Perfect Boy

Perfect Boy
24. Tifus Tanda Cinta



Ashe merasa menggigil. Ia menarik selimut untuk menutupi badannya. Tetap saja ia merasa menggigil. Ashe meraih Hpnya. Masih pukul 03 : 00 wib. Ia kembali mencoba memejamkan mata lagi meski tak bisa tidur. Ashe benar - benar kedinginan. Setiap sendinya terasa ngilu.


" Ma....!! " Ashe memanggil mamanya dengan suara pelan. Yang dipanggil tentu saja tak mendengar karena kamar mereka terpisah.


" Pa....! Papa !! "


Pak Fajar tentu tak mendengar juga. Dengan tangan gemetar, Ashe menelepon Papanya. Pak Fajar yang tengah terlelap sayup terbangun.


" Siapa yang telepon Pa ?? " Bu Fatimah rupanya juga mendengar bunyi telepon.


Pak Fajar menyingkap selimutnya. Meraih Hp di meja sampingnya.


" Ashe Ma " kerut Pak Fajar sedikit panik karena tak biasa Ashe menelepon disaat pertiga malam.


Segera menggeser gambar telepon hijau.


Pak Fajar : Kenapa She ???


Ashe : Aku demam Pa !!


Pak Fajar : Ya.. ya.. Papa kesana!


Pak Fajar langsung mematikan teleponnya.


" Ashe demam Ma ! " ucap Pak Fajar yang langsung turun dari tempat tidur dan tergesa, demikian juga Bu Fatimah. Mereka tergopoh - gopoh ke kamar Ashe.


" Kenapa She ?? " Bu Fatimah langsung duduk dan memegang kening Ashe.


Terasa sangat panas. Pak Fajar juga duduk dan memijat kaki Ashe.


" Dingin banget Ma ! Lututku ngilu banget, sikuku juga !! " sahut Ashe.


Bu Fatimah menoleh pada Pak Fajar.


" Gimana Pa ?? "


" Kita bawa ke rumah sakit aja ! " kata Pak Fajar.


" Ya udah ayok !! " kata Bu Fatimah.


Ia membantu Ashe bangun.


" Aku ganti baju dulu Ma ! " Ashe masih inget bajunya cukup tipis.


" Ya udah, Papa siap - siap dulu !! "


Aahe menganti bajunya dengan tubuh gemetar. Hampir tak kuat berdiri rasanya. Bu Fatimah menyiapkan jaket untuk Ashe. Kemudian mereka berangkat ke rumah sakit. Di mobil Ashe masih tetap mengigil kedinginan hingga Bu Fatimah memeluknya. Pak Fajar mengusap pundak Ashe.


" Cepetan dikit Pak ! " kata Pak Fajar mengintruksikan pada sopirnya.


" Iya Pak !! " sahut sopirnya.


Untung jalanan sepi, jadi mereka bisa lebih cepat.


Pak Fajar dan Bu Fatimah langsung menuju UGD. Tak lama dokter keluarga Ashe. datang. Mereka langsung membawa Ashe menuju kamar rawat VVIP.


" Kenapa Non Ashe ?? " tanya Dion, dokter keluarga Ashe. Dia memang sedang bertugas di rumah sakit saat Pak Fajar tadi meneleponnya.


" Dingin banget Dok, lutut saya ngilu. Juga siku saya ! " sahut Ashe gemetaran.


" Ya sudah. Sini saya periksa ya !! " kata dokter Dion.


Ia segera memeriksa keadaan Ashe.


" Gimana Dok ? " tanya Pak Fajar.


" Non Ashe kena tifus Pak ! Saya yakin, Non Ashe menjaga kebersihan makan. Cuma lidahnya kurang bersih, ini terlihat putih - putih dan ngilu pada sendi. Nanti saya kasih obatnya. Istirahat di sini saja dulu ya !! "


Ashe mengangguk. Pak Fajar mengiyakan. Bu Fatimah menepuk lutut Ashe.


" Kamu sih makan mulu kerjaannya " omel Bu Fatimah.


" Issh, makan kok salah ?? " sahut Ashe kesel.


Pak Fajar dan Dokter Dion tertawa.


" Orang sakit diomelin ya She !! " ucap Pak Fajar.


