Perfect Boy

Perfect Boy
70. Dikerjain Melulu



" Udaaah, nggak usah peduliin mereka...! Kita lihat siapa yang hamil duluan..." kata Dimas.


Ashe menoleh pada Dimas dengan penuh pelototan. Dimas terkekeh.


" Kamu beneran parah ya...? Itu adik kamu masih SMA tahu nggak...!" sungut Ashe.


" Kamu akan lihat bucinnya Kiwill sama Rozi.... "


Dimas merangkul Ashe erat. Memasukkan Ashe dalam jaketnya. Mereka berdiri di pinggir pagar menikmati suasana lampu kota yang terlihat begitu indah dan suasana laut yang bercampur.


" Kebayang nggak Bu, kamu nikah sama OB...? " tatap Dimas.


" Enggak... "


" Bayangannya dulu kesel. Papa itu dulu suka memilih dan menimbang cowok ganteng... "


" Tukang beras kali Papa...? "


" Hisss.... "


" Itu tukang sapi gimana ? "


" Itu mah nggak masuk kreteria Papa... "


" Soookkk tauuuuu kamuuu.... "


Ashe dan Dimas menoleh kaget. Serempak mereka berdecak kesal.


" Kenapa ? Kayaknya Papa setan diantara kalian...? " tanya Pak Fajar.


" Emang...! Kalau berdua kan yang ketiga setan... " sahut Dimas tanpa dosa.


" Kamu iblisss.... " Pak Fajar tak mau kalah.


Dimas tertawa.


" Papa ganggu moment... " keluh Ashe.


" Habis Mama kamu udah tidur sih...! " sungut Pak Fajar.


" Papa bikin Mama kecapekan kan ? Diih, modus banget ngajak kesini... " terkah Dimas.


" Kamu itu diem aja sih ! Emang yang muda doang yang gencar... " sahut Pak Fajar.


" Jangan sampai punya anak lagi... " ancam Ashe membuat Dimas menatap Ashe tak percaya.


" Cailaaaah....! Papa cuma bikin doang... " sahut Pak Fajar. Heis, Dimas menoleh ke arah Pak Fajar.


Menghela nafas panjang.


" Kenapa kamu...? Cepet punya anak makanya...! Papa juga pingin punya cucu " ucap Pak Fajar pada Dimas.


" Sebentar, aku muntahin dulu Pa... " sahut Dimas membuat Pak Fajar tergelak.


" Kita udah lama nggak main game Dim...! Ayo main, Ashe suruh tidur... " kata Pak Fajar.


" Tadi minta cucu, sekarang ngajak main game. Emang bikin anak di kira main gameee... " Dimas membekam mulut Ashe.


" Kebiasaaan muluttnya ngoceh melulu... " tatap Dimas.


" Hahaha...! Papa terbang pagi She. Papa mau ke Kalimantan besok... " sahut Pak Fajar.


" Kenapa dadakan Pa ? " tanya Dimas.


" Tadinya mau nyuruh kamu, tapi ntar ada " macan betina " ngamukk.... " kekeh Pak Fajar membuat Ashe menepuk kencang lengan Pak Fajar.


" Papa biangnya macan.... " sungut Ashe.


" Hahahhaaha... ! Dah, sono tidur...! " colek Pak Fajar.


" Ogaaaah... " Ashe menghindar dan mendorong Dimas jadi tameng.


" Papa mainnya sama itu dan itu noh... " tunjuk Ashe pada dua sisi. Tempat Rozi dan Nasrul dengan pasangannya masing - masing.


" Ogaaaah kalau itu mah, Papa bisa di ceburin laut... " sahut Pak Fajar.


" Mana ada Pa.... " sela Dimas.


" Kalau sama Dimas, Papa malah bisa dibikin nggak tidur sama Mama... " celetuk Ashe.


" Enaaak aja...! Dimas kan mantu kesayangan Papa...! "


" Ya udah deh, sono yang kesayangan... "


Ashe ngeloyor pergi. Dimas terkekeh. Pak Fajar malah mengusir Ashe.


" Husss.. huss...! Sono cepet pergi... " usir Pak Fajar seolah mengusir ayam.


Ashe menghentakkan kakinya kesal. Berjalan meninggalkan Dimas dan Pak Fajar.


" Papa beneran mau berangkat besok...? " tanya Dimas.


" Iya. Anita dan Ramzi sudah siapkan jadwal untuk Papa. Ini hanya gas tipis - tipis saja. GG kan juga harus tetap diawasi... "


" Haisss, kacau bahasanya... "


" Ya kan Papa juga harus kerja sebelum Mama mengamuk...! Hahhahaaha.... " gelak Pak Fajar.


" Bukannya dompet tebal Papa nggak bakal tipis...? " sindir Dimas.


