Perfect Boy

Perfect Boy
71. Dia memang cantik, tapi istimewa itu tidak hanya karena cantik, jadii.....



" Kita naik apa ? " tanya Ashe begitu keluar menuju parkiran.


Sumpah, padahal pemandangan pantai pagi di Heha sangat menakjubkan dengan udara sejuk. Tapi Ashe malah sibuk menjejal makanan ke mulutnya sambil jalan. Mulutnya seolah tak bisa berhenti mengunyah.


Padahal dia baru saja sarapan yang lain.


Dimas menggeleng pelan. Ia seolah melihat dirinya sendiri pada diri Ashe. Cuek dengan segala hal.


" Kamu naik aku..! " seloroh Dimas.


Dimas menarik tangan Ashe menuju kursi dan menyuruhnya duduk.


" Selesaikan dulu makanmu...! " Dimas menyodorkan air minum.


Semua anggota keluarga Dimas telah siap untuk pulang. Nasrul menyelesaikan administrasi sementara Lino berdiri di parkiran menunggu perintah.


" Abang naik mobil aja ya...! " seru Rozi.


" Mau naik mobil nggak ? " Dimas balik tanya ke Ashe.


" Aku mau naik kamu ajaaa.... " Ashe menyahut dengan cuek.


🤪


Dimas tersenyum tertahan. Ia menyentil kening Ashe.


Rozi melotot kesal


" Aku naik motor aja Zeeen.... " sahut Dimas.


" Mobil satunya kosong Bang... " kata Rozi.


" Terus motornya gimana ? " tanya Dimas.


" Motornya jual aja di sini...! Toh Nasrul nggak tahu jalan pulang... " Ashe mulai nggak jelas dengan cengirannya.


Rozi dan Dimas bengong.


" Bu Ashe kalau ngomong suka sembarang sih. Bagaimana bisa aku jadi assisten Pak Dimas kalau begitu... " ucap Nasrul tiba - tiba.


Ia selesai dengan urusannya.


" Kamu mau bawa motor ? " tanya Ashe.


" Mau lah Bu Ashe...! Saya suruh nyebur laut aja mau...! "


" Ya udaaah sono nyebur laut... " sela Dimas.


" Enggak mau... " cengir Nasrul.


" Plin plan " sungut Dimas.


Nasrul tersenyum.


" Motor baru beli kok suruh jual sih Mbak... " keluh Rozi.


" Nanti aku beliin lagi... " balas Ashe.


" Buuuu.... " tatap Dimas.


Ashe hanya tersenyum.


" Ya udah, sini kunci sama Stnknya Pak... ! Pak Dimas yang bawa mobil ya... " diih, si assisten malah ngatur.


" Siaaaap... " Dimas memberikan kunci dan stnk serta beberapa lembar uang warna biru.


" Nanti beli bensin... "


" Ya Pak.. " Nasrul menerimanya dan berlalu meninggalkan mereka.


Rozi menyerahkan kunci dan surat mobil pada Dimas.


" Udaaah kelar makannya belumm....? " tatap Dimas pada Ashe yang masih sibuk mengunyah.


Ashe mengangguk sebari meneguk minumnya. Dimas mengulurkan tangan menarik tangan Ashe.


Mereka pulang berdua. Sementara yang lain ikut di mobil Rozi.


****


Tak lama, mereka sampai rumah Dimas.


" Ya ampun, mamak kok kesel temen... " Bu Izun langsung rebahan di sofa ruang tamu.


Silia, Dema, Ashe ikut duduk di ruang tamu. Pak Kibul langsung ke kandang. Apel sang pujaan hati. Sapii kesayangan😅. Sementara Dimas dan Rozi sibuk dengan mobil di depan. Entah sedang apa mereka. Melihat persiapannya sih mau nyuci mobil kayaknya.


" Buuuuu..... " Dimas memberikan Hp, dompet, kunci mobil dan Stnk pada Ashe. Lebih tepatnya melempar.


Ashe menangkapnya sigap.


" Apaaan sih ? Kamu mau ngapain...? " tanya Ashe.


" Mandii.... " sahut Dimas tapi keluar lagi.


" Cah ra jelasss... " umpat Bu Izun.


" Mbak Ashe, istirahat sana. Nanti berangkat jam berapa ? " tanya Bu Izun.


" Jam 15 : 00 Bu... " sahut Ashe.


" Ya, istirahat dulu sana...! " perintah Bu Izun.


Ashe mengiyakan. Dema ikut berdiri menuju dapur. Di sini dia udah bukan lagi assisten Ashe.


" Bu Ashe... "


Ashe menoleh.


" Kenapa Dem... ? "


" Kayaknya bulan ini saya makan gaji buta deh... " cengir Dema.


" Tenang aja. Kerjaanmu bakal rapel setelah acaraku selesai... " sahut Ashe.


