
" Kamu nihhh ya...! " toyor Dimas pelan dengan wajah penuh senyum. " Kalau gitu, kasih stok daging beku yang cukup sampai macannya bisa ketemu daging segar lagi.. ! " goda Dimas yang langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Ashe.
" Hiiiis.... ! Baru juga ngomong udah ngelunjak aja ini macan...! " tahan Ashe di dada Dimas.
" Salaaah siapaaa ? "
" Salah kamu lah,macannya nggak di atur....! "
" Macan yang satu ini tiap lihat kamu bawaannya pingin minggat dari kandang Bu...! " rayu Dimas meraih tangan Ashe dan memaksa untuk nyelip.
Ashe awalnya ingin berontak tapi tak ingin membuat Dimas kecewa. Karena Ashe paham betul. Sekali nyelip, sang macan bukan akan tidur lelap, tapi malah bangun meraung - raung dan harus di beri makan. Benar saja, nambah porsi lagi. πππ
Namun, kali ini Dimas tak bisa tidur lelap seperti malam sebelumnya. Meski mata terpejam dan Ashe masih lelap di sisinya, namun rasanya sulit sekali terlelap. Dimas memeluk Ashe seperti biasa mencoba untuk tidur. Namun tetap saja tak bisa.
" Kamu capek ya Bie ? " tanya Ashe tanpa membuka mata. Kebiasaan. Ashe masih bisa berkomunikasi dengan mata yang susah terbuka.
" Enggak sihh....! "
" Terus kenapa ? Dari tadi kayaknya gelisah mulu...! " Ashe tetap tak bisa membuka mata.
Dimas tersenyum sendiri menatap Ashe.
" Kamu nggak tahu apa ? Aku gelisah karena mau kamu tinggal pulang...! " jujur Dimas.
Ashe baru membuka mata.
" Kamu sampai di titik ini pasti melewati banyak hal kan Bie ? "
" Tentu saja...! "
" Kalau gitu tidur. Tantanganmu sekarang lebih ringan Bie....! "
" Bagaimana bisa kamu menilai seperti itu...? "
" Iyalah. Kamu hanya memikirkan satu hal yaitu aku. Sekarang kamu punya segalanya. Bahkan kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau. Semua yang kamu inginkan terwujud di depan mata. Tak perlu risau lagi kan ? "
" Apa kamu berpikir aku matre Bu ? "
" Kalau kamu matre buat apa Bie...? Kamu bahkan sangat gampang mengkudeta Papa...! "
" Hahha....! Tapi tanpa mengkudeta pun segalanya bisa aku miliki....! hahahha...! "
" Itu kamu tahu......! " tepuk Ashe di dada Dimas.
Dimas meraih tangan Ashe dan mengenggamnya erat. Menarik Ashe dalam pelukannya yang lebih hangat.
" Aku tidak muluk harta Bu. Aku mendapatkan gaji besar juga bukan cuma karena aku menantu Papa ataupun kepercayaan Papa. Aku bekerja keras sejak awal. Aku menjaga perusahaan dari Papa mulai membangun cabang. Aku bahkan bisa menikung Papa dengan sangat mudah. Tapi itu bukan tujuan hidupku. Tujuan pertamaku, tentu bisa hidup bahagia dengan yang ku cinta dan yang mrncintaiku dengan tulus...! "
" Terima kasih Bie...! "
" Untuk apa ? "
" Untuk tujuanmu itu...! "
" Hehe...! Terima kasih juga sudah mau menerima OB tampan ini...! "
" Narsisss...! "
" Mau tidak mau kamu harus mengakui itu. Aku ini dulu di perebutkan banyak cewek lho...! "
" Katanya nggak punya cewek...? "
" Diperebutkan itu bukan berarti punya banyak cewek...! " gemas Dimas mencubit hidung Ashe.
