Perfect Boy

Perfect Boy
104. Nggak nyadar kalau Hamil



" Bieeeee.....! "


" Hmmm..... "


Tak ada yang membuka mata. Hanya Ashe yanag mulai berisut memeluk Dimas.


" Kenapa sayang ? " Dimas menarik Ashe lebih erat.


" Kapalaku peningg ! "


" Pusing ? Pingin muntaah ? "


" Pening ! Kamu tahu nggak pening ? Pijitin keningkuu " pinta Ashe.


Dimas langsung membuka mata, terperangah. Semalem punggung, pinggang, perut. Sekarang kepala , batin Dimas. Dimas melirik ke arah Ashe yang ternyata masih merem. Tangan Dimas terulur dan memijat pelan kepala Ashe.


" Bukan di situuu ? " mata merem mulut protes.


Dimas terkekeh dan nampak gemas. Ia langsung mencium lembut bibir Ashe.


" Di mana ? Di sini ?? " tangan Dimas malah meremas sesuatu yang sangat ia sukai untuk menyusup.


" Ihhhh bukaaaannn ! "


" Hehehe... Iya... Iya Bundaaa cantikkkk " Dimas memijat pelan pelipis Ashe.


Nampaknya sesuai dengan ekspektasi Ashe. Ashe nampak tak protes dan menikmati pijitan Dimas.


" Ehmmmmfffftttt..... " Ashe menutup mulut dan langsung membuka mata.


Pening di kepalanya menjadi tak tertahan. Ashe menyingkirkan tangan Dimas dan secepat mungkin berlari ke kamar mandi.


" Hoeeeeeeekkkk "


Dimas terkekkeh pelan. Ia kemudian beranjak menyusul Ashe ke kamar mandi. Mengelus punggung Ashe perlahan.


" Hoeeeeekkkk.... Hoeeeekkk.... " Ashe sampai merasakan perutnya sedikit kram.


" Udaaaahhh ! Jangan di paksaa ! Nanti sakit perutnya " Dimas menarik Ashe dan mengulurkan minyak gosok. Ashe mengambilnya dan menghirup aroma dari minyak gosong itu.


" Ahhhh ! " ada sedikit rasa lega.


Dimas menuntun Ashe ke kasur. Ashe langsung ambruk begitu aja. Mendadak, Ashe kembali bangun dan secepat kilat berlari ke kamar mandi. Bahkan itu membuat Dimas terperangah.


" Hoeeeekkkk.... Hoeeekkkk "


" Buuu, mau ku buatin teh ? " tatap Dimas nanar dan kasihan melihat Ashe yang lemas dan pucat.


" Panas dan manis ! " Ashe ambruk lagi di kasurnya.


" Sinii...! Senderin kepalanya biar nggak pening banget ! " Dimas menata bantal cukup tinggi dan membopong Ashe. Dimas lantas mencium perut Ashe membuat Ashe sedikit bingung.


" Jangan buat Bunda kewalahan sayangg ! " bisiknya pelan di depan perut Ashe dan kembali mencium perut Ashe.


" Apa maksudnya ? " tatap Ashe.


" Di situ ada baby boy nya ! " kedip Dimas.


" Kok tahuu ? "


" Kan tadi malem aku udah nengokinn ! " kerling Dimas nakal.


" Isshhh... Apaaan sihhh ? " tepuk Ashe di lengan Dimas dengan muka merona.


Dimas tertawa dan mengelus perut Ashe.


" Percaya saja sama yang buat "


" Emang kamu buat sendiri ? "


" Tentu tidak, itu kan berkat kerja sama kita yang hebat "


Ashe menatap Dimas kesal namun terpesona. Acak - acakannya Dimas membuat Ashe jadi nafsu.


" Ahhhhh.....! " Ashe menutup wajahnya dengan kedua tangan.


" Kenapa kamuu ? " Dimas jelas saja makin iseng.


" Kenapa aku jadi nafsu liat kamuuu ? "kesal Ashe.


" Ya udaaahh ayooo....! " Dimas mendekat.


" Mau ngapain ?? "


" Kita tuntaskan nafsumu itu...! " goda Dimas.


" Engggaaaakkk ! Hoeeeeeekkkk..... " Ashe langsung kabur dari hadapan Dimas.


Dimas mengaruk tekuknya.


" Aku bikinin teh dulu Bu....! "


" Iyaaa cepetan...! Dari tadi omes muluuu sih ! " terdengar Ashe nyaut dari kamar mandi.


" Nggak papa kan di tinggal bentar ? " Dimas melongok ke kamar mandi nanar.


" Nggak papa Bie ! "Ashe berbalik dan mencium - cium minyak gosoknya.


" Bentar ya Bu....! "


Dimas berbalik hendak meninggalkan kamar mandi.


