
Perasaan haru, bahagia, menyesal menumpuk jadi satu setelah penjelasan kelewat panjang keluar dari mulut Theo di hadapan semua orang yang berkumpul di dalam satu ruangan.
Terbukanya buku lama, kejadian naas yang menimpa Braga pun dengan cerita di luar nalar yang bocah cilik itu lakukan lantas membuat para orang dewasa tak bisa berpikir secara logis.
Benarkah?
Hanya satu pertanyaan itu.
Tapi jika tidak benar, atau jika hanya karangan buku dongen semata, tidak akan mungkin menjadi rumit seperti ini bukan?
Theo mati-matian menjelaskan secara detail agar semua paham hingga perasaan lega tiada beban tuntas terangkat.
Satu hal yang terpenting sekarang adalah, semua sudah berkumpul bersama, Braga yang sempat tiada nyatanya tidak benar adanya.
...****************...
Negara S beberapa jam yang lalu.
Theo menaiki tangga darurat hotel Diamond Sand. Jika tadi ia berpamitan kepada Roseta untuk pergi ke bawah menemui seseorang, nyatanya Theo berbohong.
Tempat pertemuan bukan dibawah, melainkan di puncak gedung paling atas, tempat terbuka dengan tidak ada seorangpun disana.
Salah.
Ada Robert.
Robert Michael Bieber.
Theo melihat dari sini, dari arah tak terlalu jauh karena ia berada tepat di depan pintu sedangkan Robert berada di bibir gedung, pria itu melihat arus lalu lintas jalanan Negara S.
Theo berlutut. "Maafkan aku." ucapnya.
Robert menoleh. Lantas pria itu berkaca-kaca dimatanya. Kematian putranya yang hampir tiga tahun yang lalu teringat jelas secara tiba-tiba saat melihat Theo bersimpuh meletakkan lutut di lantai, tepat dihadapannya.
"Aku senang ternyata kau seorang pria Tuan Pandega."
Theo yang mendengarnya lantas tertunduk memandang arah bawah. Ia semakin menangis. Karean ulah Braga, ah, bukan, semua salahnya, salah Theo yang tidak berada di sisi Braga, hingga putranya itu bertindak diluar batas.
"Maafkan aku." Theo tetap meminta maaf.
Robert praktis menghampiri Theo. Mengulurkan tangan agar pria itu cepat berdiri. "Setidaknya putraku selalu dikirimi bunga dimakam. Diberi doa di setiap harinya. Aku sudah menerima dengan lapang dada. Bukan Braga, bukan anak itu yang salah, tapi takdir, salahku juga karena bertindak teledor."
Theo berdiri lantas memeluk Robert tanpa enggan. Ia tidak perduli dikatakan cengeng, hidupnya sudah begitu kacau. Theo sempat bersyukur ternyata Braga masih hidup. Tapi kelegaan tak begitu saja luruh di dada, dibalik itu semua ada orang lain yang kehilangan nyawa.
Alenso Justin Bieber, putra dari Robert Michael Bieber, yang ternyata penolong Braga saat bocah cilik itu dikejar Robert Anderson Foltrees dengan tujuan dibunuh.
"Terimakasih." Theo lantas melepas pelukan.
Benar jika Theo berkata seperti itu. Jika bukan karena Robert Bieber. Braga sudah pasti tertangkap mafia yang sudah mengincarnya oleh sebab hal yang dilakukan Braga.
Braga menyebar luas bukti transaksi penjualan senjata ilegal oleh mafia yang di pimpin Foltrees di pasaran Benua. Hingga dampak luar biasa merugikan dialami Foltrees, uang miliaran bahkan triliunan harus lepas dari genggaman. Diringkus, tapi tak membuat Foltrees mendekam, pria tua itu bebas, apapun bisa dilakukan termasuk membalas dendam.
Braga saat itu masih berumur enam tahun. Tanpa tahu apa yang dilakukannya sangat berbahaya, apalagi tanpa sepengetahuan orang tua.
Beruntung. Badan agen AIA Negara A menemukan Braga terlebih dahulu hingga menugaskan salah satu dari mereka untuk mengawasi dan selalu berada di dekat Braga, yang tak lain dan tak bukan Robert Michael Bieber sendiri.
Robert Bieber pada saat itu bersama putranya terpaksa membelok laju mobil karena pemberitahuan mendadak muncul di ponselnya. AIA; memberitahukan keadaan darurat.
Sedangkan Braga yang berada di mobil bersama Paul supir setia keluarga Samanta tidak tahu dengan apa yang terjadi di belakang mereka sampai mobil Robert Bieber menghadang di depannya.
