
Dimas terbangun saat tengah malam. Lengannya terasa kram. Ia menoleh ke arah Ashe yang terlelap memeluknya. Kaos Dimas tampak kebesaran membalut tubuh Ashe. Dimas tersenyum dalam temaram lampu.
Ia mencium kening Ashe penuh perasaan. Perlahan , ia menarik tangannya dengan susah payah. Dimas meringis menahan kram di tangannya. Ashe sendiri sudah berguling membelakangi Dimas.
Dimas bersandar di kepala ranjang menggerak - gerakkan tangannya agar kramnya hilang. Beberapa saat, ia beranjak ke kamar mandi menunaikan hajat. Kemudian kembali lagi ke kamar. Menyusup dan memeluk Ashe dari belakang.
" Bieeeee.....! "
" Hmmmm.... "
" Aku lapaar...! " rengek Ashe terdengar.
Dimas yang sudah memejamkan mata, mengenyit dahi. Ashe membalik tubuhnya dan masuk pelukan Dimas lagi.
" Mau makan apa Bu ? Mie ? "
" Enggak....! "
" Terus apa ? Nasi ? "
" Tapi pakai ceplok telur kayak yang kamu bikin ya...! Pakai daun bawang. Tipis dan agak gosong...! " Ashe sama sekali tak membuka mata.
Dimas terkekeh pelan.
" Ya udah. Aku bikinin. Cium dulu dong...! " gemas Dimas menangkup pipi Ashe. Ashe sama sekali tak membuka mata.
" Hmmmmm.....! "
" Hissss...! Orang nggak melek sama sekali....! "
" Matanya susah buat melek Bie....! "
" Kebanyakan merem melek sih kamu....! " kecup Dimas di pipi Ashe.
" Ihhhh....! Itu kan kamu yang rese. Buruan. Ini jam berapa Bie ? "
" Jam 01 : 00 wib dini hari sayang...! Kamu belum hamil aja rewel. Apalagi hamil....! "
" Ngomel mulu...! Buruan....! " Ashe hanya membuka matanya sebelah.
" Kasih upah dulu Nyonyaa...! "
" Nanti upahnya....! "
" Transport....? "
" Hiiis....! " Ashe jadi gemas sendiri dan buru - buru mencium bibir Dimas.
Dimas berbinar senang.
" Nah gitu dong...! Nanti juga harus ada gaji dan bonus ya...! " Dimas masih aja nawar.
" Iya Bapak Presdir....! "
" Ok...! " Dimas turun dari kasur setelah sebelumnya mencium kening Ashe.
Dimas menyalakan lampu kamar dan mencari kaos untuknya sendiri.
Ashe mulai membuka mata dan bangun sepenuhnya. Tak sadar, ia tersenyum mengingat perlakuan manis Dimas selama ini. Ashe bangun. Ia ke kamar mandi sebentar dan menyusul Dimas ke dapur.
Ashe duduk memperhatikan Dimas yang mengocok telur.
" Selama seminggu siapa yang ngeladenin kamu makan Bu ? " tanya Dimas sambil menyiduk nasi. Meletakkan telur yang sudah matang hingga menutupi nasinya.
" Ya ampun...! Wanginya....! Bikin perutku meronta tak karuan...! " Ashe berbinar melihat Dimas menyodorkan piring dan minum di depannya.
Dimas duduk di hadapan Ashe.
" Aku jarang makan Bie...! Kan nggak ada yang buat aku kelaparan...! " Ashe sibuk mencium aroma dari telur dadar yang sangat wangi.
Dimas tersenyum.
" Ya udah makan dulu...! Jangan lupa gaji dan bonusnya ya...! " kerling Dimas nakal.
" Huuuh... baru juga mau makan, udah mau dibuat kelaperan lagi...! " gerutu Ashe.
