Perfect Boy

Perfect Boy
103.Berasa tukang urut



Dimas memilih pergi mandi karena benar - benar merasa gatal di badannya. Urusan Ashe dia bisa merayunya semalaman dengan cara ampuhnya.


" Bajunya di sofa itu Bie " terdengar suara Ashe saat Dimas keluar kamar mandi.


Dimas berjalan ke depan lemari. Benar saja, Ashe sudah menyiapkan bajunya. Celana pendek dan kaos polos tipis yang nyaman.


" Terima kasihhh ! " kecup Dimas di kepala Ashe sebelum ia duduk di samping Ashe.


Ashe hanya tersenyum karena mulutnya tengah mengunyah martabak telur yang dibeli Dimas. Tapi tangannya menyodorkan yang ada dihadapannya pada Dimas . Kali ini Dimas ikut makan bersama Ashe.


" Makannya pelan - pelan aja. Itu kan 2 porsi ! Aku hanya minta sedikit " Dimas mengusap bibir Ashe dengan punggung tangannya. Setelah itu Dimas mengusap bekas minyak ke kakinya.


Ashe menatapnya nanar. Namun justru ia tambah mengusapkan tangannya ke kaki Dimas.


" Biar kulitmu tambah mulus seperti wajahmu " ucap Ashe.


Dimas terkekeh.


" Kamu aja yang melting liat wajahkuu " ishh, Dimas jadi terlalu pede penuh senyum.


" Diiihhh... Ge - er " elak Ashe meskipun ia mengakuinya.


" Bilang aja iyaa ! Iyaa, aku ganteng kan ? Bahkan kau saja sering ketahuan ikut ngiler kayak karyawan - karyawanmu itu. Padahal aku suami kamu, ditiduri tiap malem "


" Enggaak yaaaa !! " elak Ashe.


" Iyaaaa.... " toel Dimas di dagu Ashe.


" Enggakkk ! "


" Enggak apanya sihh ? Tiap meeting sama kamu tuh bikin konsentrasi buyar tahu nggak ! Tatapannya bikin pingin nanjak aja "


" Nanjak kemana ? "


" Nanjak kesitulahhh ! " tunjuk Dimas dengan dagu dan tatapan genitnya.


" Itu sih, kamunya aja yang mesum ! "


" Kamu bikin ngiler sih ! Tiap liat pasti pingin langsung bawa ke kasurr "


" Tuhhh kannn ! Pikirannya nggak jauh dari kasur " cibir Ashe.


" Biariinn sihh ! Orang kasur empuk inii "


" Kamu mau makan nasi nggak Bie ? "


" Masaak apaa ? "


" Ceplok telur disambelin. Tahu tempe goreng, sama sayur tumis "


" Ehmmm....! Aku akan makan. Aku laper sekali Bu ! Sejak tadi aku belum makan apa - apa. Aku akan makan dulu sebelum makan kamuuu ! " kerlip Dimas.


Ting.


Sekilas Dimas menatap Hp Ashe. Nama Nasrul terpampang di layar Ashe. Ashe mengacuhkannya. Dimas hanya tersenyum. Sekilas ia bisa membaca pesan Nasrul.


" Udah punya mata - mata ya sekarang " ledek Dimas.


" Dia yang inisiatif kok. Aku sih cuek aja "


" Cuek tapi kepo "


" Biariiiin ! Aku ambilin makan dulu Bie "


" Emang buru - buru mau ngapain ? "


" Kerokinnn ! " sahut Ashe sambil beranjak setelah menghabiskan martabak di mulutnya dan minum sekuteng.


" Kerokin yang mana sihh ? " goda Dimas sejenak.


Ashe menghilang di balik pintu.


" Diiihh, di cuekiinn...! "bukan Dimas kalau dia tak mengikuti Ashe.


Mereka menuju ruang makan.


" Orang ditanya kok malah kabur aja " senggol Dimas merecoki Ashe.


" Tanya apa sihhh ? "


" Minta di kerokin di mana ? " Dimas nempel di tubuh Ashe.


" Ini ngapain sih ? Ada Mama tuhh ! Nempelnya di kamar aja " bisik Ashe.


" Asiaaap kalau itu ! Sekarang ? "


" Makan dulu terus kerokiinn. Deal !! Nggak pakai nawar "


Dimas terkekeh.Ashe sigap mengambilkan makanan untuk Dimas. Dimas kini sudah duduk dan mulai nyemil kerupuk.


" Kamu nggak makan Bu ? " tanya Dimas saat menyuap makanan ke mulutnya.


