
Ashe terbangun dari tidurnya. Ia meraih Hp. Masih jam 05 : 00 Wib. Ashe mengeliat. Menoleh ke arah Dimas yang masih tidur nyenyak. Keliatan sangat capek, pikir Ashe. Ashe bangun dan keluar kamar Dimas. Menuju kamar mandi. Ashe merasa lebih segar. Ia kemudian ke dapur Dimas. Mendidihkan air.
" Sudah bangun Bu ? "
Ashe menoleh kaget. Dimas dengan muka bantal menuju kamar mandi.
" Kamu ngangetin aja ! "sahut Ashe.
" Maaf Bu !! " sahut Dimas masuk kamar mandi.
Dimas menguyur tubuhnya menghilangkan penat. Ia keluar hanya berbalut handuk sepinggang membuat Ashe yang tengah menyeduh teh kaget. Dimas terlihat begitu mempesona dan seksi setelah mandi.
" Kamu nggak bisa pakai baju dulu emang ! " semprot Ashe.
" Kan bajunya di kamar Bu " cengir Dimas berjalan ke kamarnya. Menutup pintu dan berganti baju rumahan yang lebih santai.
Dimas keluar kamar. Di meja Ashe meletakkan dua gelas teh panas.
" Tak ada apa pun di kulkasmu untuk dimasak Dim ! " Ashe menyodorkan teh untuk Dimas.
" Nggak papa, nanti sarapan di luar aja Bu ! " Dimas menerima teh dari Ashe dan meminumnya.
" Sarapan di rumahku aja Dim. Aku bisa masak dirumah " kata Ashe.
Dimas mengenyitkan dahi. Namun akhirnya mengangguk.
****
Dimas menyetir mobil Ashe menuju rumah Ashe. Masih sangat pagi. Jalanan pun masih lengang. Tak lama mereka sampai. Dimas membunyikan klakson di depan sebuah pagar rumah yang lumayan mewah. Seorang tergesa membuka pintu pagar dan mengangguk hormat. Dimas memarkirkan mobil di garasi rumah. Ashe turun lebih dulu sebari menenteng oleh - oleh Dimas dari Kalimantan. Ashe berjalan ke dalam rumah. Dimas mengikutinya.
" Assalamuallaikum Ma... " seru Ashe seraya masuk.
" Waalaikumsalam ! " sahut Bu Fatimah.
Ashe mencium tangan Mamanya. Dimas tersenyum di belakang Ashe seraya meletakkan telunjuknya di bibir. Bu Fatimah tersenyum mengerti.
" Siapa ini Ashe ? " tanya Bu Fatimah pura - pura.
" Dimas Ma " sahut Ashe sambil berlalu.
" Assalamualaikum Bu " bisik Dimas seraya mencium tangan Bu Fatimah.
" Waalaikumsalam. Gimana, kamu sehat - sehat saja kan ? " bisik Bu Fatimah juga.
" Alhamdulilah sehat, Ibu gimana ? Bapak belum bisa pulang ! " sahut Dimas.
" Kamu lihat sendiri. Ibu sehat. Iya, biarin aja. Kok Ashe bisa nemplok kamu ? "
Dimas hendak menjawab. Tapi mendadak Ashe muncul.
" Ngobrol apa sih kalian ? " Ashe penasaran.
" Enggak. Mama nanya, apa Dimas ini pacar baru kamu ? " bohong Bu Fatimah membuat Dimas mengaruk tekuknya yang tak gatal.
" Bukan. Dia ajudanku ! " Ashe juga bohong.
Bingung mau ngakuin Dimas sebagai apa ?
" Ajudan kok tampan Ini cocoknya jadi mantu Mama " celetuk Bu Fatimah.
Dimas hanya nyengir. Ashe salah tingkah.
" Ya udah, ayo masuk Dim. Duduk dulu. Mama bikin minum ya ! " kata Bu Fatimah membuat Ashe mengenyit kening karena seolah mamanya begitu akrab dengan Dimas.
Mama ??? Ashe heran.
" Nggak usah, biar aku aja Ma ! " kata Ashe searah menuju dapur.
