
" Kalian tahu, sebenarnya rumah ini bukan punya Papa. Tapi punya Bang Ibul, Bapak kalian Dim, Zi, Sil...! Rumah Papa ada di kompleks JAE yang paling pojok itu sekarang...! 23 tahun yang lalu, tanpa sepengetahuanku. Bapak dan Mamak kalian pulang ke kampung dan meneruskan pekerjaan kakek kalian jadi dukuh.... " ucap Pak Fajar.
" Maksudnya apa sih Pa...? Kalian berhubungan saudara ? " tanya Rozi.
" Tentu saja tidak. Kalau kita saudara bagaimana kami menyetujui Dimas nikah dengan Ashe ! " sahut Bu Fatimah. " Meski kami juga nggak tahu kalau Dimas anaknya Bang Kibul dan Mbak Izun. Artinya kami tidak merasa bersalah... "
" Pa.... aku nggak ngerti sama sekali " kata Ashe.
" Ini rumah pemberian ayah Fajar, kakeknya Mbak Ashe, tapi Bapak nggak mau nerima...! Dulu Bapak itu merantau. Sebelum akhirnya kerja dan jadi pawang anak nakal ini... " toyor Pak Kibul pada Pak Fajar pelan.
Pak Fajar tersenyum.
" Jangan buka kedoklah Bang... " pinta Pak Fajar.
" Apaa...? Kamu itu memang nakal...! "
" Aku itu nggak nakal Bang....! Cuma kurang perhatian aja... "
" Bedanya apa ? "
" Abang yang tega...! "
" Tega gimana ? Tentu saja kamu tidak bisa selamanya di bawah ketiakku. Kamu harus mandiri... "
" Aku mandiri dan tetap sukses Bang..."
" Itu karena aku tinggal pulang kan ? "
" Tapi aku nggak pernah nyasar... "
" Enaaak aja. Itu sudah 23 tahun. Bagaimana aku bisa ingat. Anakku aja udah gede gitu. Jakarta dulu kebon, sekarang jadi gedung semua... "
" Teknologi Bang.... "
" Kampungku belum maju teknologinya. Aku gaptek... "
" Ngeles mulu loe Bang....! "
" Kamu yang jago ngeles... "
" Aku bisa menduga seperti apa hubungan kalian berdua... " ucap Dimas jengah sendiri. Ia bingung tapi kesal.
Pak Fajar merangkul Pak Kibul.
" Apaaa ? " tatap Pak Kibul.
" Kita ditakdirkan keluarga Bang ! Kamu mau lari kemana juga, nyatanya ditempat antah berantah aku ketemu remaja yang itu ternyata anakmu dan jatuh cinta padanya... " ucap Pak Fajar sambil menunjuk Dimas.
" Apaaaaaa ? " pekik Ashe dan Bu Fatimah bersamaan.
" Papa suka sama Dimas...? " tanya Ashe.
" Kamu jatuh cinta sama anakku... " Pak. Kibul langsung melepas rangkulan Pak Fajar.
" Ngggak nyangka Papa berselingkuh dari Mama... " kata Bu Fatmah.
Pak Fajar mendesah kesal.
" Ya emangnya aku doyan main pedang - pedangan... " keluh Pak Fajar.
Rozi menggeleng tak percaya. Dimas masih mantau. Ashe bersedekap menatap papanya.
" Heeeh... aku itu normal...! Kalau nggak percaya tanya Mama... " bela Pak Fajar.
" Apaa ? Anakmu sampai sekarang cuma satu...! Aku udah tiga... " umpat Pak Kibul.
" Itu pun karena Izun yang nurunin kemampuannya....! Coba kalau Izun tak menginjak jempol kaki Fatimah. Kapan kamu punya anak ?" tambah Pak Kibul.
" Iyaa deh. Tapi aku juga tidak menjodohkan anakku dengan anak orang lain... " elak Pak Fajar.
" Kamu bahkan tidak tahu Dimas anak siapa ? "
" Aku main feeling... "
" Kamu ini main feeling mulu...! Gara - gara feelingmu itu. Tiap hari aku beli celana baru.... "
" Kan seru Bang... "
" Kamu ini masih bandel ajaa.... "
" Udaaah. Kita pergi aja. Biar mereka selesaikan reuni mereka. Aku pusing...! " kata Dimas sambil berdiri.
