
Rozi terbangun dari tidurnya. Ia tidur dikamar Dimas. Rasa penat bolak balik Jakarta seolah mengelayutinya. Dengan malas, ia keluar kamar. Sepi. Rozi belum curiga. Ia ke ke kamar mandi menyegarkan tubuh. Setelah itu, ia mencari minum dan makanan di kulkas serta dimeja - meja yang penuh makanan dimana - mana. Rozi duduk bersila seperti biasa. Mengunyah makanan. Ia berpikir orang tuanya tidur.
Silia juga bangun dan berjalan ke kamar mandi.
" Bapak sama Mamak belum bangun Sil...? " tanya Rozi.
" Emboh... " jawaban Silia membuat Rozi berkerut. Namun belum bertanya.
Silia selesai mencuci muka dan ikut nimbrung kakak keduanya. Ikut mengunyah makanan.
" Bapak sama Mamak kemana ? " tanya Rozi.
" Nggak tahu Mas...! Aku kan tidur...! Dibelakang kali... " sahut Silia.
Rozi berpikir sejenak. Namun buru - buru beranjak dan ke halaman belakang. Sepi, tak ada orang.
" Pak... Maaakk....? " panggil Rozi.
Senyap, tak ada yang menyahut. Rozi keluar lewat pintu belakang dan berkeliling. Tak ada Rozi masuk lewat pintu depan.
" Ada nggak ? " Silia bertanya.
" Nggak ada... " buru - buru Rozi mengambil Hpnya.
Sesaat, Rozi menunggu teleponnya diangkat.
Rozi : Bapak sama Mamak sama kamu Rul ?
Nasrul : Enggak Mas. Kenapa Mas ?
Rozi : Nggak papa sih ! Cuma kok nggak ada dirumah ya...?
Nasrul : Pergi bawa mobil ?
Rozi : Enggak. Mobil ada dirumah.
Nasrul : Ya udah sana kesana Mas. Siapa tahu lagi jalan - jalan ke depan !
Rozi : Ya udaaah...!
Rozi mengacak rambutnya. Buru - buru menganti bajunya.
*****
Dimas selesai diomelin lagi sama Pak Isman dan hanya diam. Kini sibuk membersihkan toilet karyawan. Tanpa sadar, Pak Fajar berkacak pinggang dibelakang Dimas. Memperhatikan Dimas yang sibuk dengan sikatnya.
Pak Isman berdiri dengan raut ketakutan di belakang Pak Fajar.
" Dim....! " seru Pak Fajar membuat Dimas menoleh.
" Kenapa Pa ?? " tanya Dimas santai. Tetap fokus menyikat lantai kamar mandi. Tak peduli Pak Isman yang berdiri di belakang Pak Fajar.
" Kenapa kamu malah nyikat wc...? "
" Kan saya OB....! "
" Diiih...! Ayo ikut Papa.... " kata Pak Fajar membuat Pak Isman membelalak sebari gemetaran mendengar Pak Fajar menyebut dirinya " papa" pada Dimas.
Entah kenapa ? Pak Fajar baru menanyakan Dimas saja, Pak Isman sudah deg deg serr. Karena memang Pak Fajar tak pernah sampai segitunya.
" Entar aja sih. Ini belum kelar Pa... " ucap Dimas.
" Terus Papa suruh nungguin kamu...! Siapa yang mau siapin rapat direksinya ? "
Dimas berdiri. Ia menyiram lantai hingga bersih.
" Ya udah. Papaa tunggu aja dulu. Saya kelarin ini.... "
" Nggak bisa ! Ya nggak Pak Isman....? "
" I - i- i -ya - a Pak....! Saya cari ganti Mas Dimas...! " sahut Pak Isman terbata.
Dimas mendesah. Menyenggol Pak Fajar.
" Papa ini nggak bisa nahan diri... " omel Dimas seraya mengelap tangan.
Pak Fajar terkekeh. Ia berjalan mengikuti Dimas.
" Terima kasih Pak Isman... " Pak Fajar menepuk pundak Pak Isman.
