Perfect Boy

Perfect Boy
47.Tertampan termuda



" Jasmu Bie...! " kata Ashe sambil mengulurkan jas hitam Dimas. Dimas menerima dan memakainya. Kemudian mengenakan jam tangan silvernya. Mereka kembali ke kamar Ashe untuk mengambil keperluan yang akan dibawa ke kantor. Nasrul segera membawanya ke mobil.


" Ingeeet. Jangan melirik resepsionis....! " pesan Ashe.


Dimas mendelik.


" Kau ini. Cemburumu sungguh nggak level... " sungut Dimas.


Ashe terkekeh.


" Ruanganmu sudah disiapin Bie...! " kata Ashe terus menatap Dimas.


" Yaah. Coba kalau bisa seruangan sama kamu....! "


" Aku bawahan kamuu sekarang....! "


" Yang penting kamu tetap yang no 1 di hatiku Bu...! " tatap Dimas.


" Apa ada yang no 2....? "


Dimas mendekat kesal.


" A ding cemburuuu.....! " sungut Dimas.


" A bin terlalu tampan....! " sahut Ashe tak mau kalah.


Dimas salah tingkah. Wajahnya bersemu merah sangat menawan bagi Ashe.Ia buru - buru menarik tangan Ashe.


" Ayo berangkat...! " tarik Dimas sambil mengambil tas Ashe.


Mereka keluar kamar. Pak Fajar telah berangkat bersama Ramzi dan Faisal. Dimas dan Ashe berpamitan. Mereka jelas dikawal Nasrul dan Lino.


" Mbakkk Asheee.... " panggil Rozi saat Ashe mau masuk dalam mobil.


Ashe menoleh.


" Kenapa Zi...? "


" Titip salam yaaa....! " kerling Rozi.


" Jaman sekarang tuh titipnya makan siang....! " celetuk Dimas.


Rozi terrsungut. Ashe hanya tertawa.


" Iyaa. Nanti aku sampein....! " kata Ashe.


Ashe masuk mobil diikuti Dimas.


" Baik - baik di rumah Zi. Jangan sampai Bapak sama Mamak hilang... " pesan Dimas.


" Iyaaa.... " sahut Rozi menggaruk kepala. Nyengir.


Dimas dan Ashe berangkat satu mobil. Tak lama mereka sampai di JAE pusat.


" Kita turun di parkiran aja Rul...! " kata Ashe.


Dimas mengenyit.


" Kenapa Bu....? " tanya Dimas heran.


" Aku ingin liat reaksi para wanita melihat " Bin Bin " ku... " sahut Ashe.


Dimas mendesah kesal.


" Selalu jadi korban " mata genit " wanita...! " kesal Dimas sambil melirik Ashe.


Ashe terkekeh. Dimas mendekat. Ashe langsung mendorong bahu Ashe. Dimas nyengir.


Ashe turun lebih dulu. Menyusul Dimas. Ashe mendekati Dimas dan mengancingkan jas Dimas juga membetulkan dasinya.


" Jalanlah lebih dulu Bie... " kata Ashe.


" Baiklah....! Jangan cemburu, aku ingin tebar pesona " sahut Dimas sambil memasukkan dua tangannya ke kantong saku celana. Gayanya benar - benar A bin. Ashe menggeleng kepala. Itu yang membuatnya luluh lantah saat bersama Dimas.


Dimas memutar dan melewati lobby dengan gaya tak berubah. Ashe mengikuti dengan jarak di belakang Dimas. Nasrul dan Lino juga sama. Sejak tadi, Dimas memang hanya ingin dikawal dari jauh.


Benar saja, begitu masuk lobby. Satpam saja menatapnya tercengang. Apalagi para karyawan wanita. Semua langsung menatap ke arah Dimas. Saling berbisik dengan mata berbinar. Bagaimana tidak, ia begitu muda dan tampan.


Dimas berlenggang santai menuju lift. Ashe tersenyum melihat keadaan. Semua yang melihat Ashe langsung menunduk hormat menyapa. Ashe tersenyum membalasnya. Dimas menunggu di pintu lift. Begitu Ashe sampai, Dimas langsung menekan tombol lift. Pintu terbuka dan Dimas mengandeng tangan Ashe. Semua orang menatap heran dan saling berbisik.


" Bukannya kemarin pacar Bu Ashe OB ya...! " biisik seseorang dari belakang.


Dimas dan Ashe mendengarnya. Hanya tersenyum saling melirik.


" Stttt....! Biarin aja. Masak Bu Ashe mau pacaran sama OB ? Udah didepak kalii....! "


" Tampan sekali ! Pasti sangat kaya... ! Aku sangat iri dengan Bu Ashe " tambah temannya berbisik.


" Stttt... Kamu kan udah punya pacar "


" Pacarku tak setampan dia... "


Ting, pintu terbuka. Ashe dan Dimas keluar.


