa frustasi lagi.


Sebenarnya Theo bisa saja acuh dan tidak mau tahu, toh orang yang dicarinya itu sama sekali tidak merugikan perusahaan, tapi anehnya kenapa secara diam-diam.


Apakah dia tidak mau imbalan atau semacamnya?


Orang seperi apakah dia?


Lalu, kenapa melakukannya untuk Theo?


Jeko menganggukkan kepalanya lalu ikut limbung di sofa. "Maaf Theo, belum bisa membantumu," ungkapnya penuh sesal.


Jeko telah mengenal Theo semenjak remaja meski bersekolah di sekolahan yang berbeda, waktu itu mereka terbiasa bersama karena tergabung dalam Club basket. Namun, setelah lulus mereka terpisah sampai bertemu lagi lima tahun terakhir ini berkat perkenalan keluarga besar keduanya, atau lebih tepatnya pertemuan itu terjadi lagi saat perusahaan Theo tengah mengadakan pesta tahunan yang kebetulan mengundang keluarga besar Aditama, dan detik itu mereka menjadi sangat akrab sampai sekarang.


"Pasti akan sangat sulit untuk menemukannya lagi," ujar Theo lemas.


Theo maupun Jeko sering sharing mengenai beberapa masalah satu sama lain, baik masalah pribadi maupun perusahaan. Theo sudah menganggap Jeko sebagai adiknya sendiri, begitu pula sebaliknya dengan Jeko. Tapi sayangnya, Jeko yang kelewat membangkang itu enggan memanggil Theo dengan cara yang benar.


­­­­­­­­Saat ini Theo tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Yura dan Rahel, itupun rumah tangga yang dimiliki Theo sangat gersang karena pria itu tidak mencintai istrinya. Adapun Gina Ibu satu-satunya yang dimiliki Theo, wanita paruh baya itu memutuskan hubungan secara sepihak tepat setelah menggelar acara pernikahannya dulu.


Theo sudah berkali-kali meminta penjelasan kepada Ibunya, namun nihil, hanya tolakan yang didapatinya. Gina sama sekali tidak ingin menunjukkan diri dihadapannya. Theo pun tak memiliki akses untuk mengetahui bagaimana kondisi ibunya.


“John aku pernah melihat Swan melamar Bryna di depan mataku sendiri.”


Kenapa tiba-tiba membucarakan Swan dan Bryna? Itulah yang ada di pikiran Jeko. Namun pria itu hanya mengangguk dan terkekeh sebagai respon. "Tapi Bryna menolaknya 'kan. Jika aku ingat lagi, sepertinya sudah dua belas kali.” ungkapnya ringan.


Memang benar yang dikatakan Jeko saat ini. Swan putranya itu terlalu polos dan jujur kepada Jeko maupun Liliana istrinya, tipe anak yang terbuka kepada orang tua.


"What the..." Theo membelalak tak percaya, menegakkan badannya lalu menghadap Jeko untuk memastikan.


Jeko praktis mengangguk, ia tidak berbohong. "Kenapa? Tidak percaya?" tanyanya atas keterkejutan Theo yang menurutnya begitu berlebihan.


Jeko sebagai ayahnya saja santai, bahkan terkadang mengatai Swan tidak lebih jago darinya. Jako kerab memamerkan pada Swan bahwa dirinya melamar Ibunya hanya sekali saja, dan langsung diterima.


"Jadi kau sudah tau? Apa Swan cerita padamu?" tanya Theo penasaran akan hubungan anak dan ayah itu.


"Dari hal kecil sampai besar, Swan selalu cerita padaku atau pada Liliana."


Theo mengangguk mengerti dan mulai paham. "Pantas saja Swan sangat mirip denganmu."


"Sangat keren 'kan?" ungkap Jeko bangga.


"Masih keren Swan," timpal mutlak Theo menurunkan tingkat kepercayaan Jeko dalam sekali hantaman.


Belum sempat Jeko melemparkan protes, dering ponsel yang berada disaku kanannya berbunyi. "Oh, Liliana telepon?"


"Halo, sayang.” Jeko mengangkat telepon dan langsung menyapa istrinya dengan sayang.


“Sumpah geli, John.”


Jeko menekuk mukanya, sungguh kasian. "Tidak apa-apa Sayang, aku akan tetap seperti ini, ada apa?"


Jeko adalah tipe suami sabar dan sedikit bucin pada istrinya, apalagi jika itu urusan ranjang, merengek seperti bayi pun dilakukannya.


