
Dimas membuka pintu mobil dan turun. Tampak di teras rumahnya beberapa tetangga tengah duduk berbincang dengan Bu Izun. Nampak juga Muning dan ibunya. Dimas menghela nafas.
" Assalamualaikum.... " sapa Dimas sambil berjalan masuk.
" Waalaikumsalam... " sahut para ibu - ibu.
" Mas Dimas wes bali ? Piye juk an urusane ? " tanya Budhe Lastri.
Dimas berjalan mendekat dan menyalami para tetangganya. Termasuk Muning. Mereka memang biasa berkunjung hanya sekedar main. Apalagi kalau ada yang datang dari luar kota.
" Alhamdullilah, sudah selesai Budhe. Roni sudah ditahan di kantor polisi " sahut Dimas.
" Waah, Mas Dimas saiki wes sukses tenan. Tambah ganteng lho... " puji Bu Minu, ibunya Muning.
" Hehehe... biasa aja kok Dhe... " senyum Dimas rikuh.
Apalagi Muning tampak malu - malu menatapnya.
" Waah, Mas Dimas cocok ro Muning ki lho seng ayu tenan, saiki yo wes dadi bidan .. " Bu Minu mulai provokasi.
" Bang, Mbak Ashe telpon tuh... ! " seru Rozi tiba - tiba seraya berjalan masuk.
Ia rupanya menghabiskan cilok yang ia beli tadi di mobil ditemani Nasrul sambil ngobrol.
Semua ibu - ibu menatap Dimas penuh tanda tanya. Apalagi Muning, yang notabenenya menyukai Dimas sejak lama.
" Mana Hpnya...? " tanya Dimas.
" Nooh... " tunjuk Rozi pada Nasrul yang masih didalam mobil.
" Sebentar nggih Dhe... " pamit Dimas.
Dimas berjalan ke arah Nasrul.
" Bu Ashe telpon Rul ? " tanya Dimas.
Nasrul tampak kebingungan.
" Enggak Pak... " Nasrul menyerahkan Hp Dimas yang sejak tadi dibawanya.
Dimas langsung konek, Rozi hanya menipunya untuk tak terjerumus pada obrolan ibu - ibu itu.
Dimas tersenyum.
" Ya udah, makasih Rul... " Dimas menerima Hpnya.
Mengetik sesuatu.
***Dimas : Bu belum slesai rapatnya...??
Dimas : Kanggeeeeeen.....
Dimas : 😘😘😘😘😘😘😘***
Beberapa saat....
Ashe masih di meeting room. Mendengarkan dan memeriksa laporan keuangan serta perputaran barang digudang.
Ting,
Ashe menoleh pada layar Hpnya. Raut wajahnya yang tadi nampak buram kini tersenyum tipis. Ashe menyuruh anggota meeting untuk break sejenak.
Ashe : Ngggak usaaaaah lebayyy....
Dimas tersenyum membaca chat Ashe.
Dimas : Galaaaaak amat...? Habis makan cabe sekilo...?? 😔😔
Ashe : Makaaaan orang....!!
Dimas : Laaaah, situ genderuwo...
Ashe : Kuntilanak cantik dong....! Mana ada genderuwo cewek...?? 😤😤
Dimas : Ohhh, pantes... Mempesona hatiku.... 😘😘😘
Ashe : Waylaaaah Bie....! Dimana kamu...?
Dimas : Dihatimuu.... 😘😘😘
Ashe : Daaaah Song Kang....
Dimas : 🤣🤣🤣🤣Di rumah sayaaang....!
Ashe : Tumbeeennn....?
Dimas : Apa sih ? Nih baru pulang dari Polres..
Ashe : Di rumah ada siapa ??
Dimas : Mertua cewek loe dan tetangga kepo...
Ashe : Termasuk ' anjing tetangga '...??
Dimas : 😢😢😢😢
Ashe : Jwb aja iyaaa....!
Dimas : Dia yang suka, bukan aku Bu....
Ashe : Terus knapa ?
Dimas : Nanti cemburu lagi...
Ashe : Beuuuh....! Tenang aja, cemburuku kalem kok...
Dimas : Masaaaaak ??? Contohnya....?
Ashe : Membuatmu tidur tanpa " selimut "...
Dimas : Kalem sekali kamu....
Ashe : 😂😂😂😂😂
Dimas : Pelakor lebih pinter....
Ashe : Aku juga tidak gobloookkk....
