Perfect Boy

Perfect Boy
39. Ada Aja



Dimas cuek makan dimeja makan. Di rumah orang tuanya ini memang memiliki meja makan. Hanya saja, tak berfungsi jadi meja makan keluarga. Mereka semua makan ditempat yang mereka sukai.


" Abang ngapain ? " Silia tiba - tiba muncul.


" Makanlah...! Kamu udah pulang ? "


" Udah dari tadi kali Bang....! "


" Udah siap - siap ? "


" Udah Bang. Mamak kan udah ngomong dari tadi pagi. Baapak juga udah ke sekolah minta izin "


" Berapa lama ? "


" Seminggu.... "


" Laaah....?? "


" Nggak papa Bang. Itung - itung piknik.... "


" Hahaha...! Ya bolehlahh.... "


" Oiya Bang....! Nggak ikut dengerin tausiah di depan ? "


" Maleesss. Orang topik tausiahnya Abang....! '


" Hmmmpttt.... pede banget sih. Ampe segitunya pingin punya mantu Abang... "


" Iyalaah. Itu mah nggak seberapa. Mertua Abang lebih keren lagi... "


" Oiya....?? " cibir Silia seraya berjalan ke kamar mandi.


Dimas mengangguk sebari mengiyakan.


" Aku penasaran seperti apa pacar Abang " sahut Silia.


" Kepoooo loe Willl.... " sahut Dimas.


" Bukan kepo Bang....! Cuma pingin tahu kayak apa kakak iparku ajaa... "


" Rasa nggak sabarmu yang bikin kamu kepooo.... "


" Terseraaah.... " ledek Silia.


Ia sudah kembali dari kamar mandi dan berjalan ke dalam. Beres - beres. Dimas menyelesaikan makannya dan mencuci piring. Ia mengambil sapu dan mulai menyapu sekitaran dapur yang tampak berantakan. Jiwa OB dan hidup rajin memang melekas di jiwanya. Dimas bahkan membereskan peralatan dapur yang menumpuk di cucian belakang. Dimas mengenyit dahi. Itu bekas bikin jadah dan wajik. Makanan khas daerah Dimas. Dimas menghela nafas.


Keributan di depan nampaknya sudah selesai. Bu Minu tampak masih tersungut - sungut saat meninggalkan rumah Dimas. Dimas berjalan ke depan.


" Iki seng go bahan kerah gek tangi... " toleh Pak Kibul.


" Ckkk... ra jelas blas.... " timpal Bu Izun sebari masuk dan berjalan ke dapur.


" Seng nyuci panciku sopo Dim....? " teriak Bu Izun dari arah dapur.


" Kuciiiiing.....! " sahut Dimas.


" Sopo seng tunggu omah Pak...? " tanya Dimas pada Pak Kibul.


" Paklik Darso ro Bulik Nik... " sahut Pak Kibul.


" Yo wes. Aku tak adus. Tak nemoni Muning sek...! Ben ra kisruh wae mbokne.. " sahut Dimas seraya berjalan masuk.


" Yo kono... " sahut Pak Kibul.


Dimas pun pergi mandi dan kembali ke kamar berganti baju yang telah disiapkan Nasrul. Mengenakan kaos krem dan celana panjang hitam. Aura Dimas benar - benar membuat semua wanita terpesona. Tak heran, fans Dimas di kampung cukup banyak. Namun, hanya Muning yang berani terang - terangan.


" Abaaaaaang..... " teriak Rozi dari halaman.


Ia tampak ingin memasukkan baju ke dalam bagasi mobil. Namun terkejut melihat isinya.


" Apaaa sih Zeeeen....? " Dimas yang sudah rapi buru - buru keluar rumah.


" Liat deeeh... " tunjuk Rozi.


Dimas mendekat. Jiwanya langsung syok. Bagasinya sudah tambah beras, singkong, pisang tanduk, nampan makanan yang pasti itu isinya jadah dan wajik tadi. Kardus yang entah isinya apa ? Penuh sesak dengan semua makanan. Apalagi, tadi yang di note Bu Izun tak ada yang turun sama sekali.


