
Flash back
Ashe berjalan menuju lobby hotel. Tidak biasanya Gena mengajak makan di restoran hotel. Ashe sampai di lobby. Ia duduk di sofa tempat menunggu. Ashe mengambil Hpnya dan menghubungi Gena. Ashe tahu itu hotel milik keluarga Gena.
Ashe : Mas Gena dimana ? Aku di lobby.
Gena : Aku masih di atas. Apa kamu bisa naik ke atas ?
Ashe : Dimana ?
Gena : Di lantai 10, kamar 205.
Ashe berpikir sejenak, "Kamar...bukannya kita mau makan ya, batin Ashe.
Ashe : Ya
Meski penuh tanda tanya, Ashe meraih tasnya dan berjalan menuju lift. Ia menekan tombol naik lantai. Dan tak berapa lama ia sampai di lantai 10. Ashe berpapasan dengan seorang OB dan bertanya. OB itu mengerti dan langsung mengantar Ashe menuju kamar yang di maksud. Kemudian meninggalkan Ashe.
Ashe mengetuk pintu kamar 205. Tak lama, muncul Gena dengan senyum dan menyilahkan Ashe masuk. Gena menutup pintu.
" Kenapa Mas Gena malah menyuruhku ke sini. Bukannya tadi ngajak makan ? " Ashe masih bingung.
" Nggak papa. Cari suasana aja ! " sahut Gena berjalan ke arah Ashe.
Ashe duduk di sofa kamar itu. Menatap sekeliling. Ini seperti kamar pribadi Gena, batin Ashe.
" Kamu mau minum apa Ashe ? " tanya Gena.
" Nggak usah Mas. Nanti aja ! "
Gena urung mengambil minum di kulkas ruangan itu. Ia kemudian duduk di samping Ashe. Tangan Gena mengenggam tangan Ashe hingga membuat Ashe kaget. Tapi Ashe masih membiarkannya.
" Beneran nggak minum ? "
" Ntar aja Mas ! Katanya kita mau makan ! Ayo makan Mas ! "
" Nanti aja sih. Kita juga jarang berduaan di tempat sepi ngini. Nikmati dulu sebentar sih "
Tangan Gena berpindah ke paha Ashe. Ashe mulai tak nyaman. Perasaannya mulai tak enak. Apalagi kini Gena mulai mengusap - usap paha Ashe. Ashe menahan tangan Gena.
" Kenapa sih, kita sudah sama - sama dewasa Ashe. Hal seperti ini tentu saja wajar "
Gena mendekat ke arah Ashe. Berusaha mencium Ashe. Tapi Ashe menghindar. Gena tampak geram namun menahannya.
" Mas, kita belum mukrim ! " jelas Ashe.
Tapi Gena seolah tak peduli. Mendadak ia mendorong Ashe dengan kasar di sofa. Ia berusaha mencumbu Ashe. Ashe sekuat tenaga menahan Gena. Namun Gena seolah kehilangan kesadaran. Ia makin tak terkendali.
" Mas Geenaa.... sadar Masss !! " teriak Ashe menahan sekuat tenaga.
" Stttt.... nikmati saja sayang ! " Gena makin jadi.
Ashe makin geram. Gena menindihnya dengan nafsu memburu. Ashe mengunakan sekuat tenaganya menahan Gena. Ashe marah diperlakukan seperti itu. Dengan lututnya ia menyodok pusaka Gena sekuat tenaga. Sekejab, Gena berguling seraya memegangi barang miliknya dengan wajah sangat kesakitan. Ashe bangun cepat. Merapikan bajunya yang berantakan. Ia meraih tasnya dan berlari ke arah pintu. Ashe pergi dari tempat itu tak peduli dengan Gena.
******
Flash on
Di tengah lamunannya, Hp Ashe berbunyi. Ashe menyibak selimut dengan malas. Sudah mulai larut malam. Ashe meraih Hpnya yang terus saja berbunyi. Melihat siapa yang meneleponnya. Ashe menghela nafas. Dimas VC.
Ashe : Apaaaaa ?
Ashe terlihat malas dengan baju tidur yang tipis di mata Dimas.
Dimas terkekeh di seberang. Ia nampak fresh malam ini. Duduk bersandar sofa yang tampak mewah bagi Ashe.