" Hehe...! Ya kapan lagi Bu...! Mumpung portalnya belum digembok... "
" Kan digemboknya juga cuma seminggu doang...! "
" Seminggu itu lama Sayang...! " toel Dimas sambil menatap Ashe yang sibuk makan.
" Kamu disini sebulan betah...! "
" Terpaksaaa....! "
" Oiyaaa...???? "
" Iyaalah...! " Dimas sedikit berdiri mengecup kening Ashe.
Ashe menatapnya tak percaya dan berganti menyodorkan sendok .
" Kamu temenin makan...! " ucap Ashe.
Dimas menerima suapan Ashe. Sebenernya ia juga laper. Tapi entahlah, Dimas selalu rela menahan lapar untuk Ashe.
Akhirnya mereka makan berdua.
Ashe langsung ambruk di kasur begitu sesi makan selesai.
" Billnya belum di bayar Nyonyaa...! " sindir Dimas sebari menutup pintu kamar.
" Nantiii ya...! " tawar Ashe.
" Tapi aku maunya sekarang...! " Dimas ikut berbaring di samping Ashe. Memeluk tubuh Ashe erat sambil menatap wajah Ashe.
" Jangan menatapku seperti itu...! Nanti kamu bosan...! " kata Ashe.
" Menunggumu lama aja nggak membosankan kok..! Apalagi sekarang tinggal menikmatinya...! "
" Menikmati apaaaa ? " tatap Ashe bingung.
" Iniiiii....! " Dimas mencium bibir Ashe dan tangannya menyusup dalam kaos Ashe yang bebas hambatan.
Dimas lebih senang membuang penghalang jalan agar tangannya leluasa.
" Moduuuuus....! "tepuk Ashe pada tangan Dimas.
" Gajian Bu....! " goda Dimas dengan tangan yang jauh lebih nakal.
Dimas nyosor aja. Menghujani wajah Ashe dengan ciuman komplit dan lengkap. Ashe menahan geli menghadapi sikap Dimas tapi tak bisa menahan semua pergerakan Dimas.
Ashe pasrah dan mengeluarkan slip gaji yang harus di terima Dimas.
******
Dimas terdengar mendengkur halus di samping Ashe. Tangannya melingkar erat di perut Ashe. Pertama terbangun, Ashe langsung berhadapan dengan wajah Dimas yang ' cling ' dan selalu meluluh lantakan hati Ashe. Terlihat begitu nyaman dan tanpa beban.
Perlahan, Ashe berisut dan turun dari kasur. Ashe pergi mandi dan berganti baju. Ia melihat Dimas masih lelap dalam mimpinya.
Ashe mengambil dompet dan menutup pintu perlahan.
*****
Begitu membuka mata, Dimas mendadak panik. Ashe tak ada di sampingnya.
" Buuuuuu.....! "
Tak ada sahutan. Dimas menyingkap selimut dan bangun. Mencari ke semua ruangan. Namun yang di cari tak ada. Bahkan keluar rumah pun tak ada. Dimas mengambil Hp yang sejak semalam mereka matikan. Hp Ashe sendiri tergeletak di sana.
" Duuuuhhh, pergi kemana sih Bu ? " Dimas ngomong sendiri.
Begitu Hpnya nyala, semua notif, chat dan panggilan langsung menyambang ke layarnya. Demikian juga Ashe.
" Tunggu....! " Dimas melihat sekeliling. Tas Ashe masih ada, Dimas memeriksanya. Yang nggak ada hanya dompet saja.
Dimas sedikit menghela nafas. Tapi tetap khawatir. Dimas menekan simbol teleponnya.
Nasrul : Kenapa Pak ?
Pak Dimas : Bu Ashe nggak kesana kan ?
Nasrul : Ke sana kemana ?
Pak Dimas : Ke hotel !
Nasrul : Yaelaaah Pak. Kan udah ku bilang, Bu Ashe nggak
nggak mungkin suka saya. Jadi nggak mungkin nyusul
saya...! Orang Bu Ashe udah nyaman di pelukan Pak
Dimas.