" Tadi aku udah makaaan ! " Ashe ikut duduk. Tangannya beralih pada keripik tempe di toples.


Dimas terkekeh melihat mulut Ashe yang tak berhenti mengunyah.


" Perasaan kamu udah makan She ? Kok masih ngunyah aja " mendadak Bu Fatimah muncul. Ucapannya tentu saja membuat Dimas hampir tergelak. Sementara Ashe nampak cemberut.


" Terus, makanan banyak siapa yang mau ngabisin ? " protes Ashe.


" Persiapan mau urut Ma. Makanya, makannya banyak " celetuk Dimas.


" Heehh ? Ashe kesleo ? Udah panggil tukang urut belum ? "


" Ini tukang urutnya. Kan urut biar cepet hamil Ma " sahut Dimas yang langsung dapet tatapan tajam dari Ashe.


" Nggak usah gitu liatnya Bu. Buasnya di kasur aja "


Bu Fatimah tak dapat menahan tawanya.


" Isshh kamu nih, mentornya Papa sih " gerutu Bu Fatimah.


" Papa kenapa ? " dihh, orang tua yang satu ini ikutan nimbrung juga. Entah muncul dari mana.


" Papa sama Mama sama aja. Muncul dari arah tak terduga " sungut Ashe.


Sementara Dimas mengulurkan tangan mencium punggung tangan Pak Fajar.


" Papa sehat kan ? " tanya Dimas.


" Seperti yang kamu liat. Papa sehat - sehat saja. Apalagi kalau ada cucu,, uhh Papa tambah sehat, muda dan ganteng " unjuk Pak Fajar yang langsung ikut bergabung di meja makan.


" Hoeeeekkkk " Ashe membulatkan mata malas.


" Tuhh kan, mentornya aja begituu. Itu baru Pe - de nya. Belum mesumnya " kata Bu Fatimah meledek suami dan menantunya.


" Tenang aja. Cucunya udah ada Pa.. " sahut Dimas santai sambil melanjutkan makan.


" Haaahhh.. " Pak Fajar, Ashe dan Bu Fatimah langsung kaget menatap Dimas dengan pandangan menyelidik. Kini Pak Fajar dan Bu Fatimah langsung menatap Ashe.


" Apaaa ? Aku belum hamil kok " bela Ashe.


Dirinya belum merasa gejala orang hamil.


" Biee...ihhh jangan ngarang deh " pelotot Ashe.


" Siaapa yang ngarang ! Toh kalau belum hamil kamu juga tenang aja ! Aku siaap setiap saat bikin kamu hamil " Dimas sungguh santai mengatakan itu.


Sementara Ashe rasanya ingin melempar toples di depannya.


" Euhhhhmmmm Papa...! Udah jelas. Ajarannya sesat ! Lihat tuh, muridnya begitu " Bu Fatimah melengos.


" Kamu hebat Dim " sementara Pak Fajar malah mengajak Dimas bertos ria. Bu Fatimah dan Ashe mendengus kesal.


" Buruan makannya ! Habis itu lanjut proses pembuatan anak " imbuh Pak Fajar yang langsung diacungi jempol Dimas.


" Ashe udah merengek dari tadi Pa...! "


" Heeeehhhh...! Fitnaahh ituuu " pelotot Ashe dengan tangan siap menerkam Dimas.


" Tuhh Pa, Ma. Dia buas banget kan ! Itu aja masih di meja makan " goda Dimas.


" Ihhhhhh.....! "'Ashe langsung beranjak dengan mode pencakaran. Ia langsung menyerbu Dimas dan menangkup kepala Dimas gemas. Ashe menciumi seluruh muka Dimas tanpa ampun. Tak peduli orang tuanya yang mengangga melihat absurdnya anak mereka. Dimas sendiri terkekeh - kekeh kegelian.


" Ya ampun Bu. Sabar dong...! Nanti di kamar ajaaaaaaaa....! Aaaaaaaa...."


Ashe langsung kabur ke kamar. Bu Fatimah menatap Dimas nanar. Pak Fajar malah tergelak tak bisa menahan tawa.


Dimas tanpa pamit langsung menyusul. Ahe.


" Mama langsung memikirkan bagaimana kelakuan anak mereka ! " gumam Bu Fatimah.


" Hahahha...! Artinya aku kan nggak salah pilih mantu Ma "


" Aku rasa dia titisanmuuu ! " sahut Bu Fatimah. " Lihat kelakuannya, dia tak ada yang berbeda denganmu "


" Hahahhahaha.....! Hahahhahahha.... "


" Berhenti tertawaaaa Paaa ! "


" Bukankah sangat lucu. Aku rasa menantumu akan di perkosa di sini kalau kita tak ada "


" Ehhh Pa ! Emang beneran Ashe hamil ? " Bu Fatimah malah kepo.


