
"Ga, lehernya ada cup**g?" Haidan yang mengamati Theo sedari tadi menemukan bercak merah pada leher pria itu, bukan hanya satu, melainkan dua buah.
"Cup*g? Maksudnya ada ikan *cup**g di leher Daddy?" Braga terburu mengikuti Haidan yang berada di sisi ranjang sebelah kanan.
Haidan menepuk jidat. Ia lupa Braga tidak akan pernah mengerti akan istilah aneh seperti itu, apalagi soal cup**g, yang Braga tahu hanyalah perkara uang. Bahkan, Braga pernah mengatakan jika sudah besar nanti, perusahaan Theo akan diakuisisi dengan paksa. Itu hak ku Kak Haidan, aku anak kandungnya. Begitulah konotasinya yang terdengar. Haidan sering sakit kepala jika berdebat dengan Braga.
"Bukan...bukan itu." Lalu Haidan menunjuk tepat pada leher Theo. "Itu yang aku maksud."
Braga memegang sebentar leher Theo. "Nggak timbul, aku kira Daddy biduran, apa ini efek samping obat itu?" Braga tampak berpikir keras. "Sebentar, aku telepon Dokter Liam lagi mumpung belum jauh ninggalin hotel in........"
"Itu bukan alergi, Braga, tapi digigit ular." Dylan yang sedari tadi duduk di kursi dengan tangan yang disangga dikedua lutut pun bangkit menghampiri Braga dan Haidan.
"Ular?" tanya Braga polos.
"Iya, ular betina," Haidan menimpali.
Dylan terkikik. "Kamu nggak usah kawatir Ga. Bukan masalah besar. Nggak penting juga. Tapi kalau Nyonya Roseta tahu, pasti akan ada mala petaka."
"Maksud Kak Dylan apa sih? Braga nggak tahu."
Dylan menepuk-nepuk kepala Braga. "Urusan orang dewasa."
"Kak Dylan pikir Braga masih kecil gitu?" Braga tidak terima, tangannya bersendekap dada.
Gimana jelasinnya. Giliran Dylan yang berpikir keras. Bagaimana tidak, Dylan tidak mungkin menceritakan asal muasal tanda merah yang menempel jelas di leher Theo adalah sebuah hasil hisapan dari ular betina, Yura maksudnya.
Masa bodo lah. Dylan mengeluarkan ipadnya, menerobos cctv hotel yang tepat merekam lift yang ditumpangi Theo dan Yura saat melakukan adegan panas. "Ini kamu lihat!!" Dylan menyodorkan ipad itu kepada Braga.
Yang ada di otak Dylan adalah mengutuk dirinya sendiri karena mempertontonkan Video dewasa kepada bocah cilik belum cukup umur, namun jika dipikir lagi, sebelum melakukan lemparan bola basket kepada Theo, Braga sudah melihat hal senonoh itu bukan? Jadi tidak masalah. Anggap saja Dylan sedang membenarkan tindakannya, karena mau bagaimanapun Dylan tidak jago menjelaskan, apalagi mempraktekan. Masa iya, Dylan harus memberi cup**g kepada Haidan sebagai contoh. Dih. Amit-amit. Dylan bergidik ngeri.
Braga melirik Haidan dengan tatapan mengintimidasi setelah selesai melihat video yang mempertontonkan adegan ayahnya yang dicumbu habis-habisan di area leher. Braga sangat paham, tentu, apa sih yang tidak diketahui oleh Braga, hanya saja Braga tidak paham dengan isi kepala Haidan.”
"Kak Haidan, berteman sama Braga dilarang menggunakan bahasa norak. Ini tuh namanya Hickey, H-I-C-K-E-Y, dibaca hekei, bukan cup**g!!!"
"Sama saja Ga, dikampungku namanya tetap cup**g, C-U-P-A-N-G, dibaca cup**g bukan hekei." Haidan tidak terima dikatakan norak, tentu saja orang lain di Negara I bakalan menyebut cup**g. Kenapa hal sepele saja di permasalahkan sih?
*"No. Nggak ada bantahan. Aku nggak mau nyebut *cup**g. Sekali hekei tetep hekei. Kalau Kak Haidan nggak nurut, Braga beneran pulangin Kak Haidan ke kampung, mainan saja sana sama ikan cup**g, bukan cup**g kayak yang ular betina lakuin ke Daddy, tapi Betta Fish, bener-bener ikan cup**g."
Dylan sibuk melihat perdebatan Braga dan Haidan yang bahkan bukan untuk pertama kalinya, hampir setiap hari mereka membahas hal tidak penting hanya untuk sebuah perdebatan. Hanya dengan Haidan saja Braga bisa berulah kekanakan. Perangai Leon dari orang yang yang tak mengenalnya pun yang tidak mau dikenal olehnya sama persis seperti Theo; sama sekali tak bisa tersentuh, angkuh dan keras kepala.
"Oke. Aku diam."
"Nah gitu dong." Braga mengembalikan ipad milik Dylan lalu mendudukkan bokong di ujung kasur. "Terus gimana nih?" Ucapnya putus asa. "Tumben aku nggak bisa bikin rencana."
Braga menepuk keningnya sampai menimbulkan suara sedikit keras. "Ya Tuhan bagaimana ini!!" lanjutnya setelah mengingat sesuatu yang begitu mendesak.
Braga berdiri terburu, berlarian seperti orang gila, salto sampai empat kali, bahkan meninju-ninju udara yang jelas-jelas tidak punya salah padanya.
