Perfect Boy

Perfect Boy
99. Karena Aku Lebih Dari Mencintaimu



" Karena aku mencintaimu ! Tidakk !! Lebih dari sekedar mencintaimu ! Karena itu aku tidak bersedia kamu rampok, tapi aku bersedia merelakan semuanya untukmu Bu ! " tatap Dimas.


" Uuuuuuhhhh..... " mata Ashe berkedip - kedip tak percaya. Ia langsung berhambur memeluk Dimas.


" Terima kasih Bie..."


Dimas terkekeh mengelus rambut Ashe. Ashe mondongak menatap wajah Dimas. Dimas mengecup kening Ashe.


" Kau tahu aku begitu meleleh melihatmu pertama kali...! " ceplos Ashe yang sesaat langsung sadar.


Dimas tergelak dan mencium bibir Ashe.


" Apa itu pernyataan cinta untukku...? " goda Dimas.


" Isssh, aku bahkan sudah menyerahkan semuanya untukmu ! " decih Ashe.


" Haha.. kan kamu istriku. Dimana lagi aku harus menyebar bibit kalau nggak disini ! " usap Dimas di perut Ashe. Ashe merona hingga Dimas tak henti tersenyum senang.


" Katanya kamu laper, buruan ganti pembalutnya. Kita keluar cari makan dan jalan - jalan. Kita bisa nginep dan pulang besok pagi ! " sentil Dimas pelan di kening Ashe.


" Iya... " Ashe mengurai diri dari pelukan Dimas, namun justru saat ia berbalik membuka pintu lemari, Dimas memeluknya hangat dari belakang.


" Jangan protes, aku sungguh kangen denganmu Bu ! " ucap Dimas hingga Ashe tetap membiarkan Dimas seperti itu.


Ashe memilih baju dari lemari dengan Dimas yang nemplok di badannya.


" Aku ganti duluu Sayaang....! " bisik Ashe.


" Apaaaa ? "


" Aku ganti baju dulu Sayaaaaaang ! " Ashe mencium pipi Dimas.


Dimas terperangah.


" Ok. Jangan lama ! " sahut Dimas dengan senyum mengembang.


Ashe ke kamar mandi. Ia hanya mencuci muka dengan air hangat dan takkan berani mandi. Segera Ashe menganti baju dan pembalut. Tak lama, ia keluar. Dimas sendiri tampak sudah siap dengan mengulur jaket pada Ashe.


" Kamu nggak mandi Bu ? " Dimas membantu Ashe.


" Hiiii.....! "


" Kamu di sini seminggu juga nggak bakal mandi kan ? " terkah Dimas.


" Aku males dengan hawa dingin. Meski kalau di sini aku bakalan lebih putih ! "


" Dasaaar malesss...! "


" Biarin aja. Yang penting kamu nggak males mencintaiku ! "


" Apa itu rayuan ? "


" Sepertinya ! "


" Haha....! Udahkan ? Ayo jalan. Aku nggak yakin kamu tahan laper Bu ! "


" Kita makan dimana ? Jalan kaki atau naik apa ? "


" Naik itu...! Tit tit !


Dimas menyalakan kunci otomatis. Ashe menatap mobil di depannya.


" Itu mobilku Bu. Di sini biasa di sewakan. Ada orang kepercayaanku yang mengurus semuanya. Hari ini dan besok mobil dan motor free sengaja untuk Nyonya Dimas yang cantik ! " Dimas lebih dulu menjelaskan sebelum Ashe sempat bertanya.


Ashe membulatkan mata tak percaya. Sampai Dimas meraih tangannya dan membukakan pintu.


" Menunggu responmu sepertinya kamu meragukan suamimu ini ! " toel Dimas di hidung Ashe.


" Ihhh....! Akhir - akhir ini otakku sulit bekerja ! " elak Ashe.


" Ngeles muluuuu !!! "


" Hehehe.... " cengir Ashe.


Dimas melajukan mobilnya menuju tempat makan. Sebuah warung biasa di pinggir jalan memang. Tapi Ashe tidak pernah protes dimana itu saat ada makanan. Bahkan ia makan dengan lahap. Tentu itu membuat Dimas senang. Istrinya yang notabene anak pengusaha seolah tak mencerminkan itu.


" Makan pelan - pelan. Jangan sampai orang mengira aku tak pernah memberimu makan sayang ! " bisik Dimas.