" Duduk Dim ! " kata Bu Fatimah.
" Iya Bu ".
" Sepertinya ada kemajuan ! ".
" Saya ngikut Bu Ashe aja Bu ! "
" Cowok juga harus ambil sikap dong ! "
" Sabar Bu...! "
Ashe muncul membawa minuman.
" Ya udah, mama tinggal dulu ya. Kalian ngobrol aja dulu. Mama akan masak " kata Bu Fatimah.
Dimas menatap Ashe. Ashe seolah inget kata - katanya di rumah Dimas.
" Aku bantuin Ma ! " ucap Ashe.
Dimas tersenyum. Ashe mengikuti mamanya menuju dapur. Dimas mengeluarkan Hpnya. Memeriksa sesuatu, sampai akhirnya ia bosan dan memilih ikut ke dapur. Membantu Bu Fatimah dan Ashe.
" Duduk saja Dim ! " kata Bu Fatimah.
" Nggak papa Bu. Ajudan kan menjaga keselamatan bosnya ! " sindir Dimas.
Ashe menatap Dimas mencibir. Habis mau bilang apa ? Ashe punya pacar. Nggak mungkin mengakui Dimas pacarnya.
" Keselamatan apa ? Cepretan minyak ? " celetuk Ashe.
Dimas terkekeh seraya membantu menyiapkan piring di meja makan. Keluarga Ashe sebenarnya punya ART, tapi kalau di rumah Bu Fatimah suka masak sendiri.
Cukup lama, akhirnya acara masak pun matang. Mereka segera sarapan. Bahkan Ashe tak canggung mengambilkan nasi lengkap dengan lauknya untuk Dimas. Bu Fatimah hanya tersenyum. Dimas menahan senyum melihat setiap gerakan Ashe.
****
Ashe pergi ke kamarnya dan mandi setelah selesai sarapan. Dimas ngobrol perlahan di ruang keluarga bersama Bu Fatimah.
" Katanya orang tua kamu mau kesini ya Dim ? ".
" Iya Bu. Tapi belum tahu kapan ? Nanti kalau saya sudah di Jakarta ! ".
" Suruh ke sini ya ! ".
"Hehe.. iya Bu ! ".
" Ashe yang nyuruh kamu pulang ya ? ".
" Iya Bu. Jangan heran, dua hari ini dia bakal nempel saya Bu ! "
Bu Fatimah menggeleng - geleng.
" Terus gimana Gena ? "
Dimas terdiam sejenak.
" Sudah nikah Bu, dijodohkan orang tuanya di Bandung dengan anak kolega mereka ! "
" Ashe tahu ? " imbuhnya.
Dimas mengangguk.
" Bu Ashe juga tahu saya sebenernya bukan OB ! "
Bu Fatimah mengangguk - angguk. Ashe muncul dengan tampilan baru dan tampak segar.
" Kalian mau pergi kemana hari ini ? " tanya Bu Fatimah melihat Ashe tampak sumringah.
Berbeda dari biasanya yang lebih sering murung dan mengurung diri setelah pulang kerja. Ashe menatap Dimas. Dimas menyungingkan bibirnya dengan tangan bersedekap. Seolah tahu, arti tatapan Ashe.
" Kemana Bu Ashe mau saja Bu ! " sahut Dimas.
Ashe nyengir.
" Pingin ke bioskop, nonton ! " cengir Ashe.
Bu Fatimah tersenyum. Dimas mendelik.
" Jam segini belum buka teaternya Bu ! " Dimas menunjuk jam tangannya.
" Tapi gue pengen nonton ! " cemberut Ashe.
Dimas menghela nafas.
" Nonton drakor aja dulu " Dimas memberi saran.
Lebih tepatnya tak ingin membuat Ashe minta macam - macam. Tapi Ashe sendiri masih cemberut.
" Mall belum buka Ashe ! " ucap Bu Fatimah pula.
Ashe duduk sebal di samping Dimas.
" Saya temenin sampai Ibu bosen nonton ! " ucap Dimas.
Ashe menoleh kesal pada Dimas.
" Udah gue bilang, gue bukan Ibu loe ! " sewot Ashe membuat Bu Fatimah tersenyum.