Rozi kembali ke meja makan. Melanjutkan makannya tapi tetap mendengar obrolan tak jelas para tetua itu. Dimas menarik tangan Ashe untuk pergi. Hanya pindah duduk di ruang tamu. Silia mengikuti Rozi ke meja makan.
" Papa.... hati - hati. Pawangmu itu kalem, tapi jangan tanya kemampuannya " pesan Dimas.
" Itu kan nurun ke kamu... " sahut Pak Fajar.
Pak Kibul tertawa. Menoyor kembali Pak Fajar pelan. Namun, kemudian ia merangkul Pak Fajar seraya mengusap kepalanya seperti anak kecil.
****
" Panjang ceritanya, karena kalau di singkat nggak bisa ya...! " Pak Kibul akhirnya yang bercerita seperti tukang dongeng pada Dimas, Ashe, Rozi dan Silia.
" Pak Fajar itu dulu sangat nakal. Suka bolos, males ngerjain tugas dan suka ilang - ilangan, suka tawuran, nge- genk, balapan motor. Taruhan sama temen - temennya. Orang tuanya sudah sangat lelah menghadapi Fajar. Maklum, orang tua Pak Fajar sangat kaya. Apa yang diinginkan Pak Fajar selalu dituruti "
Pak Fajar tersenyum kecut. Bu Fatimah menggeleng tak percaya. Ashe hanya menatap papanya. Dimas menghela nafas.
" Suatu ketika ia terluka saat tawuran dan ditinggal teman - temannya. Karena kalah jumlah, Fajar terpaksa sembunyi. Saat itulah, ia ketemu dengan denganku yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya. Aku yang kemudian menolongnya. Entah kenapa, Fajar merasa terhipnotis dengan denganku. Ia kemudian membawaku pulang dan meminta orang tuanya mempekerjakanku. Orang tua Fajar mengabulkannya. Aku didaftarkan sekolah sama dengan Fajar. Sejak saat itu, Fajar berhenti nakal perlahan dibawah kendaliku... "
" Wooh, Bapak hebat dong... " celetuk Rozi.
" Jelas, Bapak gitu... " bela Bu Izun.
" Diih... mulai... " sahut Dimas.
" Lanjut Pak... " kata Rozi.
" Kita berdua juga sama dengan remaja lain yang punya kenakalan. Tapi orang tua Fajar sudah tidak pernah dipanggil sekolah lagi. Kita hanya sekedar nyolong buah orang, plosotan hingga nyobekin celana, di kejar anjing, dikejar soang, hujan - hujan sambil main bola. Mecahin kaca, Hanya sekedar kenakalan yang masih bisa dianggap wajar "
" Anak sultan itu bebas ya...? " sindir Bu Fatimah.
Pak Fajar tersenyum kecut.
" Namun sejak saat itu, prestasi Fajar mulai naik dan masuk jajaran peringkat. Tentu saja Pak Nata, ayah Fajar merasa aku sangat berjasa. Padahal, itu memang aslinya Fajar seperti itu... "
" Pak Nata memberikanku sebuah rumah mewah saat aku menikah dengan Izun. Namun, aku dan Izun menolaknya. Saat itu, Fajar juga menyusul menikah dengan Fatimah. Kita berempat masih tetap bersama hingga Izun hamil Dimas usia 7 bulan. Bu Fatimah yang menikah hanya selang beberapa bulan juga sangat ingin hamil. Mereka berdua itu berteman sejak SMP. Jadi wajar kalau kelakuannya geseh. Bu Izun pun menginjak jempol kaki Bu Fatimah. Kata orang jawa, itu bisa nurunin orang lain untuk bisa ikut hamil "
" Tapi, mamak kan dari jawa Pak ? " tanya Dimas.
" Iyaa. Dulu orang tuanya juga merantau disini... " sahut Bu Fatimah.