" Mana Papa tahuu ! "


" Ihssss Mama ! Jangan tanya itu. Dimas itu cenayang jempolan " timpal Pak Fajar.


" Itu ajaran sesat Papa juga ? "


" Enakk aja. Enggak yaa ! Ajaran Papa itu semua bener ! Dimasnya aja yang lebih pinter dari Papa "


" Hiiiihhh.... Pencitraaannn! "


*******


" Buuu ! " Dimas menutup pintu dan menguncinya.


Tak ada sahutan, tampaknya Ashe sedang ke kamar mandi. Bunyi gemericik air terdengar. Dimas hanya tersenyum. Ia membereskan meja yang masih berserakan dan merapikan makanan serta cemilan Ashe yang selalu ada di meja itu.


" Kamu udah selesai makan Bie ? " Ashe muncul dari kamar mandi.


" Aku tinggal aja ! Ntar nafsunya ilang " Dimas langsung berbalik dan memeluk Ashe. Mencium bibir Ashe sekilas.


" Jadi kerokin nggak ? "


" Jadiii ! Meja makan siapa yang beresin ? "


" Udah entar aku aja " Dimas membalikkan tubuh Ashe dan menariknya ke tempat tidur. Dimas mengambil minyak gosong di meja Ashe beserta koinnya. Sementara Ashe udah membuka baju atasan.


" Itu suruh ngerokin apa mau di goda sih ? " masih aja mulut Dimas nyletuk.


" Bieeeeeee ! "


" Hihii.... Iyaaaaa !! "


Dimas mulai bekerja.


" Yang di punggung kencengan dikit Bieee ! " protes Ashe.


" Ntar lecet Bu... "


" Enggaaaakkk ! "


Dimas akhirnya menuruti Ashe.


" Udaahhh, pijitin pinggangkuu ! Aku ngantuk mau tidur Biee " Ashe langsung ambruk begitu saja di kasur.


" Pakai baju dulu lah Bu. Itu namanya merobohkan pondasii ! " gerutu Dimas yang sedari tadi menelan ludahnya. Ingin sekali rasanya menerkam Ashe.


" Hmmm....! " Ashe malah membalik menghadap Dimas.


Dimas mendengus kesal. Dua aset Ashe terpampang jelas di depan matanya. Sungguh Dimas tak dapat menahan diri lagi. Ia langsung meniban Ashe dan mencium bibir Ashe.


" Aku akan main pelan dan tak menyentuhh ! " tatap Dimas dengan mengangkat tangannya dan bertumpu pada sikunya.


Ashe terkekeh.


" Cuci tangan sanaaa ! " senyum Ashe.


Oiyaa, Dimas baru kepikiran untuk cuci tangan.


" Jangan beranjak dari posisi ini ! Aku sudah kunci pintunya " secepat kilat Dimas bangun dan menuju kamar mandi. Ia mencuci bersih tangannya. Nggak sampai 1 menit, Dimas udah meniban Ashe kembali.


" Pijitin Biee ! " Ashe masih merengek aja meski Dimas sudah sangat capek mengelus pinggangnya.


Mereka telah menyelesaikan sesi panas dan kini Ashe kembali minta di pijit.


" Ini kan lagi mijit " Dimas meringsek lebih dekat. Ia masih bertelanjang dada, sementara Ashe sudah ia paksa untuk memakai piyamanya.


" Itu cuma dieluss "


" Iya bumil sayangg ! " kecup Dimas di kepala Ashe.


" Emangnya aku hamil yaa ? " tanya Ashe entah sadar atau tidak. Ia yang sudah nyaman di pijit Dimas tak bisa membuka mata lagi tapi masih aja nyaut.


" Iyaaa ! " bisik Dimas di telinga Ashe.


Nampak Ashe sudah terlelap. Dimas membetulkan selimut untuk Ashe. Ia kemudian mengenakan bajunya dan perlahan turun dari kasur. Dimas keluar kamar, mengambil beberapa cemilan, biskuit dan air putih.


" Dim, Ashe udah tidur ? " Pak Fajar menganggetkan Dimas.


