
"Saya tidak suka kebisingan atau keributan. Silahkan tulis semua yang ingin anda tanyakan. Nanti saya Jawab satu-persatu." Theo mengatakan itu dengan raut begitu datar.
Sepasang lima meja kursi bersejejer dengan microphone yang sudah terpasang dengan rapi. Theo duduk paling tengah, disebelah kanannya ada Jay dan Martinus, lalu disebelah kirinya ada Jordan dan Saga. Dihadapannya beberapa wartawan yang sudah terseleksi bisa memasuki perusahaan Theo.
Berita keluar yang begitu heboh tak bisa mencegah Theo untuk langsung ambil tindakan, membuat pengumuman untuk membuat klarifikasi, secara dadakan. Persetan dengan Roseta yang sebelum-sebelumnya melarang. Ini sudah termasuk kegawat daruratan, keterlaluan yang bisa merugikan banyak orang.
"Theo, kau yakin?"
"Seratus persen bang." Theo menjawab pertanyaan Saga yang tepat berada di sisi kirinya.
"Baik, semua sudah aku siapkan." ucapnya. "Jord, untuk skandal barusan, itu bagianmu." Giliran Saga berbicara kepada Jordan.
"Sip. Serahkan padaku." Jordan begitu santai. Ya jujur saja. Jika ia sebagai Theo, sudah sedari dulu ia menangani masalah sepele ini.
"Theo kenapa wajahmu seperti itu? Persis sepertiku." Jay bertanya sembari menunjuk mukanya sendiri.
Bisa dikatakan Theo dan Jay memiliki pahatan sempurna yang sayangnya membiru seperti digebukin masa. Jika Jay seperti mendapat luka baru dan masih banyak darah tersisa kemerahan di wajahnya, berbeda dengan Theo yang hanya berbekas lebam saja.
"Aku yang melakukannya." Martinus menjawab. "Dua hari yang lalu. Disengaja. Tapi kami langsung baikan setelah itu."
Jay praktis menjatuhkan rahang saat itu juga. Masalahnya ada apa? Banyak kejadian mendadak yang membuatnya seperti kambing conge. Bahkan saat ini saja Jay masih bingung mencerna keadaan.
Jay bingung?
Baik.
Yang pertama, ayahnya itu datang dan secara tiba-tiba memukulinya, untuk alasan ini Jay paham karena ada video manipulasi dirinya beradegan seksual bersama Roseta tersebar di media masa, tapi satu hal yang membuat Jay begitu penasaran, perihal ayahnya yang tadi berkata tujuan datang ke Negara ini adalah ingin menemui Braga. Pertanyaannya, sejak kapan ayahnya tahu tentang Braga bahkan dirinya atau Roseta saja belum memberitahukan?
Yang kedua. Disaat genting terjadi, tiba-tiba ayahnya itu mendapat panggilan telepon dari Theo. Pertanyaannya, sejak kapan kedua orang yang duduk di masing-masing sisinya ini mulai berhubungan sampai bertukar nomer telepon segala?
Yang ketiga. Luka memar di wajah Theo akibat ulah dari ayahnya. ADA APA? Jay ingin berteriak menuntut jawaban. Tapi waktunya sangat tidak tepat.
Yang keempat. Saat ini. Klarifikasi tanpa Jay ketahui apa yang akan diklarifikasi. Ia masih begitu syok dengan video murahan itu. Bahkan untuk berkata ataupun menyanggah saja ia masih kebingungan. Jay tidak pernah sekalipun berhadapan dengan media masa, apalagi banyak kamera dan wartawan di depannya. Ini sungguh memusingkan.
Sedangkan disisi lain ada Theo masih bersikap tenang saat para utusan mengumpulkan kertas pertanyaan untuk diserahkan padanya nanti. Tapi yakinlah, dalam hatinya sangat gusar, memikirkan bagaimana keadaan Roseta sekarang. Theo berharap wanita itu tidak terguncang.
"Pak. Kuserahkan pada anda."
Theo mengangguk, menerima kertas dan diletakkan di samping kiri tangannya. "Sebelum saya membaca dan menjawab pertanyaan. Saya akan menunjukkan sesuatu yang mungkin sebagian besar adalah jawaban dari yang anda-anda sekalian tulis di kertas ini." Jeda sebentar, Theo memperhatikan semua yang datang diam mendengarkan perkataannya. "Jord. Mulai."