Dimas : Ibu belum tidur ??
Ashe : Apa mataku merem ??
Dimas tertawa.
Dimas : Ibu tampak santai pamer baju seperti itu padaku !
Ashe menatap bajunya sendiri. Tapi ternyata cuek dan tak menutupi dengan selimut.
Ashe : Liat saja apa yang kamu mau !
Dimas kembali tertawa. Ia merasakan Ashe seolah putus asa dan menyerah pada keadaan.
Ashe : Di mana kamu tidur ? Itu hotel punya Fajar grup... VIP lagi ?
Dimas : Oh, itu. Tadi di suruh manajer bersihin kamar ini. Mumpung disini
mau pamer dikit ma Ibu !
Ashe : Terserah loe lah Dim !
Ashe kembali berbaring miring di tempat tidur. Ia malah seolah sedang VC an dengan pacar tanpa peduli penampilan. Karena posisi seperti itu jelas di mata Dimas, Ashe tampak seksi.
Dimas : Ibu menggoda saya ya ?
Ashe : Iyaaa...
Dimas memang tampak berbeda malam itu. Potongan rambutnya baru dan tampak sangat tampan bagi Ashe.
Ashe : Kamu bulan madu dengan istrimu ??
Dimas : Istriku sedang aku VC !
Ashe mengenyit dahi.
Ashe : Apaaaa ???
Dimas : Hehe... enggak. Lupakan saja bu !
Ashe : Jangan jadi pecundang yang tukang ngeles teruuus...
Dimas : Hahaha.... ibu sukanya to the point !
Ashe : Kenapa telpon ???
Dimas : Kangen ibuuu !!
Ashe : Ngggak jelasss...
Dimas : Katanya ibu suka yang to the point. Ini suara hati yang terdalam
lho Bu ! Kalau nggak mana mungkin saya telpon ibu. Mana berani
OB kayak saya !
Ashe : Buktinya kamu berani ! Kamu nggak cocok jadi OB !
Dimas : Terus jadi apa !? Suami Ibu ??
Dimas : Saya mau kalau Ibu mau kok...
Ashe : Apaaa itu ??? Lamaraaan ????
Dimas : Hahaha....
Ashe : Nggak sopan !
Dimas : Lagian Ibu suguhannya membangkitkan selera !
Ashe : Kenapa nyalahin saya ! Mata kamu aja yang jelalatan !
Dimas : Masak saya VC harus merem. Orang saya pingin liat Ibu !
Ashe : Udah liat kan ? Udah puaaas ???
Dimas : Udaaaah !!!
Ashe : Kapan kamu kembali ??
Dimas : Kenapa Bu ??? Kangen saya ya !
Ashe : Nggak !!!
Dimas : Hahaha..... sebulan lagi Bu. Sabar ya !
Ashe : Issssh... PD banget kamu...
Dimas tertawa tergelak.
Ashe : Tutup telponnya. Saya mau tidur. Ngasih info kok nggak unfaedah
Dimas : Hahaha... Ibu berharap saya kembali cepat kan ?
Ashe : Bodo' lah Dim...
Dimas : Memang Ibu nggak mau tahu saya dimana dan lagi ngapain ?
Ashe : Enggak !!!
Dimas : Ckck... Ibu keterlaluan !
Ashe : Mana ada pegawai kayak kamu. Kurang ajar...
Dimas : Tapi dirindukan kan...?
Ashe menekan tombol merah. Wajah Dimas hilang dari layar Hpnya. Ashe kembali meletakkannnya di tempat semula. Menarik selimut dan memejamkan mata. Jujur, hati dan pikirannya lebih tenang setelah bicara dengan Dimas.
****
Dimas terkekeh di seberang. Ashe mematikan sambungan teleponnya sepihak. Dimas bangkit dari duduknya. Mengambil laptop dan mulai bekerja seperti biasa. Hp Dimas kembali berbunyi. Sesaat, Dimas mengepalkan tangan menahan amarah. Informannya mengirim file cctv rekaman dari lantai 10 di Gena Line Hotel. Dimas menelepon seseorang yang mengiriminya file. Meminta untuk menjaga dan mengawasi Ashe sesuai prosedurnya.
