
Dimas membukakan pintu mobil untuk Ashe dan Nasrul langsung menjalankan mobilnya meninggalkan kantor JAE menuju rumah Ashe.
Faisal di tinggal karena patuh harus menunggu Dema.
" Jangan ditikung... " pesan Dimas saat menunggu di lobby.
" Ngawurr aja....! Aku sudah punya istri... " sahut Faisal tak terima.
Dimas melempar senyum tanpa menjawab. Berlalu menuju mobil mengandeng Ashe. Ashe menatap Dimas dan Faisal jengah.
" Bu... mau beli sesuatu...? " tanya Dimas saat mereka dalam perjalanan pulang.
" Enggak Bie ! Kita langsung pulang aja " sahut Ashe.
" Baiklah...! Jangan merengek minta jajan tengah malem... " ucap Dimas.
" Nggak janji... " cengir Ashe.
" Aku nggak mau nganterin... "
" Aku akan cari seseorang yang mau nganterin.... " pancing Ashe.
Dimas refleks menoleh. Sebuah nama langsung membayang di otaknya. Melihat refleksnya Dimas, Ashe menahan tawa.
" Kenapa kamuuu ? " tanya Ashe menahan tawanya.
" Nggak papa...! " sahut Dimas sambil berpaling.
" Bucin tingkat nasional Bu... " celetuk Nasrul tersenyum.
" Apaaan...? Emang gue ikut lomba kejurnas ? " sanggah Dimas.
" Iyaaa....! Kejuaraan Nasional menahan cemburu...! Hahahaha... " Nasrul terbahak diikuti Ashe.
Hanya Dimas yang cemberut.
" Nanti kita beli lagi jam tangannya...! Nggak usah jadi prahara di mana semua jadi korban... " gelayut Ashe.
" Masalah bukan itu Bu...! Itu amanah, seperti menjaga cintaku untukmu... " kata Dimas.
" Hoeeeekkk.... " yang dibalik kemudi rese'.
" Apa si loe rese' ? Nanti gue tendang loe dari kandidat adik ipar gue... " ancam Dimas.
Yang diancam bukannya takut malah tertawa keras sebari membelokkan mobil ke rumah Ashe. Apalagi Ashe, ia ikut tergelak karena Dimas dari tadi dibuat sewot.
Dimas tersungut. Bahkan hanya bersedekap tangan tanpa mau keluar mobil. Nasrul terpaksa membukakan pintu sebari menahan senyum. Baru Dimas turun. Ashe memandang dari teras mendesah kesal sang pacar penuh drama.
" Abang ipar tertampan, silahkan turun.... " Nasrul menahan tawa bersikap seperti abdi dalem.
Dimas keluar menampar pipi Nasrul sangat pelan.
" B********k loe.... "senyum Dimas.
Nasrul tak kuat menahan tawa. Ia tergelak sambil menahan perutnya yang terasa sakit. Ashe menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya yang makin hari makin nyleneh. Ashe berlalu meninggalkan keduanya. Masuk rumah, melempar tasnya dan langsung ikut hebring bersama mertua dan orang tuanya. Para orang tua ini ternyata tengah mendesain undangan.
Dimas yang masuk belakangan penasaran.
" Kalian pada ngapain sih ? " longgok Dimas. Rozi yang di kerubungi mereka.
" Bikin undangan... " sahut Pak Kibul.
" Katanya mau pada pulang...! Kenapa masih pada bikin arisan disini... " kata Dimas melonggarkan dasinya sebelum akhirnya melepaskannya. Ia menggulung lengan panjangnya hingga ke siku.
" Sttt... bentar doang...! Calon pengantin nggak usah ribet... " Pak Fajar menimpali.
Ashe hanya mengangkat bahu begitu Dimas menatapnya. Bersamaan mereka berjalan ke kamar. Dimas melirik sofa di ruang tivi. Ia meraih tas Ashe yang tadi di lempar sembarangan dan kemudian menyusul Ashe. Menutup pintu.
" Bie, kamu mau mandi dulu...? " tanya Ashe melepaskan blazzer Dimas yang di pakainya.
