
Ashe memimpin meeting pagi itu seperti biasa ditemani Dema. Ia kemudian melanjutkan pergi keluar kantor bertemu dengan kliennya. hingga makan siang.
Ashe duduk menanti menu yang dipesannya. Ia sangat ingin makan lele bakar yang diposternya begitu menggoda Ashe. Tak lama, makanan Ashe datang. Ashe sumringah. Ia mencari - cari obatnya lebih dulu. Menenggaknya dan kemudian mencuci tangan. Dema memperhatikannya seraya tersenyum.
" Pelan Bu... " kata Dema melihat Ashe begitu antusias icip lelenya.
Ashe mengkerutkan kening. Ekspektasi di otak dan rasa di lidahnya tak sesuai.
" Kenapa Bu....?? " Dema jadi penasaran.
" Nggak jelas... " sahut Ashe tapi tetap menyuap.
" Apanya yang nggak jelas....??? "
" Rasanya... ".
" Nggak jelas kok dimakan. Kita pindah restoran aja Bu... ".
" Nggak...! Makan saja... " Ashe mulai menguliti lelenya. Mencolek daging lele ke sambel. Lupa, ia di larang makan sambel sementara waktu karena tipesnya.
Lele habis, Ashe akhirnya memakan nasi putihnya. Dema menggeleng melihat tingkah Ashe.
Ting...
Dimas : Kamu makan apa ???
Ashe tersenyum membaca chatnya. Dema memandang Ashe jengah.
Ashe : Nasiii...
Dimas : Lauknyaaa...???
Ashe : Lele nggak enak..
Dimas : 🤔🤔🤔
Ada lele nggak enak ?
Ashe : Ada, tadi yang ku makan..
Dimas : Nggak enak kok dimakan !
Ashe : Sayang Bie, udah dibeli..
Dimas : Cari menu yang lain Sayaang...
Ashe : Aku terlanjur lapar 😃. Km sampai jam brpa ? Dmna skarang ? Udh
mkn atau blm ?
Dimas : Ya ampun. Pacarku satelit..
Ashe : 🤣🤣🤣
Dimas : Nanti q tlpon, ada klien dtng. Daa... sayang ! 😘
Ashe : Okk. 😘😘😘
Ashe kembali menghabiskan nasi putihnya.
" Asheee...." panggil seseorang.
Dema menoleh ke arah suara. Sementara Ashe tak peduli dan terus menyuap. Ia familiar dan hafal suara itu. Bagaimana tidak, mereka punya status pacaran hampir 5 tahun. Status pacaran LDR tepatnya.
" Oiya Mas. Ini memang Bu Ashe " Dema berinisiatif menyapa.
Pria itu tampak tersenyum.
" Kenapa ?" Ashe ketus tanpa menoleh.
" Boleh gabung nggak ?" tanyanya lagi.
" Liat saja masih ada kursi nggak ?" sahut Ashe.
" Maaf ganggu Ashe. Aku cuma ingin minta maaf "
" Nggak usah dibahas Dit. Ini bukan tempatnya. Lagi pula semua sudah jelas kok " Ashe tetap tak menoleh.
Dema berusaha mencerna semua. Pasalnya ia tak terlalu banyak tahu soal masa lalu Ashe.
" Kamu segitu bencinya ya sama aku, sampai nggak mau liat aku ?"
" Apa pentingnya ??" Ashe tetap ketus. Luka yang tertutup seolah terkoyak kembali.
Mulut Ashe tetap mengunyah nasi. Sementara Adit sudah duduk di samping Dema. Dema memperhatikan raut wajah Ashe dan sesekali menoleh pada Adit. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
" Ashe, aku benar - benar minta maaf. Aku ingin kita setidaknya berteman atau berbaikan "
" Aku tidak pernah bertengkar denganmu "
" Tapi sikapmu menunjukkan itu... "
Ashe menghela nafas. Menengak minumnya dan menatap Adit kesal.
" Bu, saya boleh pergi ? " tanya Dema pelan.
" Nggaak " sahut Ashe jelas dan singkat.