“Aku hari ini pulang, perkiraan sampai nanti malam, kamu nggk usah jemput aku, biar Pak Abdi saja.”


“Kenapa? Aku akan tetap menjemputmu, mau itu malam, tengah malam ataupun subuh.”


“Yasudah terserah kamu saja. See you sayang, nanti aku kabari lagi.”


Jeko mengangguk. "Hati-hati. I love you sayang."


Bisa terdengar suara kekehan dari balik telepon sebelum Liliana menjawab.


“Aku tahu.”


Setelah panggilan tertutup, entah mengapa Jeko merasa hawa begitu mencekam, apalagi saat ia dapat melihat bagaimana Theo melihatnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa siartikan oleh Jeko.


“Ad…ada apa dengan tatapanmu itu.”


“Aku ingin berbicara.” Theo mejawab tanpa berpikir panjang.


Bukankah sedari tadi keduanya saling berbicara? Lantas apa maksud dari ajakan Theo itu?


Sebelum Jeko ingin menimpali, Theo berdiri dan berjalan di bar mini yang ada di dalam ruangannya, setelah kembali, pria itu membawa diri dengan dua gelas minuman berada ditangannya.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba?” Tanya Jeko sembari tangannya menerima minuman yang diulurkan oleh Theo.


Setelah Theo meletakkan gelasnya di meja, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya memasrahkan punggungnya di sandaran empuk sofa, "Ada sesuatu yang sangat ingin aku tanyakan," jawabnya sedikit ragu.


Theo sepenuhnya lesu.


"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan, jika aku tau dengan senang hati akan ku jawab." Bersamaan itu pula tubuh Jeko ikut disandarkan di punggug sofa.


Mendengar nama istrinya disebut, sontak saja membuat Jeko terduduk dengan tegak kembali. "Theo, kau sedang tidak tertarik dengan istriku 'kan?"


Satu jitakan mulus meluncur di kepala Jeko. Bisa-bisanya kelinci bodoh itu berpikiran konyol. Mana ada Theo tertarik dengan wanita super bar-bar seperti Liliana.


Theo berdecak kesal dengan lirikan tajam menghujam. "Aku bicara serius Jeko!!"


"Aku juga serius, Theo. Aku tahu kau tidak mencintai Yura, dan fakta itu membuatku berpikiran buruk asal kau tau. Apa jangan-jangan selama ini kau penyuka sesama pri-,"


Rasanya Theo ingin sekali melepas mulut Jeko dan menggantinya dengan mulut bebek saja, asal bicara dan seenaknya. Theo pria tulen, terbukti dirinya juga bisa menghasilkan anak meskipun tanpa sadar telah meniduri Yura.


Juga, Theo masih sangat ingat kok, bagaimana dirinya dulu sering menghabiskan malam panas dengan Roseta. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


"John Jeko Aditama, aku serius!!"


Jeko dibuat merinding sendiri melihat Theo yang memang sedang tidak bercanda, lupakan dulu soal keusilan yang sangat ingin sekali dilakukannya.


"Oke, oke. Liliana di Negara A."


Theo menjetikkan jari. "Benar dugaannku." ungkapnya.


Kedua alis Jeko menyatu seakan menyiratkan sebuah pertanyaan. Pria bergigi kelinci itu baru saja ingin membuka mulut untuk bertanya, namun untuk kesekian kalinya pernyataan Theo membuatnya berhenti bicara.


"Ko, apa kau kenal dengan orang yang disebut Kakak oleh Bryna?" Theo langsung bertanya langsung ke intinya.


"Kakak? Bryna?” Jeko kembali bertanya.


Selanjutnya Jeko terdiam cukup lama.


Melihat Jeko tanpa ekspresi membuat Theo bingung, pasalnya pria itu tidak tuli untuk mendengar pembicaraan memilukan antara Roseta dan Bryna yang jelas-jelas mengatakan bahwa, saat ini, Liliana sedang mengunjungi 'Kakak' di Negara A. Sebagai suami Liliana, tidak mungkin Jeko tidak tahu dengan sosok 'Kakak' itu.


"Kau benar-benar tidak tau?" Theo bertanya lagi.


"Theo, coba katakan dengan benar. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Jeko hanya ingin memastikan, apakah ia salah dengar atau memang pertanyaan Theo memang benar.


"Oke. Jadi begini, kemaren pagi aku mendengar pembicaraan dari dokter Roseta dan Beyna saat di Rumah sakit. Mereka menyebut istrimu Liliana sedang mengunjungi Kakak di Negara A."