" Biarin aja Zen....! Tasmu selipin aja situ. Nggak usah bawa baju. Nanti beli disana.... ! Itu Mak loe pasti masih nambah bawaan lagi...." ucap Dimas.


" Apaaaa ? Ayaaam ??? " tatap Ozen.


" Mungkin.... " sahut Dimas seraya berjalan ke garasi.


" Ya ampun...! Mamak nih ada aja sih idenya....! " keluh Rozi


" Dia kan penuh ide.... " cibir Dimas.


" Abang mau kemana ? " heran Ozen melihat abangnya menaiki motor sportnya.


Motor yang dibeli Dimas untuk Rozi.


" Ketemu Muning....! "


" Heehh.... ngapain....? Abang jangan cari masalah dengan Mbak Ashe...! "


" Ini mau nyelesain masalah... "


" Kalau Mbak Ashe tahu gimana ? "


" Ya udah, ayo kamu ikut. Sebentar doang. Tapi aku udah kirim pesan mau ketemu dia... "


" Di mana ? "


" Rumahnya lah.... "


" Maknya habis ngamuk disini Bang... "


" Terserah. Yang penting Abang akan jelasin semua. Dia dan maknya mau terima atau enggak terserah... "


" Ada aja modenya yang begitu ? Nggak tahu malu.... " umpat Rozi.


" Kamu lebih malu - maluin.... "


" Diiih.... kenapa gue ? " sungut Rozi sebari naik dibelakang Dimas.


Dimas menyalakan motor dan melajukannya menuju rumah Muning yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya.


****


Bu Minu tampak sedang menyapu halaman saat Dimas mematikan motor di depan rumahnya. Bu Minu langsung berkacak pinggang.


" Arep ngopo koe mrene ? " sambutnya kasar.


Dimas santai.


" Gue nggak ikutan lho Bang.... " kata Rozi berbisik.


" Assalamuaalaikum.... " salam Dimas.


Ia ingin menyalami Bu Minu tapi Bu Minu tak mau memberikan tangannya. Tetap berkacak pinggang. Tak menjawab salam Dimas juga.


" Nek koe ra gelem ro Muning, ra sudi aku salaman ro koe " kata Bu Minu kasar.


" Palahane....! " Rozi yang menyahut.


Dimas melirik Rozi.


" Ngaputen Bu. Wong seneng ki ra iso dipekso.... " sahut Dimas.


" Koe wae seng g****k....! Nek koe ro Muning, mesti uripmu seneng. Muning wes PNS. Koe kan ming OB.... " kata - kata Bu Minu tambah kasar.


" Modar o wae Bu.... " gumam Rozi seraya berjalan ke teras Bu Minu. Untung yang mendengar hanya Dimas.


Anak itu sopan santunnya udah nggak ada. Apalagi yang bikin jengkel dan ngeselin.


" Muuuunnn..... " teriak Rozi.


Ia memang berteman dengan Muning karena satu lingkungan kampung dan satu grup remaja kampung. Tak lama, Muning keluar.


" Eh Zi.... " sapa Muning.


Rozi langsung duduk di kursi tanpa disuruh oleh Muning.


" Mas Dim... mrene kene... " giliran melihat Dimas langsung menyapa dengan senyum.


Dimas berjalan menghampiri Muning. Ia bersalaman dengan Muning. Bu Minu masih tersungut - sungut dan berjalan masuk ke dalam rumah.


" Kene Mas....! " Muning mempersilahkan Dimas duduk.


" Ya nuwun Ning... "


Dimas duduk disebelah Rozi. Muning pun ikut duduk.