" Haaaaah.... "


" Iyaaa...! Anggap aja ini cutiii...! Biar Rozi tambah semangat nyelesain skripsinya.... " senyum Ashe.


Dema tersenyum malu.


" Bu Ashe mau makan nggak ? Saya masakin... " tawar Dema.


" Jangan cuma masakin saya, masakin mertua juga... " bisik Bu Ashe.


" Mertua Bu Ashe kaliii... "


" Heeeh, iya yaa....! Kalau gitu beli aja lahh...! Aku capeek Dem... " keluh Ashe.


" Ya udah mau beli apa ? "


" Nasi padang...! Ayo kita beliii.... " Ashe tak jadi masuk kamar.


Dema mengikutinya. Sesaat, Ashe balik lagi. Ia meletakkan Hp dan kunci mobil Dimas. Tapi tidak dengan dompet Dimas.


" Ibu, aku beli nasi padang aja ya... " kata Ashe saat bertemu Bu Izun.


" Ya udah Mbak...! Tadi Ibu baru mau nanya ! Mau masak atau enggak...? " sahut Bu Izun.


" Ya Bu...! "


" Kamu pergi sama siapa ? " tanya Bu Izun lagi.


" Sama Dema Bu, aku mau naik aja...! " sahut Ashe.


" Sama Silia aja, nanti kalian nyasar... " saran Bu Ashe.


" Oh iya ya Buu... " ucap Ashe.


Bu Izun memanggil Silia untuk menemani Ashe.


*****


" Mau kemana cantiiiik...? " tanya Dimas yang tengah menguyur body mobil di halaman.


Silia tersenyum mendengar sapaan Dimas. Sementara Rozi membulatkan matanya malas.


Ashe melihat ke arah Dimas yang tersenyum. Senyum yang seolah membuat Ashe ingin pingsan. Padahal mereka udah bukan level gebetan lagi. 😂


" Pinjem motor... " Ashe menunjuk - nunjuk motor seolah dia pembeli yang sedang memilih mana yang ingin di beli. Menjatuhkan pilihannya pada sebuah motor matic.


" Mau kemana ? " tanya Dimas.


" Beli nasi padang... " sahut Ashe sambil mengangkat dompet Dimas.


Dimas tersenyum tertahan.


" Kuncinya di meja itu Mbak... " ucap Rozi menunjuk meja di teras.


" Yang mana Bang...? " Silia lebih sigap mengambilnya.


Ia memilah kunci mobil dan motor. Berasa saking banyaknya kunci. Sampai semua kunci di tulisin.


" Bawa helm sama stnk, nanti kalau di tangkap polisi aku nggak mau ngambil... " ucap Dimas.


" Yakiiiiin.....? "tantang Ashe.


Dimas menghela nafas. Kalah dengan sang penguasa hatinya. Rozi tertawa - tawa cekikikan meledek Abangnya yang langsung takluk dengan sang istri.


" Kenapa kau jadi Bucin siih Bang...? " kekeh Rozi.


" Berisik loe.... " sahut Dimas seraya mengarahkan selangnya ke arah Rozi.


Rozi menghindar.


Ashe mengenakan helm dan duduk memegang kemudi motor.


" Buu, jangan ngebut...! " pesan Dimas.


" Iyaa. Di sini itu jalanan sepi Bie... ! Kamu tenang aja... " sahut Ashe.


Silia membonceng di belakang Ashe.


" Jangan nyasar lho ya... " masih aja Dimas cerewet.


" Iyaaa ! Baweeeel.... " Ashe berlalu membawa motornya.


Dimas dan Rozi meneruskan mencuci mobil. Lino ikut membantu. Tak lama Nasrul datang. Mukanya cengar cengir nggak karuan. Dia langsung duduk di teras.


" Pak Dimas kenapa bisa santai sampai Heha...! Jauh banget Pak... " keluh Nasrul.


" Kamu salah tadi, harusnya kamu boncengan sama Kiwil. Ntar nyampainya pasti ntar sore... " sahut Dimas.


Nasrul menghela nafas panjang. Tak lama Dema langsung keluar membawa minum. Nasrul langsung serobot es teh dan langsung meneguknya.


" Makannya nanti ya ! Kiwil lagi beli makan... " Dimas ikut duduk dan mengeluarkan Hpnya.


Lino yang menyelesaikan mengelapnya.


" Paakkk...! " Nasrul menghadap Dimas.


Dimas menoleh.


" Laporannya sudah kau rekap ? " tanya Dimas lebih peka.


" Sudaaah Pak. Tapi Pak Dimas tetap harus monitoring langsung...! "


" Baiklah. Masih aman terkendali kan ? "


" Assalamualaikumm.... " tiba - tiba terdengar salam yang langsung membuat Nasrul, Dimas dan Rozi menoleh ke arah suara.