" Sayangnya, tak lama. Aku dan Bu Izun pamit pulang ke kampung halaman untuk meneruskan menjadi dukuh. Sejak saat itu, kita tidak pernah ketemu lagi... " Pak Kibul mengakhiri ceritanya.
" Ada yang belum jelas ? " tanya Pak Fajar.
" Papa punya nazar ? " tanya Ashe.
" Hehehe.... "
" Apaa " hehhehe " doang ? " toleh Pak Kibul.
" Waktu tahu Fatimah hamil, aku bernazar menikahkan anakku dan anakmu Bang...! " tunduk Pak Fajar.
" Deeeh Papa...! Kalau anaknya Pak Kibul bukan Dimas gimana ? " cecer Ashe.
" Ya Papa nggak tahuuu. Habisnya Papa nggak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Bang Ibul... " sahut Pak Fajar.
" Hahahaha... ! Aku tidak butuh balasan saat berbuat baik. Nyatanya... anak- anakku yang memetik hasilnya bukan Jar ? Rezeki kalau sudah milik, dia tidak akan pernah salah alamat " sahut Pak Kibul.
" Iya, maaf Bang...! "
" Nggak nyangka, kalian memang hebat dari dulu ya... " ucap Dimas.
" Hebat ngibul.... " tunjuk Pak Kibul pada Pak Fajar.
" Jangan diungkittt.... " sahut Pak Fajar membuat mereka semua tertawa.
" Sudah. Ayo kita makan. Mbak Izun sama Bang Ibul pasti laper. Ayo makan dulu... " kata Bu Fatimah.
" Oiya, tadi aku bawa banyak oleh - oleh. Di mana temenmu yang suka kamu suruh - suruh itu Dim.Suruh ambilin sana, dirumah kecilmu itu... "
" Maaak.... Mingkeeem.... " sewot Dimas membuat semua tertawa.
" Tahu nih emak satu mulutnya. Udah kena virus Bu Minu ! " sengat Rozi.
" Virus apa Zen ? " lerai Bu Fatimah.
" Mulut julid Ma... "
" Huuusss....! Emaang dari dulu....! Mungkin dia biangnya... " provokasi Bu Fatimah.
" Laah... malah nambahin. Bukan belain... " sewot Bu Izun.
Bu Fatimah tersenyum.
" Aku seneng kitaa akhirnya besanan Mbak... "
" Aku juga seneng banget... "
Mereka bergandengan menuju meja makan. Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ashe tersenyum melihat kejadian kocak hari ini. Harinya begitu lengkap sekarang.
****
" Abang mau pulang ke rumah ? " tanya Pak Fajar.
" Tentu saja. Maaf, aku tidak tahu saat Pak Nata dan Ibu tidak ada...! "
" Egg... nggak papa Bang...! Aku hidup hanya bertiga setelah kalian pergi. Aku selalu berharap bisa ketemu kalian. Aku nggak nyangka semua terjadi seperti ini. Aku sangat senang Bang...! " kata Fajar.
" Kamu yang menjaga Dimas ? "
" Iyaa. Aku menemukannya menjadi Surabaya Bang. Dia jadi tukang sapu dan mungut rongsok di jalan. Ia tidur di emperan... "
" Benarkah itu Jar ? Dia tidak pernah cerita ? tanya Bu Izun.
" Iya Mbak. Aku melihatnya sekali dan penasaran. Aku mengikutinya selama seminggu. Aku membawanya ke perusahaan cabangku. Dia jadi OB disana beberapa bulan. Kemudian aku suruh kuliah, kini ia jadi anak kesayanganku Mbak... " senyum Pak Fajar.
" Ternyata feelingmu ada manfaatnya juga ya....! "
" Hehhehe.... ! Kan aku bilang, aku jatuh cinta saat pertama melihatnya. Sama saat aku melihat Abang dengan darah ngalir - ngalir dibawah kolong... "
" Kamu bandeeel sekali sihhh.... " umpat Pak Kibul.
Pak Kibul hanya terkekeh. Ingat betul hari saat ia pertama ketemu Pak Kibul.
Mereka berempat tengah ngobrol sambil makan . Rozi membantu Nasrul dan Lino menurunkan oleh - oleh yang dibawa dari kampung. Ashe tengah nonton korea di kamar dengan Silia. Mulut mereka bahkan kemana - mana melihat setiap adengan.