Dimas : Wkwkwkkw.... knapa tdak vc ?
Ashe : Q di meet room....! Smua orang sdang menatapku karena Q trgila -
gila dengan OB. Senyam senyum tak jlas...
Dimas : Q akan lbih gila dari pada kmu...
Ashe : Berarti kita pasangan gila...
Dimas : 👍👍👍👍👍 Nasrul mulai il feel melihatku...
Ashe : 🤣🤣🤣
Ashe : Q slesaikan meetingku Bie. Aku capk pulang mlm...
Dimas : Ok. 😘😘😘😘
Ashe : 😘😘😘😘😘😘
" Pak.... " Nasrul mencolek lengan Dimas. Mereka masih disisi mobil.
" Hmmm.... " Dimas menoleh.
" Itu cewek yang ngejar - ngejar Bapak ya...? " tanya Nasrul pelan.
" Iyaaa...! Kenapa kamu penasaran ? "
" Enggak sih ! "
" Kenapa nanya ? "
" Iseng aja. Habis Bapak senyam senyum mulu... "
" Hehehe... "
" Bu Ashe cemburu ya ? Cewek itu disini...? "
" Belummm Rulll....! Yuk, masuk istirahat... " Dimas berdiri dari jongkoknya diikuti Nasrul. Mereka berjalan masuk. Nasrul hanya mengangguk seraya mengucapkan permisi pada ibu - ibu itu. Dimas malah ikut nimbrung karena merasa tak enak.
"Mas Dimas jane kerjo opo sih neng kono ? " tanya Budhe Lastri.
" Laah ming OB neng jasa pengiriman logistik kok Dhe... " sahut Dimas.
" Laah seng penting nyambut gawe, timbang nganggur... " timpal Bu Izun.
" Muning wes kerjo yo ? " tanya Dimas pada Muning.
" Uwes Mas Dim. Aku kerjo neng puskesmas " sahut Muning.
" Yo syukurlah Ning nek wes nyambut gawe ngono... " sahut Dimas.
" Mas Dimas wes duwe pacar urung e ? Nek urung yo Muning jih dewekan lho Mas... ! Rung duwe pacar..."kata Bu Minu.
Budhe Lastri yang mendengarnya tampak melengos. Bu Minu memang suka caper dan banyak bicara. Lebih tepatnya suka ghibah. Hampir semua tetangga sudah jadi korban ghibahannya.
" Ya gek proses Dhe Min... " Dimas.
" Proses opo...? " Bu Minu kepo.
Ia memang yang sangat ingin menjodohkan Muning dengan Dimas.
" Cah enom ki yo biasa Min.... " timpal Bu Izun.
Meski dia suka mengancam akan menikahkan Dimas dengan Muning, tapi sejujurnya ia tak suka pada Muning dan keluarganya. Bu Izun hanya suka menakuti Dimas dan juga ingin tetap menghormati keluarga orang lain.
Budhe Lastri mengalihkan pembecaraan ke topik lain. Muning tampak diam mendengarkan.
" Wes suwe dinas neng puskesmas Mun..? " tanya Dimas. Ia merasa tak enak tak basa basi dengan Muning.
" Yo gek setengah tahun Mas Dim...! " sahut Muning.
" Piye ? Betah ? Penak to kerjone ? " tanya Dimas.
" Yo ngono kae lah Mas. Ora ono rencana pindah mrene po Mas ? "
Dimas tersenyum. Senyum yang selalu memikat orang.
" Ora kayakne Mun....! Aku raiso ninggalke gaweanku... "
" Oh... " Muning tampak mengangguk meski ada selipan kekecewaan.
" Baaaang.... papa telpon....! " teriak Rozi dari dalam.
Dimas hanya tersenyum, anak itu memang tak tahu sopan santun. Dimas menghela nafas tapi tak beranjak.
" Kae njeluke lho Mas...! Ngopo Rozi ? " tanya Budhe Lastri menyela.
" Ben wae Dhe... " sahut Dimas.
Muning tampak mengerutkan dahi. Penasaran dengan apa yang diucapkan Rozi sejak tadi.
" Mas Dimas ijih go nomer mbiyen po ? " tanya Muning.
" Isih Ning...! Wes duwe pacar urung koe ? " Dimas balik tanya.
Muning tersenyum malu.
" Urung Mas... " sahut Muning.