" Tahuu....! " sewot Ashe.


Dokter Dion pamit kembali bertugas. Ia memberi resep pada perawat untuk Ashe.


******


" Pak...!! " Nasrul membisikkan sesuatu ditelinga Dimas yang langsung membuat Dimas melotot menatap Nasrul.


Ini masih jam 07: 30 WIT. Dimas sedang memimpin rapat dengan staf kantor.


Dimas menghela nafas dalam. Pantas saja, Hp Ashe tak bisa dihubungi. Ia baru saja ingin menghubungi Pak Fajar saat rapat selesai.


" Carikan tiket pesawat paling cepat hari ini ! " bisik Dimas.


Nasrul mengangguk. Dimas melanjutkan memimpin rapat dengan pikiran tak tentu. Tadinya ia berencana tak pulang sebelum pekerjaannya selesai. Tapi mendengar Ashe sakit, Dimas tak bisa menahannya. Ia sangat ingin pulang.


****


" Ma, aku ingin pulang saja ! Toh aku juga nggak papa ! Enakan dirumah " Ashe duduk di ranjang rumah sakit dan memohon pada Bu Fatimah.


Di siang hari Ashe sama sekali tak merasa kedinginan.


" Ya udah. Mama tanya Doktet Dion dulu " Bu Fatimah bangkit dan keluar ruangan Ashe mencari dokter Dion.


Tak lama, Bu Fatimah kembali dengan senyum sumringah.


" Apaa ?? Senyumnya kayaknya maut ! " sindir Ashe.


" Kamu boleh pulang ! Toh sebenernya nggak nginep sini juga nggak apa - apa !! " sahut Bu Fatimah.


" Kan aku emang nggak minta nginep " cengir Ashe.


" Mama telepon Papa dulu supaya supirnya jemput " Bu Fatimah mengambil Hpnya dan menelepon Pak Fajar.


Pak Fajar terpaksa berangkat kantor karena ada meeting dengan klien.


" Mama ambil obat dulu, kamu tunggu sini ! Jangan pergi " pesan Bu Fatimah.


" Hpku mana Ma ? " mendadak Ashe ingat Hpnya dan menoleh kesana kemari.


" Kamu kesini nggak bawa Hp, bawa selimut ! "


Ashe menarik nafas dalam. Ia ingat Hpnya masih dirumah.


" Pinjem Hp Mama dong " Ashe merajuk.


" Nggak, kamu cuma mau telepon Dimas kan ? "


Ashe nyengir.


" Ntar dia bingung karena dari tadi malem aku ketiduran "


" Issh, ntar aja. Ntar Papamu telepon "


Ashe cemberut.


" Bucin gila ih Mama, udah tua juga " umpat Ashe.


" Bodo ' " Bu Fatimah keluar meninggalkan Ashe yang masih cemberut.


Setelah sopir Pak Fajar datang, Bu Fatimah dan Ashe segera pulang. Toh, Ashe tifusnya belum parah. Jadi dia bisa rawat jalan.


Ashe menutup pintu kamar. Mengobrak abrik bantal dan selimut mencari Hp. Ia menemukannya dibawah bantal, tapi zonk. Hpnya telah tewas karena Ashe lupa me- chargenya sejak kemarin.


Ashe dongkol. Ia memilih untuk tidur. Setelah minum obat, matanya terasa lengket. Ashe terlelap. Entah hingga berapa jam dia tidur. Sampai akhirnya sayup Ashe mendengar ketikan di tuts laptop. Meski suara tak seperti mesin ketik jadul dan sangat pelan, entah kenapa telinga Ashe begitu sensitif.


Ashe membuka mata, mengedarkan pandangan disekeliling kamar. Keningnya mengerut ketika melihat punggung seseorang membelakangi di sofa kamarnya.Ashe bangun dan melonjak kaget. Langsung berhambur dan memeluknya dari belakang.


" Buuu.....!! Kagett aku...!! " seru Dimas.


Ia menempelkan pipinya pada pipi Ashe seraya tersenyum. Tangan kanannya terjulur mengusap rambut Ashe.


" Kapan kamu pulang ? " Ashe bahkan tak melepaskan rangkulannya pada leher Dimas.