" Ohh, begitu...! Kalau gitu ayo kita tidur..! Kamu mau besok masak apa ? "
" Ehmmm...! Apa saja yang kamu masak, aku mau...! Tapi jangan ilang kayak kemarin...! Pamit perginya...! " tatap Dimas.
" Iya....! " Ashe mulai menguap dan memejamkan mata. Dimas mendekat dan kembali mencium bibir Ashe.
"Ok. Ayo kita tidur....! " Dimas membetulkan selimut mereka dan menyisakan lampu tidur. Ashe memeluk erat Dimas. Mereka terlelap dalam mimpi indah mereka.
****
" Bieee....! Aku belanja dulu di depan. Tukang sayur nungguin. Sekalian mau pamit besok nggak usah di samperin...! " Ashe mencium pipi Dimas. Yang dicium masih nyenyak, tapi lamat mendengar apa yang di katakan Ashe.
" Memangnya tukang sayurnya cowok apa cewek ? " Dimas nyaut dengan kening mengkerut. Mata terbuka sedikit.
" Cowok, tapi udah tua. Nggak level sama kamu pokoknya lahh...!"
sahut Ashe. " Udaaah dudaa, anaknya 4...! " imbuh Ashe.
" Laaah, jangan - jangan kamu di targetin jadi istrinya lagi...! " Dimas langsung membuka mata.
" Gue nggak tertarik....! " tepuk Ashe galak di pantat Dimas.
Dimas terkekeh membuka mata dan mengusap pantatnya. Panas juga, tabokan Ashe.
" Sarapan dulu...! " rengkuh Dimas di pinggang Ashe.
" Nanti aku beliin....! " Ashe hendak beranjak namun tangan Dimas menahannya lebih erat.
" Bukan sarapan makanan....! " kedip Dimas.
" Terus apaaa ? " tatap Ashe gemas.
Dimas menunjuk bibirnya. Ashe mencium bibir Dimas cepat dan langsung meloloskan diri.
" Tumben gerak cepat ? " senyum Dimas.
" Kasian tukang sayurnya nungguin....! " sahut Ashe.
" Diiiih....! Duda anak 4 itu lho...! Jangan lama - lama....! Awas aja kalau sampai terpikat " teriak Dimas.
" Nggaaaak janji..! Aku mau ngrumpiii dulu....! " weitsss, sama gesreknya.
Dimas nyengir. Istrinya ini suka cari masalah dengan penghuni kompleks. Entah kali ini cocok kalau sampai suka ngerumpi di depan.
Dimas beranjak ke kamar mandi. Ia mandi lebih dulu dan mencuci baju kotor. Selesai menjemur, ia melonggok keluar. Benar saja, Ashe lagi heboh dengan ibu - ibu kompleks.
Dimas mengkerut kening, apa yang diomongin coba, ibu - ibu itu antusias banget dengerin Ashe, gumam Dimas.
Dimas berbalik, hendak bikin minum. Tapi di meja makan makan sudah ada teh panas siap minum. Dimas tersenyum mengambil gelas dan meminumnya. Ia duduk mengeluarkan Hp dan mulai bekerja dengan benda pipih itu.
" Jualan apa sih ? Ompreng banget Bu ? " sambut Dimas begitu Ashe masuk rumah.
" Jual pengetahuan....! " sahut Ashe sambil meletakan belanjaan di meja dan mulai memisahkannya.
Ashe mengambil piring dan menuangkan jajanan. Menyodorkan di depan Dimas.
" Nggak menyesatkan bukan ? "
" Enggak dong...! " Ashe mulai menyiapkan bahan masakan.
" Aku kepo lho... ! "
" Diiihh...!"
" Suami istri itu harus terbuka lho...! Terutama di ranjang...! " goda Dimas yang langsung dapat lirikan tajam Ashe.
