
Ashe tak mampu berkata - kata. Meski bukan pertama kali seperti itu dengan Dimas. Bahkan lebih, namun jantungnya tetap berdebar tak karuan. Wajahnya terasa panas merona. Menempel tanpa sehelai benang pun begitu membuatnya gugup.
" Kamu sangat mesum di balik seragam OB mu itu... " gerutu Ashe.
" Aku sangat menyukai moment ini... " Dimas mengeratkan pelukannya.
" Aku malu Bie... "
" Kenapa musti maluu....? "
" Rasanya kulitku nemplok di kulitmu... "
" Itu menyenangkan tahuu.... "
" Isssshhh.... ! Lepas sih, jadi bau kringet kamu... "
" Ya udah, kita mandi lagi... " Dimas hendak melepaskan pelukannya. Namun Ashe menahannya. Mengeratkan pelukannya karena malu dilihat Dimas.
" Katanya aku bau keringet....? Kenapa pelukan makin kenceng...."
" Aku malu Bie... " Ashe tanpa sengaja malah mengerak - gerakkan badannya hingga Dimas merasakan " macan " terpancing.
" Jangan bergerak, kamu malah bikin masalah... "
" Isssh.... " Ashe langsung melepaskan diri dan membalik badan membelakangi Dimas.
Dimas terkekeh.
" Kamu bau keringetku...! Ayo mandi... " Dimas mengangkat tubuh Ashe.
" Bieeeee.... " Ashe refleks memegang leher Dimas.
Dimas hanya tersenyum dengan mata berkerlip nakal menunjuk dada Ashe.
" Isssh.... " tepuk Ashe merasa Dimas begitu mesum.
Dengan kakinya, Dimas membuka pintu kamar mandi dan menurunkan Ashe perlahan. Dimas mulai menyalakan air dan melepas celananya dengan santai.
Ashe menghela nafas panjang melihat kelakuan suaminya itu. Ia terpaksa mandi dengan sedikit paksaan Dimas. Bagaimana lagi, mereka baru kelar satu jam kemudian.
Dimas keluar lebih dulu dengan handuk melilit di pinggangnya. Ia menyambar handuk mandi dan kembali ke kamar mandi. Memakaikan handuk dengan lembut pada Ashe. Ashe menahan senyum.
" Kenapa senyam senyum...? " tanya Dimas.
" Kamu begitu manis.... " puji Ashe.
" Jangan menggodaku.. ! Lututku gemeteran... "
" Hahaha...! Kamu kayak kakek - kakek... " sindir Ashe mengikuti Dimas keluar kamar mandi.
Mereka memakai baju ganti.
" Bukan kakek - kakek sayang. Aku kebanyakan kayaknya... " sahut Dimas.
" Bukan kayaknya, tapi emang iya... " Ashe sigap membantu mengancingkan baju Dimas.
Mereka akan pergi ke Hotel JAE tempat mereka resepsi besok.
" Habis, susah ngerem... ! Maunya kebablasan mulu... " goda Dimas.
" Issshhh... " Ashe menepis Dimas pelan yang langsung menyambar bibirnya.
" Ehmmm.... enaknya.... " sahut Dimas tak mengubris Ashe.
" Aku nggak akan kelar pakai baju... " gerutu Ashe.
" Aku ngggak suka kamu pakai baju... " Dimas langsung menghindar ke sofa favorit mereka.
" Babieeeeeee..... "
" Apaaaa Babuuuuuuu..... " cengir Dimas membalas.
Entah sejak kapan panggilan romantis mereka berubah cerita.
" Ayo makan dulu, aku laperrr... " Ashe selesai dan langsung menyedot habis teh di depan Dimas hingga Dimas melongo.
Ia menatap Ashe tak percaya.
" Ayo...! Jangan menatapku seperti ituuu...! " Ashe menghilang di balik pintu kamar mereka.
Dimas tersenyum dan bangkit mengikuti Ashe. Ashe tampak menuju dapur dan membantu menyiapkan makan untuk Dimas. Bik Jum udah masak, hanya tinggal menghidangkan di meja makan.
Ashe meladeni Dimas. Dimas menatapnya penuh senyum.
" Bieee, kamu itu OB nya di kantor, jadi nggak usah sok kagum begitu... " celetuk Ashe yang merasa diperhatikan Dimas.
" Itu baru namanya istri beneran.... "
" Emangnya selama ini aku booongan...? Bahkan kamu pakai juga boongan...? "
" Hahahhha....! Tapi kan beda....! "
" Bedanya apa...? "
" Bedanya kan dulu kamu yang maunya aku yang ladenin. Sekarang aku diladenin... "
" Kan kamu suami aku Bie, bukan OB ku... " Ashe gemas sendiri.