" Waallaikumsalam... " sahut mereka bersamaan.


Muning berjalan ke arah teras membawa sesuatu di kantong kresek. Dandanannya super cantik dengan kerudung dan gamis.


" Kulon nuwun Mas.... " sapa Muning penuh senyum.


" Eh Ning, ono opo ? Kene mrene... " sahut Dimas seraya berdiri.


Nasrul menatapnya saja tanpa coment.


" Iki dikon Mamakku kok ngeteri maeman Mas.... " Muning mengulurkan kantong plastik ke arah Dimas.


" Oh ya, matur nuwun ya... ! Ono acara opo ? " sahut Dimas menerimanya.


Nasrul pura - pura memainkan Hpnya.


" Ora ono acara opo - opo Mas, ming biasa arisan. Budhe Izun nandi kok ra menyang ? "


" Oh, gek ntas bali kae mau seko Gunung Kidul..."


" Oh, Mas Dimas rung balik Jakarta...? "


" Engko paling Ning....!"


" Istrine nandi Mas....?"


Udah persis sama Bu Minu, Maknya Muning.


" Gek neng warung...."


" Oh, Ya uwes Mas, aku tak pamit ya. .. " ucap Muning.


" Ora dolan sik Ning... ? " celetuk Rozi.


" Matur nuwun, sisok meneh wae Zi...! Pamit ya Mas.... "


" Ya, nuwun ya.... "


Dimas duduk kembali bersamaan motor masuk dan berpapasan dengan Muning.


" Ada yang bakal cemburu Pak... " celetuk Nasrul.


Dimas menoleh kesal. Ashe masuk menenteng belanjaan diikuti Silia. Tanpa menyapa Dimas.


Nasrul tertawa pelan di buat - buat. Dimas langsung membulatkan mata malas dan langsung berjalan mengikuti Ashe hingga meja makan.


" Kamu beli apaa ? " tanya Dimas ikut membantu mengeluarkan belanjaaan dan menuangkan sayur ke mangkuk dan piring.


" Kan tadi pamitnya beli nasi padang... " sahut Ashe cuek.


Duuh, Dimas udah berasa.


" Ini kamu beli semua....? " kenyit Dimas.


Ashe memang selalu khilaf saat di rumah makan padang.


" Iya, kenapa ? Mantanmu ngapain ke sini...? " ketus Ashe.


" Dia bukan mantanku Bu... " Dimas menghela nafas.


Sungguh di luar dugaan Ashe cemburu.


" Kok cantik banget penampilannya ? "


" Ya ampun...! Dia memang cantik Bu, tapi kamu itu istimewa tahu nggak ? Dan istimewa itu tidak hanya karena cantik.... "


" Jadiiii.....? "


" Jadii.... nggak usah cemburu.... " tatap Dimas serius.


" Siapa yang cemburu...? " elak Ashe sambil sibuk ke sana kemari menata piring dan sendok.


Dimas menahan nafas geram. Pasalnya Bu Izun muncul.


" Ibu, ayo makan ! " tawar Ashe.


" Banyak banget belinya Mbak ? " tanya Bu Izun.


" Iya, biar ntar sore nggak masak lagi... " sahut Ashe yang kemudian menyenggol Dimas.


" Ya udah, ayo makan. Mana yang lain... ? " sahut Bu Izun.


" Panggil yang lain untuk makan Bie... ! " seru Ashe.


" Aku nggak nafsu makan... " bisik Dimas sambil mendorong Ashe menjauh dari Mamaknya.


Ashe menoleh penuh tanda tanya.


" Nafsunya liat kamu... " bisik Dimas menggoda.


" Hiisss.... " sungut Ashe.


Dimas terkekeh seraya mengacak rambut Ashe.


" Kamu makan sana...! " Dimas membalik badan Ashe lagi mengarah ke meja makan.


Meski kesal. Ashe menurut juga. Dimas keluar memanggil Nasrul, Rozi dan Lino. Tak lama Pak Kibul pulang. Tadi selesai dari kandang, ia langsung mandi dan pergi ke Kalurahan.


Semua sudah mengambil makan, kecuali Ashe dan Dimas. Mereka mengambil terakhir.


"Kenapa ? " toleh Dimas.


Ashe hanya memegang piringnya saja dengan muka yang aneh. Dimas sudah feeling. Dimas tersenyum.


" Makan saja dulu pakai nasi sedikit, nanti sampai Jakarta kita pergi sendiri. Kamu bebas makan lauknya doang... " kata Dimas.


" Di rumah JAE ya....! " kerling Ashe.


Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mereka punya 2 rumah yang besar - besar tapi Ashe masih aja milih rumah kecil Dimas di kompleks JAE.