Dema mengangguk pelan.
" Dit.. urusan kita selesai saat itu. Tidak usah mencari alasan apapun " tatap Ashe tajam.
Adit tersenyum.
" Kamu jauh lebih dewasa sekarang " kata Adit, " Tidak salah anak pemilik Gena Grup melirikmu " imbuhnya.
Ashe menatap Adit dengan tatapan tak senang.
" Setidaknya aku tidak jual diri " ucap Ashe tajam.
Membereskan tasnya dan beranjak mengajak Dema.
" Ayo Dem, capek ngadepin mantan " ucap Ashe seolah menjawab semua tanda tanya Dema.
Adit tertegun. Kata - kata Ashe seolah menohok hatinya. Ia merasa sedikit bersalah karena selalu bermain dengan atasannya untuk menaikan jabatannya di kantor tempatnya bekerja. Bahkan itu terjadi baru sekitar setahun ia dan Ashe berstatus pacaran. Adit tergoda dengan pesona atasanya dan iming - iming gelimang harta.
*****
Ashe tiba di kantor. Ia duduk di kursinya dengan pikiran tak tentu. Hari belum kelar, dua mantannya sudah mengacaukan mood Ashe. Apalagi kini di depan Ashe tumpukan berkas seolah tak mau bersih dari mejanya.
Ashe :
Ashe meletakan Hpnya. Perutnya terasa tak enak. Ingat belum meminum obatnya. Ashe meraih botol minum. Meminum obatnya sebelum sang cenayang beraksi menceramahinya.
Drrrrrtttt...
Hp Ashe bergetar. Vc Dimas. Ashe menggeser gambar telepon hijaunya. Dimas tersenyum manis di ujung sana.
Ashe : Jangan senyam senyum, itu membuatku sakit jantung.
Ashe sudah lebih dulu ngomel.
Dimas : Hahahaaaha....! Apa yang merusak moodmu ??
Ashe mendelik kesal. Memang tak bisa membohongi mafia bergenre cenayang ini.
Ashe : Apa kamu punya mantan pacar Biee ?
Suara Ashe terdengar pelan tapi tertangkap keluhan bagi Dimas.
Dimas : Aku berasal dari keluarga miskin. Tak ada yang mau pacaran
denganku.
Ashe mendengus.
Ashe : Isssh... boong. Bagaimana bisa ? Kamu sangat tampan begitu ?
Dimas : Apaaa ? Coba ulangi ???
Dimas tersenyum menggoda Ashe. Padahal ia sangat jelas mendengar suara Ashe.
Ashe : Tahuuuu....
Wajah Ashe terlihat merona. Dimas tertawa diseberang.
Dimas : Iyaaa... cantik. Ada yang suka. Tapi aku tak menanggapi..!
Kenapa ? Kamu ketemu Gena atau Adit ?
Ashe : Dua - duanya...
Dimas : Hahahahaha...
Ashe : Kenapa tertawa cenayang ???
Dimas : Ujian untuk jadi Nyonya Dimas...
Ashe : Bodo ah....! Kamu nyampai jam berapa Bie ?
Dimas : Jam 09 : 00. Aku langsung ngantor.
Ashe : Udah makan ??
Dimas : Udaah Sayaang...
Ashe : Tadi ketemu siapa ??
Dimas : Ketemu klien.
Ashe : Cowok atau cewek ??
Dimas : Bapak - bapak... Satelit !!!
Ashe mengerucutkan bibir. Dimas terkekeh.
Dimas : Jangan tunjukan bibirmu itu. Aku jadi tak tahan. Sebulan ini lho
Bu...
Ashe : Nyindir...
Dimas : Sainganku belum berakhir ya, banyak tikungan di situ.
Dimas : Hahaha. Bu... kamu makan lele pakai sambel ? Obatnya udah
diminum belum ??
Ashe : Pacar satelit....
Dimas tergelak.
Ashe : Udah ku minum obatnya. Cuma lupa kalau nggak boleh makan
pakai sambel..
Ashe nyengir. Ketahuan.
Dimas : Ingeetmu apaaa ??