" Kan tebelnya dah pindah ke kamu... "


" Ke Ashe Pa.... " ralat Dimas.


" Hahahahaha....! Kenapa kembali ke pasal 1...? "


" Ya kan semua yang berkuasa di pasal 1..."


" Kamuuu... "


" Kenapa aku ? "


" Nggak beda jauh dengan Papa.... " Pak Fajar menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Hahaha....! Aku siap bekerja keras asal Ashe bahagia Pa... " ucap Dimas. " Tapiiii.... "


" Tapi apaaa ? "


" " Bekerja keras " ku berbeda lho definisinya.. "


" Halaaahh....! Definisi kamu itu sama kayak Papa.... "


" Apaaaa ?? "


" Takut istri.... Hahhhahaha.... "


" Enaaak ajaaa....! Papa kali yang takut Mama... " sindir Dimas tak terima.


" Kan itu tanda sayang...! "


" Cinta nggak ? " pancing Dimas.


" Cintaalaaah.... " pamer Pak Fajar.


Dimas tertawa.


" Papa jadi mau ngegame atau mau apa nih ? " tanya Dimas.


" Ayooo....! Eeeeh tapii....!! "


" Kenapa ? " Dimas tak jadi mengeluarkan Hpnya.


" Papa main sama Nasrul atau Faisal saja...! Nanti Ashe ngambek sama kamu... " urung Pak Fajar.


" Udaaah ngambek dari tadi Papaa.... " kesal Dimas.


Si Bapak emang nggak peka sama anak sendiri. Nggak ngerti moment pengantin baru yang lagi panas - panasnya.


" Ya udah, sana balik ke tenda... " eitss, malah ngusir.


" Dasaaar Tuan Besaaarr.... " omel Dimas sebari meninggalkan Pak Fajar.


" Eeehh, tunggu mantu kesayangan... " cegah Pak Fajar.


Dimas menoleh malas. Pak Fajar nyengir.


" Teleponin Faisal dan Nasrul dong, suruh ke sini... " pinta Pak Fajar.


" Ya ampun Papaa...! Papa itu pegang hp tahu nggak... " kesal Dimas mendadak. Namun, tetap saja Dimas menelepon Nasrul dan Faisal. Rozi dan Pak Kibul juga. Padahal Pak Kibul baru saja terlelap. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


" Udaaah ya, aku tinggal... " pamit Dimas.


" Ok.. πŸ‘ŒπŸ‘Œ " Pak Fajar duduk menyilangkan kakinya memainkan Hpnya.


Dimas berdecak meninggalkan Pak Fajar.


" Semangaaat ya Dim.... " kata Pak Fajar setengah berteriak.


" Tahuuu ahhh.... "


" Hahhahahaha.... "


******


Dimas berjalan ke arah tendanya.


" Buuu.... " Dimas masuk ke tenda.


Ashe menoleh. Dimas langsung rebahan di samping Ashe.


" Katanya mau main game ? Nggak jadii...? " Ashe meletakkan Hpnya.


Ia baru melihat laporan bulanan yang di kirim Pak Argo.


" Enggak....! Di usir suruh bikin anak " Dimas meraih tubuh Ashe dan memeluknya.


Ashe menepuk dada Dimas pelan.


" Itu sih mau kamu... " sahut Ashe.


" Kamu juga mau kaliii... " tatap Dimas dengan senyum cerahnya.


Senyum yang selalu membuat Ashe klepek klepek.


" Ya masak nolak.... " Ashe malu - malu mengatakannya.


" Hahahhaa....! Sekarang ?? " pancing Dimas.


" Tahuuuu ahhh.... " Ashe langsung memunggungi Dimas karena merasa malu. Wajahnya terasa panas.


Dimas terkekeh dan langsung menarik pundak Ashe perlahan hingga Ashe kembali menghadapnya. Dimas mengecup kening Ashe lembut. Ashe tersenyum. Kembali Dimas mencium bibir Ashe.


" Kok belum sembuh ? Kayaknya makin lebar... " tatap Dimas sambil melihat bibir Ashe. Tangannya memegang dagu Ashe.


Ashe memang sejak tadi merasa kelimpungan karena panas dalamnya.


" Ulahmu... " sungut Ashe.


" Oyaaa....? Kayaknya kemarin nggak selebar ini deh... " senyum Dimas memoyongkan bibir Ashe dengan tangannya hingga membuat Ashe kesal dan menepuk tangan Dimas keras.


" Sakittt tahuuu.... " sungut Ashe.


Bodohnya Ashe menurut saja hingga Dimas malah mengecup keras bibirnya yang udah kayak kobangan di jalanan.


" Hiiiisss....! Sakiiiit Biieeeee.... " Ashe menepuk keras lengan Dimas.