Pak Isman mengangguk penuh hormat.
" Papa sengaja yaa....? " tanya Dimas sebari berjalan.
" Enggakkk.... "
" Diiiih ya....! "
Pak Fajar menuju lift. Tapi turun ke bawah.
" Mau kemana Pa.... "
" Pulanggg.... "
" Terus aku...? "
" Ya kamu nggak mau ketemu Ashe....? "
Dimas menatap Pak Fajar. Mengerti kenapa tadi ia mencarinya.
" Sepertinya aku memang menantu kesayangan.... "
" Hahhaahah...." Pak Fajar tergelak. " Emaaaang.... " imbuh Pak Fajar.
Bahkan ia menyerahkan kunci mobil saat tiba di lobby.
" Faisal tak menyusul.... " Pak Fajar lebih dulu bicara sebelum Dimas bertanya.
Dimas mengangguk. Menuju basement mengambil mobil. Tak lama, mereka menuju perjalanan pulang meski ini masih siang.
*****
Dimas membelokkan mobil Pak Fajar ke sebuah halaman dan langsung memarkirkannya. Pak Fajar turun diikuti Dimas.
" Assalamualaikum... " salam Pak Fajar.
Dibelakang Dimas mengekor.
" Waalaikumsalam... " Bu Fatimah muncul dari dapur. " Papa kok sudah pulang ? "
" Mau bantuin Mama masak...! " sahut Pak Fajar asal.
" Bantuin makan Ma...! " sela Dimas yang langsung mencium tangan Bu Fatimah.
Bu Fatimah hanya terkekeh.
" Ashe pingsan tuh dikamar... " ucap Bu Fatimah.
" Iyaaa Ma... " sahut Dimas.
" Kenapa kamu masih pakai baju OB Dim...? " tanya Bu Fatimah.
" Kan saya memang OB. Papa aja yang buka kedok...! "sungut Dimas.
Pak Fajar yang sudah duduk di sofa depan tivi hanya melempar senyum. Ia merasa begitu bahagia saat Dimas mengekor padanya. Entah kenapa ?
Dimas pamit ke kamar Ashe. Benar saja, pujaan hatinya terlihat nyaman dengan tidurnya. Dimas tersenyum, ia mendekat dan mencium kening Ashe yang sama sekali tak terusik. Sangat lelap dalam tidurnya. Dimas menyibak anak rambut yang menutupi kening Ashe dan membiarkan Ashe tertidur. Dimas beranjak,ke kamar mandi Ashe. Ia mencuci muka dan melepas baju hingga menyisakan kaos santai.
Dimas keluar dan duduk di sofa favorit mereka. Melihat Hp yang sejak tadi ia senyapkan. Dimas mulai memeriksa laporan yang dikirim ke surelnya.
******
Rozi mengacak rambutnya lagi saat Nasrul sampai dan bilang tak melihat Pak Kibul dan Bu Izun.
" Telepon Pak Dimas aja Mas...! " saran Nasrul.
" Terus bilang apa ? Bapak sama Mamak ilang gitu ? "
" Laah terus gimana ? "
" Ya udah, cari dulu aja Rul... " kata Rozi.
" Ya udah, ayo...! " sahut Nasrul.
Rozi masuk sebentar dan bilang pada Silia untuk tak pergi kemana pun.
Rozi kemudian meminta kunci motor Nasrul dan pergi berkeliling kompleks mencari orang tuanya. Sementara Nasrul menggunakan mobil Dimas. Ia mencari dengan arah yang berbeda.
****
Drrrt...
Hp Ashe terdengar berbunyi. Dimas menoleh. Ashe tampak mencari - cari dengan tangannya, mata Ashe masih terpejam.
Ashe : Hmmmm.....
Itu jawaban khas Ashe saat nyawanya baru 1 %. Dimas tersenyum.
Ashe : Kamu simpan saja dulu Dem. Aku masuk besok...
Ashe : Hmmm....
Ashe : Siaapaaa ? Aditya Firaa ??
Ashe : Iyaaa... Bilang saya nggak bisa ketemu hari ini. Saya cuti..