" Kamu aja duluan Bu... " Dimas meletakkan tas Ashe di meja rias. Mengeluarkan dompet, Hp dan meletakkannya. Dimas langsung terlentang di tempat tidur.
" Aku rebahan bentar ya Bu, aku capek banget.. " kata Dimas.
" Ya udah "
" Tapi Buuu... "
" Kenapa ? " toleh Ashe.
" Mataku ngantuk... perutku lapaaaaaarrr.... " keluh Dimas.
Ashe mendekat. Mencium bibir Dimas hingga Dimas terperangah sesaat kemudian tersenyum. Meraih leher Ashe hingga Ashe ambruk menimpa Dimas. Dimas langsung mencium bibir Ashe.
" Perutku kenyang... " senyum Dimas.
" Aku yang lapeeer... " sahut Ashe.
" Hahaha...! Udah, mandi dulu...! Atau mau mandi bareng... ? " goda Dimas.
" Hisss.... " Ashe langsung berguling melepaskan diri.
Dimas tertawa. Tangannya meraih - raih Ashe tapi Ashe makin menjauh dengan cibiran.
" Awaaas aja Buuu... " senyum Dimas.
Ashe hanya mencibir. Menghilang di kamar mandi. Dimas mengoyang - goyangkan kakinya. Begitu nyaman hingga terlelap.
" Heeeh... " Ashe terhenyak melihat Dimas lelap di tempat tidurnya.
Ashe selesai mandi dan telah berganti baju santai. Ia tak tega membngunkan Dimas. Ashe keluar kamar dan membantu menyiapkan makan malam.
" Ibu mau pulang sekarang ? " gelayut Ashe di lengan Bu Izun.
Entahlah, ia begitu nyaman dekat calon mertuanya itu. Bu Izun tersenyum.
" Berangkatnya besok pagi Mbak... " toleh Bu Izun.
" Kenapa buru - buru Bu...? "
" Hiissss....! Mamakmu mau pulang nyiapin nikahan kamu...! Nanti juga ke sini lagi. Orang ini rumahnya... " sela Bu Fatimah.
" Rumah Mbak Ashe Fat...! " ralat Bu Izun.
" Aku kasih sesuatu Bu... " kata Ashe seraya berjalan ke kamarnya. Dimas masih terlelap. Ashe mengambil sesuatu di dalam laci lemarinya. Ia keluar lagi dan menemui Bu Izun.
" Ini untuk Ibu.... " kata Ashe.
" Apa ini Mbak...? " kerut Bu Izun.
" Buka aja Bu... " kata Ashe.
Bu Izun membuka kotak pemberian Ashe. Isinya satu set perhiasan lengkap. Ada cincin, gelang, kalung dan anting.
" Waah, ini buat ibu ? " tanya Bu Izun.
" Iya Bu...! Itu aku belinya di Jogja. Waktu itu aku kabur karena patah hati...! Aku menghabiskan uang atm untuk membeli itu. Aku nangis - nangis sendirian di trotoar kayak orang gila. Terus aku liat yang jualan perhiasan. Aku nazar di sana Bu... " cengir Ashe.
" Ya ampun....! Otak bocah kamu ternyata kejauhan mikirnya ya...? " omel Bu Fatimah.
" Siapa mantan yang bikin kamu nangis - nangis begitu...? " imbuh Bu Fatimah bertanya.
" Hehehe....! Itu yang waktu SMA...! Patah hatinya bukan karena bucin Ma, tapi di katain... " cengir Ashe.
" Ya...! Terus kamu kabur seminggu... " kata Bu Fatimah.
" Iya. Papa yang nyusul ke sana... ! Atmku di isi, terus di temenin belanja sepuasnya... "
" Dasaaaar bocah labiill... "sungut Bu Fatimah.
Ashe hanya nyengir.
" Sudah Mbak. Terima saja...! Itu pemberian menantu lho... " senyum Bu Fatimah.
Bu Izun terkekeh.
" Baiklah. Terima kasih Mbak Ashe. Ibu akan menyimpannya dengan baik... " kata Bu Izun.
Ashe mengiyakan.
" Dimas kemana She ? " muncul Pak Fajar dari belakang di ikuti Pak Kibul.