" Tunggu....! Cuci muka dan benerin rambutmu Bie. Aku nggak mau kamu keluar acak - acakan begitu " sungut Ashe.


Dimas menghentikan langkah membulatkan mata.


" Apa itu maksudnya ? " longok Dimas, tak jadi melangkah meninggalkan Ashe.


" Aku nggak mau ada orang lain nafsu liat kamuuu ! " sungut Ashe.


" Diiihhh ! Kalau aku ke kantor begini jelas aja semua karyawati nafsuuu " Dimas tak kalah tersungut meski hanya pura - pura.


Namun ia tetap menuruti Ashe untuk cuci muka dan menyisir rambutnya.


Ashe yang udah senderan di tataan bantal Dimas tersenyum.


" I love you Bieee ! Hoeeeeeeeekkkkk..... " Ashe berlari lagi ke kamar mandi.


" Kau membuatku gilaa Buuuu ! "


Dimas bergegas keluar kamar dan menuju dapur.


" Kenapa Dim ? " Bu Fatimah tengah menyiapkan sarapan. Seperti biasa ia dibantu Art.


" Bikin teh Ma...! " sahut Dimas sambil mengambil gelas besar.


" Ashe mana ?? "


" Lagi muntah - muntah di kamar mandi ! "


" Heeehhhh ? Ashe beneran hamil Dim ? "


" Menurutku sih iya Ma. Tapi nanti biar pasti aku ajak periksa aja ! " Dimas menyeduh tehnya.


" Nggak mau bikin yang lain ? Air jahe atau apa gitu ? "


" Nanti aja Ma. Kalau Ashe minta. Dia agak rewel belakangan ini "


" Mama baru tahu ! Biasanya dia apa aja dimakan ! Kamu kebanyakan manjain dia ya ? "


" Hihihi....! Aku suka dia manja sama aku Ma... " cengir Dimas.


" Hisss... Kamu nihhh ! "


" Tenang Ma...! Meski sama aku manja. Tapi dia luar biasa mandiri di luar. Ma, aku ke kamar dulu ya ! "


" Iyaa. Suruh Ashe mandi dan sarapan ya ! "


Dimas mengiyakan dan pamit kembali ke kamar. Ashe tampak memejamkan mata. Dimas langsung duduk di sebelah Ashe.


" Minum dulu Bu ! " Dimas menyodorkan teh panas dengan terlebih dahulu meniumnya. Ashe membuka mata dan meminumnya sedikit demi sedikit.


" Mulai enakan ? Nggak usah kerja hari ini yaaa ! Kamu istirahat aja di rumah " elus Dimas di kepala Ashe.


" Hmmmm....! " Ashe menyodorkan gelas pada Dimas dan memejamkan mata. Rasanya begitu lemas.


" Sarapan yuuukkk ! Biar nggak lemes ! Habis itu kita ke rumah sakit "


" Enggak Bie ! " Ashe malah begitu dengan begitu malas. " Aku nggak papa "


" Terus maunya gimana ? " Dimas mencoba mengusap pinggang Ashe.


" Ya udah, aku makan aja ! " Ashe bangun lagi dengan kode agar Dimas menariknya.


Dimas tersenyum dan merapikan rambut Ashe.


" Cuci muka ganti baju yukkk! " tuntun Dimas ke kamar mandi.


Ashe hanya menurut. Bahkan saat Dimas mencuci muka dan menganti baju Ashe. Nampak Dimas susah payah menahan nafsunya.


" Aku bisa sendiri Bie ! Emangnya aku sakit parah " kikik Ashe melihat Dimas yang udah clegukan.


Dimas jadi mendadak linglung.


" Tuhh kan, speachlesss ! " colek Ashe.


" Ya abis mau minta kamu juga belum makan " Dimas menatap Ashe.


" Minta apaaa ? " pancing Ashe.


" Minta yang bikin ketagihan ! "


" Apa ituuuu ??? "


" Ya mau ngasih enggak ? "


Dimas mengerucutkan bibirnya.


" Ya udah, ayo sarapan " tarik Ashe sebelum Dimas hilang arah.


" Dianggurin ini yang manyun ini ! " protes Dimas.


" Iyaaa. Ntar kamu kesiangan. Katanya ada meeting ! "


Dimas membuat wajahnya secemberut mungkin. Ashe hanya tertawa penuh senyum godaan.


" Awas aja ntar malem, 9 bulan bisa nanjak terus tanpa libur ini "


" Ohh, serem sekali...! Nggak yakin..? " tantang Ashe.


" Kau tahu, makin besar perutmu, rasanya makin nikmat " bisik Dimas membuat Ashe melotot kesal.