Pak Dimas : Gue cuma nanya...! Nggak nuduh kalliiiii...
Nasrul : Laaah, emang Bu Ashe kemana ?
Pak Dimas : Nggak tahuuu....! Aku bangun udah nggak ada.
Nasrul : Dasar bucin...! Keluar cari sarapan kali Pak....! Baru juga
istri mingset bentar aja dah kelimpungan...
Pak Dimas : Terus aja loe ledekin gue...!
Nasrul : Emang iya kan ? Hahaha...! Pak Fajar nyariin Pak Dimas
lhoo...
Pak Dimas : Bilang lagi honeymoon. Gue nggak mau lagi
tanggung di ganggu...
Nasrul : Hahaaaahaha....
Pak Dimas : Manggap aja terus loeee...! Udah, gue mau cari
Bu Ashe.
Nasrul : Iya. Cari, terus kekepin jangan boleh keluar...
Pak Dimas : Berisik loe....
Nasrul : Hahahaha....
Dimas menutup teleponnya. Niatnya mau mandi nggak jadi. Ia mengambil celana panjang dan kaosnya. Buru - buru memasukkan Hp dan dompet ke saku. Dimas keluar kamar.
" Assalamualaikum....! " suaranya super familiar.
Dimas memburu ke pintu dengan nafas lega. Menubruk Ashe dengan dekapan erat.
" Kamu dari mana ? " tatap Dimas melonggarkan pelukkannya. Dimas mengambil tentengan di tangan orang yang membuatnya kelimpungan dari bangun tidur.
Yang ditanya malah menatap Dimas heran. Raut khawatir masih terlihat jelas tercetak di wajah Dimas.
" Kamu kenapa Bie ? " heran Ashe.
" Hahaha....! Kenapa coba...? " kenyit Ashe.
" Kamu tahu nggak ? Kamu tuh meluluhlantakkan hatiku...! Aku bangun, kamu nggak ada Bu... ! "
" Hahahaha....! Lebay banget sih Bie...! Orang cuma ke depan doang...! Tadi denger suara tukang sayur...! "
Dimas menatap Ashe gemas.
" Kenapa ketawa...? "
" Kamu lucu Bie...! " cubit Ashe di pipi Dimas.
" Nggak...! Gue ganteng kali...! " Dimas mengekor Ashe.
" Kenapa lagi Bie ? " Ashe yang gregetan karena Dimas mulai ngucing lagi.
" Sarapan dong...! " rengek Dimas memegang pinggang Ashe dengan kedua tangannya.
" Kelakuanmu itu makin absurd tahu nggak Bie...! Modusss banget tahu nggak ! "
" Buruan....! " paksa Dimas dengan kerlingan nakal menggoda.
Ashe masih aja jaim untuk memulai duluan. Ia tersenyum malu - malu menyembunyikan wajahnya ke dada Dimas.
" Diiih, kenapa malah ngumpet... ? " Dimas mengangkat dagu Ashe penuh senyum menggoda.
Kayaknya yang lebih oleng itu Dimas. Tak bisa menahan diri. Mencium bibir Ashe bertubi - tubi hingga Ashe menepuk lengan Dimas keras.
Dimas terkekeh meski tak sepenuhnya melepaskan pelukannya.
" Aku ntar nggak jadi masak Bie...! Emang kamu pagi - pagi nggak mau minum yang anget - anget...! "
" Ini angett....! " toel Dimas jail membuat Ashe menepisnya kesal.
Suaminya ini emang jailnya nggak ketulungan.
" Terus...? Mau ini atau teh ? " Ashe akhirnya memberikan pilihan.
Pilihan yang sulit.
" Teh dulu, baru ini...! " kedip Dimas.
" Perkara sulit...! " sungut Ashe. " Bie, aku laper, pingin masak...! Kita mau pelukan aja seharian atau gimana ? " imbuh Ashe membujuk Dimas melepas pelukkannya.