" Ya ampun Mbaaaaak....! Ini satu kampung dibawa semua....? " Bu Fatimah kaget saat melihat barang bawaan yang sangat banyak.
" Itu kelakuan Mbakmu Fat... " sahut Pak Kibul.
" Itu hanya sedikit... " cengir Bu Fatimah.
" Udaah gpp Ma. Itu tanda cinta dari besan.... " ucap Pak Fajar sambil melihat - lihat barang bawaan. Tangannya malah sibuk nyomot oleh - oleh dan menjejalkan ke dalam mulutnya. Pantas aja, Ashe doyan makan. Itu ternyata menurun dari Papanya🤣.
Bu Fatimah tersenyum menatap Bu Izun.
" Terima kasih Mbak... " peluknya.
" Sama - sama... " sahut Bu Izun.
" Heeeh... kamu mau kemana ? " tanya Pak Fajar melihat Dimas nyelonong ke arah kamar Ashe.
" Aku mau mandi... " sahut Dimas.
" Barang - barang Mamak sama Bapakmu bawa sini semua Dim. Kalian tidur sini malam ini. Papa yang nginep... " kata Pak Fajar.
" Nginep dimana Pa...? " kata Dimas berbalik. Pikirannya nggak conect. Dimas begitu mengantuk dan lelah.
" Di sinilah. Di kamarr... "
Dimas terkekeh. Mengingat kalau itu rumah orang tua kandungnya.
" Iyaaa Pa... " kata Dimas.
Ia menghampiri Nasrul dan Rozi. Menyuruh untuk pulang ke rumah dan mengambil barang - barang Pak Kibul, Bu Izun, Rozi dan Silia. Ia kemudian ke kamar Ashe.
" Kenapa Dimas begitu nurut padamu ? " tatap Pak Kibul.
" Salaaaah. Aku yang nurut sama dia.... " sahut Pak Fajar.
Pak Kibul terkekeh. Menatap sekeliling rumah. Ia hanya masuk sekali ke rumah itu dulu. Tapi sekarang berbeda. Begitu hidup dan nyaman rumah ini, batin Pak Kibul.
" Aku merenovnya Bang. Rumah ini sengaja tak bertingkat. Tapi punya banyak kamar. Tinggallah disini, aku siap pindah kok " ucap Pak Fajar.
Pak Kibul tersenyum.
" Aku sudah nyaman di kampung. Aku mau kamu tetap tinggal di sini... " sahut Pak Kibul.
" Kalau begitu tinggallah beberapa hari... "
" Bapak izin seminggu Pa... " celetuk Rozi sebari mengangkuti bawaan Bu Izun.
" Baguslaaah. Aku ingin nostagia... " senyum Pak Fajar diiringi tatapan membunuh Pak Kibul.
" Aku sudah tua. Jangan bikin ulaaaah.... " sewot Pak Kibul.
" Coba kalian bikin film. Aku ingin liat masa muda kalian " kata Rozi.
" Nggak usah. Ntar Mama ilfeel... " ceplos Bu Fatimah.
" Jatuh cinta kali. Kamu kan jatuh cinta sama Fajar karena nakalnya... " celetuk Bu Izun.
" Hahahahaha..... " Rozi tertawa keras - keras. Bu Fatimah menatapnya tajam. Rozi langsung membungkam mulutnya.
*****
" Muuuluuut kalian udah kayak toa masjid... " Dimas membuka pintu kamar Ashe.
Dua perempuan yang cekikikan bak kuntilanak itu langsung diam dan menoleh.
Dimas mendekat penasaran. Melongok ke laptop Ashe.
" Wooo....! Otaknya haluuu semua ntar itu.... " ucap Dimas.
" Abang ganggu aja... " sahut Silia.
" Iyaaa. Penganggu..." imbuh Ashe.
Dimas menoyor kepala kedua - duanya.
" Mandiii.... " kata Dimas seraya ikut duduk disofa disamping Ashe.
Ashe langsung bersender tanpa peduli Silia.
" Kenapa ? " tatap Dimas.