" Emaaaang " cuek Ashe membuat Dimas menghela nafas.


" Jangan sering menghela nafas. Setiap mendengar helaan nafasmu itu, aku seolah mendengar kamu mendesah. Konotasiku terlanjur negatif " bisik Ashe membuat Dimas melotot tak percaya.


" Kau yang membuatnya seperti itu! " Dimas meringsek ke tubuh Ashe.


Refleks Ashe melirik bagian bawah Dimas membuat empunya menatap kesal Ashe. Ashe sendiri menahan tawanya. Ia kembali cuek dan menghabiskan makanannya meski menikmati hangat tangan Dimas yang menyusup di pinggangnya. Bener - bener nggak tahu ttempat😎.


Ashe dan Dimas menghabiskan satu hari penuh dengan jalan - jalan di Ciater. Hingga malam menjelang mereka baru kembali ke Villa.


" Bieee.... dingin sekali " keluh Ashe berkali - kali meski jaketnya sudah dobel.


Kini mereka meringkuk di kasur dengan Ashe yang ngedusel Dimas. Dimas hanya mengelus rambut Ashe dan diam. Macannya bereaksi cepat di sikon seperti ini. Tapi mau gimana lagi, Ashe sedang period. Sementara tadi pagi, sudah minta Ashe konser.


" Bieee... kenapa diem ? "


" Dingiiin ! " kecup Dimas menyambangi bibir Ashe. Bibir yang tadi terasa dingin mulai menghangat. " Tidur saja, kita pulang besok ! "


" Hmmmm ! " Ashe tak protes. Bagaimana mau protes, bagasi sudah penuh bahan makanan hasil perburuannya. Dompet Dimas dikuras tak tersisa.


Dimas menaikkan selimutnya dan memeluk erat Ashe.


" Aku masih bawa segepok uang untuk di habiskan ! " bisik Dimas sambil menggigit telinga Ashe.


" Seolah kamu itu mulai paham kalau aku matre " kikik Ashe.


" Hahaha, kau belum pernah menghabiskan uang puluhan juta "


" Aku hanya beli yang aku suka Bie, bukan yang paling mahal " peluk Ashe erat. Ia benar - benar kedinginan. Bahkan kakinya udah nyusup di paha Dimas tak terkondisi. Dimas dibuat kelimpungan sendiri karena macan na tergesek - gesek terus.


" Kauuuu ini Buuuu..... " Dimas mengacak rambutnya.


Ashe terkekeh, ia sadar diri.


" Aku siaap bekerja lembur demi rupiah di dompetmu Boss ! " tangan Ashe malah nakal, menyusup ke tempat yang paling hangat di tubuh Dimas.


Dimas berkelip nakal.


" Ok. Lakukaaan ! " kecup Dimas di bibir Ashe.


Ashe dengan senang hati menuruti kemauan Dimas. Hingga akhirnya mereka terlelap dengan pose yang bagai di lem. Sangat susah untuk pisah. Saling berpelukan karena masing - masing tidak tahan dingin.


******


" Kita bolos lagi...? " peluk Ashe di pinggang Dimas.


" Iyaaa....! "


" Kamu berangkat kerja ? "


" Enggak. Aku mau tidur nemenin kamu aja ! " usap Dimas di kepala Ashe.


" Nanti kamu ketularan flu...! "


" Nggak papa, kita flu bareng - bareng ! "


Kini mereka sudah nyaman di kamar Ashe di Jakarta. Rencana mau libur sehari jadi molor dua hari. Dan kini pagi berganti, Ashe mendadak flu. Setelah kemarin puas di guyur gerimis panas gerimis, kini mendadak hidungnya bagai penuh dengan pasukan pembawa tombak.


Ashe mengucek - ngucek hidungnya. Rasanya begitu gatal. Pagi menyapa mereka setelah beberapa jam Heli mendaratkan kembali ke gedung JAE Pusat.


" Tisu dong Bie....! "


Masih memejamkan mata, tangan Dimas meraih tisu di sampingnya. Ashe mengambil satu dan memilinnya. Dimas membuka mata memperhatikan Ashe dengan terkekeh melihat cara Ashe mengilik hidungnya hingga ia bersin berkali - kali.


" Makan, terus minum obat ya...? " tawar Dimas.


" Aku mau mie kuah. Tapi yang buat kamu ! "


" Ok.. " Dimas menyempurnakan kesadarannya dan berusaha bangun.