" Langsung wae yo Ning. Aku mrene ming arep ngluruske masalah iki. Aku njaluk ngapuro ro koe, nek menawa aku duwe salah. Mulai saiki koe golek' o wong liyo seng tresno karo koe seng sak temene. Aku risih karo omongane mamakmu lan sikapmu. Aku ngrasa seneng koe trisno karo aku. Tapi, aku njaluk ngapuro... aku ra iso nompo tresnamu... " ucap Dimas panjang lebar.


Muning hanya menunduk mendengarkan dengan hati berkecamuk dan mata yang berkaca - kaca. Rozi cuek dengan Hpnya. Padahal dia mendengarkan dan lebih kejam juga merekamnya.


" Iyo Mas, aku yo njaluk ngapuro yo. Omongane mamakku cen raiso di tompo nalar. Aku yo tak belajar nglaleke koe Mas... " sahut Muning.


" Matur nuwun Ning. Koe mesti oleh seng luwih apik seko aku kok... ! Yo wes aku tak pamit yo. Matur nuwun pangertenmu. Aku njaluk ngapuro yo Ning... " ucap Dimas seraya beranjak.


Muning mengiyakan.


" Salam go mamakmu...! " pamit Dimas.


" Iyo Mas....! "


Dimas berjalan keluar teras diikuti Rozi. Mereka berdua langsung pulang diikuti tatapan nanar Muning. Rasanya cukup berat melepaskan Dimas. Tapi Dimas memang tak pernah menangapi rasa cintanya selama ini dan hanya menganggap Muning sebagai teman.


****


" Maaaak.... uwes urung....! Iki wes dienteni ki lho.....! " Pak Kibul mulai bosan menunggu istrinya. Adzan isya sudah lewat 10 menit. Bu Izun belum muncul juga. Paklik Darso dan Bulik Nik sudah ada di rumah Pak Kibul sejak habis magrib tadi.


Rozi udah di dalam mobil paling belakang bersama barang - barang dan sibuk dengan smartphonenya. Tak salah kalau ia jadi mata elang Dimas. Rozi ini jago hacker. Silia duduk di depan Rozi.


Dimas sedang menelepon Ashe dan memberi tahu akan berangkat.


" Ngopo sih buru - buru... ? " Bu Izun akhirnya muncul.


Pak Kibul berkacak pinggang.


" Koe ki Bu.... " kesalnya.


" Tak mangkat sik ya Paklik, Bulik....! Njaluk tulung tunggu omah yo... " pamit Pak Kibul.


" Iyo Mas.... " sahut Paklik Darso.


Bu Izun juga pamitan, demikian juga Rozi dan Silia. Mereka pamitan dari dalam mobil. Dimas yang telah selesai menelepon Ashe pun menyalami Paklik dan Buliknya sebari pamitan. Mereka sekeluarga berangkat. Nasrul setia jadi sopir pribadi mereka.


****


Beberapa jam perjalanan, Bu Izun mulai protes ingin buang air kecil.


" Rasah aneh - aneh sih Mak ...! " celetuk Rozi.


" Wong arep pipis kok aneh - aneh to... ? " Bu Izun.


" Sebentar lagi kita sampai rest area Bu. Sabar sebentar ya... " sahut Nasrul.


" Lama nggak Mas...? " tanya Bu Izun.


" Setengah jam Mak... " sahut Dimas.


" Keburu ngompol aku.... "


" Mau ngopo ra go pampers.... " celetuk Pak Kibul.


" Emang aku jompo po Pak.... ? " sahut Bu Izun.


" Turunin sini aja Rul....! Pinggir jalan tuh, biar disemak - semak... " provokasi Rozi.


" Engko aku tok tinggal..... "


Silia yang duduk di antara Pak Kibul dan Bu Izun terkekeh. Bapak sama Emaknya memang suka begitu.


" Lima menit lagi Bu.... " Nasrul menenangkan Bu Izun.


Benar saja, tak sampai 5 menit. Nasrul membelokkan mobil di rest area. Bu Izun langsung membuka pintu begitu Nasrul mematikan mobil.