" Capeeek... "
" Apaaanya....?"
" Matanya.... "
" Mau aku pijitin nggak....? "
" Caraanya ? Bagaimana mata bisa dipijitin ?
" Mbak....! Aku keluar dulu.... " Silia tiba - tiba bangkit dari duduknya dan langsung pergi begitu melihat auranya sudah berbeda.
Ia menutup pintu.
Dimas dan Ashe hanya melongo, kemudian berpandangan. Saling tertawa.
" Si Kiwil itu ternyata peka sekali... " kata Dimas mendekatkan wajahnya.
Ashe menahannya.
" Mau ngapain kamu ? " tatap Ashe.
" Mijitin mata kamu... " kata Dimas seraya memegang kedua pipi Ashe dengan kuat dan mencium mata Ashe kiri kanan.
Ashe memejamkan matanya.
" Udaah tuh sembuh....! " kata Dimas seraya melepaskan pegangan tangannya.
" Hmmm.... bibirku ngilu... "
Dimas menoleh. Langsung mencium bibir Ashe. Pipi Ashe terasa panas.
Tak hanya itu, Dimas kemudian mencium pipi, kening dan hidung Ashe.
" Ada lagi yang bermasalah...? "
" Ngggakkk.... "
Dimas tertawa.
" Mandi sana Bie.... " dorong Ashe.
" Sama kamuu... "
" Ihhhh.... " Ashe manyun.
Dimas sigap mencium bibir Ashe. Ashe tambah manyun. Dimas menciumnya lagi. Akhirnya Ashe membenamkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dimas tertawa.
" Apaa sih ? Bukaaa " tarik Dimas.
" Nggak mauuu.... " geleng Ashe.
" Kamu ngasih kode melulu sih. Aku oleng Bu. Liat kamu aja, aku langsung oleng... "
Ashe terkekeh sambil mengintip.
" Mandilaaah. Sebelum aku khilaf. Di lemari itu ada baju kamu. Papa yang beliin kemarin... " kata Ashe.
Dimas mengenyit dahi.
" Nggak usah bengong. Cepetan.... ! Aku yang numpang disini sekarang... " dorong Ashe.
" Aku ingin menunggu khilafmu... " Dimas tetap tak beranjak.
" Kamu bau... " kata Ashe tapi merangkulkan tangannya di pinggang Dimas.
" Kamu lebih bau... "
" Kamu jorok... "
" Kamu lebih jorokk... " tatap Dimas sambil tersenyum.
Ia malah memeluk Ashe. Ashe tersenyum menatap Dimas.
" Kenaapa ? " tanya Dimas.
" Nggak nyangka aja, aku bisa meluk pacar.. "
" Hahahaha....! Mantan kamu itu banyak. Tapi kenapa kamu kolot banget... "
" Karena aku kolot itulah mantanku banyak... "
" Jangan bilang kamu cuma pegangan tangan ya... ? "
" Emaaang...! Cuma kamu doang yang bisa nyosor melulu... "
" Hahhahaha... " Dimas mengecup kening Ashe.
" Untung Papa bawa kamu ke Surabaya waktu itu. Coba kalau enggak...! Sampai sekarang aku belum icip bibir ituu... "
" Hoeeeekkk.... "
" Diiih... nggak percaya....! Aku itu perjaka ting ting sebelum ketemu kamu.... "
" Laaah.... emang kamu aku perkosa.... ? "
" Iyaaa. Hatiku. Sampai porak - poranda ! "
" Udaaah. Kapan kamu mau mandinya. Ini udah mau malem... " dorong Ashe.
" Sama kamulah Bu... "
" Jangan ngelunjak deh Bieeee.... "
" Weeehehehehe.... yaudah. Aku duluan ya...! " Dimas berdiri tapi tangan mereka masih pegangan.
" Aku ke kamar mandi doang Bu.... " imbuh Dimas agar Ashe melepaskan tangannya.
" Pelukan kamu enaaak... " sahut Ashe membuat Dimas kelimpungan.
" Ntar maleem.... " bisik Dimas membungkuk.
Ashe menepuk lengan Dimas yang langsung kabur sambil cengengesan.