" Mereka nanyain aja. Soalnya kemarin kita di sangkanya kan kumpul kebo. Nah, berita itu sudah sampai seaentoro kompleks, makanya ibu - ibu nanyain. Ya aku jelasin...! "
" Jelasin apa ? "
" Ya ku bilang aja. Suamiku OB...! "
" Terusss....! "
" Terus aku bilang, aku CEO.... hahahha...! "
" Terus mereka percaya...? " sinis Dimas.
" Percaya....! "
" Tumbeen....! Biasanya pada nggak percaya sama kamu, ujung - ujungnya adu mulut tiap ketemu...! "
" Kompleks JAE aja yang begitu...! Mulutnya pada julid semua. Ya kali, gue di kira istri kedua melulu...! Di kira pelakor...! "
" Hahahaha....! "
" Salahmu sih....! "
" Ya kamunya masih muda, tampan, ya emak - emak di sana maunya kamu jadi suaminya...! Nggak liat, mukanya udah pada leyot" sewot Ashe.
" Hahhahahahahha....! Tuh, kamu yang mulutnya julid....! " Dimas berdiri dan mengekor Ashe.
" Kamu ngapain sih Bie ? " Ashe jadi ribet.
" Liat dulu....
" Aku beli itu.... " tunjuk Dimas.
" Kok nggak nanya aku dulu....? "
" Beliin kamu itu nggak perlu di tanya. Langsung eksekusi....! Ploook....! "
" Hiiiissss.....! " Ashe jadi kesal Dimas membalas dendam dengan menepuk pantatnya.
Dimas sendiri sudah menghindar dengan senyum dan mengangkat tangan membentuk tanda " V ".
" Itu, aku kirim ke rumah ya. Tapi ntar kalau aku pulang, semua aku tendang dari kasur...! Nggak ada yang boleh meluk kamu selain aku...! " kata Dimas.
" Nggak segitunya juga kali...! Kita lihat, mulut ini bisa di percaya tidak...? " gantian Ashe mencubit gemas bibir Dimas.
" Laah, kenapa tidak bisa....? "
" Itu cuma boneka....! "
" Biarin aja. Pokoknya nggak boleh ada yang kamu peluk selain aku....! "
" Posesif....! Duduk situ, jangan ngerecokin...! " Ashe malah balas mengancam.
" Udah mateng tuhhh....! " sahut Ashe meneruskan masaknya.
Dimas meneruskan pekerjaannya. Tak lama, Ashe selesai masak. Dimas sibuk memperhatikan istrinya bukan sibuk membantu. Ashe masak tumis kangkung, cumi pedas, tahu dan tempe goreng. Ala kampung beneran.
" Waduuuh...! " Dimas bukan tidak senang. Sangat senang malah, tapi feelingnya membatin sesuatu. Apa itu ?? πππ
" Kamu beneran jadi ibu rumah tangga deh...! " senyum Dimas.
Ashe mengurai senyum tak menjawab.
" Belajar dari mana ? Tanganmu kan biasa megang polpen dengan mulut ngomel...! " towel Dimas.
" Belajar di ujung berung....! "
" Hahahha.... ! Ya aku percaya, ada yang di tempa di di dunia antah berantah....! " kekeh Dimas.
" Dunia sihir...! "
" Nanti kunjungi tempat itu ya...! "
Ashe menghela nafas dan duduk.
" Sudah tak ada yang dikunjungi lagi disana...! " sendu Ashe.
" Ya. Oklah. Ayo makan....! Aku akan gemuk kalau tiap hari di perlakukan seperti ini....! "
" Jangan ngelunjak....! "
" Enggak sayang....! Nanti kalau kamu nggak sibuk ngomel dan aku ada di rumah maksudku...! "
" Mulutku gatel kalau nggak ngomel....! " sahut Ashe ngeladenin Dimas.
Mereka makan bersama sambil ngobrol. Dua orang itu nggak pernah bisa diem saat bersama. Diemnya saat mulut ngunyah dan tidur. π
Dimas dan Ashe seharian gelayutan aja di rumah. Dimas sibuk dengan laptopnya. Sementara Ashe sibuk mengunyah dan nonton drakor dengan nyelip di pangkuan Dimas. Ribet emang. Tapi Dimas tak pernah protes. Apalagi, Ashe juga terkadang ikut membantu pekerjaan Dimas.