Dimas langsung tertawa mengacak rambut Ashe. Sekilas ia mengecup bibir Ashe hingga Ashe memukul pelan lengan Dimas.


" Dasaar nggak tahuuu tempat ! " sungut Ashe dengan hanya Dimas yang mendengarnya. Soalnya mereka udah di luar kamar.


Dimas menunjukkan barisan giginya dan mengangkat tangan membentuk " peace ".


" Papa mana Ma ? " tanya Dimas saat melihat Bu Fatimah menata makanan di meja makan. Sementara Ashe udah duduk dan mulai mengambil nasi lengkap dengan sayurnya.


" Di belakang ! " sahut Bu Fatimah.


" Aku ke belakang dulu Bu ! " elus Dimas di rambut Ashe.


" Kamu mau ngapain ? " delik Ashe yang spontan membuat Dimas dan Bu Fatimah melongo heran.


" Bentaran doang. Mau ngomong sama Papa "


" Ok. Nggak pakai lama " ancam Ashe.


" Lamaaaaa dikiiiitt yaaaa ! Dari pada nanti aku di lempar keluar pulau.. "


" Orang tua itu kerjaannya seneng banget ngelempar kamu jauh dari istri " Uhhh, Ashe mulai ngerajuk.


Bu Fatimah terkikik menahan tawa.


" Iyaa....iyaaa. Nggak lama ! "


" Awas aja kalau lama. Ntar malem tidur di sofa ! " ancam Ashe menghentikan langkah Dimas yang mulai beranjak meninggalkan Ashe.


" Kita lagi nggak pacaran. Jadi aku nggak mau tidur di sofa " sungut Dimas.


Bu Fatimah menggeleng melihat mereka berdua.


" Emang kamu bisa tidur tanpa aku ! Siapa yang mau mijitin kalau pegel ? " bisik Dimas.


" Ok. Temuin Papa. Nggak pakai lama "


" Iya sayang ! " Dimas mengecup pelipis Ashe tanpa peduli Bu Fatimah.


Bu Fatimah hanya terkekeh melihat tingkah keduanya.


" Sebentar ya ! " ucap Dimas.


Ashe mengiyakan. Dimas bergegas ke belakang melihat Pak Fajar yang tengah sibuk mandorin sekaligus bantuin pekerjanya mengurus berbagai piaraan Pak Fajar.


" Mama baper liat kalian ! " sindir Bu Fatimah.


Pasalnya Ashe dan Dimas seolah mengabaikannya dan mulai mengumbar kemesraan lebih di depannya.


" Kebanyakan nonton sinetron ! " sahut Ashe.


" Abis mereka bening - bening sih ! Eh She, kamu beneran hamil ? " Bu Fatimah duduk di depan Ashe. Ia memperhatikan Ashe yang mulai makan tanpa menunggu yang lain.


" Nggak tahu Ma " cuek Ashe.


" Lahhh gimana sih kamu itu ? Kamu mual, muntah ? "


" Iyaaa ! "


" Ya itu tanda orang hamil. Kamu udah telat datang bulan ? "


" Aku lupaaa Ma....! Paling juga maagku kambuh. Beberapa hari ini banyak kerjaan dan aku telat makan "


" Ihhh, kamu tuh gimana sih ? Orang hamil atau enggak kok nggak tahu. Nggak baik lho nunda - nunda punya anak "


" Maaa....! Nggak ada yang nunda punya anak. Orang tiap hari juga di bikin ! Upssss.....! " Ashe menutup mulutnya keceplosan.


Bu Fatimah menggeleng menatap anak satu - satunya itu.Tak lama, Dimas dan Pak Fajar bergabung di meja makan. Mereka sarapan dengan kostum masing - masing. Pasalnya ini terlalu pagi untuk berangkat kerja.


Ashe mendadak menyudahi makannya.


" Kenapa ? " Dimas langsung menoleh curiga.


Ashe menggeleng tanpa suara. Perutnya mendadak eneg, padahal tadi di mulut makanannya terasa enak.


Pak Fajar dan Bu Fatimah langsung ikut menatap Ashe. Ashe mencomot kurma di toples dan memakannya untuk mengurangi rasa eneg.


" Nggak usahh di paksa " elus Dimas di punggung Ashe.


" Udahh, kamu berobat aja She ! Kalau emang nggak enak badan " celetuk Pak Fajar.


" Iya She ! " timpal Bu Fatimah.


" Aku nggak papa Ma, Pa ! " Ashe mulai merasa enakan.


" Aku selesain dulu makannya. Nanti kita periksa " kata Dimas.


" Aku nggak papa Bie. Ini udah enakan kok ! " tatap Ashe.