" Papa sama Mama kan pergi ! "


" Tapi aku suka membuat rumah kecilmu itu berantakan... " Ashe mulai mengambil nasi. Sedikit. Karena dari tadi dia ngiler sama lauknya doang.


Dimas membulatkan mata tak percaya.


" Nasrul perlu mengusir orang dong kalau gitu...? " kata Dimas yang juga mengambil nasi.


Ashe meletakkan lauk pilihannya. Mendadak Dimas memenuhi piring Ashe dengan lauk lagi.


" Bie... "


" Nanti aku habisiin.... " kerling Dimas beralibi.


Dia tidak mungkin menghabiskan itu. Ashe yang akan bisa menghabiskannya. 🤣


" Kompleks JAE... ??? " tatap Ashe lagi.


" Iya canttiiiik.... " Dimas mengalah meski pusing.


Rumah yang tidak di tempati jelas akan ditempati orang lain. Apalagi itu kompleks JAE.


" Cantik mana aku atau mantanmu.... ? " pancing Ashe.


" Jangan mulai.... " dorong Dimas dengan isyarat agar Ashe duduk.


Mereka duduk depan televisi dan ngampar seperti biasa. Ashe mulai memakan lauknya satu persatu.


Benar saja, lauknya habis lebih dulu dan nasinya yang sedikit tadi masih belum tersentuh.


Dimas menatap Ashe menahan tawa.


" Aku kenyaaang ya... " kode Dimas.


Ashe tak menyahut dan hanya menatap Dimas.


" Ayo semangat....! Habiskaaan....! Itu buat makan kucing nggak kenyang lhoo.... " kata Dimas.


Yang lain malah udah selesai makan. Nasrul malah sudah sibuk depan laptop dengan Rozi. Pak Kibul kembali ke Kalurahan. Bu Izun duduk di teras dengan Lino. Dema dan Silia mencuci piring di dapur.


" Kucing nggak makan nasi Bie...! " sahut Ashe penuh alasan.


" Jangan banyak alasan. Ini udah siang.... " paksa Dimas meski ia menarik piring Ashe juga.


Dimas sengaja mengambil nasi sedikit. Dimas melahap nasi di piring Ashe.


" Ok, aku akan beres - beres dulu...! " senyum Ashe sambil beranjak menuju kamar Dimas.


" Pak, pesawatnya mau nungguin atau Bapak ditungguin pesawat...? " tanya Nasrul setengah berteriak.


Ia baru menyelesaikan penbayaran dengan card Dimas yang khusus untuk perjalanan bisnis.


Rozi menyenggol lengan Nasrul. Dimas memutar posisi duduk menghadap Nasrul dan Rozi.


" Kamu salah bicara... " ralat Rozi.


" Heeeeh.... " cengir Nasrul.


" Terus, bisa nggak loe jangan panggil gue Bapak melulu...! Emang gue Pak Fajar... " Dimas protes juga.


" Terusss saya manggil apa dong Pak...? Bapak kan emang bos saya... " keluh Nasrul.


" Abang.... " Rozi yang menjawab.


Nasrul berkeluh kesah. Dimas hanya tertawa.


" Nyonya kamu mau rumah di kompleks JAE Rul... " Dimas menyuap nasi terakhirnya.


Nasrul tambah menghela nafas lagi.


" Lama - lama aku akan lebih kejam dari siapa pun...! Mana Bu Ashe hanya tahu diturutin... " Nasrul mengomel sendiri.


Dimas tertawa. Ia beranjak dan menuju dapur. Mencuci piring dan gelasnya.


" Koe arep gawa apa Dim...? " tanya Pak Kibul.


" Ora gawa opo - opo Pak. Sisok tiket pesawat ro Ozen yo...! " sahut Dimas.


" Sido mangkat saiki po ? " Bu Izun muncul.


" Iyo Mak. Jane arep bareng, tapi engko Bapak neng kono kesuwen... " ucap Dimas.


" Iyo, Bapak ra penak kesuwen prei... " imbuh Pak Kibul.


Dimas mengiyakan dan menuju kamar. Ashe sudah selesai beberes. Dimas masuk dan menutup pintu. Kemudian duduk di kasurnya penuh senyum.


" Jangan senyam senyum... " mendadak Ashe menembak.


" Si wanita pencemburuuu... " goda Dimas.


" Siapa yang cemburu...? " elak Ashe.


" Istriku yang cantik ini.. . "


" Heeehmm.... " cibir Ashe.


" Kenapa ? Udah pingin aku hisep itu bibir... " ledek Dimas.


Dimas melihat bibir Ashe mulai sembuh.


" Emang kobangan di hisep...? "


" Iyaaalah Bu..! Itu enak tahu nggak... " senyum Dimas menggoda. Tak sampai di situ, Dimas menarik tangan Ashe hingga ambruk menimpa Dimas. Dimas langsung mencium bibir Ashe.