" Setengah jam lalu ! "


" Kenapa nggak bangunin ? "


" Mana bisa bangunin kebo "


"Ihhh.... " Ashe menekuk muka dan melepaskan tangannya dari leher Dimas. Kemudian pindah duduk disamping Dimas.


Dimas menatap Ashe seraya tersenyum. Menempelkan tangannya pada kening Ashe. Masih terasa sedikit hangat.


" Kenapa bisa sakit ?? " Dimas menangkupkan tangannya di kedua pipi Ashe.


" Kenapa ?? Nyesel pulang ?? " Ashe malah balik tanya.


" Bukaan. Bikin khawatir aja tahu ! "


Ashe mencibik bibir.


" Kenapa itu ?? Minta cium ?? " goda Dimas.


" Apa sihh.. "


Dimas tertawa tertahan. Ashe menatap Dimas. Penampilannya bahkan masih seperti orang di kantor. Mereka bertatapan. Melepas kerinduan masing - masing.


Dimas tersenyum seraya menyibak rambut Ashe.


" Tadinya aku nggak mau pulang sampai bulan depan, tapi denger Bubba sakit meetingku juga setengah jalan "


" Diih... ada yang beneran nyesel pulang "


Dimas tertawa.


" Kamu punya maag ?? "


" Punya ! Dulu pas kejar deadline waktu skripsi "


" Terus kenapa bisa tifus ?? Kayaknya makan mulu ! "


" Diih... kamu beneran kayak Mama ! Lidahku kotor, makanya ada bakteri penyebab tifusnya ! "


Dimas menoyor kepala Ashe.


" Jorok sih, nggak pernah gosok gigi "


" Enaaak aja. Aku selalu menjaga kebersihan tahu !! "


Dimas tertawa.


" Kamu belum makan Bie ?? " tanya Ashe iba.


" Belum..."


" Kamu bahkan belum ganti baju "


" Hehe... buru - buru. Takut ketinggalan pesawat "


" Cie, ada yang khawatir "


Dimas kembali menoyor Ashe, mengacak - acak rambutnya.


" Apaa sihhh...! KDRT namanya " Ashe tak terima.


" Kangen Bubba lah, kangen galaknya " senyum Dimas.


" Auu ahh.. "


Dimas tertawa.


" Kasih aku makan dong Bu, laper nih "


" Kamu ngemis ?? "


Dimas tergelak.


" Ayo makan, Mama pasti masak " ajak Ashe.


" Tunggu " Dimas mematikan laptopnya. Ia menyusul. Ashe keluar kamar.


Di ruang makan ternyata Bu Fatimah sudah menyiapkan makanan karena Dimas memang belum lama tiba. Ashe dan Dimas pun makan.


" Makannya pelan She, kamu itu kayak orang nggak sakit sih ? "


" Ya emang nggak sakit. Cuma kedinginan kalau pagi dan sore doang paling " Ashe melahap ayam bakar tanpa nasi.


Dimas terkekeh. Ia memang biasa melihat pola makan Ashe yang nyleneh. Banyak lauk dan menghabiskan nasi terakhir.


" Coba kalau kamu nggak kena tifus, Dimas nggak pulang lho.. "


" Kan tifusnya bawa cinta " sahut Ashe.


Bu Fatimah menatap jengah Ashe. Tak mengerti jalan pikiran Ashe. Dimas tertawa.


" Jangan diledeki mulu sih Ma " senyum Dimas.


Ashe menoleh pada Dimas yang masih mengulum senyum.


" Apaaa ?? " senyum Dimas tertahan.


" Nggakk "


" Hahhaha... "


" Kamu balik ke Kalimantan kapan Dim ? " tanya Bu Fatimah.


" Ntar malem kayaknya Ma " sahut Dimas.


Ashe menatap kesal Dimas.


" Kenapa lagi Bu ?? "senyum Dimas.


Ia sudah menduga Ashe kesal dengan kata - katanya barusan.


" Jangan pulang sekalian " umpat Ashe.


Bu Fatimah menoyor Ashe.


" Dimas pergi kerja, bukan nyari istri atau cari pacar lagi kayak Adit atau Gena "


" Ihhh... Mama, jangan bahas mereka deh " Ashe menjejal mulutnya dengan ayam bakar dan muka menekuk.


Bu Fatimah dan Dimas tertawa.