
Ashe mengendarai mobil kembali ke kantor. Hampir jam makan siang saat ia memasuki lobby. Ia menyerahkan kunci mobil pada seorang satpam yang berdiri di pintu masuk. Satpam itu langsung sigap menerimanya dengan mengangguk hormat pada Ashe.
Ashe menuju ruangannya. Pak Argo tampak tersenyum melihat Ashe.
" Mari makan siang Pak. Ajak yang lain " kata Ashe.
" Ya Bu. Mau di mana ? " tanya Pak Argo.
" Di restoran Solo di depan aja Pak...! "
" Baik Bu... "
Pak Argo menyuruh sekertarisnya untuk pesan tempat. Ashe duduk di kursinya. Memeriksa pekerjaan di laptopnya dan menyiapkan bahan rapat hari ini sesuai koordinasi Pak Fajar. Dimas belum juga menghubunginya. Tak lama, Ashe bersiap. Ia mengambil tasnya dan keluar ruangan.
" Pak Argo. Sudaah siap...? " tanya Ashe.
" Sudah Bu. Sekertaris saya sudah pesan tempat...! " sahut Pak Argo.
" Baiklah...! Mari kita makan...! " kata Ashe berjalan dulu.
Pak Argo mengikuti di belakang Ashe. Demikian juga karyawan lain. Merekapun kembali ke restoran Solo dekat kantor Ashe. Ashe memandang sekeliling. Ingat Dimas yang setia meladeninya di tempat itu. Ashe tersenyum. Hati manusia begitu cepat berubah. Ia tak menyangka itu. OB itu kini menjadi kekasih hatinya.
Ashe pun makan bersama dengan karyawannya. Seolah kini tak ada jarak antara mereka. Ashe mulai berbaur dengan candaan karyawannya. Dan karyawannya pun mulai tak segan pada Ashe.
****
Dimas menjejakkan kaki di NYIA. Di depan Rozi berjalan santai dan mulai sibuk dengan selfinya. Nasrul setia dibelakang Dimas.
" Dijemput siapa Ozen ? " tanya Dimas.
" Bapakke... " sahut Rozi masih saja sibuk.
" Kamu ini norak, kayak nggak pernah naik pesawat... " Dimas menoyor kepala Rozi.
" Emaaang... ! Ini baru pertama kali. Kalau disuruh ke toilet pun, aku bahkan tak tahu cara menyiramnya... " kekeh Rozi.
" Samaaaa.... " sahut Dimas.
Kakak beradik itu berpandangan. Kemudian tertawa menyadari kegoblokan mereka. Nasrul hanya menggeleng melihat tingkah keduanya. Ia menuju tempat pengambilan bagasi diikuti kakak beradik yang masih saja saling mengolok.
" Loe yang norak Bang. Loe kan CEO... "
" Diem....!! Berisiik... " umpat Dimas.
" Mbak Ashe nyariin tuh... "
" Iyaalah. Secaraa... gue kan pacarnya yang paling ganteng... "
" Hieeeeek.... " cibir Rozi.
" Pak Dimas, Mas Rozi... sampai kapan kalian mau berantem...? "
" Dieeeeem.... " sahut Rozi dan Dimas bersamaan hingga membuat Nasrul menghela nafas.
Mereka berjalan menuju pintu keluar bandara.
" Mana Bapak Zen ? Coba hubungi dia...! Jangan - jangan malah tidur siang dirumah... "
" Enggak. Tadi udah tak fotoin tiketnya ! Dia udah bilang iya...! "
Agak lama menunggu dan sibuk diteleponin, akhirnya sebuah mobil Grand L***** warna hitam muncul diikuti pameran barisan gigi dibalik kemudi. Dimas dan Rozi menyilangkan tangan didepan dada. Itu Pak Kibul, bapaknya Dimas dan Rozi.
" Hehehe... maaf. Bapak telat " ia turun mobil.
Dimas dan Rozi mencium tangan Pak Kibul. Nasrul juga ikut menyalaminya.
" Bapak sehat ?" tanya Dimas.
" Selama kamu transfer uang. Bapak senantiasa sehat " sahut Pak Kibul penuh senyum.
" Ckkk...matreee..." cibir Rozi.