Dengan begitu. Layar besar ataupun kecil yang berada di ruangan ini memunculkan adegan ulang video manipulasi Roseta dan Jay.
"Mohon perhatian. Saya bersungguh-sungguh untuk menuntaskan berita yang akhir-akhir ini muncul. Tidak hanya di ruangan ini, klarifikasi ditanyangkan secara langsung dan muncul di layar-layar videotron jalanan, bahkan di channel televisi rumah." Seperti bagaimana perangainya selama ini, Theo terlihat begitu tenang.
1. Video manipulasi Roseta dan Jay.
Setelah kurang lebih dari 11 menit, video berhenti.
"Jika anda perhatiakan dengan langsung, video ini terlihat begitu asli, tapi faktanya ini hanya manipulasi. Saya tertipu delapan tahun yang lalu. Ada seseorang yang menyelipkan flash disk di ransel saya." Theo mulai menjelaskan.
Keadaan seperti gaduh, banyak bising lirih membicarakan perihal ini. "Tolong, jika ini penting untuk artikel anda, biarkan saya berbicara." Pinta Theo begitu tegas.
"Jord, selanjutnya."
2. Video asli Mark dan Yura.
Sama, setelah 11 menit, video berhenti, kali ini di dalamnya ada sepasang manusia sedang berg**bul bersama. Menikmati berse**gama. Seperti video pertama, hanya wajah yang tidak diburamkan.
"Ini Video versi aslinya. Tim saya juga petugas yang berwenang sudah memeriksa sebelumnya. Kesimpulannya, tersangaka memanipulasi dengan mengubah wajahnya dengan wajah korban. Jika anda sekalian bertanya siapa pelakunya, saya akan menjawab." Theo menatap tajam kamera bernyala dengan tanda merah yang sedang menyorotnya. "Mark Brian Sanjaya."
"Bapak Martinus, silahkan menyampaikan sesuatu, saya tidak punya hak karena saya tidak ada didalamnya." Theo memiringkan badan, berbicara kepada kepala Samanta, tidak kepada Jay karena Theo yakin pria yang tepat berada di samping kirinya masih syok.
Berdehem sebelum menjawab, Martinus dengan pakaian teramat santai itupun menyondongkan badan. "Kepada Tuan, tidak, anda, oh bukan, kau bajingan yang sudah mempermalukan pria kecilku ini, sampai-sampai aku harus menghajarnya karena salah paham, saya juga mewakili Roseta karena sudah saya anggap seperti anak sendiri," Martinus memeluk pundak Jay dari samping, praktis membuat Jay tertunduk malu, namun banyak yang menahan tawa untuk itu. "Silahkan menyiapkan pengacara, sebanyak apapun itu, ku pastikan kau tidak akan bisa lolos dengan mudah. Aparat sedang menuju rumahmu."
"Bang, giliranmu." Dengan begitu Saga menampilkan Video baru, yang praktis akan membuat media lebih heboh dari pada ini.
3. Video asli Theo dan Yura.
Durasi kali ini begitu panjang, namun Saga menampilkan intinya saja. Tidak secara frontal, hanya bagian dimana kelicikan Yura terungkapkan. Mulai dari wanita itu memasukkan obat kedalam minuman Theo, menc**m Theo lalu melu**ti diri sendiri dengan Theo yang tak bergerak sedikitpun dari tidurnya.
Sama seperti sebelumnya, banyak bagian di blur untuk menjaga privasi.
"Anda mungkin bertanya-tanya kenapa saya menampilkan Video ini." Theo tersenyum, bukan karena ia bahagia, tapi ia mengingat masa lalu yang talak membuat ia kehilangan Roseta, bahkan tidak tahu-menahu mengenai Bryna dan Braga. "Karena Video ini, mantan istri saya mengaku hamil, dihamili oleh saya. Satu fakta yang perlu anda semua ketahui. Catat dengan baik. Rahel Sivania Pandega, bukan putri saya."
Benar bukan. Gaduh mulai terjadi lagi. Namun segera berakhir karena Theo menatap kesemuanya dengan tajam.
Jujur Theo sangat tidak ingin mengatakan hal ini di depan publik, mengenai Rahel, jika gadis itu tahu pasti akan sangat sedih. Tapi, untuk sekarang Theo tidak harus memikirkan orang lain sedangkan Bryna dan Braga lebih mendapatkn tempat yang lebih buruk.