Sepertinya saat ini Jeko dibuat menganga begitu saja, bukan karena syok dan semacamnya. Hanya saja, dirinya sedang memproses kata per kata dari mulut Theo untuk dimengerti.


Sepertinya ada yang mengganjal dan tidak beres.


Haruskah Jeko mengatakan apapun yang diketahuinya?


Sekelebat ingatan tiba-tiba datang menginterupsinya. Pasalnya, apa yang baru saja Jeko dapatkan adalah sesuatu yang sangat miris, yang dengan mati-matian Jeko lupakan, bukan untuk melupakan sosoknya, tapi melupakan tragedinya. Tapi jika menuntut doa, Jeko berani bersumpah, ia tak pernah lupa.


Tapi, hanya satu pertanyaannya?


Bagaimana bisa Roseta dan Bryna berbicara gamblang di depan orang baru seperti Theo?


"Kau yakin tidak menguping pembicaraan mereka 'kan,?" Jeko akhirnya menuntut curiga.


"Enak saja, tentu saja tidak bodoh. Mereka mengatakan di depan mataku sendiri. Sangat jelas dan tidak ditutupi."


Jeko memincingkan mata, masih ragu dibuatnya. "Benarkah?" tanyanya lagi.


Sumpah demi apapun Jeko ragu.


Satu kemungkinan Jeko dapatkan, Roseta bisa saja menganggap Theo hanya angin lalu saja sehingga wanita itu berani dan sangat terbuka untuk berujar perihal seseorang dengan sebutan Kakak.


Ya, Jeko sangat tahu siapa sosok Kakak yang dimaksudkan.


"Astaga, Ko. Lihat kakiku, dokter Roseta yang menjahitnya dan Bryna yang membawaku kesana."


Untuk perihal ini, Jeko tidak akan mempertanyakan. Pria itu sangat tahu bagaimana kedekatan Theo dengan Bryna. Wajar saja bukan, ketika seorang Coach basket dekat dengan muridnya.


Jeko sedikit melirik kearah bawah tepatnya dimana terdapat kaki Theo yang terbungkus perban. Kenapa Jeko baru sadar temannya ini terluka? Jeko dibuat bergidik ngeri.


"Orang dengan sebutan Kakak itu kembaran Bryna yang sudah meninggal dua tahun yang lalu. Liliana kesana untuk mengunjunginya dan menabur bunga di makan.”


Sampai disini Theo dibuat tercekat dengan kenyataan yang sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya. Kedua netranya bergetar tanpa intruksi yang mendorongnya.


"Theo, kau masih mendengarku 'kan?" Tanya Jeko menyadari Theo dengan ekspresi pucat pasi.


Theo mengerjap, "Ak…aku mendengarmu." jawabnya gelagapan.


"Braga, meninggal kar-,"


"Tung-tunggu, Braga?"


Theo memotong begitu saja penjelasan yang belum sampai ujung dari mulut Jeko. Jujur, nama itu seolah membawa Theo untuk mengingat kembali kejadian kemaren malam. Dimana dirinya bertemu dengan anak laki-laki bernama Braga.


"Iya, Braga Samanta. Ada apa?"


"Ko, apa kau yakin anak itu sudah meninggal?"


"Aku yakin. Saat itu aku dan Liliana juga hadir di pemakamanya."


Seakan kenyataan itu sangat jelas, Theo dibuat semakin pening di kepalanya. Sebenarnya apa yang diharapkan Theo?


"Theo, kenapa kau sangat ingin tau tentang hal ini?"


"Ha? Tidak, Aku hanya prihatin melihat dokter Roseta dan Bryna membicarakan siapa tadi, Braga? Iya Braga 'kan? Mereka berdua menangis saat itu."


Jeko seolah mengerti dan hanya mengangguk sebagai tanggapan. Sedangkan Theo mulai memusatkan akal sehatnya untuk mencari-cari kemungkinan dari berbagai hal yang terjadi tanpa adanya kesengajaan di depannya. Pria itu boleh brengsek seperti biasanya, tapi jauh di dalam hatinya, ia tidak pernah menghilangkan Roseta dari singgasananya.


Braga?


Haruskah Theo mencari anak yang sudah menyedot habis perhatiannya saat tadi malam?


Apakah praduganya akan benar?


"Ko, apa kau percaya jika Bryna dan Braga adalah anakku?"


Jeko yang sedang menyesap minumannya sontak menyembur secara spontan hingga berhamburan di meja.


"WHAT?"