" Terima kasih sudah sadar diri sayang.... " Dimas mengusap kepala Ashe.
" Hedeh, kamu pikir aku hilang ingatan... "
" Hahahha...! Kamu itu persis bunglon... "
" Ya ampun...! Kamu sungguh nggak romantis...! Buruan makan...! Sebelum aku di samakan sama hewan - hewan di kebun binatang... ".
Dimas tertawa senang. Ia begitu senang menggoda Ashe.
" Kamu makannya pelan. Aku tidak akan menghabiskan semuanya... " Dimas menggelap sudut bibir Ashe yang belepotan saus ayam bakar.
Ashe hanya mengambil lauk yang bisa dia gaduh. Untuk nasi Ashe hanya makan nanti setelah lauknya sudah habis. Atau bahkan tidak sama sekali.
" Aku laperrr Bieeee.... " sahut Ashe.
" Iyalah, orang habis perang ya... ! " kerlip Dimas.
" Huuuuh.... "
Dimas terkekeh. Ia menatap Ashe yang telah menghabiskan beberapa potong ayam bakar. Dimas menyodorkan air putih saat melihat Ashe nampak kepedesan.
" Katanya nggak doyan pedes... ? " Dimas menatap Ashe yang meneguk minumnya.
" Setan mengalahkan diriku... "
" Ntar maagnya kambuh aja ya.... "
Ashe berkelip senyum. Ia menyudahi makannya meski hatinya bertentangan.
" Makan lagi kalau masih ingin...! Aku akan menunggumu... "
" Hehehe... ! Kamu emang cenayang sejati sayang... "
" Apaaa ? "
" Sayaaaang.... "
" Cium dong... "
" Meja makan itu buat makan bukan buat ciuman... "
" Terus mau ciuman di mana ? Di kamar ? "
" Ogaaah.... "
" Kenapa ? "
" Kamu jadi nyiumnya jadi kemana - mana sih...! "
" Haaaah... "
" Apa sih ? Presdir kok hah heh hah heh... "
" Aku tuh jadi Oon kalau sama kamu Buu... "
" Waduuuh....! Aku salah kasih obat ya...? "
..." Justru obatmu itu tepat...! Kenapa kamu cantik sekali sih Bu..? "...
" Bieeee....! Jangan ngombal mukiyo terusss... "
" Hahaha....! Kamu ini nggak ada jaim - jaimnya sih...! Makan dari tadi nggak kelar...! Habis makan kamu tidur, bangun tidur kamu mgamuk orang... "
" Hehehe...! Aku belum ke taraf itu Bie... "
" Apaaan sih...? Boong banget... "
" Maksudku sekarang ini... ! Aku kan bangun tidur meluk kamu... "
" Cie.. cie...! Ada yang di peluk... "
" Hiisss.... " Ashe benar - benar menyudahi makannya.
Ia beranjak dan membawa piring kotor kemudian mencucinya. Dimas membantu membereskan makanan di meja. Bik Jum muncul dengan perasaan segan karena majikannya yang lebih dulu membersihkan meja makan.
" Udah nggak papa Bik...! Biar si Nyonya belajar jadi istri... "
Ashe menoleh dengan lirikan tajam.
" Jangan nyindir melulu. Kamu nggak tahu tempat seperti apa yang menempaku. Jogja itu masih level mudah untukku... "
Dimas tersenyum.
" Baguslah, berarti kamu bisa diajak hidup susah ya...? " goda Dimas.
" Ogaaah....! " balas Ashe meledek sebari berjalan menuju kamar.
" Diiih....! " senyum Dimas mengekor Ashe ke kamar.
Ashe nampak menyiapkan koper dan memasukkan baju yang diperlukan untuknya dan Dimas. Dimas sendiri mengemasi apa yang perlu dia bawa.
****
Jam 19 : 00 wib. Nasrul menjemput mereka. Dimas membukakan pintu mobil untuk Ashe. Sementara Nasrul memasukkan koper ke bagasi.
" Pak Dimas...! " seru Nasrul setelah mereka siap jalan.
" Kenapa ? "
" Banyak alesan kamu ini...! "
" Hahaha....! Beneran deh, baper saya liat bangku belakang.... "
" Baru liat bangku belakang Rul, belum lihat di ranjang kan ? "
Nasrul nyengir.
" Saya langsung syok dong Pak... " sahut Nasrul mulai menjalankan mobilnya.
" Kenapa musti syok. Bosmu malah nambah tuh Rul... " celetuk Ashe yang langsung dapat lirikan tajam Dimas.
" Kenapa ? Buktinya iya kan ? " Ashe seolah tak terima.
" Tapi ya jangan buka rahasia juga dong sayaaang.... " kerling Dimas.
Sementara Nasrul menahan tawanya.
