
Hari minggu. Roseta masih sangat ingat jika dia tinggal sendirian karena Braga dan Bryna ikut dengan ayahnya.
Roseta juga ingat di dalam rumah ini hanya ditemani mbak Asih dan satu penjaga rumah saja, pak Anton. Jika biasanya pagi begini tak pernah ada keributan sama sekali, berbeda dengan hari ini. Disaat Roseta baru saja membuka mata, samar-samar terdengar beberapa orang bercengkrama di lantai bawah.
"Bryna marah, Bryna nggak mau tinggal bareng daddy. Bryna mau sama mommy."
"Oh, Tuhan." Roseta bangkit mendengar pekikan Bryna yang sampai terdengar jelas ditelinganya.
Lantas, tak mau menunggu lama, dengan muka bare facenya atau mungkin masih terdapat kotoran mata juga, duh, Roseta tidak perduli dengan penampilan awut-awutannya, wanita itu bergegas turun ke bawah.
Benar bukan, baru saja Roseta mencapai ujung bawah tangga, wanita itu melihat Bryna berlari ke lantai atas, melewati dirinya tanpa menyapa ataupun menoleh.
"Kenapa?" tanya Roseta.
Theo yang terduduk mengenaskan di atas lantai lantas menggeleng, bingung menjelaskan.
"Mom, Bryna marah sama daddy." Giliran Braga yang mengintruspi, bocah itu duduk di sofa, asik dengan makanan ringan berbahan dasar kentang, astaga, masih pagi, kenapa Braga memakan makanan itu.
"Marah kenapa? Apa yang dilakukan daddy. Seingat mommy, Bryna tidak pernah marah sampai segitunya?"
Braga menggeleng, tidak mau memjawab dan kembali mengambil menikmati makanan dengan nikmat.
"Theo, apa yang kamu lakukan?" Roseta bertanya setelah mengimbangi Theo, yaitu, ikut duduk di lantai bawah.
Braga menarik seulas senyuman, ternyata sangat menyenangkan melihat interaksi keluarga seperti ini. "Oke, Braga bujuk Bryna deh, siapa tau dia mau dengerin Braga. Soalnya asal permasalahan dari Braga mom."
"Maksudnya apa? Ini beneran nggak ada yang mau bilang sama mommy? Ada apa? Kakak, katakan!! Mommy ingin tahu."
"Mommy tanya daddy, sementara Braga naik ke atas dulu. Oke, bye."
Ya Tuhan. Anak Roseta tidak ada yang beres.
"Daddy, ada apa dengan kalian? Pagi-pagi begini?" Roseta akhirnya bertanya kepada Theo, sedangkan pria itu menjawab dengan hembusan napas halusnya.
Baik. Lantai marmer di rumah ini begitu dingin. Roseta dan Theo masih berdiam diri duduk bersila diatasnya. Ada apa dengan orang-orang kaya seperti mereka merelakan bokongnya kedinginan alih-alih berpindah duduk ke sofa? Jika dilihat dari jarak, untuk berdiri dan berpindah itu tak membutuhkan waktu lama.
"Daddy." Roseta bersuara lagi, dengan suara super membujuk.
Akhirnya Theo mengangkat kepala, menatap Roseta yang menunggu jawabannya. "Bryna merajuk sejak dua hari yang lalu. Semenjak pulang dari resort."
Roseta jadi ingat satu adegan saat mendengar kata Resort. Yaitu, malam memalukan saat Roseta dan pria didepannya ini nekat telan**ng untuk menghabiskan malam panjang meski dengan drama kegagalan. Duh, pipi Roseta bersemu merah saat mengingatnya, meski gagal, tapi satu adegan tetap berulang di kepala.
Roseta menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh pikiran kotor mengenai persoalan ranjang.
Roseta kembali fokus kepada Theo, ia pun lantas bertanya lagi. "Karena?"
"Dia ingin tahu rahasiaku bersama Jordan dan Braga."
Roseta mengerutkan kening, hei, Roseta juga ingin tahu rahasia juga lho. "Apa aku tahu rahasia kamu?"
Theo menggeleng. "Tidak."
"Fixs, aku juga marah."
"Hah?"
"Aku juga marah, mana bisa aku dan Bryna tidak tahu rahasia kamu, kamu anggap apa kami?"
Theo terbengong. "Bukan begitu. Rahasia ini sangat penting, Jordan tidak sengaja membuat Bryna curiga, hanya menyangkut pekerjaan dengan Braga ikut kerjasama, untuk kejutan, mana bisa aku membocorkan kejutan yang akan aku berikan."
Roseta berpikir sejenak. Ia paham betul jika Braga itu teramat pintar. Bahkan Robert Bieber pernah mengatakan jika putranya itu terobsesi dengan pekerjaan orang dewasa alih-alih memilih untuk bermain dengan teman sebaya.
"Kamu lagi nggak bohong kan?"
Bisa dikatakan ini kejutan yang bakalan membuat orang spot jantung. Tapi mana mungkin Theo mengatakan yang sesungguhnya, bahkan Theo ingin sekali menghabiskan waktu bersama-sama orang terkasih sebelum misi yang ia rencanakan sampai jatuh pada temponya.
Theo sebenarnya sedih. Ia merasa sendiri menghadapi permasalahan ini, mungkin juga sebagai imbalan karena sudah beberapa kali menyakiti, bisa dikatakan ini adalah konsekuensi. Dan hal hebat yang Theo lakukan lagi adalah, pria itu mampu menyembunyikan kegundahan seorang diri.