" Mie nya, S****i kuah. Bikinnya bumbu dan mie di taruh di piring. Diguyur air panas terus ditutup pakai piring.." request Ashe membuat Dimas tergelak. Bagaimana tidak, Ashe dan dirinya seolah satu jiwa yang memiliki 2 raga. Mempunyai kesamaan yang plek sama.


" Kenapa malah ketawa ? " manyun Ashe.


" Iyaaa. Sabar dong Nyonya...! " Dimas bangun dan meraih kaos di sampiran meja. Kalau kemarin di Ciater kedinginan. Sekarang ia lebih cenderung kegerahan.


" Bieeee.....? "


" Iyaaaa.....??? Kamu di situ aja. Aku nggak lama...!"


" Hp mahalmu mana ?"


" Tuuhhh....!" tunjuk Dimas di meja samping Ashe.


" Psnya ?"


" Sama punya kamu !"


Dimas langsung menuju dapur dan mendidihkan air. Tak ada art karena Bu Fatimah membawanya pergi. Di rumah hanya ada tukang kebun dan satpam yang berjaga di depan.


Tak lama, Dimas kembali ke kamar membawa sepiring mie. Baunya menguar membuat Ashe meletakkan Hp dan langsung beranjak.


" Hidungnya masih berfungsi ? " kekeh Dimas meletakkan mie di meja.


" Masih dong...! Aku masih mencium bau wangi...! " Ashe langsung duduk di sofa favorit mereka. Dimas juga ikut duduk.


" Tunggu.. minumnya belum sayang " Dimas beranjak keluar kamar lagi. Sesaat ia kembali membawa botol air putih dan gelas. Ashe sendiri sudah menikmati mienya.


" Enaaak....? "


" Hmmmm.....! Mauuu ? "


" Udah makan aja dulu Bu...! " tolak Dimas halus. Padahal ia juga lapar dan haus. Namun demi bucinnya ia bersedia menahan lapar dan haus.


Ashe jadi tak tenang makan. Buru - buru ia menghabiskan mienya.


" Aku bikinin teh dulu " Ashe langsung beranjak membawa gelas dan piring kotor. Melewati Dimas begitu saja.


" Heeeeeh....! " Dimas langsung mengekor Ashe.


Ashe membuat teh untuk Dimas.


" Kamu mandi dulu sana Bie. Aku bikinin pisang goreng !" titah Ashe sambil mengulurkan teh panas pada Dimas.


" Yakin nggak mau di bantu ?" Dimas menerima gelas dari tangan Ashe.


" Enggak ! "


" Ok. Aku mandi dulu. Nanti gantian. Aku bawa minumnya ke kamar !"


" Iyaa. Aku akan masak juga "


Dimas mengiyakan dengan cengiran dan berdua terlihat berantakan saling tatap dan melempar senyum.


" Kita sama - sama jorok " toyor Dimas pelan menyadari kondisi mereka.


" Kamu itu. Kamu biasanya rapi, fasionable, photocable. Bening.. Sekarang acak - acakan begitu " gerutu Ashe.


" Sekali - kali males nggak papa...! "


" Hiiih....! Buruan mandiiii....! "


" Iyaa sayang !" Dimas mengecup kening Ashe.


" Aku nggak yakin, 5 tahun lagi kamu masih akan melakukannya " cibik Ashe.


Dimas mengerut kening.


" Kau meragukanku ? " tatap Dimas tajam.


Ashe terkekeh.


" Ingaat. Aku tidak hanya konsisten dengan kata - kataku. Tapi juga tindakanku " tunjuk Dimas di dahi Ashe gemas.


" Widddiiiih... aku berasa di bawah tekanan Bos " sahut Ashe.


" Sudaaah. Jangan masak....! " tarik Dimas untuk meninggalkan dapur.


" Lah kita makan apa ? Kita mau ke mana ? "


" Kelonan "


" Bieeeeee ! Nggak deh, ini masih pagi ! Nanti kalau aku laper makan apa ? Aku ingin masak ! " Ashe merengek - rengek dengan wajah di manyun - manyunin.


" Kelonan aja " Dimas menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia langsung menggendong tubuh Ashe dan menjatuhkannya ke tempat tidur. Memeluk Ashe posesif dan menghujani banyak ciuman di pipi Ashe.


" Sebelum ada yang cemburu padaku, aku akan puas - puasin cium kamu "


" Apaan sih ? Siapa yang cemburu ? "


" Cowok ganteng di dalam sini " elus Dimas di perut Ashe.