" Kasih contekan dikit nggak papa lah Pak... " ucap Nasrul.
" Kamu tuh nggak usah dikasih contekan udah pinter sendiri... " balas Dimas.
" Pinterku belum terbukti Pak.... "
" Aku juga belum kok. Perutnya masih rata nih. Hahahhaha.... " Ashe langsung menepuk lengan Dimas.
Nasrul tak bisa menahan tawanya.
" Semangat Pak. Biar cepet jadi tersangka...! Hahaha...! "
" Tersangka apa ? " Dimas pura - pura atau sengaja mancing.
" Menghamili anak orang...! " sahut Nasrul.
" Kalau anak binatang ya mana aku mau Rul... "
" Hahahha.... " Nasrul dan Dimas tertawa bersamaan.
" Hisss...! Kalian berdua tuh sama saja. Sama - sama gilaa... "
" Pak Dimas yang ngajarin Bu. Saya dulu patuh dan hormat sekali sama Bapak ini beberapa saat. Lama - lama saya diajarin gila... "
sahut Nasrul.
" Kamu aja yang gila, saya nggak mau. Saya cuma tergila - gila sama Bu Ashe... " Dimas tak terima.
" Cie... cie...! Bucin sejati...! Seminggu lagi kita lihat... " sindir Nasrul.
" Apaaaa ? " sorot Dimas.
" Kuat nggak tidur tanpa meluk Bu Ashe....? " sindir Nasrul.
" Berisikk loe...!! " umpat Dimas.
Ashe menggeleng kesal melihat kelakuan Bos dan assistennya itu. Tak lama mereka sampai sebuah gedung. Gedung itu milik JAE Group, khusus untuk pertemuan atau resepsi. Meski begitu dalam gedung itu lengkap dengan fasilitas hotel.
" Abaaaaang.....! Jreeeng.... jrenggg.... "
Dimas yang baru turun dari mobil melengos kesal.
" Ngapain loe....? Bosen gue lihat muka loe.... " Dimas memutar dan membukakan pintu untuk Ashe.
" Dihhh... sadis amat sih....? "
" Bodo'....! " sahut Dimas sambil mengandeng Ashe dan melewati adiknya dengan muka cuek. Nasrul tersenyum menghampiri Rozi dan menepuk pundak Rozi.
" Sabar ya...! Mode angkuhnya lagi keluar... " ucap Nasrul.
Rozi nyengir tipis tanpa tersinggung. Abangnya memang biasa seperti itu. Tapi Rozi tak peduli. Atmnya tak akan surut walau abangnya suka nggak jelas. Rozi, Nasrul mengikuti Dimas dan Ashe dari belakang. Satpam tersenyum penuh hormat.
Dimas melihat Pak Kibul dan Bu Izun tengah duduk bersama Silia dan Dema di tempat yang akan digunakan resepsi besok. Ashe langsung menghampiri mereka. Tak lama, Pak Fajar dan Bu Fatimah muncul.
" Ehm... pasangan bucin datang.... " celetuk Ashe karena dia merasa paling dicuekin oleh Papa dan Mamanya.
" Apa sih kamu... ? Salim siniii... " Bu Fatimah mengulurkan tangan.
Ashe nyengir menyambut tangan mamanya.
" Udah punya suami aja masih juga cemburuuu.... " sahut Pak Fajar.
" Kan aku anak tirii.... "
Pak Fajar langsung meneplak jidat Ashe.
" Mulutmu ituuu.... " omel Pak Fajar.
Ashe hanya menunjukkan barisan giginya. Dimas tersenyum menyalimi punggung tangan Pak Fajar dan Bu Fatimah.
" Udaaah, ayo aku antar ke kamar aja. Kamu tidur dulu, besok kerjanya ngamuk aja...! " tarik Dimas.
" Entar....! " tolak Ashe.
" Udah, sono pergilah...! Papa sama Mama mau nikmati suasana sama besan... " usir Pak Fajar.
" Apaaan...? Aku pingin tidur...! Capekk naik pesawat... ! " sela Pak Kibul.
Fajar langsung menatap Pak Kibul yang nggak bisa diajak kerja sama.
" Hahhhahhaa.... " derai tawa Pak Kibul.
" Kibuuuuulll..... "
" Apaaaa Jar.... ???? "
" Hisss....! Kita pergi aja Mbak.... " tarik Bu Fatimah pada Bu Izun. Berasa langsung gerah melihat dia pria itu.
Ashe menatap Papanya yang kini bersedekap tangan manyun. Ashe tak bisa menahan tawanya.
Dimas hanya tertawa. Ia mengerlingkan mata memberi kode Ashe. Ashe paham dan menyambut tangan Dimas. Berdua nyelonong pergi menyusul Bu Izun dan Bu Fatimah tanpa pamit.