Meski mata terpejam. Mulut Ashe bisa 100% connect. Dimas tertawa tertahan.
Ashe : Bilang saja, nanti saya hubungi...
Ashe : Hmmmm...
Ashe meletakkan kembali Hpnya. Dema yang mengakhiri panggilannya sendiri karena tahu Ashe masih tidur.
" Nyonyyya nggak mau bangun nih....? Nggak mau minta oleh - oleh...?? " seru Dimas.
Ashe mengenyitkan kening, berusaha mencerna siapa yang bicara. Matanya yang tadi terpejam mulai terbuka. Melihat siapa yang bicara.
Ashe terbelalak. Langsung bangun dan memeriksa bajunya. Ashe lega karena merasa aman. Dimas terkekeh sendiri melihat tingkah Ashe.
" Kenapa coba ? " tanya Dimas.
Ashe tersenyum.
" Aku takut lupa nggak pakai baju..." sahut Ashe.
" Nggak papa. Rezeki buatku...! " senyum Dimas.
Ashe berisut turun menghampiri Dimas seraya mengulurkan dua tangannya. Dimas meraihnya meski mereka terhalang punggung sofa. Dimas menarik Ashe seperti biasa dan meloloskan tubuh Ashe lewat punggung sofa.
" Nggak jelas banget sih Bie...! Nggak romantis tahuuu... " keluh Ashe sebari membetulkan kakinya.
" Jalan pintas untuk mendapatkanmu... " Dimas langsung mencium kening Ashe. Dimas menyibak rambut Ashe yang menutupi kening Ashe.
" Kamu wangi sekali hari ini... " kata Dimas.
" Emang biasanya gue bau sampah...? " sungut Ashe.
" Bukaaan. Bau cinta.... " tatap Dimas hingga membuat Ashe tersipu hingga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
" Kenapa sih ? " Dimas menarik tangan Ashe.
" Maluuuuu.... " seru Ashe.
" Abg.....!! "
" Hehehehe... " Ashe nyengir.
Dimas menoyor kepala Ashe pelan seraya tersenyum. Menarik tangan Ashe dan memeluknya erat. Ashe membalas pelukan Dimas. Menghirup bau maskulin tubuh Dimas.
" Akuuu kangen Biee.... " bisik Ashe.
" Aku juga kangen Bu.... " Dimas melonggarkan pelukannya. Menatap Ashe dan mencium bibir Ashe perlahan. Sekali, dua kali, tiga kali hingga bertubi - tubi.
" Ehhhmmm.... " Ashe mendorong dada Dimas dan menjauh seraya menutup bibirnya.
" Enaaak mana ? Emoticon atau langsung... ? " goda Dimas.
Dimas terkekeh menghindar.
" Katanya minta langsung...? Dan ini " makan siang " nya... " Dimas kembali mencium bibir Ashe hingga Ashe terkejut.
Dimas hanya tersenyum.
" Udaaah... Bibirku udah nyeplak bibirmu... " kata Ashe.
" Beluuuum.... " Dimas kembali mendekat dan berhasil mencium bibir Ashe lagi meski Ashe berusaha menghindar.
" Kenapa kamu jadi tukang nyosor begitu sihh...? " keluh Ashe.
Mereka malah kayak anak kecil yang lagi rebutan mainan. Tapi kali ini mainannya justru bibir Ashe. 😱😱
" Biar yang kamu tonton itu aku, bukan drama koreamu... " sahut Dimas.
" Takuuut Bieee... "
" Takuuut kenapa ? "
" Takut nafsuuuu.... "
" Hmmmmptttff.... " Dimas menutup mulutnya.
" Apaa cobaaa....? " Ashe pura - pura cemberut.
Dimas merengkuh bahu Ashe.
" Tunggu sayaaang....! Nanti kalau kita udah nikah, aku ajak kamu ke tenda ya...! "
" Ngggak mau.... "
" Kenapa ?? "
" Aku maunya dikamar aja.... " sahut Ashe.