" Ganti baju bentar aja penggemarnya udah banyak... " sindir Ashe.


Tangan Dimas satu masuk saku satu mengenggan tangan Ashe.


" Itu belum ada fans fanatik...! " sahut Dimas tersenyum.


" Semoga kamu kuat dengan godaan... " balas Ashe.


" 2 tahun itu penuh godaan Bu.... "


" Hahaha.... "


" Jangan ketawa keras - keras. Ada yang liatin kamu tuh...! " tunjuk Dimas denga ekspresi wajahnya.


Mereka sudah sampai divisi Ashe. Semua orang menatap Ashe dan Dimas. Penasaran dengan gandengan Bu Ashe. Karena biasanya Dimas mengenakan baju OB. Jadi karyawan di divisi Ashe menatap mereka heran. Lebih tepatnya terkagum - kagum dengan penampilan Dimas. Pak Argo yang siap memimpin breafing tersenyum mengangguk pada Dimas. Ia tahu itu atasannya.


Ashe tersipu malu. Melepas tangannya dari genggaman Dimas.


" Aku breafing dulu sebentar...! " kata Ashe.


" Iya. Aku ke atas ya...! " kata Dimas tersenyum. Mendekat.


Ashe mendorongnya.


" Tahu tempatt Bie.... " bisik Ashe melotot.


Dimas terkekeh. Melambaikan tangan pada Ashe dan naik lift lagi ke lantai atas tempat ruangannya dan Pak Fajar.


****


" Selamat pagi...! " sapa Ashe pada semua karyawan di divisinya dengan senyum cerah.


" Selamat pagi juga Bu... " sahut para karyawan Ashe dengan senyum.


" Tunggu sebentar. Kita mulai breafingnya...! " kata Ashe sambil masuk ke ruangannya.


Ia meletakkan tasnya dan kemudian keluar. Menempatkan diri dekat Pak Argo yang langsung menyapanya.


" Bu Ashe punya pengawal pribadi yang sangat tampan... " bisik Pak Argo penuh senyum.


" Pak Argo bisa saja...! Sudah mulai breafingnya...! " kata Ashe.


Pak Argo mengiyakan. Dema juga memberikan arahan untuk pagi itu. Tak lama memang. Tapi setidaknya ada petunjuk dan evaluasi secara teknis untuk bekerja.


Ashe masuk ke ruangannya diikuti Dema.


" Buu. Pak Dimas udah ganti profesi...? " tanya Dema.


" Kalau dia betah...! " sahut Ashe sambil duduk.


Dema meletakkan setumpuk berkas.


" ARASA sudah mengirimkan proposal ulang Bu...! " kata Dema.


" Baiklah. Saya liat dulu proposalnya. Oiya Dem. Kamu dapet salam... " kata Ashe.


Dema mengenyit dahi.


" Dari siapa ? " tanya Dema.


" Penggemar rahasiamu....! "


" Buuu....! Jangan suka teka - teki deh. Saya ini orang nggak mampu Bu. Nanti yang suka saya kecewa... " sahut Dema.


" Dia hanya kecewa kalau kamu sudah punya pacar...! "


Dema tersenyum malu. Hubungan percintaannya juga lebih sering kandas karena masalah ekonomi keluarga Dema.


" Saya pasrah Bu...! " Dema tertunduk lesu.


" Tenang aja. Dia tidak memandang status sosial.... " Ashe memperlihatkan Hpnya karena telah mengirim no Dema ke Rozi.


" Itu, nomornya udah aku kirim Dem. Namanya Rozi, adiknya Pak Dimas.... "


" Haaaaaah..... " Dema kaget.


" Iyaaa....! " tegas Ashe.


" Adik kandung Bu....? "


" He'em. Kamu ketemu kan kemarin pas ke rumahku.... ? "


Dema mengingat. Tertunduk dengan senyum malu. Ashe membaca itu.


" Kayaknya ada sesuatu...! " senyum Ashe mengoda.


Dema tersenyum malu.


" Bu, saya permisi. Saya siapin berkas untuk ketemu klien....! " Dema buru - buru pamit.


Ashe hanya tersenyum. Tak bisa dibohongi. Ashe menatap mejanya yang penuh berkas. Tanpa gelas besar Dimas. Ashe mendesah. Merindukan OB itu. 😄


****


" Paaa....! "Dimas muncul di pintu ruang kerja Pak Fajar.


" Heeiii....! Masuk Dim.... " kata Pak Fajar.


Dimas masuk dan duduk di kursi depan Pak Fajar.


" Sudah lihat ruanganmu Dim ? " tanya Pak Fajar.