Pak Fajar duduk di kursi sambil mencomot makanan. Bu Fatimah memukul tangan Pak Fajar sambil melotot. Pak Fajar hanya terkekeh namun tetap mencomot dan menjejal makanan.
" Tidur Pa... " sahut Ashe.
" Kenapa dia tidur. Kita udah pada kelaperan ini... " kata Pak. Kibul.
" Tinggal aja Pak. Nanti kalau laper juga akan bangun sendiri... " kata Ashe.
" Ya sudah. Mana Rozi dan Silia ? " tanya Pak Fajar.
Bu Fatimah malah terkekeh. Pasalnya Rozi lagi pdkt dengan Dema di gazebo belakang. Sementara Nasrul pergi dengan Silia jalan - jalan.
" Jalan tanya mereka...! Mereka makan malam dengan cinta... " sahut Bu Fatimah.
Pak Fajar mengangkat alisnya. Bu Izun tertawa.
" Biar aku panggilin Rozi... " kata Bu Izun sambil ke belakang.
Hanya sampai pintu. Teriakan ala gunungnya keluar.
" Ozeeeen....! Mbak Dema dijak madang ndene... " teriak Bu Izun.
Pak Kibul menggeleng kepala.
" Dia pikir ini rumahnya di kampung... " gerutu Pak Kibul.
Pak Fajar dan Bu Fatimah hanya tertawa. Mereka kemudian makan malam. Tanpa Dimas dan Silia.
****
Dimas mengeliat. Badannya terasa ringan setelah tidur nyenyaknya. Menatap sekeliling. Nampak di balik punggung sofa Ashe tengah membelakanginya.
" Buuu.... " panggil Dimas pelan tapi terdengar oleh Ashe.
Ashe menoleh.
" Bangun Bie... " kata Ashe.
" Siniii... " lambai Dimas malas.
Ashe bangun dari duduknya. Pesona Dimas begitu menghipnotisnya. Ashe mendekat pada Dimas yang langsung menarik dalam pelukannya. Dimas kembali memejamkan mata.
" Kamu belum makan Bie... ! Bangun dan makanlah... " tepuk Ashe perlahan.
" Hmmm.... " Dimas malah makin meringsek mendekap Ashe.
" Bie... ! Kamu bahkan belum mandi dan ganti baju... " kata Ashe.
" Malesss... "
" Ya udah. Ayo makan aja... "
" Bentar kenapa sih... ? Besok aku nggak bisa meluk kamu... "
Ashe mengenyit.
" Apa maksudmu ? " kenyit Ashe.
" Aku mau ke Kalimantan... Hehe... "
" Diiiihhh.... " kesal Ashe menatap Dimas yang tepat di sampingnya.
" Nggak lamaa... " kata Dimas.
" Bodo amatlah....! Lama juga gpp... " sewot Ashe sebari berontak melepaskan diri. Sayangnya tak ada hasilnya.
" Hahaha...! Kenapa sewot begitu ? Aku kesana juga karena mendesak. Bukan nyari istri kedua... "
" Bodoooo'.... " Ashe kembali ingin meloloskan diri.
Dimas mengencangkan pelukannya. Ashe mendengus sebal. Dimas terkekeh.
" Jutek amat Bu Bos ini...! Kamu mau ikut... ? "
" Engggaaak.... "
" Oyaaaaa....??? "
" Iyaaaaa.... " Ashe kesal.
Tiap kali bersama Dimas, pasti bentaran juga pisah.
" Punya pacar kok kerjanya menclok sana menclok sini...! Terbang sono, terbang sini...! Suruh yang tua aja kenapa sih ? " sewot Ashe.
" Hahaha....! Mending sekarang aku perginya, ketimbang entar habis ijab qobul langsung terbang...! Aku bahkan belum terbang ke tubuh kamu... " goda Dimas.
" Isssshhhh.... " tepuk Ashe kesal.
Dimas tertawa.
" Dimana pun aku berada, segenap hati dan cintaku di hati Bu. Tidak ikut terbang kemana - mana "
" Apaan sih loe...? Baca undang - undang ? " Ashe masih saja sewot.
" Undang - undang ' 45 itu kalah dengan semangatnya cintaku padamu... "
Ashe menoleh sinis ke arah Dimas sebari menahan tawa.