"Jangan katakan pada media, aku ingin Bryna dan Braga hidup tenang." Theo ingat betul pesan Roseta waktu dulu. Maka, jika Bryna dan Braga tidak bisa dapat pengakuan, lantas kenapa Rahel harus merasakan status yang tidak seharusnya.
"Bang. Lanjut."
4. Photo asli Theo dan Roseta berci*an. **
Untuk berita yang satu ini memang sangat heboh, bahkan sampai sekarang photo masih beredar di media masa. Banyak yang terang-terangan menghujat. Adapun yang secara gamblang membela. Dan Theo juga baru saja tahu jika photo SMA yang tersebar setelah photo berci**an itu akibat ulah dari Braga, putranya sendiri.***
"Biar semua orang tahu, daddy dan mommy itu sudah punya hubungan dari dulu." Sumpah demi sakit hati Braga karena melihat hujatan yang dilemparkan kepada Ibunya, Theo tidak menyangka ide seperti itu muncul dalam benak bocah itu.
"Dia wanita yang saya cintai."
Boom.
Semua bersuara.
Gaduh itu mulai lagi. Bukan suara yang menyerukan cemooh, lebih seperti sorakan menjahili. Bahkan, Jordan dan Saga memutar bola matanya. Hello. Keduanya mungkin berpikir. Apa yang kau katakan bung? Bukan saatnya acara pernyataan cinta.
Theo tidak perduli dengan gaduh. "Yang dikatakan di media benar. Dia teman kencan saya waktu SMA, kami putus akibat Video manipulasi yang saya sampaikan sebelumnya. Tapi lebih daripada itu, semua memang berawal dari kebodohan saya."
Masih ingat bukan jika Theo yang sekarang teramat berbeda. Egonya sudah turun drastis.
"Dan untuk saat ini, saya tidak berselingkuh. Tapi satu fakta lagi yang perlu anda catat untuk kesekian kalinya. Wanita ini, Roseta Marveen, adalah satu-satunya wanita yang ada di hidup saya. Dia bukan wanita perusak rumah tangga saya dan Yura. Saya bercerai murni karena kesalahan dimasa lalu, dan anda semua pasti sudah paham akan hal itu."
"Dan dengan ini, di depan publik, secara terang saya menuntut Yura Sefani Brafesta."
Perasaan lega mengerubung dada. Theo berharap keadaan akan membaik setelah ini. Meski fakta yang barusan ia lemparkan secara terang-terangan bakalan berimbas begitu besar. Tapi, setidaknya, berita buruk tentang Roseta akan mereda. Meski nanti Roseta akan marah padanya karena menuntut Yura.
"Apa sesi jawaban dapat dimulai sekarang?"
Praktis semua wartawan pemburu berita menyiapkan telinga untuk kesekian kalinya.
Theo mengambil tumpukan kertas, membaca satu persatu pertanyaan di dalamnya. "Saya tidak akan membuang waktu menjawab, karena dari yang saya baca, secara garis besar permasalahan sudah saya sampaikan. Ada juga beberapa pertanyaan yang sangat menyinggung privasi sehingga tidak perlu diumbar, anda tidak berhak untuk mendapat jawaban dari saya."
Theo mengatakan itu karena melihat pertanyaan yang sangat mengganggunya, tentang siapa sebenarnya suami Roseta, yang bahkan mereka tidak berhak tahu karena wanita itu juga tidak ada disini.
Lebih dari itu, ada yang menanyakan perihal Bryna. Beberapa waktu yang lalu ada yang melihat anda bersama putri dari Roseta Marveen. Dimana hati nurani anda setelah meninggalkan putri kandung dan dengan ringan pergi bersama putri selingkuhan anda?jujur Theo ingin membogem si penanya. Tapi disini tidak boleh ada keributan.
Sedari tadi yang mengoceh tanpa henti adalah Theo. Ya mau bagaimana, sedari awal yang disorot adalah dirinya.
Tiba-tiba layar di semua penjuru mati, tak terlewatkan di ruangan ini. Tapi tak begitu lama, hidup kembali dan menampilkan Bryna.
"Bang, ada apa? Kenapa ada Bryna dilayar?" Theo kelabakan sendiri dengan memburu pertanyaan kepada Saga.
"Pasti ulah Braga." Jawab Saga ringan. "Kau tahu 'kan, Redolent tidak bisa dicegah, sekalipun itu dengan tanganku."