Robert berlari dengan putranya lalu mengambil alih kemudi dari Paul, selanjutnya mereka menuju area peternakan. Aksi kejar-kejaran terjadi. Keadaan ribut, Braga ketakutan, sedangkan Paul tahu keadaan jika mereka berempat di mobil sedang diburu.
Sampai pada satu titik yang tidak bisa di hindari. Entah bagaimana, tembakan berulang kali diterima. Robert memberi intruksi agar semua melompat karena sebentar lagi akan ada jurang.
Ledakan diterima. Mobil hangus terbakar dengan dua manusia yang sudah kehilangan nyawa terlempar dengan hangusnya.
Robert Bieber tengkurap dengan Braga yang berada di sampingnya, membuka mata, selamat.
Tidak tahu betul bagaimana kronologinya, yang Robert ingat dengan benar, ada raga anaknya yang terpental hitam di sisi mobil bersama satu manusia lagi.
Alenso Justin Bieber. Paul. Telah meregang nyawa tanpa sisa yang bisa terlihat jelas jika itu adalah jasad manusia. Keadaan mobil tidak utuh mengingat ledakan itu begitu dahsyatnya, namun masih menyisakan kerangka mobil yang masih jelas jika itu kepemilikan Samanta.
Hingga Robert Bieber tak mau kehilangan kesempatan. Bersama Braga yang masih bisa berjalan, Robert Bieber lantas berlari. Tuhan memberikn kesempatan padanya agar bisa menghabisi Anderson sampai pria itu tak bisa memghembuskan napas lagi.
Robert membawa pulang Braga beserta mayat yang nantinya akan di jadikan santapan harimau di kandang rumahnya. Sedangkan untuk Paul dan Alenso, Robert menghubungi agent agar mereka mengurusnya dengan manipulasi juga.
Tak sampai disana. Urusan semakin panjang saat tidak adanya kabar keberadaan Robert Anderson Foltrees. Oleh sebab itu, Robert Bieber terpakasa harus memanipulasi keadaan. Menyamar sebagai pria yang sudah tak bernyawa itu untuk kembali ke pangkuan Foltrees dengan membawa berita bahwa bocah cilik yang tidak diketahui latar belakangnya itu sudah ia habisi dan di masukkan di kandang macan, yang sebenarnya adalah kebohongan besar.
Braga selamat.
Pimpinan agen AIA Negara A tidak bisa serta merta mengijinkan Braga untuk terus bersama Robert Bieber. Beruntung sekali, bocah yang sangat cerdas itu memutuskan sendiri akan tinggal bersama siapa, ia sangat tahu tempat teraman mana untuknya pulang.
Neneknya, dirumah Sandera Gina Pandega, karena rumah yang sebenarnya sudah terlanjur dijadikan tempat berkabung oleh sebab kematiannya. Resiko juga sangat besar mengingat Foltrees bukanlah orang yang bisa dengan mudah dibohongi. Braga harus meninggalkan Negara A. Menghilangkan jejak agar keluarganya selamat.
Sandera saat datang dengan peluh membasahi wajahnya. Wanita tua itu sempat mengira yang berada di makam adalah cucu laki-lakinya.
Tapi ternyata salah.
Dan disaat itulah, Braga selalu bersama Dera dengan Robert yang harus selalu memantau mereka.
Sekarang giliran Theo. Ayahnya sendiri yang akan melindungi Braga. "Kembalilah, aku yang akan mengurus sisanya."
"Apa maksudmu Tuan Pandega?"
Theo lantas tersenyum. "Jika ini tidak mudah, biar aku yang jadi umpan, karena ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang ayah."
"Apa yang sudah kau lakukan Tuan?"
Theo berjalan ke sisi gedung, mengantungkan telapak tangan di masing-masing saku celana. "Sampai kapan kau akan berpura-pura. Jika sudah saatnya, Foltrees akan tahu kedokmu. Lalu bagaimana? Braga sering bersamamu bukan? Kau yakin pria tua itu diam saja."
Robert termanung. Semua memang tidak sesederhana itu. Jika kenyataan sudah terbongkar. Satu-persatu sudah pasti terbaca. Kemungkinan besar Braga juga sangat mudah untuk ditemukan, dan kebohongan lantas terkuak tanpa sisa.
Theo membuang muka kesamping, ke arah Robert. "Tenang saja." ucapnya sembari menepuk bahu Robert. "Apapun bisa kulakukan. Foltrees ada disini." Vee menunjukkan kepalan tangannya, mengisyaratkan jika Foltrees ada di genggamannya.
Robert terkesima. "Bagaimana bisa?"
"Nyawa taruhannya."