" Perutku mual tahu nggak Bie, denger kamu ngomong...! " kata Ashe.
" Haaaaaah.... mual...? Kamu hamil ya...? " goda Dimas.
" Issshhh... apaan sih...? Emangnya gue Siti Maryam, bisa hamil sendiri ? " sungut Ashe.
" Ya udah sih...! Tenang aja. Nanti aku bantu kamu hamil "
Ashe kembali menatap Dimas jengah. Dimas tersenyum penuh pesona sebari mendekat. Mencium bibir Ashe dengan lembut.
" Yang atas aja bikin aku ketagihan, apalagi yang bawah... " seru Dimas.
" Haduuuh... awas sih...! Lama - lama setan nyerah ngerayu kamu Bie... " ucap Ashe berusaha melepaskan kungkungan Dimas.
" Hahhaahha.... " Dimas tertawa melonggarkan pelukannya.
Ashe langsung kabur.
" Kamu itu cuma belum ngerasain. Kalau udah kamu pasti lebih cepat larinya Bu... "
" Heeeehhhh....? "
" Lari mendekat padaku... "
" Hedeeeeh....! Ayo bangun makan... " Ashe kembali mendekat dan menarik tangan Dimas yang melambai - lambai manja ke arahnya..
" Aku ganti baju aja ya...! Udah mau jam 9 ini Bu...! " kata Dimas manja.
Memeluk pinggang Ashe dari belakang.
" Iyaaa. Terserah kamu aja Bie... " Ashe nyerah.
Otak error Dimas makin halu kalau di ladenin. Sepersekian lama, Dimas berisut juga. Melepaskan pelukannya dan membuka kancing bajunya satu persatu. Ia beranjak ke kamar mandi. Hanya mencuci kaki, tangan, dan muka. Ia keluar hanya berbalut handuk dan memegangnya erat. Ashe yang duduk di sofa menoleh penuh senyum menggoda.
" Kenapa kamu melihatku seperti itu ? " Dimas curiga.
" Kenapa. dipegang erat sekali...? " Ashe malah balik tanya.
Dimas tak menjawab. Ia duduk di tempat tidur cari aman.
" Carikan kaos, celana... " kata Dimas.
" Hahahha... kenapa nggak nyari sendiri...? " Ashe belum puas bertanya meski dia berjalan ke lemari.
" Tanganmu suka nakal sih...! " gerutu Dimas. " Jangan lupa, s****knya juga... " imbuh Dimas.
" Nihhh....! " Ashe menyerahkan apa yang diminta Dimas.
" Aku bikinin teh buat kamu Bie... " imbuh Ashe.
" Kamu nggak mau pakaiin ini dulu... ? " tanya Dimas. Ia menjembreng s****knya di depan Ashe.
" Hisssss....! Otak kamu ini isinya apa sih Bie...? Bagaimana kamu ini bisa jadi CEO, bisa jadi Presdir... " sungut Ashe.
" Itu karena terkontaminasi bibirmu Bu...! Makanya otakku geseh... " elak. Dimas.
" Alesaaan.... " sahut Ashe seraya keluar kamar. Dimas terkekeh. Ia mengenakan bajunya sepeninggalan Ashe.
*****
Dimas selesai berganti baju. Ia meraih Hpnya dan menelepon sang mertua.
Dimas : Pa...! Papa dimana ?
Pak Fajar : Lagi di Jepang....
Dimas : Ngapain di sana ?
Pak Fajar : Main karambol....
Dimas : Udah penuh bedaknya ?
Pak Fajar : Belum dong.... Kan Papa jago...! Kamu dimana sekarang ?
Dimas : Lagi di Amerika...
Pak Fajar : Cepat beli tiket...! Susul Papa ke Jepang...
Dimas : Siap Bos....
Pak Kibul, Rozi, Ramzi, dan Faisal menatap jengah dan kesal pada Pak Fajar. Kesambet apa menantu dan mertua itu. Dua - duanya emang klop, tak ada yang beres.
Dimas keluar kamar. Ia menghampirin Ashe di dapur yang sibuk bikin teh. Hp Dimas kembali berbunyi.
Pak Fajar : Kamu mampir dimana ?