****
Dimas sudah layaknya bodyguard Pak Fajar. Setelan kemeja Dimas membuatnya banyak dikagumi bawahan Pak Fajar di Kalimantan. Apalagi Pak Fajar terang - terangan mengatakan kalau Dimas adalah menantunya. Dimas menghela nafas. Kalau Bu Ashe tahu, saya bisa di genjet Bu Ashe Pak, batin Dimas teriak - teriak.
Bagaimana tidak, Pak Fajar tak segan memamerkan kesuksesan Dimas bekerja padanya. Saat itu, mereka tengah berbincang dengan beberapa kepala divisi dan kepala cabang perusahaan Pak Fajar. Dimas menyentil - nyentil lengan Pak Fajar. Persis seperti anak kecil. Pak Fajar menoleh.
" Apaa ? " tanyanya.
" Berhenti membicarakan saya ! " bisik Dimas.
Pak Fajar cuek. Kembali ngobrol dan masih membanggakan Dimas.
" Papaaa ...!! " rajuk Dimas seraya nyengir.
Mati dalam cekikan Bu Ashe, gerutu Dimas.
Pak Fajar menoleh.
" Mama telepon ! " Dimas berbohong.
" Masak ??? Nggak kedengeran bunyi Hp ! " Pak Fajar memeriksa Hpnya.
Benar saja, tak ada panggilan telepon dari Bu Fatimah. Pak Fajar menatap Dimas. Dimas hanya nyengir ketahuan bohong. Padahal dia hanya ingin menghentikan aksi Pak Fajar yang terus membanggakannya.
" Baiklah, untuk satu bulan ini. Dimas yang akan jadi mentor sekaligus pengawas kalian semua dalam manajemen. Bagaimana Dimas, kamu siap ? " tanya Pak Fajar.
Dimas mengangguk. Bagaimana lagi, ia berhadapan dengan semua kepala cabang dan divisi. Tentu tak ada hal lain selain mengangguki ucapan Pak Fajar.
" Ok, terima kasih untuk semuanya. Saya harap pekerjaan kalian lancar dan tidak membuat menantu saya mengamuk " canda Pak Fajar.
Kepala cabang dan divisi tertawa mendengar candaan Pak Fajar. Mereka mengiyakan. Rapat santai itu dibubarkan. Tinggal Pak Fajar dan Dimas yang tampak menekuk wajah.
" Tenaang... cinta akan berpihak padamu ! " tepuk Pak Fajar.
" Bapak nih, kalau Bu Ashe denger saya langsung dicekik ! "
" Serem amaat Ashe ? " kenyit Pak Fajar.
" Emang !! "
" Hehe... cekikan cinta nggak pa - pa Dim ! "
" Bagaimana Bu Ashe bisa cinta saya Pak. Saya cuma OB ! "
" Kamu mau jadi CEO langsung di pusat ?? "
" Enggaaak ! "
" Sayangnya itu harus terjadi ! "
" Bapaaaaak....! "
" Hahahaahhhaaa....!!! Berjuanglah Dim ! Saya akan kembali lusa. Kamu urus semuanya. Saya terima laporannya ya ! Nasrul akan membantu segala keperluanmu di sini. Ajudan Lino akan menjagamu ! Mereka bekerja atas perintahmu mulai saat ini "
" Ya Pak. Terima kasih "
" Oiya, selama kita kenal. Aku belum pernah ketemu orang tuamu. Jadwalkan waktu untuk itu ! "
" Bapak mau ngelamar saya ! "
" Iyaaaa... Hahaha.... "
Dimas menatap Bosnya heran.
" Nanti di Jakarta saja ya Pak ! " kata Dimas memberi usul.
Pak Fajar mengiyakan. Ia sudah lama penasaran dengan orang tua Dimas. Selama kenal Dimas, Pak Fajar belum pernah ketemu orang tua Dimas. Dimas hanya bercerita kalau ayahnya seorang dukuh di kampung.
Pak Fajar kembali ke kamar untuk istirahat. Dimas keluar mencari cafe untuk minum kopi. Ia sekarang di temani ajudan barunya. Meski begitu, mereka duduk layaknya teman. Dimas dan Lino menikmati kopi sambil ngobrol.