" Sudah Pa. Terima kasih. Aku sudah di pecat Pak Isman... "


" Hahaha....! Nanti kalau mau nyapu atau nyikat wc, bantuin Mama aja... "


" Iyalah. Sekarang nggak bisa ngepel lagi disini...! "


" Hahaha.... Dasar kamu ini...! " kekeh Pak Fajar.


Tok, tok...


Anita, sekertaris Pak Fajar muncul di pintu.


" Pak, Pak Andana dan Pak Gena sudah datang...! " kata Anita.


" Baik. Suruh mereka masuk....! " kata Pak Fajar.


Anita menutup pintu lagi. Tak lama, Pak Andana dan Gena masuk ruangan. Mereka langsung fokus ke Dimas. Apalagi Gena. Dimas tersenyum ke arah mereka. Senyum palsu. Bagaimana tidak, itu musuh dalam terpal bagi Dimas.


" Selamat datang Pak Andana...! " Pak Fajar langsung menyalami Pak Andana. Kemudian beralih ke Gena.


" Terima kasih Pak Fajar. Tempatmu tak pernah tergeser ya...! " kata Pak Andana penuh senyum.


" Pak Andana bisa saja. Saya pasti tergeser sebentar lagi...! " sahut Pak Fajar melepaskan jabatan tangannya. Beralih menyalami Gena.


" Selamat pagi Pak....! " sapa Gena terpaksa tersenyum.


Bagaimanapun. Perasaannya masih tertinggal dengan Ashe. Meski kini ia telah menikah dengan Kharisma. Kini ia berhadapan langsung dengan camer gagalnya itu.


" Selamat pagi juga Mas Gena....! Bagaimana kabar anda ? Saya bahkan terlambat mendengar pernikahan anda ! " sambut Pak Fajar.


" Baik Pak. Tidak apa - apa " sahut Gena kikuk.


" Ini siapa Pak. Fajar ? Assistenmu atau...? " tanya Pak Andana menunjuk Dimas.


" Oh, ini menantu saya ! Suaminya Ashe ! Kenalkan, Dimas Bagaskara..." sahut Pak Fajar super PeDe.


Dimas menghela nafas. Mulai deh, keluh Dimas.


Pak Andana tercengang. Cukup terkejut. Apalagi Gena. Pak Andana mengulurkan tangan pada Dimas. Dimas menyambutnya.


" Dimas Pak...! "


" Saya Andana...! Dan ini anak saya Gena... "


Dimas tersenyum mengangguk.


" Tapi saya belum mendengar pernikahan Ashe ? " tanya Pak Andana.


" Saya baru menyiapkan resepsi...! " sahut Pak Fajar.


" Ohhh...! Baiklah, saya tunggu undangannya...! Selamat Pak Dimas... " kata Pak. Andana.


" Terima kasih Pak... " sahut Dimas .


Gena menatap Dimas tajam. Sementara cenayang level dewa itu tentu saja tak acuh.


" Baiklah, silahkan duduk....! " kata Pak Fajar dan menuntun Pak Andana serta Gena ke ruang tamunya.


Mereka duduk. Nasrul masuk dan menyerahkan dokumen ke meja di hadapan Pak Fajar.


" Sepertinya ada hal serius yang ingin Pak Fajar bicarakan ? " tanya Pak Andana.


" Tentu saja. Ini berkaitan dengan proyek kita di Kalimantan... " Pak Fajar menyerahkan dokumen ke Pak Andana.


Pak Andana menerima dan membacanya.


" Apa ini maksudnya...? " Pak Andana seolah tak terima. Ia menyerahkan dokumen kepada Gena. Gena juga membacanya.


" Ada beberapa point kesepakatan yang sudah dilanggar pihak Gena Grup. Dan saya tidak bisa mentolerir hal itu...! Sesuai perjanjian. Saham Gena Grup saya ambil 20 %....! " kata Pak Fajar.


" 20 %...? Pak Fajar...! Ini tidak bisa seperti itu...! Apakah ini sudah tidak bisa dibicarakan lagi...? " tanya Pak Andana.


" Pak Andana, saya menelan kerugian yang besar dampak dari proyek ini...! Bukahkan kamu masih tersokong dari besan anda....? " sindir Pak Fajar.


" Gena ? Kamu ini kerja apa sih ? " toleh Pak Andana.


" Tapi Pa...! " elak Gena.


" Bagaimana ini bisa terjadi...? " tanya Pak Andana.


" Sebaiknya Pak Andana tanyakan langsung pada manajemen Bapak. Itu pun semua sudah di rombak oleh menantu saya... " kata Pak Fajar.


Pak Andana mendesah kesal. Tak ada manajemen GG di Kalimantan yang berbicara padanya. Langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar tanpa pamit. Gena mengikuti di belakangnya. Menutup pintu kasar. Dimas juga ikut berdiri dan berjalan.


" Heeeh...! Kamu mau kemana ? " tanya Pak Fajar.


" Nemanin Ashe ketemu mantan Pa...! " sahut Dimas santai.