Ashe kemudian membantu Bu Fatimah membereskan meja makan setelah mereka semua selesai sarapan. Ashe bahkan ikut mencuci piring. Dimas mencoba membiarkannya selama itu aman bagi Ashe.


******


" Buuuuuuuuu.....! " Dimas keluar kamar mandi dan menatap sekeliling kamar.


" Apaa....? "Ashe menyahut dari balik sofa favorit mereka.


" Aku kira kamu pergi kemana ? " Dimas berjalan ke depan lemari dan mencari baju kerja. " Aku berangkat kerja dulu ya ! Kamu di rumah aja, jangan kemana - mana ! " pesen Dimas.


" Nggak janjiii ! " Ashe mengintip dari balik sofanya. Mendadak ia menelan ludah hanya melihat postur Dimas dari belakang.


" Terus mau kemana ? " Dimas menampakkan wajahnya yang fresh.


" Lihat aja nanti, aku sungguh gabut di rumah ! "


" Ada Mama ! "


" Mama udah sibuk di kebon sama temen - temennya bikin proyek nohhh ! "


Dimas terkekeh sebari merapikan bajunya.


" Aku ada meeting ! Jadi kamu aku tinggal ya ! Nanti kalau mual lagi langsung telpon, kita ke rumah sakit " Dimas mendekat dan mengecup kening Ashe.


" Iyaaa ! Kamu hati - hati di jalan ya ! " tatap Ashe yang sambil memperhatikan Dimas mengenakan blazzernya.


" Iyaaa ! Baik - baik di rumah ya ! " Dimas meraih tas gendongnya dan mengecup bibir Ashe.


" Aku tahu kamu pingin ! Tapi timingnya nggak tepat! Nasrul udah nungguin di depan ! Nanti aku usahain pulang cepet " bisik Dimas yang langsung dapat pelototan dari Ashe.


Dimas tertawa menggoda, ia kembali mengecup bibir Ashe dan terakhir kening Ashe.


" Aku berangkat sayang ! " pamit Dimas sambil tak lupa mengusap perut Ashe.


Ashe mengiyakan dan mengantar Dimas sampai ke depan. Sebenernya Dimas bisa saja bareng dengan Pak Fajar. Tapi kali ini kliennya minta meeting di luar. Apalagi Nasrul sudah setia menunggunya di depan.


******


Ashe melirik jam. Baru setengah jam Dimas berangkat. Kini bosan sudah melanda dirinya. Ashe keluar kamar dan menuju meja makan. Mengambil cemilan dan duduk di sana. Sesaat ia berhenti mengunyah. Ashe berjalan ke belakang, di sana Mamanya tengah berkebun dengan ibu - ibu tetangga dan Ashe malas bergabung. Ashe kembali ke kamar, melihat Hpnya. Tapi Dimas tanpa sedang offline.


Ashe beranjak dan mandi. Bergegas ia berganti baju dan siap pergi. Tak lupa ia pamit pada Art yang tengah beberes di rumah.


Mau ngayap kemana ini bumil 🤦‍♀️


*****


" Bu Asheeeeee ??? " Dema kaget saat Ashe mendadak muncul di depannya penuh senyum.


Dema tengah fotocopy berkas menghentikan kegiatannya.


" Kenapa kagettt ? " selidik Ashe.


" Tadi Pak Faisal telpon, kalau katanya Bu Ashe sakit. Jadi saya harus handle rapat divisi hari ini " jelas Dema.


" Jangan bilang saya masuk kerja " sahut Ashe sebari berlalu menuju ruangannya.


Beberapa karyawan yang melihat langsung menyapanya. Dema langsung melongo. Ia menyelesaikan kegiatan foto kopi dan mengikuti Ashe yang masuk ke ruangannya.


" Buuuu, nanti Pak Dimas marah gimana ? "


" Dia tidak akan bisa marah pada istrinya yang unyu ini " kedip Ashe membuat Dema jengah.


" Emang segitu bucinnya ya ? "


" Iyalahhh. Mana semua berkasnya. Bawa sinii ! Dan tolong matiin ac "


" Haaaahhh ! " Dema langsung melongo dan tak beranjak dari tempatnya.


Ashe berdecak dan beranjak dari duduknya. Mengambil remote ac di meja tamu dan mematikanya. Baru Dema sadar.


" Heeeehhh.... Maaf Bu ! " Dema menggaruk tekuknya yang tak gatal.


" Udahhh, sana kerja ! " usir Ashe.


Dema mengiyakan, ia ngeloyor dengan muka cemberut. Tak lama, ia kembali dengan setumpuk berkas di tangannya.


" 10 menit lagi kita meeting Bu. Saya kirim filenya ya ! " ucap Dema.


Ashe mengiyakan. Mereka kemudian duduk berdua membahas laporan untuk meeting dan perkembangan projek mereka.