Eh. Tidak.
Jordan adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana isi hati Theo.
"Mana mungkin aku bohong, please bujuk Bryna."
"Bryna nggak semudah itu dibujuk. Kalau kamu tahu, ini pertama kalinya aku lihat Bryna sampai marah begitu."
Theo semakin frustasi. "Sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi."
Seketika itu Theo berdiri, "Doakan aku mommy." ucapnya kepada Roseta.
Setelah satu kalimat permintaan doa sudah selesai diucapkan, Theo degan langkah lebar menapaki tangga dengan percaya diri dan kekuatan yang tiba-tiba merasuk ke dalam tubuh begitu saja.
"Sweetheart, sweetie..."
"Daddy keluar, Bryna ngambek."
Please. Ini bukan waktunya untuk bercanda. Seakan-akan Braga sedang meledek ayahnya dan itu membuat Theo sedikit ingin membungkus Braga dalam kantung celananya.
Setelah Braga berlalu dari hadapan Theo dan Bryna, pria dewasa yang sedang dilanda kesedihan begitu mendalam itu menutup pintu kamar, dan satu hal yang membuat Bryna berteriak kencang adalah; Theo membuang kunci kamar dari dalam jendela untuk mendarat sempurna di halaman belakang, kemudian pria itu mengurung Bryna dalam dekapannya, diatas ranjang dan terbubungkus di dalam selimut.
"Tidak berdamai, maka daddy tidak akan melepaskanmu. Deal."
"Daddy curang, Bryna tendang nih."
"No, nggak bisa, sudah daddy kunci kaki Bryna, harusnya dari dua hari yang lalu daddy pakai cara ini."
"Bryna nangis nih, yang kenceng biar mommy tahu."
"Right. Go on. Try. Sweetheart."
"Bryna gigit daddy."
Theo meringis. "Mana tega, coba." godanya.
Theo teramat tahu Bryna begitu mencintainya, mana mungkin gadis kesayangannya itu mampu menyakitinya, meskipun dengan menggigit sekalipun.
"Daddy." Bryna merengek, benar bukan, gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.
"Berdamai dulu."
Bryna mencium pipi ayahnya. "Sudah."
Theo semakin mengeratkan pelukannya. "Ternyata sangat mudah."
"Jadi, apa rahasia daddy. Bryna harus tahu! Titik."
"Bryna janji jangan bilang mommy, seperti daddy yang saat itu menjaga rahasia Bryna. Setuju!"
"Deal."
Masih berada di dekapan Theo, Bryna berangsur lebih tenang. Siap menyimak apa saja yang akan dibicarakan ayahnya.
Sedangkan Theo sangat terpaksa mengatakan, membocorkan sedikit karena memang anaknya yang satu ini ternyata sama saja dengan satu lainnya, intinya si kembar memang tidak pernah membuat tenang.
"Daddy punya misi, menyelamatkan kak Braga."
Seketika itu tubuh Bryna jadi kaku, kepalanya mendongak, mengamati mata Theo dengan mendalam. "Berbahaya?"
Theo menggeleng, senyum dibibirnya mengembang, berharap kali ini saja mampu membuat Bryna percaya.
"Tidak dong, banyak orang yang akan membantu daddy, termasuk Jordan uncle."
"Benarkah?"
Theo mengangguk. "Sudah kan?"
"Belum. Kak Braga ikut telibat. Bryna tidak lupa saat Jordan uncle bilang mau berbicara dengan Braga."
Terkadang memiliki anak pintar dengan ingatan tajam membuat Theo sedikit tertekan, tapi jika punya anak lebih bodoh adalah sebuah kegagalan, tak apa lah, disyukuri saja.
"Kak Braga akan membantu daddy."
"Bryna juga ingin membantu dad."
Iya kan. Permasalahan memiliki anak pintar itu adalah; merasa paling bisa mengerjakan pekerjaan orang dewasa, dalam beberapa kasus yang sudah terlewat, Bryna begitu luar biasa, selama ini Bryna memang jelmaan orang dewasa.
Tapi kali ini berbeda.
Namun,
Satu ide muncul dalam benak Theo agar Bryna bisa diam setelah ini. "Bryna nanti bantu kak Braga, ikut kak Braga. Bagaimana?"
"Kak Braga tugasnya apa?"
"Menurut kamu apa? Apa yang bisa kak Braga lakukan?"
"Bermain komputer, benar?"
"You are absolutely right sweetheart. Jadi, nanti Bryna mendampingi kak Braga, menurut apa saja yang kak Braga katakan. Deal."
Bryna mengangguk semangat. "Deal."
Sudah sejak lama Bryna ingin tahu menahu tentang apa saja sih yang dilakukan Braga dengan komputernya. Braga sudah memiliki komputer sejak kecil, namun yang ia dapati hanyalah game, berita-berita menarik dari luar dan hal-hal standar yang kebanyakan orang tahu.
Dada Theo terasa ringan, akhirnya.
Tidak ada pilihan selain menempatkan Bryna berada disisi Braga, setidaknya anaknya yang satu ini bisa tenang dan tidak penasaran, untuk hasil akhirnya nanti, mau berantakan atau apapun itu, sudah menjadi resiko yang hanya akan Theo tanggung sendiri, hanya Theo, bukan orang lain.