" Heeeh..... "


" Apaa Papa tersayang....? " Dimas berbalik.


" Kamu apakan manajemen GG sampai bisa bungkam hingga sekarang ? " heran Pak Fajar.


Bukan hanya sekali ini kinerja Dimas memuaskannya. Hampir segala hal Dimas sempurna. Dimas tersenyum manis. Mendekat ke calon mertuanya dan merangkul pundak Pak Fajar.


" Pa, ucapan manis itu biasanya kesannya berbeda....! " bisik Dimas.


" Apaanya yang manis...? Semua orang mengkeret begitu mendengar kamu berbicara.... " sanggah Pak Fajar.


" Hehehhe.... itulah manajemen tukang sapu...! Papa tidak akan tahu... " kata Dimas.


Pak Fajar mendesah kesal.


" Dasaaaar kamuuu.... "


Dimas terkekeh. Melepaskan rangkulannya.


" Ya udah Pa. Aku ketemu Ashe dulu... " pamit Dimas.


" Apa kerjamu ITUU...sekarang...? " tanya Pak Fajar.


" Iyalah. Menjaga hati dan cinta itu lebih penting disamping harta... "


" Hmmmpppppfff.... dah. Sono pergi....! Muak Papa...! Jadi pingin pulang ketemu Mama.... " sungut Pak Fajar.


" Hahahhahaah.....! Mau ngapain...? Udah tua, jangan pijit mulu...! Ntar encok... " sindir Dimas. " Jalannya ginniiii.... " goda Dimas sambil memegang pinggangnya.


" Njiiiir loe ya....! " Pak Fajar mengacungkan kepalnya.


Dimas terkekeh dibalik pintu. Sangat senang menggoda sang mertua. Anita yang di meja sekretaris menatap heran Dimas. Tapi enggan bertanya.


****


Dimas menekan tombol lift. Turun ke bawah. Lift seperti biasa penuh. Dimas menjejal masuk. Beberapa karyawan wanita berbisik menatap Dimas. Mereka kebanyakan belum tahu siapa Dimas. Karena memang setiap bekerja, Dimas selalu mengenakan masker.


Dimas keluar dan menuju ruang Ashe. Karyawan Ashe menatapnya tak bergaming. Terpesona. Dimas hanya tersenyum sebari mengangguk. Mengetuk pintu dan membukanya. Ini tempat pertama kali ia bekerja di pusat.


Ashe menengadah. Berpaling dari layar laptopnya, tersenyum menatap Dimas dan mengulurkan dua tangannya sambil masih tetap duduk.


" Kenapa ? " tanya Dimas mendekat dan menarik tangan Ashe. Duduk di meja Ashe.


" Kenapa kesini...? " Ashe balik tanya.


" Oiya...! Yang mau ketemu Adit. Aku tak dibutuhkan... " Dimas pura - pura berpaling.


Ashe tertawa. Ia berdiri dan menarik tangan Dimas untuk duduk di kursinya.


" Bantuin duluuu... " kata Ashe menyerahkan map berisi proposal kontrak dengan ARASA.


" Baca cepat Bie...! Kamu yang bicara ya...! " desak Ashe.


" Kalau aku nggak mau....? " tantang Dimas.


" Harus mau... "


" Kenapa maksa....? "


" Aku tak maksaaa....! Cuma minta tolong dengan penekanan. Aku males ketemu Adit...! "


" Bedanya apa dengan maksa...? "


" Beda Bie.... "


" Apaa upahnya ini....? " toleh Dimas.


" Nanti upahnya dong. Kerja dulu baru gajian...! "


" Ya udah Nyonyaaa....! " kata Dimas tersenyum.


Ashe beranjak dan duduk di depan Dimas. Menandatangani dokumen yang bertumpuk sejak tadi. Dimas hanya tersenyum Ashe memang selalu keteteran hingga pekerjaannya menumpuk.


" Bu, pihak ARASA sudah menunggu...! " Dema muncul di pintu.


Ashe menatap Dimas.


" Pergilah Bie, sebelum rapat direksi. Lakukan cepat...! " kata Ashe.


" Cepat itu tak enak Bu. Enaknya kalau lama dan pelan..! " goda Dimas.


Ashe mendelik. Masih sempat saja Dimas menggodanya.


" Hehe.... " Dimas beranjak.


" Tunggu sini. Nanti aku jemput...! Kasbon upah dong.... " goda Dimas lagi sambil menyenggol Ashe. Ashe menampiknya.


" Ishhh....! Ntar aja di rumahh....! " kata Ashe.


Dimas nyengir. Tak dapat apa yang dia mau. Ashe benar - benar membuatnya ketagihan. Jiwanya seolah lengket dengan Ashe. Mereka bak gelas dengan tutupnya. Seolah mulai tak terpisahkan.