Dimas terkekeh. Kepalanya mendadak frustasi dengan ucapan Bapaknya itu. Pak Kibul memang suka bercanda.Pak Kibul mencibikkan bibir pada Rozi.
" Tenang... nanti aku kasih uang yang banyak " kata Dimas.
" Nggak usah. Nanti brangkas Bapak nggak muat... "
" Hoeeeek.... " Rozi pura - pura ingin muntah.
Pak Kibul menendang pantat Rozi. Tapi Rozi lebih dulu menghindar.
Dimas dan Nasrul hanya tertawa.
" Kerja tuh duitnya diambil. Jangan minta transfer mulu... " Rozi masih saja mengejek bapaknya.
" Enak aja. Diambil ya, mamakmu yang terima amplopnya... " sahut Pak Kibul tak terima.
" Masaaak...? Kenapa tiap kali aku minta duit mamak bilang nggak punya...? "
" Kamu dibohongi mamakmu... "
" Hedeeeeh.... "
Dimas menggeleng, tak heran kalau bapaknya minta Rozi dibuang di jalan. Otak Rozi tak jauh dari duit.
Dimas menaikkan barang bawaan ke bagasi di bantu Nasrul. Rozi gantian yang duduk manis dibalik kemudi. Di samping duduk Pak Kibul. Sementara Dimas dan Nasrul dibelakang.Setelah semua naik, Rozi pun menjalankan mobil pulang ke rumah yang jaraknya kira - kira setengah jam perjalanan.
" Nanti mereka nggak tawuran Pak ? " bisik Nasrul pada Dimas yang tengah membaca laporan lewat gawainya.
" Nanti kamu yang wasiti Rul. Liat aja nanti kalau dirumah. Onar semua...! " sahut Dimas.
Nasrul terkekeh. Ia belum mengenal keluarga Dimas. Karena Dimas selalu pulang kampung sendirian.
Dimas : Makan apa Bu ? Es Oyeennya enak tuh kayaknya....!
Ashe : Enaakan bibirmu.... π€π€π€π€
Dimas : π±π±π±π±π±
Ashe : Sampai mana dukun ??
Dimas tersenyum.
Dimas : Sampai hatimu....π
Ashe : π€π€π€
Dimas : Laaah kenapa ??
Ashe : Langsung meriang !
Dimas : π¨ββπ¨ββπ¨ββ datang....!
Ashe : Ngggak sembuh. Dokternya cuma online... πͺ
Dimas : Ini di jalan pulang. Nanti ku ajak kesini. Disini dingin kalau
kemarau...!
Ashe : Hubungannya....???
Dimas : Bisa pelukaan terus sepanjang hari.... π€π€
Ashe : Nggak mungkin. Pelukan 5 menit aja, yang ngusik bnyak, seharii π€
Ngaak bkal terjadi....
Dimas : Ckkkk... nih orang digombalin dikit bisa kek...
Ashr : Wkwkkkkwwkkwk... Nggaak !!
Dimas : Siapa Klienmu ??
Ashe : Knapa ??? Tak bisakah kau membuat moodku lbih baik...?
Dimas : π€£π€£π€£ Adit masih mengharapkanmu ya... π€π€π€
Ashe : Heeeh.... cenayang ? Segenap hati dan jiwaku itu untukmu... π π
Dimas : Ohhh ya ampun, betapa gombalnya pacarku... ββ
Ashe : GUE NGGAK NGOMBAL, GUE SERIUS....
Dimas : Iya Nyonya. Aku percaya padamu. Love u banyak " deh...
Ashe : Kayak ABG loe...
Dimas : Laah, SERIUS....!! Belah dadaku kalau nggak percaya...
Ashe : Malesss. Gue bukan ahli bedah...
Dimas : Terus apa ?
Ashe : Ahli membuat pria jatuh cinta π€π€π€
Dimas : Diiiih... gue nggak mau saingan gue banyak !
Ashe : Kenapa ? Kamu cemburu ??
Dimas : Ntar muka Bu jadi tebal kek tembok di gampar cewek orang...
Ashe : Njiirr loe Bie....
Dimas : βββββπ€£π€£π€£π€£π€
" Kesambet loe Bang ? Senyam senyum sendiri !! " celetuk Rozi mengintip Dimas dari spionnya.