Dimas terkekeh melirik Ashe gemas dan mengacak rambut Ashe.
" Maunya gaya klasik nihhh !! " senggol Dimas. " Nggak bisa diajak romantis... "
" Emangnya kamu romantis ? " toleh Ashe.
" Menurutmu....? " kerling Dimas.
Ashe tersenyum. Mendekat cepat dan mencium pipi Dimas.
" Arrrrggghhhh..... " syok Dimas dengan ekspresi aneh.
Ashe menatap Dimas dengan pandangan tak percaya. Mata Dimas berkedip - kedip seolah kelilipan.
" Kelilipan apa sih ? Cerrybelle....? " sewot Ashe.
" Ashena Adenia.... "
" Hoeeeek..... "
" Hahahhhhahhahaha.... " Dimas kembali merengkuh bahu Ashe dan memeluknya.
" Mana oleh - olehnya Bieee....? " Ashe memukul dada Dimas pelan.
" Iniii.... " Dimas kembali mencium bibir Ashe.
" Berapa kali kamu mencium bibirku....? " sewot Ashe menutup mulutnya.
" Itu kan balas dendam...! "
" Dari...? "
" Melihat bibirmu manyun di vc... " sahut Dimas tersenyum.
Ashe mendengus kesal.
" Kamu naik apa ke sini Bie...? "
" Yang jelas nggak mungkin naik kamu... " lirik Dimas menggoda.
Ashe menatap Dimas dengan tatapan membunuh namun memperhatikan baju Dimas.
" Kayaknya ada yang bolos nih.. ! " lirik Ashe pada celana Dimas.
" Yang penting hatiku nggak pernah bolos untuk mencintai kamu....! " sahut Dimas makin tak jelas.
Ashe menatap Dimas dengan lirikan tajam. Mulai sewot antara pertanyaan dan jawaban yang tak singkron.
" Hahhahahahhaha.... " Dimas terbahak seolah membaca gelagat Ashe.
Ashe membungkam mulut Dimas. Dimas malah merentangkan tangannya dan kembali memeluk Ashe.
" Kangggeeen bangeeet.... " ucap Dimas.
Ashe menyusupkan tangannya ke pinggang Dimas.
" Aku lapeeer Bie, ayo makann.... " tepuk Ashe pada pinggang Dimas. Sementara tangan satunya menutup mulutnya.
Dimas melonggarkan pelukannya dan tertawa melihat sikap Ashe.
" Oleh - olehnya masih dirumah. Nanti ya...! " kata Dimas.
Ashe masih menutup mulutnya. Dimas tersenyum, mengusap rambut Ashe.
" Tenaang... kita makan makanan beneran ! " kata Dimas.
" Emang ada makanan nggak beneran ? " kenyit Ashe menurunkan tangannya.
" Adaaa... " Dimas kembali mendekat dan mencium bibir Ashe cepat kemudian kabur.
Ashe menatapnya sewot. Kecolongan terus namun terasa begitu panas pipinya. Bibirnya juga. ðŸ¤
Ashe ke kamar mandi mencuci muka sebentar. Ia kemudian keluar kamar dan ikut bergabung dengan Papa, Mama dan Dimas untuk makan.
Pak Fajar dan Bu Fatimah tersenyum melihat Ashe yang muncul dengan bibir manyun.
" Kenapa bibirmu She ? Kayaknya bisa diiket itu..." tanya Bu Fatimah.
Dimas menatap Ashe menahan tawa dan menggeser kursi untuk duduk Ashe.
" Nggak papa... " sahut Ashe.
Pak Fajar hanya terkekeh melirik Dimas yang malah meladeni Ashe dengan mengambil nasi dan lauk.
" She... tolong ambilin kue Mama dong ! Di toko langganan Mama... " kata Bu Fatimah sambil duduk.
" Suruh aja mantu kesayangan Papa tuh... " lirik Ashe.
" Buuu.... mau emoticon atau langsung ? " senggol Dimas.
" Hehhehe... " Ashe mengembangkan senyum.