" Seng nglamar okeh Mas. Tapi aku ra oleh. Wong aku pingine Muning ki ro Mas Dimas. Seng kethok bertanggung jawab... " Bu Minu menyela dengan sengit.
Dimas tersenyum kalem.
" Aku wes duwe calon Dhe.... " sahut Dimas.
" Heeeh.... piye to ? " Bu Minu tampak terkejut. Terlebiih lagi Muning.
Bu Izun menghela nafas. Budhe Lastri melengos.
" Iyo Dhe...! " sahut Dimas.
" Wong ngendi ? Mbok yo golek wong kene ngopo to Mas. Wong Muning ki jih dewekan. Lek seneng karo koe yo wes saking suwene... " mendadak Bu Muni jadi judes.
Ia langsung berdiri dan menarik tangan Muning.
" Aku bali Yu.... " pamitnya pada Bu Izun sebari menarik tangan Muning meninggalkan rumah Dimas.
" Yoh, balio... " sahut Bu Izun.
Dimas menghela nafas.
" Wong seng ra seneng anake kok sok mekso... " gerutu Budhe Lastri.
Ia malah yang sewot sendiri melihat kelakuan Bu Minu.
" Ben nengke wae Mbak... " sahut Bu Izun kalem.
" Aku yo tak bali Dhe. Arep nyambel.... " Budhe Lastri pamit.
" Yoh.. " sahut Bu Izun.
Budhe Lastri beranjak. Pulang ke rumahnya yang ada didepan rumah Dimas berjarak 50 meteran.
" Kui besan pilihanmu yo Mak... ?" celetuk Dimas.
" Ngawur....! Aku ming medeni koe kui ben lek golek jodoh. Ra ming nyambut gawe wae... " sentak Bu Izun sebari beberes meja yang penuh gelas dan makanan untuk suguhan tadi.
" Sil.... iki diberesi... " teriak Bu Izun.
Tak lama ia keluar dan membantu ibunya.
" Seleramu tobat tenan Mak... " masih saja Dimas menggerutu.
" Bocah ki dikandani ora kok yo... " elak Bu Izun.
" Hehehe....! Sisok tak jak neng Jakarta. Nglamar pacarku yo... " bisik Dimas seraya berdiri. Ia berjalan masuk.
" Kapan ?? "
" Sisok...! Numpak pesawat... " sahut Dimas.
" Mibur....?? " tanya Bu Izun.
" Mak, seng jenenge pesawat yo mibur, ra ono seng mbrangkang... " ledek Silia.
Dimas tertawa terbahak.
" Aku wedi yo Dim . Engko nek ra iso medhun piye ?? "
" Ihh... Mamak ki katrok...! Ojo ngisin - ngisini to...! " umpat Silia.
" Mbok numpak bis wae to... " Bu Izun juga masuk rumah membawa gelas dalam nampan.
" Aku lek arep kerjo Mak ' E....! Tenang wae to...! " ucap Dimas seraya membuka pintu kamar. Ia ingin mengambil handuk dan mandi. Sudah hampir jam 5 sore.
Rozi sudah rapi dan duduk menghadapi laptop dengan Nasrul yang juga sibuk dengan gawainya.
" Kamu udah mandi Rul...? " tanya Dimas.
" Sudah Pak....! " sahut Nasrul.
" Muning dah pulang po Bang... ? " tanya Rozi tanpa menoleh.
" Udaah...! Papa telpon kenapa ? "
" Enggak kok... "
" Diiih.... " Dimas menoyor kepala Rozi yang hanya dibalas nyengir.
Dimas bergegas pergi ke kamar mandi yang terletak dibelakang rumah. Tak lama Pak Kibul pulang membawa pakan hijauan untuk sapinya. Ia memang kepala desa. Tapi hidup sederhananya jadi panutan seluruh warganya.
*****
" Ma.... ! " seru Pak Fajar selesai makan malam.
Ia tengah duduk di ruang tivi bersama Bu Fatimah.
" Apa Pa ? "
" Kamu ngerasa nggak sih...? Kalau Rozi mirip dengan Abang...! " toleh Pak Fajar.
Bu Fatimah mengenyit dahi.
" Kayaknya iya sih Pa... "
" Dimana Abang sekarang ya Ma...? Sangat lama kita nggak ketemu dia... " Pak Fajar menghela nafas berat.