" Maunya sih meluk kamu seharian....! "
" Sepertinya kamu itu mulai berubah jadi vampir...! "
" Kenapa ? "
" Udah nggak doyan makan nasi...! Maunya ngisep darah manusia...! "
" Enaak aja. Q cuma ngisep kamu doang kali Bu...! " Dimas melepaskan tangannya dari tubuh Ashe. " Udah sana masak...! Aku mau mandi. Terus aku mau ngerjain sesuatu dulu sebelum nanti lanjut ngerjain kamu... " toel Dimas menggoda.
Ashe mendelik kesal namun wajahnya terasa merona.
" Kamu itu kebanyakan gombal tahu nggak Bie ! Bikin oleng melulu...! " sungut Ashe mulai beberes belanjaan.
" Nggak papa, yang penting kamu olengnya di kasur...! " masih saja membuat Ashe menghela nafas denger gombalan itu. Padahal yang ngombalin udah di kamar.
" Bie, aku beli makanan ini....! Kamu sarapan dulu...! " terdengar Ashe setengah berteriak.
Berarti tenaganya masih full.
" Sarapan kamu ya...? " Dimas muncul menenteng laptop dan Hp di tangannya. Dimas tampak selesai mandi. Muka beningnya membuat Ashe kayak orang kena hipnotis. Dimas malah duduk di meja makan. Di area masak Ashe, bukan di sebelahnya.
" Nantiiii....! " sahut Ashe mulai memotong sayuran untuk mengalihkan terpesonanya dia.
" Kapan...? " Dimas memutar kursinya mengikuti setiap gerakan Ashe. Dimas tentu saja tahu Ashe grogi.
" Mau sekarang...? " Ashe menyodorkan teh panas di depan Dimas, namun tak mau menatap Dimas.
" Idiiiih, nantangin ya...? " senyum Dimas.
" Makan dulu, nanti lututnya gemeter....! " ledek Ashe.
" Hahahahahaha....! Itu kan udah berapa kali Bu...! "
" Masih muda kok udah gemeteran aja. Kayak kakek - kakek...! "
" Diiih... sekarang enggak ya...! "
" Enggak mungkin...! "
" Nantangin aja sihhh....? " Dimas menoel pantat Ashe sengaja.
" Hiiiih...! " omel Ashe mendelik kesal. Dimas mana takut. Tetap saja menggoda Ashe.
" Kamu duduknya sebelah sana kan bisa Bie....! " Ashe mulai protes.
" Kan aku maunya deket kamu...! "
" Nanti laptopnya kecepretan minyak...! "
" Udah nggak papa ! " masih aja ngeyel.
Ia membuka laptop dan mulai bekerja. Sementara Ashe menyelesaikan masaknya. Masakan Ashe cukup simpel. Hanya caycay goreng , Telur ceplok dan tempe garet. Sederhana ala kampung.
" Ayo makan Bie...! " Ashe menyiapkan piring. Ia bersiap mengambil nasi.
" Astagfirullah... ! "
" Kenapa Bu ? " khawatir Dimas.
" Nasinya belum di cekrekin...! " cengir Ashe. " Kamu kebanyakan gombal sih, makanya jadi lupa...! " eeh, ujungnya ngomel.
" Hahaha....! " Dimas malah ngakak. " Ya udah, tunggu nasinya mateng kamu mandi dulu sana...! "
" Ya udaaah. Aku mandi Bie...! " Ashe beranjak dari kursinya. Namun Dimas langsung menarik tangan Ashe hingga Ashe oleng dan jatuh di pangkuan Dimas.
Sorot mata mereka bertemu. Ashe yang tak mampu bertahan langsung menunduk. Dimas terkekeh.
" Masih malu aja sih ? " Dimas mendekat dan mengecup bibir Ashe.
Dimas menatap wajah Ashe lekat.