" Temenin Sil...! Nanti Mamak ilang... " ucap Dimas melihat emaknya yang buru - buru turun.


" Ayo, yang mau ke kamar mandi dulu silahkan.... " kata Nasrul.


Pak Kibul, Dimas dan Rozi turun. Mencari udara segar.


" Arep maem sik ora Pak....? " tanya Dimas.


" Ora, mau ntas madang kok... " sahut Pak Kibul.


Dimas : Bu sudah pulang...?


Dimas mengirimkan pesan pada Ashe. Cukup lama, Ashe belum membalas pesannya.


Di sisi lain, Ashe masih di gudang mengawasi karyawan shift malam. Sejak beberapa hari ini, manajemen gudang agak kacau karena banyaknya pengiriman barang. Ashe terpaksa lembur dan ikut membantu staf disana bersama Pak Argo.


****


Setengah jam menunggu, hanya Silia yang muncul.


" Mana Ibu Mbak ? " tanya Nasrul heran.


Pak Kibul dan Dimas menoleh ke arah Silia. Rozi yang sejak tadi berjongkok di depan Abang dan Bapaknya berdiri.


" Gek belonjo.....! " sahut Silia.


" Diiiih.... belanja opo meneh....? Sopo seng ngekei duit Mamak... ? tanya Rozi bingung.


Dimas membuang muka. Bersiul - siul. Pura - pura cuek. Padahal emang Dimas yang tadi ngasih duit segepok untuk Bu Izun.


" Mamak ki bendahara negara Ozeeen.... " sahut Pak Kibul.


Rozi menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


Lama menunggu,,,


Setelah Dimas menyuruh Nasrul menyusul, Bu Izun muncul dengan muka tak bersalah. Nasrul membawa sekantong besar berisi cemilan dibelakangnya.


Dimas, Rozi dan Silia melongo.


" Siapa yang akan menurunin kelakuan emak satu itu ? " celetuk Rozi.


Mereka bertiga berpandangan.


" Bang Dimas yang manjain emak duit sih... " sahut Silia.


" Ya Abang punya banyak duit... "ucap Dimas.


" Begitulah sosialita dadakan... " kata Rozi.


" Ayo gek mangkat....! Selak mbengi...! " kata Bu Izun.


Tiga anaknya kembali berpandangan. Menghela nafas kesal karena memang sejak tadi mereka menunggu Bu Izun. Nasrul tertawa. Pak Kibul hanya terkekeh.


Mereka kembali ke posisi masing - masing. Melanjutkan perjalanan.


Ashe : Aku digudang Bie..


Dimas : Kamu lembur...?


Ashe : Iyaa, ada sedikit masalah digudang...


Dimas : Ada apa ? Tak ada yang bilang...


Ashe : Kacau pengiriman dan potongan dari kepala gudang..


Dimas : Potongan ??


Ashe : Iya. Sopir kontainer yang tak tepat waktu dipotong kepala gudang.


Padahal kantor membayar full...


Ashe : Monitoringkan manajemennya Bie...!! πŸ™


Dimas : Kau merayuku....??


Ashe : Diiih....


Dimas : Apa imbalannya....???


Ashe : CEO apa yang minta imbalan ?


Dimas : CEO pujaan hatimu...


Ashe : Ya ampuuuuun. Hatiku meleleeh Bie...πŸ‘‰ πŸ’€ ( you're dead )


Dimas : 😊😳😘😍 ( love )


Ashe : Jngn pkai baju OB...


Dimas : Aku memang OB....


Ashe : Daaah.... mulai....! 😀


Dimas : Sudah makan belum ?


Ashe : Makan malam sudah...! Yg belum " makan malam " ... 🀭🀭🀭🀭


Dimas : Jangan mancing....!! 😘😘😘


Ashe : Enggak....! Disini nggak ada kolamm !!


Dimas : Adaaaa....


Ashe : Dimana ?? πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Dimas : Nggak bisa ditunjukin sekarang...