Pak Kibul ikut menoleh pada Dimas. Dimas pasang muka datar.
" Kesambet Bu Ashe Zi...! " sahut Nasrul.
Rozi terkekeh.
" Sopo kui Dim ? " tanya Pak Kibul.
" Pacar Bang Dimas dong Pak " sahut Rozi.
" Jadi Bapak beneran bakal punya mantu nih ? " tanya Pak Kibul.
" Ya masak boongan...? " sahut Dimas.
" Laah kamu kan emang nggak pernah punya pacar...! " ejek Pak Kibul.
" Lagian siapa sih yang mau sama aku Pak...? " sahut Dimas.
" Bapak pasti syok kalau tahu siapa pacar Bang Dimas Pak... " kata Rozi.
" Ngopo emang...? "
" Rapopo... " potong Dimas.
Rozi membelokkan mobilnya pada sebuah rumah permanen yang tak terlalu mewah tapi lumayan luas. Itu rumah keluarga Dimas. Tampak seorang wanita setengah baya dan anak perempuan usia belasan berdiri menyambut diteras. Dimas turun lebih dulu.
" Assalamualaikum Mak...! " sapa Dimas yang langsung mencium tangan Bu Izun. Ibunya.
" Waalaikumsalam...! Piye kabare Dim ? Sehat to ! ? " tanya Bu Izun.
" Sehat Bu... " sahut Dimas.
" Hai Bang... " Silia meraih tangan Dimas dan mencium dengan pipinya.
" Haii... udah besar aja kamu...! Kelas berapa ? " tanya Dimas.
" Kelas 2 SMA Bang... "
" Masak sih ? Kayaknya kemarin waktu Abang pulang kamu masih kecil..? "
" Aku di kasih makan pollar.... "sewot Silia.
" Ya kah ?? Barengan sama sapi dong... " ledek Dimas.
" Bukan Bang...! Soda kue...! Makanya melar... " mendadak Rozi muncul tambah mengejek Silia.
" Diiih.... Ozzzzeeeeeen..... " Silia mengejar Rozi yang lari masuk ke dalam.
Dimas terkekeh. Tampak Nasrul yang tengah bersalaman dengan Bu Izun bingung.
" Ayo, mari masuk...! Temennya Dimas ya...?" kata Bu Izun pada Nasrul.
" I..iiiya Bu. Saya bantu Bapak dulu... " sahut Nasrul.
Ia kemudian membantu Pak Kibul mengambil barang bawaan dari bagasi. Dimas mengambil tasnya juga.
" Bang Dimaaaas..... " seseorang terdengar berteriak dari jalan didepan rumah keluarga Dimas.
Dimas langsung menghela nafas. Frustasi dua kali. Itu ' anjing tetangga ' yang dimaksud Ashe. Dimas buru - buru masuk. Nasrul mengikuti Dimas.
" Bawa sini semua Rul, koper dan tasnya... " kata Dimas seraya membuka pintu kamarnya.
" Iya Pak... " Nasrul meletakkan koper dan tas Dimas.
Dimas juga meletakkan tas bawaannya.
" Bajumu mana ?? " tanya Dimas.
" Masih di mobil Pak...! "
" Kamu tidur di kamar sebelah ya, itu kosong ! "
" Ya Pak...! "
Nasrul keluar kamar Dimas. Tampak Rozi tengah tiduran di ruang tivi karena capek. Bu Izun malah lagi ngobrol dengan Muning di teras. Sementara Silia tengah membuat minum.
Dimas duduk disebelah kaki Rozi. Anak itu masih memegang Hp. Pak Kibul masuk membawa dus yang tadi dibawa Dimas.
" Heeeh... dicariin tuh... " senggol Dimas.
" Abang yang dicariin... " sahut Rozi malas.
Pak Kibul meletakkan dusnya. Ia ikut duduk. Muncul Nasrul yang tampak bingung mau bagaimana.
" Sini tasnya Rul... " Dimas berdiri menghampiri Nasrul hendak mengambil tas Nasrul.
" Nggak usah Pak. Saya ajaa... " tolak Nasrul sungkan.
" Ya udah, ayo masuk " Dimas membukakan pintu kamar disebelah kamarnya.