"Udah ngeliatinnya Bie...! " Ashe berusaha bangun.
" Bentar doang sih...! "
" Bentar juga bikin aku pingin tahu nggak...! " lolos Ashe polos hingga membuat Dimas terpingkal.
" Mandi duluuu sana...! " Dimas membantu Ashe bangun dari pangkuannya sebelum bapernya Ashe makin parah. " Selesai mandi, ntar nasinya mateng...! " imbuh Dimas.
" Nggak mungkin....! " sanggah Ashe dari kamar. Ia mengambil baju ganti koper yang entah kapan ada di situ.
" Bieee....! " longgok Ashe.
" Apaaa ? " toleh Dimas.
" Aku kesini nggak bawa koper lho...! "
" Kopernya datang sendiri, nyari majikannya yang dibawa pacar gelap...! "
" Hehehe....! "
" Apa hehe...? "
" Habisnya pacar gelapnya terlalu mempesona...! Jadi aku ngintil aja tanpa bawa baju....! " sahut Ashe.
" Hahhahhhaha.....! " Dimas ngakak tak karuan mendengar jawaban Ashe.
" Ketawa aja terus....! " sungut Ashe masuk ke kamar mandi.
Dimas menutup mulutnya sebari masih menahan tawa. Tak lama Ashe kembali setelah mandi. Ia duduk di depan Dimas diekor sudut mata Dimas.
" Kamu meruntuhkan segalanya Bu....! " tatap Dimas tak berkedip.
" Aku bukan gempa....! " sahut Ashe menopang dagunya dan membalas tatapan Dimas. Sedikit mulai berani meski kalau kelamaan, Ashe akan ngeleyot juga.
" Hmmfpppttt....! Kamu ngelebihin gempa Bu...! "
"Gombaaal....! Nasinya mateng belum Bie...? "
Ceklek
Sontak keduanya menoleh ke arah magic com dan tertawa bersamaan.
" Maaf ya istriku yang kelaparan...! " usap Dimas ke wajah Ashe. Ashe hanya nyengir.
Ia memindahkan laptopnya ke depan Tv. Dimas kemudian menemani Ashe makan.
" Maaf ya Bie, makanannya terlalu sederhana...! "
" Nggak papa...! Aku bisa makan apa saja...! Bahkan aku dulu jarang bisa makan...! " senyum Dimas.
" Aku tahuu..! Sepertinya aku terlalu pelit membuatkanmu makanan...! "
" Tenang aja. Aku tahu, kamu nggak bakat jadi sosialita. Makanya kamu nggak punya temen kan ? "
" Emang...! "
" Ya udah, temennya aku aja....! "
" Temen yang suka ngilang....! "
" Kan kerja sayang....! "
" Iya...! "
" Makan nasinya yang banyak... ! "
Ashe mengangguk meski porsi lauknya lebih banyak.
" Kita jalan - jalan...? " tanya Dimas begitu mereka selesai sarapan dan membereskan meja makan.
Kini mereka duduk di sofa sambil nonton tv. Ashe sudah bersandar di bahu Dimas.
" Kerjaan kamu gimana Bie ? "
" Nanti aja.Aku lagi pingin ngerjain kamu terus nih...! " goda Dimas mengelus rambut Ashe.
" Pikiran kamu itu kayaknya nggak jauh dari ranjang deh...! " Ashe malah melingkarkan tangannya ke perut Dimas.
" Itu normal Bu. Apalagi suasana mendukung kayak gini...! "
" Kamu udah laporan Rt...? "
" Weeeeh, iya belum....! Ntar aja...! "
" Kenapa nggak lapor ? "
" Nggak papa. Emang kenapa ? Kamu takut pas tanggung harus keluar lagi ya...! " kedip Dimas.
" Hiiis....! Itu nggak banget kali Bie....! " sungut Ashe yang langsung dibungkam dengan bibir Dimas.