" Emang yakin cowok ! Orang ini aja lagi luntur " kenyit Ashe.


" Kau bahkan meragukan kemampuanku " sambar Dimas di bibir Ashe.


" Bieee, kau mau aku karokean lagi ? " dorong Ashe cemberut.


" Hehe.... "


" Apa hehe ? Kau ini sungguuuh... ! Tungguuuuu ? " tahan Ashe di dada Dimas.


" Apaaaa ? "


" Dimana Nasrul dan Faisal ? "


" Ckk.. Kau di kasur bersamaku kenapa tanya cowok lain ? " gantian Dimas yang cemberut.


" Biasanya kau kan tidak pernah berpisah dari mereka ! " cibik Ashe.


" Ya kali aku mau ngasih makan macan mereka harus nonton ? " sungut Dimas.


" Tapi sumpah aku penasaran ? " kerling Ashe sebari menarik - narik kaos Dimas manja.


" Ckk, Nasrul ke Jogja. Bang Isal tentu saja menghandle pekerjaanku ! Puass kauuuu....? "


" Hahhahahha.... Puasssss....!! " Ashe mengecup bibir Dimas hingga Dimas terperangah di buatnya.


Belum mau move on dari kecupan hangat Ashe. Mendadak Hp Dimas berbunyi. Dimas memberi isyarat agar Ashe mengangkatnya. Ashe mengangkatnya, namun justru mengarahkan kamera ke wajah Dimas.


Pak Fajar : Sedang apa kamu Dim ?


Dimas berdecak menatap Ashe yang tersenyum jahil padanya.


Dimas : Sedang di kasur Pa !


Pak Fajar : Aku sangat jarang melihatmu berantakan seperti itu ? Apa yang bisa kau lakukan saat jalan tol sedang di portal?


Dimas mencibik kesal karena sang mertua justru meledeknya. Dimas mengambil alih Hpnya.


Dimas : Hanya kelonan Pa !


Pak Fajar : Sepanjang hari ?


Dimas : Iyaaa. Dua hari dua malaam !


Pak Fajar : Ckkkk... kasihan ! Apa nggak kram itu yang di bawah ?


Ashe membulatkan matanya mendengar ucapan Pak Fajar. Dimas hanya nyengir saja menatap Ashe sebari menahan tawa.


Dimas : Kram bangetlah Pa...


Diihh, Ashe mulai melototi Dimas.


Pak Fajar : Terus gimana ? Nggak berfungsi dong ! Kasian.. Libur hanya bisa di pandangi saja !


Dimas : Kan adaa cara lain Pa.... Adoooooohhhh


Ashe mencubit paha Dimas. Dimas meringis kesakitan sambil mengelus pahanya.


" Sayang ihhh.. sakit tahu nggak ! " pelotot Dimas pura - pura. Ashe mencibik bibirnya membuat Dimas menelan salivanya. Rasanya ingin di sambar saat itu juga kalau tak ingat mertuanya sedang vc.


Pak Fajar : Hahaha... ya sudah. Lanjutkan saja kelonannya. Nanti kalau Papa minta temenin main, main ya..


Dimas : Ogaaahhh ! Ntar Mama ngomel !


Pak Fajar : Diiih.. Lagian kamu ngapain sih ? Nggak bisa ngapa - ngapain juga ! Bisanya cuma kelonan doang !!


Dimas : Enggaaaakkk mauu !!!


Pak Fajar : Nggak asiikk loeee...


Dimas : Ramzi kan adaa Pa !


Pak Fajar : Ramzi terlalu kaku !


Dimas : Nasrul dan Faisal atau Lino Paa...


Ashe : Papa aku laporin Mama biar sita aja tuh Hpnya. Game mulu yaa ?


Klik. Ashe langsung mematikan vcnya secara sepihak dan melempar Hp Dimas ke kasur.


" Duuuuhhhh.... Untung nggak jatuh Buu ! Itu gaji karyawan 3 bulan lhooo... "


" Auuahhh.... "


" Heey, mau kemana ? " Dimas langsung menyambar tangan Ashe hingga Ashe ambruk ke badan Dimas. Dimas langsung menyesap bibir Ashe.


"Kan akuu bilang, hari ini acaranya kelonan aja " kedip Dimas nakal membuat Ashe langsung luluh lantak. Salah tingkah dan merona.