Padahal mereka jelas terlihat duduk mengelilingi papan karambol dan Pak Fajar sudah melihat Dimas. Yang lain pun juga iya. Dan Dimas dan Ashe pun bisa melihat gerombolan manusia karambol itu dengan jelas.
Dimas : Ke Singapur dulu...! Makan Papa....
Bahkan suara Dimas pun terdengar. Ashe menatap Dimas dengan lirikan maut. Dimas hanya terkekeh. Mematikan Hpnya. Tangannya sibuk buka tutup. Mencari menu yang cocok. setelah itu ia duduk di kursi makan. Ashe mengambilkannya nasi lengkap dengan lauk dan ikut duduk menemani Dimas sambil ngemil.
" Kalian itu makin tua makin jadi ya.... " gerutu Ashe.
" Siapa yang tua...? Papa belum tua... " Pak Fajar nongol dan langsung duduk bergabung bersama Dimas dan Ashe. Dimas hampir tersedak melihat muka Pak Fajar. Ashe hanya menghela nafas panjang.
" Katanya Papa jago...? " ucap Dimas.
Muka mertuanya itu penuh bedak.
" Papa memang jago...! Jago bikin Mama klepek - klepek... " si tua ini malah nyleneh.
Ashe membulatkan mata tak percaya. Dimas tertawa.
" Gurunya aja begitu...! Apalagi muridnya...! Heeeehmmm.... " desah Ashe kesal.
" Murid harus lebih pinter dari gurunya... " sahut Pak Fajar.
" Udaah sih...! Kalian gesrek aja berdua...! Aku mau menata baju untuk Tuan Presdir yang mau terbang tak punya perasaan... " sungut Ashe beranjak. Ia meninggalkan Dimas dan Pak Fajar yang terkekeh karena Ashe kesal di tinggal pergi menjelang pernikahannya.
" Pa... liat...! " kata Dimas menunjukkan tangannya, hanya mengkode apakah Pak Fajar peka atau tidak.
Pak Fajar mengenyit.
" Kemana jam tanganmu ? " tanya Pak Fajar.
" Seingetku aku melepaskannya di kamar mandi kantor. Cuma nggak ketemu... " sahut Dimas pelan.
" Ya udah. Nanti beli lagi aja... " sahut Pak Fajar santai.
" Papa nggak marah ? "
" Ya emang kamu anak kecil yang musti Papa marahin...? "
" Berapa harganya pas Papa beli ? "
" 250 juta... "
" Haaaaaahhh.... "
Pak Fajar tertawa.
" Kamu mau yang 2 M pun Papa belikan... "
Dimas melongo. Merasa bersalah.
" Pa... maaf... " kata Dimas tak enak.
Pak Fajar tersenyum. Menjitak kening Dimas.
" Itu cuma jam Dimas ! Apa yang Papa punya, Papa bisa berikan ke kamu... "
" Nggak Pa...! Aku laki - laki...! Meski yang mengajiku Papa. Tapi tetap tanpa kerja aku juga tak mau... " sahut Dimas.
Pak Fajar tersenyum.
" Kamu itu memang istimewa...! Kamu berangkat kapan ? "
" Besok siang Pa...! "
" Baiklah...! Bekerja dan kembali dengan selamat. Kamu membawa jiwa dan raga anakku... "
Dimas terkekeh.
" Iya. Kalau nggak terpaksa juga males Pa. Tapi kalau nggak di kontrol langsung, nanti malah lebih parah... " sahut Dimas.
" Kamu bekerja saja dengan tenang...! Pernikahanmu itu urusan Papa sama Bapak... "
" Aku tidak bisa tenang Pa... ! Ada jiwa tak tak tenang menghantuiku... "
" Hahhahhaa....! Bacakan ayat kursi... "
" Dia tak mempan ayat kursi...! Mempannya lembaran jimat merah dan biru "
" Hahhahaha....! Kasih aja ATM.... "
" Dia tak mau Papa.... "
" Ribet amat sih jin pengikut kamu itu... "
" Emang.... "
Mendadak Ashe muncul dari arah kamar dan menatap Dimas dan Pak Fajar tajam. Dimas dan Pak Fajar langsung terkekeh.