Capek semua, mereka pindah ke kasur dan tidur siang dengan gaya yang tak karuan. Benar - benar menikmati suasana ngelebihin honeymoon, tak ada gangguan dan bebas ngapain aja karena Ashe belum di portal. π€ Belum di portal... ? π€«π€«π€«Itu yang paling di sukai Dimas π€π€π€π€.
****
Sore menjelang, Ashe sudah bersiap - siap. Dimas membantunya.
" Nanti buat jajan...! " Dimas menyodorkan lembaran merah pada Ashe.
Ashe menatapnya bingung.
" Aku kan naik heli...! Mau jajan di mana ? " tanya Ashe.
" Nanti kalau sampai sana. Itu sekalian buat bayar boneka....! "
" Atmnya di blokir....? " polos Ashe.
Dimas terkekeh menepuk dahi Ashe dengan lembaran uang.
" Enggak Sayang....! Atmmu udah aku transferin tadi....! Ini buat pegangan kamu....! Kamu harus punya uang cas....! " Dimas menjejelkan lembaran merah ke dompet Ashe.
" Rozi dan Silia udah kamu kirimin uang Bie ? "
" Udaaah. Kamu tenang aja...! Nggak usah pikirin mereka ! "
" Ya kali kamu lupaaa...! Ntar dikira semua uangmu aku embat....! "
" Emang kamu doyan uang....? "
" Enggak juga sih....! Aku cuma doyan kamu aja....! " Ashe nyleneh.
" Haha....! " Dimas mendekat dan mencium bibir Ashe.
" Maaf ya...! Aku nggak bisa anter pulang. Secepatnya pekerjaanku selesai...! Aku akan pulang....! " imbuh Dimas.
" Ya kalau kamu nggak pulang mau kemana ? "
" Iya....! Baweelll....! " toel Dimas. " Buuuuuu.....! " Dimas masih iseng aja.
Ashe yang sibuk melipat baju menoleh sekilas. Mulai paham jurus yang di lancarkan suaminya.
" Buuuuuu.....! " toel Dimas lagi.
" Apaaaa ? "
" Diiiiih....! Dosa lho, masak suaminya di gituin....! Tadi udah nyelipin lembaran merah lhooo....! "
" Oohhhh.....! Tadi itu bayaaran ya....? "
" Hahahahha....! Ya biar seneng aja ngelayani suami....! "
" Kalau gitu aku balikin aja lembaran merahnya....! "
" Laaah, kenapa ? "
" Kan aku ngelayanin kamu nggak minta bayaran...! "
" Oiyaaaa....! Kalau gitu ayoo....! " tarik Dimas.
" Kemana ? "
" Bekaaaaalll... ! " kedip Dimas ngasi kode.
" Jam berapa ini ? " Ashe berusaha mengkelit walau inginπ€π€£.
" Nggak usah mikirin jam....! Halal di lakukan kapan aja. Mumpung pelakor belum datang....! Ayolah... ! " tarik Dimas.
Ashe udah kayak ikan ketarik pancing aja. Umpan Dimas begitu ampuh.
" Kunci pintu dulu....! " gumam Ashe.
Dimas tersenyum. Ia secepat mungkin tak ingin kehilangan moment intim dengan Ashe. Mengunci pintu dan minta bekal untuk perjuangannyaπ±π±π±π±.
****
" Assalamuaallaikum....! " sesorang mengetuk pintu.
" Waallaikummussalam...! " Dimas membuka pintu.
Muncul di depannya wajah penuh senyum. Dimas malah sebaliknya. Pasang muka jutek, sengaja.
" Siapa Bie ? " terdengar suara Ashe dari dalam kamar.