" Hahahhahhaha.... " Dimas malah tertawa terbahak.


Ashe manyun karena kesal. Dimas bangun dan membuka tasnya. Tas yang tak dibawa oleh Ashe. Ashe memperhatikannya dan ikut bangun.


" Itu punya siapa Bie...? " kerut Ashe.


" Punya kitalaah.... "


" Dari mana datangnya...? " heran Ashe. Pasalnya mereka hanya bawa tas satu saat berangkat tadi.


" Dari Nasrul Aminudin Wakad "


" Heeeettt.....! "Ashe ambruk lagi.


Dimas mengeluarkan barang - barang dari dalam tas itu.


" Sini aku obatin... " kata Dimas.


" Ogaaaaah. Ntar kamu kerjain lagiii.... " sahut Ashe.


" Percaya padakkkyuuuu Buuu.... "


" Ogaaaaahhh....! Sakittt Bie.... " Ashe tetap tak mau beranjak dan tambah ngluwer.


" Haha.... Enggak sayang...! Sini buruan...! " tepuk Dimas pelan.


" Ngggak yakin gue 5 tahun lagi kamu masih panggil aku sayaaaang... " Ashe nyleneh.


" Yailaaaah...! Kenapa malah mikir 5 tahun lagi sihhh... " tarik Dimas pura - pura kesal.


Ashe terkekeh menutup bibirnya.


" Apaan sih....? " senyum Dimas menarik tangan Ashe yang menutup bibir Ashe.


" Paranoid.... " Ashe masih aja ngelak.


" Liaaaat nihh.... " Dimas menunjukkan blue band rencengan.


Satu biji yang harga 2 ribuan😁😁😁.


Ashe langsung speechless melihat kemasan itu. Dimas menggolesnya pada bibir Ashe.


" Udaaah. Besokk sembuh... " kata Dimas.


Ashe masih tak bicara menatap barang - barang yang di keluarkan Dimas.


" Kamu dulu mantan Damkar atau PMR sih Bie... ? " kenyit Ashe.


Ashe bahkan tak kepikiran sampai sejauh itu. Ada termos air panas kecil, botol air jeruk, roti, cemilan, pop mie, piring, sendok, gelas, buah dll.


" Mantan pacar Bu Ashe... " goda Dimas.


" Apaaaan sih... " tepuk Ashe malah jadi kesal dengan jawaban Dimas.


Dimas tersenyum mengerlingkan matanya genit. Ia meminggirkan barang - barang yang telah dikeluarkannya. Dimas melepas bajunya dan melempar ke muka Ashe dengan sengaja.


Ashe balik menendang pantat Dimas sengaja. Dimas tertawa menangkap kaki Ashe dan menggigit jempol kaki Ashe.


" Bieeee..... " teriak Ashe.


" Jangan berisikk....! Ini di area umum.... " seru Dimas.


" Umum kok kiri kanan nggak ada orangnya...! " sungut Ashe.


" Kan sengaja... "


" Sengaja buang duittt... "


" Papa itu honeymoon di sini sayaaang....! Kita itu cuma tameng doang... "


" Terus kita ngapain...? " tanya Ashe polos.


" Honeymoon jugaaaa.... " kerling Dimas yang langsung berbalik dan memeluk Ashe hingga Ashe ambruk kembali karena tak mampu menahan keseimbangannya.


" Ya ampuuun Bieeee.... " tahan Dimas.


Dimas mencium Ashe membabi buta dengan tangan jail menggelitiki Ashe.


" Bieeeeee......! Berhentiiiii lahhhhhh....! " Ashe kelimpungan sementara Dimas terkekeh senang.


" Kamu mau makan nggak...? " tatap Dimas.


" Nafsunya apaaa sihh.... ? " goda Dimas mencium bibir Ashe. Sekali, dua kali, tiga kali, dan berkali - kali. Ashe pasrah seraya menahan senyum.


Dimas menghentikan aksinya. Nafasnya terengah - engah dan ambruk di samping Ashe.


" Belum ngapa - ngapain kok udah nggak berdaya... " sindir Ashe dengan senyum mengejek.


Jleb, langsung mengena di telinga Dimas. Dimas menoleh dengan pandangan tajam.


Ashe langsung membalik menyembunyikan dirinya dengan memunggungi Dimas. Dimas membalik badan Ashe cepat dan tangannya lebih nakal dari bibirnya. Sudah ekprolasi ke mana - mana membuat Ashe kewalahan.


" Tamat riwayatmu malam ini.... " ancam Dimas penuh senyum tanpa menghentikan aksinya.


" Enaaak ajaa....! Malam - malam besok emang nggak mau episode selanjutnya....? " tantang Ashe.