Pak Fajar dan Pak Kibul tertinggal dan ngobrol berdua. Sementara yang lain juga pergi istirahat.
****
Mereka semua menginap di hotel yang sama. Giliran pagi mereka bangun dan mulai rutinitas masing - masing.
Ashe masih alot bangun meski Dimas membangunkannya berkali - kali.
" Nyonyaaa.... " kecup Dimas kesekian kalinya.
" Mataku nggak bisa melek. Kasurnya terlalu nyaman... " sahut Ashe tanpa membuka mata.
Dimas tersenyum tertahan. Mencium leher Ashe. Ashe yang matanya masih merem berusaha menahan Dimas.
" Bieeee....! " keluh Ashe.
" Apaaaa ? "
" Aku masih ngantuk....! "
" Aku juga pingin nidurin kamu...! Cuma bentar lagi kita pasti bakal di gedor.... ! " goda Dimas.
" Memang dirumah kasurnya kurang nyaman ? " imbuh Dimas bertanya.
" Aku jarang nginep hotel... " sahut Ashe.
" Astagaaa...! Rumah kamu itu udah ngelebihin hotel Nyonya... " kesal Dimas.
Ashe terkekeh seraya membuka mata. Dimas masih seksi di sampingnya. Hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan kaos putih krem tipis.
" Kamu bener jugaa....! " Ashe mengucek matanya. Dimas mengecup bibir Ashe.
Benar saja, terdengar pintu di ketuk. Dimas beranjak membuka pintu. Bu Fatimah muncul dengan beberapa orang di belakangnya membawa baju.
" Astagaaa... Kamu belum bangun Ashe.... " semprot Bu Fatimah melihat Ashe masih nangkring manis di tempat tidur.
Bukan menjawab. Ashe malah nyengir. Tak beranjak sama sekali dari tempatnya.
" Lagi nikmatin tidur di hotel katanya Ma... " sahut Dimas seraya duduk di sofa. Pqndangannya tak beralih dari smartphone. Sepertinya sesuatu penting menantinya.
" Nggak jelasss banget sih kamu... ! Udah, buruan bangun. Terus mandi. Ini MUA nya udah siap lho.... " ucap Bu Fatimah.
" Iyaaaa...! " Ashe menyingkap selimut dan beranjak ke kamar mandi.
Sementara Dimas mengekor dengan senyumnya.
" Dia cepet kok Ma....! " tenang Dimas.
" Iya. Kamu juga buruan....! " sahut Bu Fatimah sambil berjalan keluar kamar.
Dimas mengiyakan dan menutup pintu kembali. Benar saja, tak sampai sepuluh menit Ashe sudah selesai mandi. Dimas berganti masuk ke kamar. Ia pun tak kalah cepatnya dengan Ashe.
Dimas tengah membantu Ashe mengenakan setelan kebaya modern saat Bu Fatimah dan MUA masuk ke kamar mereka. Bu Fatimah malah sudah dandan rapi.
" Aku nggak usah di rias Ma.... " kata Dimas menyambar jasnya.
Ashe mendelik kesal. Muka suaminya jauh lebih " cling " dan jelas sungguh mempesona. MUA nya saja sampai bengong begitu melihat Dimas.
" Iyaaa...! " sahut Bu Fatimah seraya membantu Ashe merapikan baju yang sudah Ashe kenakan.
" Aku tunggu di luar Buu... " Dimas memasukkan dompet dan Hp ke kantong jasnya. Buru - buru keluar. Begitu risih saat MUA itu mencuri - curi pandang padanya.
Sesaat, Dimas balik lagi dan membuat Ashe molongo kaget. Dimas mengecup cepat kening Ashe. Tak peduli Bu Fatimah dan MUA yang melotot tak percaya pada Dimas.
Dimas kembali berlalu cepat.
" ABG satuuu iniii.... " gerutu Bu Fatimah mengekor Dimas hingga hilang di balik pintu.
Ashe hanya menahan tawanya. Ia segera di rias karena acara hampir di mulai.
Tak lama, Ashe selesai di rias. Ia keluar kamar bersama Bu Izun dan Bu Fatimah menuju ruang resepsi. Tampak tamu undangan mulai berdatangan. Dimas tersenyum melihat Ashe yang tampak berjalan ke arah bangku mempelai. Dimas sendiri tampak sedang ngobrol dengan Pak Fajar dan Pak Kibul.
" Pak, Pa, aku samperin Ashe dulu... " pamit Dimas buru - buru pergi.
Bahkan Nasrul dan Lino ikut tergopoh mengikuti Dimas.
Tak sempat diiyakan, anak dan mantu itu sudah menjejak jauh.
" Heeedeeeeh.... " Pak Fajar menggeleng melihat kelakuan Dimas.
Pak Kibul hanya tertawa.