" Ini kamarmu. Taruh tasmu disitu, ayo kita minum dulu... " kata Dimas karena Silia datang membawa nampan berisi teh.
" Iyaa Pak... "
" Santai aja. Nggak usah sungkan begitu... " Dimas menepuk pundak Nasrul.
Nasrul mengiyakan. Dimas memang lebih muda darinya, tapi entah kenapa kharisma Dimas membuat Nasrul kadang seolah tak berkutik.
Bu Izun masuk dan ikut duduk dengan mereka.
" Muning nandi Mak ? " tanya Rozi.
" Tak kon bali ? "
" Ngopo ? "
" Aku ngomong Dimas langsung arep lungo neng Polres. Engko tak kon mrene meneh "
" Koe ki golek masalah kok Mak " kata Dimas.
" Ngopo to ? " tanya Bu Izun.
" Laah koe ki senenge jodoh - jodohke uwong kok Mak " timpal Pak Kibul.
" Lagian wong duwe anak wes gede kok ra ono seng duwe pacar " omel Bu Izun.
Rozi dan Dimas berpandangan.
" Kui oleh - oleh seko besanmu kui, dibuka. Aku arep adus sik. Rul, ini tehmu... " Dimas berdiri dan mengulurkan gelas teh pada Nasrul.
" Iya, makasih Pak... " sahut Nasrul.
" Heeeh... besan ? " Bu Izun mengenyit dahi.
" Hoo Mak' E . Aku ra duwe pacar kae sisok koe duwe mantu... " sahut Dimas.
" Tenane...?? " Bu Izun tak percaya.
Rozi tertawa keras dibuat - buat.
" Eling ya, s**eng oleh pacaran ming Dimas ro Rozi, Silia ora....! " pesan Bu Izun.
" Liciiiiik..... " sahut Silia kesal.
" Bapak yo ora...? " tanya Pak Kibul.
Bu Izun menatap Pak Kibul dengan tatapan membunuh.
" Aku kan yo pingin pacaran ro koe to Mak ' E....! Anak e wes gede. Awake dewe kan iso gowa gawe meneh meski ra dadi.... " elak Pak Kibul.
Rozi langsung kelimpungan tak jelas mendengar ucapan Bapaknya. Dimas yang masih berdiri menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Nasrul hanya senyam senyum. Ia tak bisa ikut ngobrol meski paham apa maksudnya. Silia pura - pura cuek.
" Wes, gek gawe anak kono. Aku tak turu, engko ndak nganggu... " kekeh Rozi seraya bangun dan menuju kamarnya.
" Undangan kita 13 : 30 Bang... " kata Rozi.
Dimas mengiyakan.
" Istirahat dulu Rul... " kata Dimas.
" Iya Pak. Maaf ngerepotin ya... "
" Kamu tamu disini...! Nih, Hpku. Nanti kalau Bu Ashe telpon, bilang aku lagi mandi. Soalnya dia pasti lagi mode cemburu... "
" Sama siapa Pak ? "
" Cewek yang tadi di depan ! "
" Mantan Bapak ? "
" Bukan. Tapi dia ngejar - ngejar saya "
Nasrul mengangguk mengerti.
" Mas Nasrul, maem sik yo. Iki ro Bapak ' e. Soale bapak lek arep neng kalurahan " kata Bu Izun.
Nasrul menatap Dimas.
" Makan dulu, disini bebas Rul. Tidak ada makan pagi, makan siang atau makan malam. Kalau laper makan saja... " kekeh Dimas.
" Pak Dimas...?? "
" Aku nanti... "
Nasrul tersenyum.
" Maaf ya Pak. Saya laper... " cengir Nasrul.
" Iya... "
Nasrul ikut makan bersama Pak Kibul. Rozi nampak sudah terlelap karena bergadang semalam. Dimas pergi mandi.
****
Siang itu juga, Dimas pergi ke kantor polisi di temani Rozi dan Nasrul. Dimas memberikan keterangannya terkait investasi dan penipuan yang dilakukan Roni. Tak hanya Dimas ternyata, beberapa warga yang kena tipu juga memberi keterangan. Dimas dan warga sempat ngobrol di kantor polisi.
" Waah, hebat sekarang Mas Dimas. Udah jadi orang sukses... " puji Pak Rahman, tetangga Dimas.