" Kodenya yang rahasiaan dikit dong...! Biar nggak gampang dibobol orang... " celetuk Pak Fajar.
" Papa nggak usah usil deh. Yang ngajarin arti emoticon itu siapa ? " balas Dimas meledek.
Bu Fatimah langsung menatap Pak Fajar. Yang ditatap gantian menciut. Pasalnya Bu Fatimah heran dengan suaminya yang suka mengirim emoticon ala anak muda.
Dimas tertawa.
" Ketahuan kan Pa... " sindir Dimas
" Udaaaah. Dieem. Makaaan... " sahut Pak Fajar.
" Wahahahahahahaha.... " giliran Ashe yang menertawakan Papanya yang kena skakmat Dimas.
" Sekarang ada yang ditakuti Papa.... " sindir Ashe.
" Apaaa ? Papa kan takutnya sama Mama doang... " sahut Dimas.
Bu Fatimah mengangkat tangannya untuk tos. Dimas menyambutnya. Pak Fajar tersenyum kecut.
" Ya deeeh....! Terserah kalian. Asal kalian senang... " ucap Pak Fajar pasrah.
Ia menghabiskan makannya.
" Kamu jangan balik ke kantor Dim. Siapkan rapat dewan direksinya. Papa akan bantuin Mama masak... " kata Pak Fajar.
" Tumben Pa ? " tanya Bu Fatimah.
" Sekali - kalilah Ma. Entar Mama kecapekan, ntar malem siapa yang mijitin Papa.... " sahut Pak Fajar.
Dimas tergelak bersama Ashe. Mereka bertatapan jengah.
" Udaaah mulaiii.... " goda Ashe.
" Ingeet umuuuur.... " tambah Dimas menggoda.
" Gantian yang muda.... " Ashe menambah pula.
" Inggeeeet....! Momong cucu... bukan momong anak lagi... "
" Entar encoook.... "
Bu Fatimah dan Pak Fajar menatap anak dan menantunya dengan tatapan tajam. Dimas dan Ashe hanya terkekeh menautkan jari telunjuk mereka.
" Mantu dan anak kok nggak ada akhlak.... " umpat Pak Fajar.
" Nggak kebayang gimana anak kalian... ? " imbuh Bu Fatimah.
" Pasti bikiin Mama tambah awet muda... " sindir Pak Fajar.
" Yang pasti bikin tambah energik Mama... " sahut Dimas.
" Bikin darah tinggi Papa.... " imbuh Ashe.
Dimas dan Ashe bertatapan. Mereka tertawa. Pak Fajar dan Bu Fatimah hanya menghela nafas. Seolah udah kebayang kalau Ashe dan Dimas nikah dan punya anak.
******
" Bu, kamu ambil kue sendiri ? " tanya Dimas. Ia tengah membantu Bu Fatimah membereskan meja dan menyimpan bahan makanan yang baru dibeli ART Bu Fatimah.
" Iyaaa Bie...... "
" Ya udah. Hati - hati ya.... "
Ashe mengiyakan sebari keluar rumah dengan mobilnya. Pak Fajar bukan bantuin, hanya sibuk memakan buah di meja makan.
Hp Dimas berbunyi. Itu Rozi.
Dimas : Kenapa Zi ?
Rozi : Abaaang....?! Mamak ilang....
Akhirnya Rozi menyerah mencari Bapak dan Maknya.
Dimas : Heeeeh.... ilang gimana ? Bapak kemana ?
Pak Fajar menatap Dimas.
Rozi : Bapak juga ilang....
Dimas : Ilang gimana sih ? Mereka jalan - jalan kali...
Rozi : Nggak ada Abang...! Gue udah nyari sekompleks...! Nggak ketemu...!
Nasrul juga nggak nemuin...!
Dimas : Nah lho....! Masak udah tua juga ilang. Telepon Bapak !
Rozi : Nomornya lagi piknik....
Dimas mengacak rambutnya.
Dimas : Iya udah....! Aku bantuin nyari !
Dimas menutup teleponnya diikuti tanda tanya Pak Fajar dan juga Bu Fatimah.