Ashe : Kamuuuuu....
Dimas : Ya ampun... gombal mukiyo...
Ashe : Hehehe...! Ya udah. Aku mau beresin mejaku Bie. Cepet selesaiin
kerjanya. Cepet pulang...!!
Dimas : Kira - kira kali Sayaaang kalau nyuruh. Kita baru pisah tadi pagi.
Ashe tersenyum memamerkan giginya.
Dimas : Ya udah. Nanti aku telpon lagi. Daa Bu...
Ashe melambaikan tangan. Dimas menutup sambungan vcnya. Ashe memilah berkasnya. Menatanya dengan cepat. Tangan dan otaknya seolah singkron hingga mejanya kini rapi. Ashe menyelesaikan pekerjaannya. Otaknya yang cerdas seolah bekerja dengan cepat.
Hp Ashe kembali berbunyi. Ashe hanya melirik. Itu pesan Gena dan Adit. Entahlah, apa yang dua orang ini inginkan dari Ashe. Ashe tak peduli. Fokus dengan bebagai berkas di meja yang harus selesai hari ini. Ashe ingin pulang dengan cepat, meski tak mungkin.
" Bu, Pak Gena menunggu di ruang tamu " tiba - tiba Dema muncul.
Ashe menengadah. Menghela nafas.
" Ada apa lagi Dem ? Bilang saja saya sibuk " sahut Ashe.
" Saya sudah bilang, tapi Pak Gena tetap ingin bertemu "
Ashe kembali menghela nafas.
" Mau aapa sih nih orang ?? " gerutu Ashe.
Ashe beranjak. Menuju ruang terima tamu di divisinya. Mata Ashe menangkap punggung Gena. Ashe berjalan menghampiri Gena dan langsung duduk di depan Gena.
" Ada apa Mas ? " Ashe langsung berucap tanpa basa basi.
" She, aku hanya ingin tanya, siapa yang tadi bersamamu di bandara ? " sahut Gena.
" Aku bilang itu calon suamiku Mas "
" Bagaimana bisa, kamu selingkuh ? " Gena seolah tak terima.
Ashe mulai kesal.
" Mas Gena yang selingkuh....! Sudahlah, aku capek berdebat denganmu Mas. Kita sudah putus, kita tak ada hubungan apa pun lagi " Ashe berdiri dengan raut wajah dengan benar - benar kesal.
" Ok Ashe...! Apaa pekerjaan dia sehingga kamu lebih milih dia ?? " Gena masih tak mau melepas Ashe begitu saja.
" OB... "
" Apaaaa ??? " Gena seolah merasa terhina.
" Ya, dia OB. Mas Gena mau apa ?? "
" Seleramu begitu rendah ternyata....!! "
" Terserah saya...! Yang penting dia bukan suami orang "
Jlebb...
Kata - kata Ashe begitu mengena di hati Gena.
" Maaf She, aku sudah bilang ini kesalahpahaman. Tapi aku benar - benar masih ingin mempertahankanmu " ucap Gena merendahkan suaranya.
" Kita liat saja ini kesalahpahaman atau itu yang diinginkan " Ashe berjalan pergi meninggalkan Gena tanpa pamit.
Ashe kembali ke ruangannya. Pegawai di divisinya tentu saja dapat melihatnya dengan jelas. Mereka juga penasaran dengan kehidupan Ashe, apalagi soal asmara. Satu kantor memang tengah hangat membicarakan kedekatan Gena dan Ashe beberapa bulan terakhir ini.
******
Ashe akhirnya pulang. Ia dijemput Faisal. Pak Fajar tentu pulang sendiri sejak tadi dengan ajudan dan sopirnya. Mobil berhenti di lampu merah. Ashe menatap keluar jendela. Sebuah mall besar nampak didepannya. Ashe mendadak ingat masa - masa sekolahnya bersama teman - temannya yang dulu sering hangout ke berbagai tempat di Jakarta. Kini semua terasa berbeda. Semua teman Ashe mempunyai kesibukan masing - masing. Hingga sekarang mereka belum bisa bertemu.
Drtttt...