" Alhamdullilah Pak. Seberapa pun, yang penting saya nggak nipu. Saya kerja... "
" Iya. Kemarin kita juga sempat nggak percaya. Karena katanya kan, Mas Dimas sukses karena kerja bareng Roni... " timpal Pak Windu.
" Saya aja ditipu Pak. Terus ditelantarin gitu aja. Saya bahkan jadi gelandangan "
" Gila bener itu Roni. Sapi bapakmu sampai habis dijual gara - gara Roni. Dia nggak cuma nipu kamu ternyata. Bapak kamu juga... " kata Pak Kasim.
Dimas terkekeh.
*****
Hai Semuanya.. π
Salam sehat selalu...
Terima kasih telah berkenan membaca dan memberikan dukungan sejauh ini. Dan semoga authornya bisa kembali berpikir jernih untuk kembali ke rohnyaπ€£π€£. Karena jujur, setiap pembaca tahu kemana pikiran author melayang ππ.
Dan semoga author bisa terus update disela kejaran setoran yang didunia nyataπ€.
Sekali lagi terima kasih sudah membaca dan memberikan dukungan. Selain itu, author serahan pada sentuhan tangan Allah SWT. Amiin.
ππ
****
Bagaimana tidak, dia dulu pergi ke Surabaya dengan ongkos dari menjual dua sapi bapaknya. Untungnya kini Dimas punya banyak uang dan bisa membelikan sapi lagi untuk bapaknya.
Nasrul muncul bersama Rozi.
" Sudah semua Pak...! " kata Nasrul.
" Untung Abang nggak ditahan juga...! " celetuk Rozi.
" Urusannya apa ?? " heran Dimas.
" Lah kan Roni bilang Abang kerjasama sama dia... "
Nasrul tersenyum.
" Tenang aja Pak. Udah selesai semua kok... " kata Nasrul.
" Nooh liaat kan ? Abang ini bersih... " ucap Dimas.
" Emang dikasih bayclin... " ledek Rozi.
Dimas menoyor kepala Rozi, Rozi menjulurkan lidah.
" Jangan sampai kalian saya masukin penjara karena berantem disini ya... " Nasrul malah mengancam bos dan adiknya.
" Ngggaaak takuuuut.... " sahut Dimas dan Rozi bersamaan.
" Oiya...? Siapa yang mau ngeluarin...? " ancam Nasrul.
" ' Papa'...' Om '... " sahut Dimas dan Rozi bersamaan.
" Baiklah, kalau gitu saya bilang Bu Ashe aja. Kalau Pak Dimas ketemuan sama Muning... " kata Nasrul sambil berlalu, menuju mobil diparkir.
" Heeeeeh.... awas loe ya Rul.... " kejar Dimas.
Nasrul terkekeh. Rozi membuntuti Dimas.
" Bang, bagi duit dong... " regek Rozi.
Dimas berhenti menatap Rozi.
" Ni anak duit melulu yaa....!! " sewot Dimas.
" Muning atau duit ?? " gantian Rozi mengancam.
" Ckck....! Rul, kasih paijo ini duit... " teriak Dimas.
Frustasi melihat kelakuan adiknya satu ini.
" Buat apa Mas Rozi...? " tanya Nasrul.
" Belii cilok... " sahut Rozi.
Dimas mengacak rambutnya. Anak itu beneran manja nggak ketulungan. Dimas mengirimnya uang tiap bulan khusus untuk Rozi, tapi saat bersama Dimas seribu perak pun minta. Dimas masuk mobil. Menunggu adiknya yang udah gede tapi berasa kayak anak TK itu. Tak lama Rozi muncul, tangannya menenteng bungkusan plastik putih berisi bulat - bulat penuh saos. Ia mengetuk pintu mobil. Nasrul sigap membuka pintu. Rozi duduk di samping Nasrul di depan.
" Abang mau nggak ? " Rozi menoleh dan menjulurkan satu plastiknya.
Dimas tak pernah mengecewakan adiknya.
" Tumben kamu inget Abang... " Dimas menerima ciloknya.
" Rul...?? " Rozi juga menyodorkan pada Nasrul.
" Makasih Mas. Buat Mas Rozi aja... " tolak Nasrul sopan.
Ia mulai menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah Dimas.