" Kenapa Papa nggak bisa nyari dia sih...? "
" Aku kehilangan kontak Ma....! Ayah dulu cuma bilang kalau dia pulang kampung untuk meneruskan jejak orang tuanya jadi kepala desa.... " desah Pak Fajar.
" Terus gimana dong Pa...? Papa punya utang janji lho sama Abang...! "
ucap Bu Fatimah pelan.
Pak Fajar menoleh, menatap istrinya.
" Tapi aku terlanjur suka dan sayang sama Dimas sejak pertama Papa ketemu dia Ma.... " ucap Pak Fajar.
" Ya udahlah Pa. Kita berdoa aja. Lagipula Abang juga bakal ngerti. Pemikiran Abang itu dewasa Pa...! "
" Aku rasa iya Ma. Dia meninggalkan semua ini untuk kita. Bahkan tak memikirkannya dan lebih memilih memangku jabatannya yang sederhana... " sahut Pak Fajar seraya menatap sekeliling rumah.
" Kita memang berjanji. Tapi kita tak bisa egois Pa...! Ashe anak kita satu - satunya... Aku ingin dia hidup bahagia dengan pilihannya... "
" Pilihan Papa kali Ma.... " kekeh Pak Fajar.
" Mau pilihan Papa, kalau Ashe tak mau juga percuma... " sahut Bu Fatimah.
Pak Fajar tertawa.
" Ashe belum pulang...? "
" Beluuuuum.... "
" Dimas nggak ada dia ngelayap kemana ? "
" Di kantor Pa.... "
" Anak itu. Aku mau tiduran dulu Ma. Aku capek sekali... " kata Pak Fajar seraya beranjak.
" Tumben nggak PUBG sama Dimas...? "
" Ntar. Maleman dikit. Tadi udah janjian... " sahut Pak Fajar.
" Diiih... Papa... "
" Hehehehe.... Kenapa Rozi dan Dimas seolah kayak bayangan Abang ya... " gumam Pak Fajar.
Bu Fatimah yang mendengarnya hanya menggeleng.
******
Ashe memandang jalanan yang penuh dengan mobil. Faisal menjemputnya. Hari sudah menjelang malam.
" Kenapa kamu ngeliatin saya Sal ? " ketus Ashe.
Faisal terkekeh.
" Apa rasanya pisah sama Mas Dimas...? " Faisal malah balik tanya.
" Apa sih...?? "
" Biasanya langsung meriang...? "
" Emangg....!! " sahut Ashe.
" Mbak Ashe mau beli sesuatu nggak...? Mas Dimas nitip duit tadi lho. Katanya Mbak Ashe suka nyuruh - nyuruh tanpa ngasih duit... "
" Diiih....! Berapa juta dia ngasih ? "
Faisal menunjukkan amplop coklat dari dasboard.
" Mafia emang nggak ada duanya ya...? " umpat Ashe..
Faisal hanya terkekeh.
" Baiklah. Aku mau ayam bakar, gurami bakar. Sosis bakar dan udang... ! Kamu yang nyari. Saya mau langsung diantar pulang. Jangan lama - lama. Saya nunggu dirumah... " kata Ashe.
Faisal terkekeh.
" Baik Nyonya Dimas... " sahut Faisal.
Ashe tersenyum senang. Tak lama, Faisal memasukkan mobil ke garasi rumah Ashe.
" Kamu perginya naik motor aja Sal. Biar cepet...! Aku tunggu... " pesan Ashe.
" Saya bukan Mas Dimas yang kerjanya cepet Mbak... " sahut Faisal.
" Nggak usah ngeluh. Kalau ada atasanmu, aku nggak nyuruh kamu... " omel Ashe.
" Iyaalah. Orang Mas Dimas bucin... " gumam Faisal namun Ashe masih mendengarnya jelas.
" Aku lebih bucin Sal... " sahut Ashe seraya berjalan masuk rumah.
Faisal hanya terkekeh.
*****
Ashe menengok layar Hpnya. Itu vc Dimas. Baru ia masuk ke kamarnya. Ashe sejenak menghiraukan. Ia ingin mandi lebih dulu dan berganti baju.
Telepon Dimas mati. Ashe bergegas mandi. Ketika keluar, panggilan Dimas sudah beberapa kali.
" She, kamu mau makan dimana ? " terdengar Bu Fatimah berteriak di depan pintu kamar Ashe.
" Di meja makan Ma...! " sahut Ashe sambil menyisir rambut.