Ashe : Kok bisa ???


Dimas : Bisalah...! Itu kolam rahasia soalnya....!


Ashe : πŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈ


Dimas : Tahu dimana ???


Ashe : Ngggak mau tahuuu.... 😠😠😠😀😀


Dimas : 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀭🀭🀭🀭


Dimas : Kamu sama siapa sayaaaang...?


Ashe : Ya ampun... gletser meleleh beneran... πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Ashe : Ada Pak Argo dan Faisal


Dimas : Baiklah.... 😘😘😘😘😘😘😘


Ashe : Pipiku penuh bibirmu...


Dimas : Aku nyiumnya di bibirmu kok...!!


Ashe : 😱😱😱😱😱😱


Ashe : Kamu nyampai mana Bie ?


Dimas : Nyampai hatimuuu....


Ashe : Aduuuh... aku pingsanπŸš‘πŸš‘πŸ₯


Dimas : Ngggakkk bisa....! Aku akan bawa kmu πŸ•


Ashe : Untuk apa ???


Dimas : 🀰🀰🀰


Ashe : Ouccccch.... udah sampai situ....!


Dimas : Itu normal kaliiii....


Ashe :πŸ‘°πŸ€΅


Dimas : Tentu saja....! Aku juga tak buru - buru.


Dimas : Buru - buru tak enak...


Ashe : 😘😘😘😘😘😘😘


Dimas : Aduuuuh.... pingsan aku....


Ashe : " Ruuuuulll.... tolonng kasih nafas buatan buat Pak Dimas "


Dimas : Njirrrr.... pacar nggak berperikecintaan...


Ashe : 🀣🀣🀣🀣🀣Aku menunggumu sayang....


Dimas : Bulsyittttt....


Ashe : 🀣🀣🀣🀣😘😘😘😘😘😘😘


" Pakk.... jangan senyam - senyum sendiri.... " Nasrul memperingatkan Dimas.


Dimas menoleh dengan muka sumringah.


" Apaaa sih kamu... " sahut Dimas.


" Diiih.... mulai nggak beres nih Pak Dimas... "


" Emang.... " sahut Dimas seraya menoleh ke belakang. Semua tidur.


" Kalau kamu udah ngerasa capek gantian Rul.... " imbuh Dimas.


" Iya Pak. Cari tempat menepi dulu ya... " sahut Nasrul.


Dimas kembali mengirim pesan untuk Ashe.


Dimas : Sayang, aku gantiin jadi sopir Nasrul dulu ya. 😘😘😘😘😘😘


Ashe : πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Dimas : Emoticonku 6, kenapa kamu cuma bales 4.....?


Ashe : Ngggak usah LEBAY deccch Bieee... Loe manusia dewasa....!!


Dimas : 🀣🀣🀣🀣🀣🀣😘😘😘😘😘😘


Ashe :😘😘😘😘😘😘


Ashe : PUAAAAAS LOEEEEE......???


Dimas : Belum ngapa " in ya belum puaslah....


Ashe : Tahuuu aaahhhh.... πŸ€·β€β™€οΈπŸ€·β€β™€οΈπŸ€·β€β™€οΈ


Dimas : 😘😘😘😘😘


Ashe : Nggak usah nyium lewat emoticon.... cium langsung !


Dimas : πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“


Dimas : Baru besookk....


Ashe : 😴😴😴😴😴😴


Dimas : πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Ashe : 🐊🐊🐊🐊🐊


Dimas : πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹


Ashe : Song Kang loe.....?


Dimas : Iya. 😘😘😘😘😘😘


Dimas meletakkan Hpnya di dasboard saat Nasrul menepikan mobilnya di rest area. Mereka berganti posisi.


Menjelang pagi, Rozi pun menggantikan abangnya hingga beberapa jam berikutnya. Nasrul yang cukup istirahat kembali jadi sopir hingga mereka sampai rumah Dimas.