" Udah Pa. Ini mau ngambil makanan. Biasanya Ashe kalau tidurnya kesorean. Malamnya bangun nyari makan Pa... "


" Oh. Ya udah. Taruh dulu sana. Papa mau bicara sebentar "


Dimas mengiyakan dan membawa makanannya menuju kamar. Ia mematikan lampu dan keluar lagi. Dimas dan Pak Fajar berbincang diruang tv. Berbagai hal mereka bicarakan hingga cukup malam. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.


****


" Bieeee !!! Pinggangku pegel banget, punggungku juga " rengek Ashe dalam temaram lampu kamar mereka.


" Hmmm....! Iyaaa sayang ! " Dimas berusaha sadar merasakan Ashe memeluknya erat.


" Sini pijitin lagi Bu "


Dengan mata terpejam tangan Dimas masuk ke dalam piyama Ashe, bagian depan 😆. Punggung di belakang.


" Bukan itu yang di pijitin "


" Ini aja. Biar nanti ASInya gampang keluar " Dimas tetap memijit lembut.


Ashe menepuk dada Dimas pelan.


" Punggungku pegeel Bie "


" Kamu madepnya sana Bu "


Ashe membalik badan memunggungi Dimas. Dimas kembali memijit punggung Ashe.


" Udahh, tidur lagi Bu. Ini masih malam "


" Tapi perutku perih Bie. Aku pingin makan mie kuah dengan bumbu yang di piring dan pakai telur "


Dimas terkekeh.


" Ya udah, aku bikinin ! Tunggu ya ! " Dimas membuka mata dan beranjak.


" Aku ikut "


Dimas menghidupkan lampu dan masih jam 02.00 wib. Dimas menarik Ashe pelan dan membawanya ke dapur.


"Kamu duduk dulu " kata Dimas.


Ashe menurutinya dan memperhatikan Dimas yang cekatan membuat mie kuah.


" Besok - besok jangan banyak makan mie ya ! " ucap Dimas sambil menyajikan mie nya di depan Ashe.


Perlahan tangannya turun dan mengusap perut Ashe. Ashe tersenyum.


" Maaf Bie. Tapi aku pingin banget ! Aku selalu terbayang bau harumnya. Apalagi yang bikin kamuu " senyum Ashe.


" Ya udah makan ! " Dimas mengusap rambut Ashe. " Pelan saja, aku tungguin " Dimas ikut duduk di depan Ashe.


Ashe langsung menyendok kuah dan menyeruputnya.


" Ahhh ya ampuuunnn ! Ini enak bangettt ! Prefect..! Sesuai dengan ekspektasiku " Ashe sampai memejamkan mata.


Dimas terkekeh.


" Yang prefect itu suami kamuuu "


" Ho ohh ! Emang bener ! " sahut Ashe cuek dengan mulut penuh. Padahal mienya masih panas, alhasil Ashe sampai mangap - mangap untuk menghilangkan efek panas di mulutnya.


" Pelaan Buuu ! " Dimas menahan senyum melihat kelakuan Ashe.


" Kamu nggak makan Bie ? " Ashe baru sadar bertanya saat mienya sudah.


Dimas memutar bola matanya malas dan menunjuk mangkok Ashe.


" Hihii... Maaff ! Aku langsung lupa kamu saat liat makanan. Saat laper aku baru inget kamu Bie ! " cengir Ashe.


" Huuuhhh curang ! Masih mau makan lagi nggak ? Kalau enggak, ayo tidur ! Aku besok ada meeting sayaaangg ! " Dimas merentangkan tangannya. Berharap bujukannya ampuh untuk Ashe.


" Perutku begah ! Elusin yaaa ! " rengek Ashe manja.


" Haaahhh ! " Dimas setengah tak percaya.


Udah sejak sore mijitin, tengah malem masih suruh ngelusin.


" Elus yang lain boleh nggakk ? " kedip Dimas nakal.


" Enggakkk ! Udah ayookkk " gantian Dimas yang terperangah melihat Ashe yang menariknya.


" Dasaaarr Bu Bos. Nggak sadar kalau dia itu jadi bumil sekarang ! " gumam Dimas.


" Ngomong apa Bie ? " toleh Ashe.


" Enggak ! Cuma ngomong kalau kamu ini bikin gemes aja. Kalau nggak kekenyangan pingin aku makan ! " ralat Dimas.


" Tadi sore udahh ! Nggak nambah lagi ! Besok pagi aja " Ashe menarik selimutnya.


" Haaah, seriusan ? Serangan fajar ? " Dimas langsung grecep memeluk Ashe.


" Iyaaa. Elusin perutnya ! "


" Iyaaa siaaappp ! " tapi bukan Dimas namanya kalau yang di elus perut doang. Tangannya tentu saja sudah kemana - mana 😛.