Kali ini ia belum mengenakan piyama, hanya baju santai ala rumahan
" Ya.... makanannya di meja ya... "
" Ya.... "
Tak lama Ashe keluar dan menuju meja makan. Ia segera memakan pesanan yang dibeli Faisal. Tanpa nasi. Ashe seolah lupa segalanya saat bertemu makanan.
Pak Fajar muncul dengan gawai ditangannya. Menghampiri Ashe.
" Kamu makan apaa ? " longgok Pak Fajar.
" Hmmmm.... " tunjuk Ashe.
" Papa mau...?? " tawar Ashe.
" Nggak ah. Liat kamu makan aja udah kenyang. Kamu nggak makan pakai nasi....? " kerut Pak Fajar.
" Mana enak...! Rasanya akan berubah.... "
" Berubah jadi apa ? Kamu ini..."
" Papa mau ngapain....?"
" Main PUBG.... " sahut Pak Fajar meninggalkan Ashe dan duduk diruang tivi. Tempat favoritnya.
" Kayak abg aja Pa... " gerutu Ashe.
" Jiwa muda, raga tua... "
Ashe terkekeh. Melanjutkan makan.
*****
Ashe mulai kesal. Vcnya tak diangkat juga. Malah berkali - kali kena rejeck. Ashe melempar Hpnya ke kasur.
" Mama.... Papa main PUBGnya sama siapa ? " teriak Ashe di depan pintu kamarnya.
Ia mencari - cari Papanya diruang tivi tapi sudah tak ada disana.
" Apa sih kamu itu ? Ini udah jam 21 : 00 wib. Kenapa kamu teriak - teriak...? " Bu Fatimah muncul.
Ia tengah menonton sinetron kesayangannya di kamar. Kalau diruang tivi, Pak Fajar suka iseng.
" Papa kemana ? " tanya Ashe.
" Main PUBG kan ? "
" Iyaa....! Dimana Mama...? "
Bu Fatimah mengerutkan kening. Itu pasti bermasalah dengan Dimas
" Ngumpet pasti She. Dia pasti main sama Dimas.... " kata Bu Fatimah.
" Emang Papa neh ya.... " omel Ashe.
Ia kembali ke kamar. Mengambil Hpnya dan meluapkan rasa cemburu dicuekin.
Ashe : Bieeeee....
Ashe : Kamu dimana ? Lagi ngapain...? Sama siapa ??
Ashe : Aku ngambeekkkk...
Ashe : Seminggu nggak ada ' makan malam '
Ashe : Diiiih.... gue di cuekin.... 😭😭😭
Ashe : Bodo' ahhhh.....
Ashe melempar Hpnya dan menarik selimut. Kesal dengan Dimas.
Di sisi lain, Dimas tengah duduk bersila di atas kasur di kamarnya. Tangannya lincah di atas layar Hp. Tak mau kalah dengan mertuanya yang jauh disana. Sekilas Dimas tersenyum. Layarnya bermunculan nama Ashe. Tapi Dimas di menit - menit terakhir. Kali ini ia tak mau kalah dengan mertua yang dia doktrin dengan segala jenis game itu. Kini Pak Fajar mulai jago main. Definisi makin tua makin pantai sepertinya pantas tersemat untuknya.
" Diiiih..... " Dimas menghela nafas.
Permainan selesai dan dia kalah. Sementara Pak Fajar bersorak kegirangan. Mengeluarkan aplikasi dan menelepon Dimas.
" Kasih selamat Papa dong... " kekeh Pak Fajar diujung sana.
" Hahahaha.... ya deh. Selamat udah mengalahkan gurunya ya Pa... " sahut Dimas.
" Iyalaah. Masak Papa kalah mulu.... ! Karena Papa udah seneng, jadi udahan mainnya ya. Papa mau tidur lagi.... "
" Iyalah Pa. Ashe udah ngamuk...! " cengir Dimas.
" Emang kamu kira Mamamu enggak... "
" Hahhahaha.... " tawa Dimas terdengar jelas.
" Heeeeeeh..... " sentak Pak Fajar
Dimas terkekeh.
" Selamat nggak dapet jatah Papaa...." ejek Dimas.
" Heeeh...dasar kamu ya. Mantu nggak ada akhlak...." omel Pak Fajar. Ia langsung mematikan teleponnya. Setelah menyudahi teleponnya dengan Dimas , Pak Fajar beranjak ke kamar dengan langkah gontai. Istrinya sebentar lagi pasti ngomel.