Ashe mengambil Hp dari dalam tasnya. Sudah jam 08 : 00 wit di tempat Dimas. Ashe menggeser gambar kamera. Dimas hanya berbalut handuk dan begitu mempesona Ashe.
Ashe : Aku belum sampai rumah, kenapa posemu begitu ?
Dimas langsung terduduk lesu disemprot pacarnya.
***Dimas : Dengan siapa kau ???
Ashe : Laki - laki lain..
Dimas : Tega sekali kau***...
Ashe tertawa.
Faisal : Maaf Pak Bos, istrinya saya bawa..
Faisal nyletuk saja dibalik kemudi.
Dimas : Mau dibawa kemana ? Awas aja kalau sampai lecet..
Ashe : Aissssh... apa sih ?
Faisal tertawa di depan.
Dimas : Kamu baru mau pulang ?? "
Ashe mengangguk mengiyakan.
***Dimas : Ya udah, nanti aku tlpon lagi ya...
Ashe : Ya Bie***.
Dimas melambaikan tangan. Ashe membalasnya. Dimas menutup vcnya. Ashe kembali memasukkan Hp ke dalam tas, jalanan mulai terurai. Faisal kembali melajukan mobil menuju rumah Ashe.
*****
Tak lama, Ashe sampai rumah. Bergegas Ashe mandi dan berganti baju. Kemudian pergi ke dapur mencari makanan seperti biasa. Pak Fajar dan Bu Fatimah tengah pergi keluar kota karena ada urusan.
Ashe menikmati makannya. Gawai Ashe berdering.Adit, Ashe membiarkannya hingga panggilannya mati sendiri. Kembali berulang hingga beberapa kali. Ashe tetap fokus makan. Hingga terdengar bunyi pesan. Ashe masih tak peduli.
Ashe kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan. Gawainya terus saja berbunyi. Itu membuat Ashe kesal.
Ashe : Apaaa sih loe Dit ? Kenapa telpon - telpon gue terus ?? Gue bukan
pacar loe lagi ??
Ashe udah tersulut emosi.
Dimas : Apaa sih ?? Benar kan tikungan gue banyak !!
Ashe mencerna suara itu. Membuatnya nyengir. Mematikan telponnya dan beralih vc. Muka Dimas pura - pura cemberut. Tapi Ashe malah pasang tampang muka galak yang membuat Dimas tak bisa menyembunyikan tawanya.
Dimas : Kenapa Sayaang ???
Ashe : Apa loe bisa bunuh Adit sama Gena ??
Dimas tertawa.
Dimas : Profesi gue bukan membunuh !!! Kenapa ???
Ashe : Tahuu ah, kesel banget gue Bie. Kenapa mereka berdua itu nggak
terima gue jadian sama OB...??
Dimas : Hahhaha... level mereka lebih tinggilah...
Ashe : Aku nggak punya temen Bie...
Dimas : Ngomong apa sih ?? Kan ada aku Bu... !! Mau nyusul kesini aja ?
Ashe : Nggak ah...! Ntar nggak lulus ujian...
Dimas : Hahhaha... itu tahu. Bu bisa hadapi mereka !!
Ashe : Kamu nggak cemburu ???
Dimas : Kalau Bu pelukan, ciuman sama mereka ya aku cemburu. Gilaa
aja kaliii...
Ashe terkekeh.
Ashe : Kangeeeen...
Ashe merengek manja. Dimas menghela nafas berat. Melihat godaan didepannya. Baju tidur Ashe, apalagi kalau bukan itu.
Dimas : Ahhh... lupakan itu...! Coba pakai baju begitu pas aku di rumah !
Dimas mengalihkan pembicaraaan dengan mimik nakal.
Ashe : Bieeee.... kamu mesum sekali....!!
Ashe langsung mematikan vcnya. Menelungkupkan muka ke bantal.
Ting...
***Dimas : Istriku ngambeeek..... 🤣🤣🤣🤣
Ashe : Bodoooo....
Dimas : 😘😘😘😘😘***
Ashe tak mampu menyembunyikan senyumnya.