"Kak Haidan, aku harus bagaimana?"
Yang ditanya bingung.
Haidan terbengong.
Maksudnya apa?
Bagaimana untuk apa?
Atau yang dimaksud Braga adalah. "Tabrakin kepala kamu ke tembok, Ga?" saran Haidan yang langsung mendapat hadiah pelototan dari Dylan.
"Mau dibunuh Nyonya besar. Braga digigit semut saja yang disalahin kita. Apalagi lihat kepala Braga benjol, bisa digiling dengan mesin daging nantinya."
Benar juga. Lantas Haidan memekik saat Braga akan menuju dinding dekat jendela. "Stop, Braga, kamu push up saja."
"Ok." Braga menuruti perkataan Haidan.
Tak sampai lima kali, Braga berdiri. "Maksud Braga ini Kak Haidan!!!!" Braga melempar ponselnya, ada tanda merah berjalan di layar yang menyala. "Sudah puas ngerjain Braga!!!"
Braga memang sengaja menuruti Haidan. Ia cukup setres untuk memikirkan jalan keluar. Ia kira dengan sedikit berolahraga, otak yang mulanya menggumpal karena padatnya lemak nakal perlahan bisa mencair layaknya air.
"Duh Braga, Kak Haidan juga bingung." Layaknya Braga, Haidan juga kalang kabut, ia sampai mengikuti langkah demi langkah yang Braga lakukan.
"Aku galau Kak."
"Kamu sudah cukup tampan Ga, yang boleh galau Kak Haidan, kamu jangan. Kalau masalah rindu, biar Dylan yang nanggung."
Braga gemas. "Aku lagi nggak bercanda Kak. Aku bingung. Kenapa harus hari ini. Aku nggak siap. Apa kita kabur saja. Tapi bagaimana dengan Daddy." Braga menatap nanar lagi ke arah Theo.
Haidan menggeleng. "Tidak, lari dalam masalah hanya diperuntungkan untuk seorang pengecut saja. Kamu itu pria yang katanya dewasa 'kan? Kamu pasti bisa."
"Tapi untuk bertemu Mommy Braga bener-bener belum siap Kak. Gimana ini? Aku bingung. Tanda merahnya sudah semakin mendekat."
Haidan memegang pundak Braga, mencoba meyakinkan bocah itu. "Kamu harus bisa, Ga."
"Braga takut Mommy marah, Kak!!!" Braga menundukkan kepala, anak laki-laki itu benar-benar takut ternyata, tangannya gemetar, Haidan dengan jelas melihatnya.
Haidan berjongkok, saat ini bukanlah hal yang tepat untuk melucu atau memperdebatkan hal tidak penting. Haidan harus mampu, karena hanya ia satu-satunya orang yang bisa membuat Braga tenang dalam situasi apapun.
"Braga, dengerin Kak Haidan. Aku tahu yang kamu rasakan. Mungkin tidak juga. Tapi Kak Haidan tahu situasinya. Kamu tidak bersalah. Mommy kamu tidak akan marah, Kak Haidan jamin deh."
"Tapi aku bohongin Mommy Kak. Hampir selama tiga tahun Kak. Braga bener-bener takut."
Jika saja yang dihadapinya bukan Roseta ibunya. Braga akan membusungkan dada percaya diri yang dibumbung tinggi.
"Kamu punya alasan, Ga. Kamu melindungi semuanya, melindungi keluargamu."
"Tapi semua karena kesalahanku, Kak. Braga ceroboh, sampai kapanpun keadaan ini karena ulah Braga sendiri."
Haidan tak kehabisan cara. "Hari ini atau besok, sama saja Ga. Kamu sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Kamu sudah cukup aman. Meskipun rencana itu baru akan kita lakuin besok, tapi bukankah lebih baik sekarang, sama saja bukan?"
Braga tampak berpikir. Yang dikatakan Haidan memang benar. Rencananya besok ini mereka akan berbondong-bondong pindah ke Negara asalnya, yaitu Negara I, untuk menetap selamanya disana. Karena beban masalah yang ditanggung Braga sudah tuntas sampai ke akarnya, Braga sudah siap untuk dimunculkan ke Dunia yang sebenarnya.
"Ga. Daripada kamu pusing mikirin ibu kamu yang masih kurang dari satu jam lagi baru sampai di tempat ini, mending kamu pikirin nasibmu karena Nyonya besar berada di lantai satu. Kamu tahu 'kan artinya?" Dylan melempar ipad untuk menunjukkan dimana Dera berada.
Dylan terpaksa memecah perdebatan serius antara Braga dan Haidan untuk urusan yang jauh lebih harus diutamakan, untuk urusan Nyonya Roseta, menurut Dylan masih bisa dipikirkan nantinya. Bukan maksud Dylan untuk mengesampingkan, namun Nyonya besar Dera terlalu sulit untuk diabaikan bila sudah marah, apalagi ada anak satu-satunya yang masih terkulai lemah.
Braga membolakan mata memandang Dylan dengan nanar. "Nasib pantatku dipertaruhkan." gumamnya.
Disaat yang bersamaan, ponsel Braga bergetar, ia pun segera menjawab, karena pria inilah yang sedari tadi juga membuat Braga mati penasaran.
"Uncle, kenapa ponselmu tertinggal di apartemen? Braga mau detail yang sejelas-jelasnya kenapa bisa Uncle bersama Daddy di tempat judi. Braga tunggu di hotel, bukan di rumah." ucapnya, lalu panggilan ditutup sepihak olehnya.