" Iyaaa. Kamu itu sekarang pinter mancing ikan ya...? "


" Habis ikannya gede - gede sih... "🀭


" Kan kolamnya penuh nutrisi... "


" Pelan sih Bie.....! " tahan Ashe pada tangan Dimas yang sibuk bermain cacing.


Dimas bukan nurut tapi malah makin sibuk. Ashe menepuknya keras.


" Pelan bisa nggak....? " seru Ashe.


" Hehehe... iya sayaaaang....! " Dimas tak berhenti. Ia malah makin jadi.


" Bieee.... kamar mandinya kan jauh.... " masih aja Ashe beralasan. Padahal Dimas udah di ujung pancingan.


" Pakai tisuuuu..... " sahut Dimas terkekeh.


Macannya sudah bangun, tentu saja hanya Ashe yang bisa menjinakkkannya. πŸ€¦β€β™€οΈ


******


Dimas terbangun lebih dulu. Ashe sangat pulas di pelukannya. Dimas menoleh dan tersenyum. Ia kemudian mengecup kening Ashe. Ashe mengeliat.


" Jam berapa Bie ? "


" Entahlahhh....! Aku baru melihat wajahmuu... "


Ashe membuka matanya perlahan. Pagi - pagi ia sudah di gombalin aja.


" Aku bisa ngelinding ke laut sono ntar Bie... "


" Kenapa ? "


" Kamu membuatku mabuk kepayang...! "


" Kan udah tadi malem, mau nambah lagi ? " goda Dimas penuh senyum.


" Nggak mau...! Gateeeelll.... " πŸ˜„πŸ˜„


" Apanyaaa ? Sini aku garukiiin.... "


" Nggakk mau.... "


" Kenapa nggak mau...? Dosa lho nolak suami... "


" Haaaah.... " Ashe mendelik kesal.


Sementara Dimas tertawa tertahan. Ia merapikan rambut Ashe dan menatap dada Ashe.


" Dulu tiap malem aku selalu dapet pameran...! Sekarang bahkan pamerannya bisa aku nikmati... " goda Dimas dengan ekspresi matanya yang nakal dengan menatap dada Ashe.


" Haiiisss... ! Aku hanya pamer denganmu... "


" Hahhahaa....! Terima kasih...! " kecup Dimas di kening Ashe.


" Kita pulang sekarang Bie...? "


" Iyaa. Nanti siang kita balik ke Jakarta.... "


" Astaga...! Ya ampuuun.... " Ashe langsung tersadar penuh. Ia langsung duduk dengan memegang selimut menutupi dadanya.


" Kenapa ? " heran Dimas yang ikut duduk di samping Ashe.


" Tadi malemm kan Pak Argo ngirim laporan buat aku revieuw...! Ihhh, jadi lupa gara - gara kamu kerjain... " sungut Ashe.


" Kamu kan juga harus aku kerjain Bubbbaaa.... !!!! " tatap Dimas. Masih saja gombal.


Ashe mendelik kesal.


" Mana bajuku Bie... ? "


" Ku buang ke laut... "


" Terus aku pakai apa...? "


" Telanjang.... "


" Oyaaaa....! CEO diperistri OB jadi langsung gilaaa.... "


" Hahhahaha... hmfffttt.... "Dimas menutup mulutnya karena Ashe memukulinya.


Bukannya melawan, Dimas malah memeluk Ashe. Ia sendiri hanya mengenakan boxer.


" Hiiihh... kamu parah bangett sih Bu, tidur nggak pakai baju... " ledek Dimas membuat Ashe mendelik kesal.


" Ulah kamu jugaaa....! Barang branded jadi nggak betah nempel di tubuhku.... " sungut Ashe. " Mana kamar mandi jauh...! Gateeel banget sih ini...! "


🀣🀣🀣🀣


Dimas tertawa tertahan melihat Ashe yang ngomel. Buru - buru ia mengambil baju Ashe dan memakaikannya.


" Ya ampuuun... " keluh Ashe pasrah meski tangan Dimas colek colek kemana - mana.


Dimas tertawa senang.


" Kamu pikir Papa nyuruh kita mandi di laut kaliii...! Yukk mandi.... " ucap Dimas setelah selesai memaksa memakai baju Ashe. Ia juga mengenakan bajunya. Menarik tas ganti dan juga tangan Ashe.


" Gantian mandinya ya....? " ancam Ashe.


" Iya sayaaanggg.... " Dimas mengalahkan mesti otak mesumnya bertentangan.


" Tungggu di luar, jangan kemana - mana "


" Siaaap Bu Boossss.... "


Ashe kemudian bergantian mandi dengan Dimas. Tak lama mereka selesai dan kembali ke tenda. Dimas dan Ashe berkemas. Selesai sarapan mereka pulang ke rumah. Sementara Pak Fajar dan Bu Fatimah telah lebih dulu berangkat bersama Faisal.