" Heeeh... tumben amat kamu merajuk dengan cowok. Sudah kalian nikah saja. Biar ngerajuknya jelas sama siapa ! " sindir Bu Fatimah.
" Maunya Bu...! " sahut Dimas.
" Dianya pecundang Ma...! " sewot Ashe seraya beranjak menuju kamar.
Bu Fatimah tertawa. Dimas nyengir malu.
" Saya nggak mau jadi pelakor Bu ! " kata Dimas.
" Iya. Mama tahu. Kayaknya Ashe suka sama kamu, cuma karena dia punya hubungan dengan Gena jadi sewot nggak jelas..! " sahut Bu Fatimah di sela tawanya.
" Sudah, saya temani Bu Ashe dulu Bu. Ntar tambah ngerajuk yang lain...! "
" Iya, dia ngotot kamu pulang kan pengen berduaan sama kamu ! " kekeh Bu Fatimah.
Dimas tersenyum. Berdiri dan meninggalkan Bu Fatimah menuju kmar Ashe. Dimas mengetuk pintu dan membukanya. Ashe tampak menyalakan televisi. Dimas masuk.
" Mau pergi sekarang ? Sayang tuh, dandanannya udah cantik gitu ! " Dimas duduk di sofa tak jauh dari Ashe.
" Ntar sore aja ! ".
" Ya udah. Terus mau ngapain sekarang ? "
" Aku punya paket viu " cengir Ashe seraya mematikan televisi dan mengambil laptop. Menyalakannya.
Ashe pindah ke samping Dimas. Ashe mulai menyalakan viu. Memilih drama yang ingin di tontonnya. Dimas menatap layar penasaran apa yang akan dipilih Ashe. Dimas tersenyum. Ashe memilih " Vicenzo ".
" Apa motifnya memilih itu ?? " tanya Dimas.
" Apa masalahnya ? " Ashe balik tanya.
" Ya nggak papa sih ! ".
" Kenapa ?? Song Jong Kii lebih tampan darimu ! " ejek Ashe.
" Pengaruhnya apa ? Setampan apapun dia. Saya bisa dapetinmu Bu. Dia mana mau sama Ibu ! " balas Dimas.
" Iyalah, gue dekil. Dia " cling " " Ashe tak mau kalah.
" Hahahhaha... jujur amat Bu. Saya juga nggak kalaah " cling " dari Jong Kii "
" Hahahhaha.... " gelak Ashe sampai menutup mulutnya.
Memang, Dimas " cling " di mata Ashe. Hati Ashe mengakui itu. Tapi mulutnya masih tertutup rapat.
" Kalau Pak Gena bukan incaran saya untuk di depak dari corp JAE, saya tidak mungkin disini nemenin Ibu ! Ketahuan, saya udah dibunuh Pak Gena ! "
" Diem aja, berisiiiik.... " Ashe malah tak menangapi ucapan Dimas.
Matanya sibuk bermanja ria menatap pesona Song Jong Kii.
" Saya cemburu Buu " pancing Dimas.
" Bodo' "
" Isssh.... " Dimas pasang muka cemberut. Menyender pada sofa.
Ashe tiba - tiba mem - pause tontonannya. Dimas menatap bingung karena Ashe beranjak dari duduknya.
" Kenapa ? " tanya Dimas.
Ashe menghentikan langkahnya.
" Aku mau ambil minum dan cemilan. Kamu nggak boleh menatap Hong! "
" Heeeh....! " Dimas bingung, " Cemburu atau apa itu ?? "
Ashe hanya mengangkat bahu, berlalu keluar kamar. Tak lama ia kembali. Tangannya sibuk penuh tentengan. Meletakkannya begitu saja di meja. Dimas menatap Ashe tak percaya.
" Banyak kejutan yang tak bisa saya percaya ! " keluh Dimas.
" Diem aja. Nanti gajimu aku naikin ! "
" Berapa banyak ?? "
Ashe menatap Dimas.
" Matre jugaaa ?? "
" Hahahaha....!! "
Ashe kembali nonton. Dimas yang tadinya malas juga penasaran mengikuti ceritanya.