" Jemputan Bu Ashe....! " sengaja Dimas tak menjawab. Bersedekap tangan menyuruh tamunya masuk.
" Kerja Bosss....! Kan saya sudah kasih diskon, bonus dan lain - lain....! " senyum menggoda membuat Dimas tambah kesal.
" Terserah Bapak aja deh....! Saya balik ke hotel aja....! " sewot Nasrul merasa di cuekin Dimas.
" Hahahhaaaha.....! Ambekan banget sih loe....! " Dimas malah ngakak.
Nasrul yang gantian kesel. Bersedekap tangan mengikuti gaya Bosnya.
" Buuu, udah siap belum ? " Dimas melonggok ke kamar.
" Udaaaah....! " sahut Ashe.
Dimas mengambil koper Ashe dan membawanya keluar. Ashe memperhatikan raut wajah Dimas. Ashe menghela nafas dan mengikuti Dimas keluar rumah.
Lino tampak memasukkan koper Ashe ke bagasi, sementara Nasrul yang tadinya berdiri di samping pintu rumah langsung konek melihat raut wajah Dimas. Ia langsung pergi ke balik mobil.
" Ayo....! " tarik Dimas berusaha cuek aja.
" Biee...! " panggil Ashe.
Dimas berbalik dan menatap wajah Ashe. Kemudian memeluknya erat tanpa kata. Ashe pun sama. Dimas melepas pelukannya dan mengusap perut Ashe dengan tangan kanannya π€. Sementara yang di usap tak menyadarinya.
Dimas membukakan pintu mobil. Nasrul berlari mengunci pintu dan kembali masuk ruang kemudi. Menjalankan mobil menuju KACAB Malang.
Ashe akan naik heli jam 22 : 00 wib. Saat semua orang kantor tak ada dan hanya satpam yang berjaga. Entah bagaimana Nasrul mengaturnya. Ia sangat ahli sebagai assistan mafiaπ.
" 10 menit lagi helinya datang Pak...! " Nasrul memberi tahu.
Mereka sudah di landasan Heli diatas gedung JAE Kacab Malang.
Dimas mengangguk sambil menggandeng tangan Ashe yang mengelayut di lengannya.
" Bieee....! " panggil Ashe.
Dimas menoleh menatap wajah Ashe.
" Aku beneran naik heli....? "
" Iyaaa Sayang.... ! " Dimas tersenyum. Senyum yang hilang beberapa saat lalu.
" Udaah kayak adegan di DOTS aja dong....! "
" Itu asset JAE Grup...! Masak kamu nggak mau menikmati falisitasnya...! Jangan cuma nikmati aku doang...! "
" Hiiiih....! " Ashe menepuk lengan Dimas kesal karena digombalin melulu. Padahal yang ngombalin hatinya lagi kacau balau mau di tinggal pulang pawangnya.
Benar saja, tak lama suara heli terdengar mendekat dan mendarat. Seseorang turun dan mengambil koper Ashe. Dimas masih belum melepaskan genggamannya hingga tersadar Ashe menepuk lengannya.
Dimas memeluk erat Ashe. Mencium kening, mata, pipi, hidung dan bibir Ashe.
Nasrul memperhatikannya terdiam. Tak berani bersuara kalau soal mereka berdua.
" Aku berangkat Bie...! " Ashe mencium punggung tangan Dimas.
" Ya....! " Dimas menggandeng tangan Ashe dan berlari masuk heli. Lino masuk lebih dulu. Dimas menutup pintu. Berbalik lagi dan menatap Ashe yang mulai terbang seraya melambai tangan.
Ashe membalasnya dengan mata berkaca.
" Pak, ayo pulang..! " seru Nasrul pelan mendekati Dimas.
Suasana sunyi senyap. Dimas mengiyakan dan mengikuti Nasrul turun ke bawah tanpa kata. Apalagi Nasrul, ia sama sekali tak berani bersuara.
Mereka pulang ke Hutan Anugrah Kompleks dalam diam.