Perfect Boy

Perfect Boy
30.Tak Bilang Kembali



Dimas sejenak menikmati obrolannya dengan Ashe malam itu. Menggoda Ashe dengan tak hentinya. Membuat Ashe kesal namun senang. Hingga Dimas mengakhiri sambungan vcnya. Niat Ashe ingin tidur. Tapi tak bisa dan lebih memilih mantengin N******nya. Drama Korea seolah tak mengizinkan matanya terpejam.


Ashe berangkat lebih pagi. Pak Fajar dan Bu Fatimah belum pulang dari luar kota.


Dimas : Bergadang terus.......


Dimas : Moga - moga Neflixnya eroooorrr...


Dimas : Viu nya macetttt...


Dimas : SAYA CEMBURU BERAAAATTT...


Dimas : Bu siap bergadangin oppa koreamu itu, tapi bergadangin aku nggak mau...


Dimas : DRAKORRRR....


Dimas : Payaaaaah.... kalah pamor....!!


Dimas : 👩‍❤️‍💋‍👩👩‍❤️‍💋‍👩😘😘😘😘😘😘


Pesan Dimas pagi - pagi membuat Ashe tersungut - sungut. Bagaimana tidak. Ledekan Dimas membuatnya makin kesal tapi senang karena ternyata Dimas perhatian.


Ashe : ☠️☠️☠️☠️👻👻👻👻


Dimas tersenyum membaca pesan Ashe.


Dimas : 👩‍❤️‍💋‍👩🥰😘😘😘😘😘


Ashe : 😘😘😘😘


Dimas : Liat yaa....! Jangan kabur nanti saat ku cium...!!


Ashe : Memangnya selama ini aku kabur...??


Dimas : Tentu sajaa... MENUNGGU... dicium lagi...


Ashe : 😱😱😱🤮🤮🤮


Dimas tertawa. Seorang stafnya menghentikannya untuk mengirim pesan kembali pada Ashe. Sementara Dema juga muncul dan memberi tahu kalau Pak Argo sudah menunggu untuk rapat.


****


Dimas bernafas lega. Setidaknya sedikit masalah pekerjaannya terurai. Meski Dimas menyadari masih ada masalah lain di depannya.


" Rul...!!! " panggil Dimas.


" Ya Pak...!! " Nasrul mendekat pada Dimas.


" Berkemaslah. Bereskan semua berkas yang harus dibawa pulang "


" Ya Pak. Kita mau pulang kapan ?? "


" Lusa saja. Selesaikan dulu semua. Nanti kalau sudah, baru pesan tiket pulang. Jangan beritahu siapa pun "


" Baik Pak " sahut Nasrul seraya pamit.


Dimas kembali fokus pada laptopnya. Menyelesaikan laporannya. Sore ini ia masih ada monitoring.


*****


Ashe menyelesaikan rapatnya. Ia kembali ke ruang kerjanya. Menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk bak pegawai pabrik. Ashe menghela nafas. Perutnya minta diisi. Ia ingin makan sesuatu yang mengenyangkan. Pikirannya membayangkan nasi padang. Makan lauk yang banyak dan menghabiskan nasinya terakhir. Ashe beranjak. Ashe pergi sendiri. Dema setelah selesai rapat minta ijin keluar. Ashe mengendarai mobilnya mencari restoran padang. Ashe parkir. Ia kemudian masuk dan pesan makanan seperti biasa. Pelayan resto tampak mulai paham dengan Ashe. Karena beberapa kali Ashe makan dengan pesan menu yang nyleneh.


Ashe celingukan mencari meja, karena tempat itu lumayan ramai. Maklum jam makan siang. Ashe menemukan meja dan duduk menunggu makanannya.


Tak lama, makanan Ashe datang. Ashe segera mencuci tangan dan mulai melahap lauknya. Ayam pop, ayam bakar, mencolek sambel ijo. Memakan ikan kembungnya. Ya ampun, Ashe cuek dengan keadaan sekitar saat kelaparan.


Mendadak, seorang cowok duduk di depan Ashe.


" Mbak, maaf ya ! Saya duduk sini. Saya nggak dapet tempat soalnya " kata cowok itu.


" Iya, nggak papa " sahut Ashe seraya tetap makan.


Ia hanya menatap sekilas cowok di depannya.


Cowok itu memperhatikan Ashe yang sedang makan. Ia mengenyit dahi heran. Seolah mengingat sesuatu.


" Mbak sendirian ? Nggak ada temennya ?? " tanya cowok itu lagi.


Ashe beralih menatap cowok didepannya. Ia seolah familiar dengan wajah cowok itu. Masih tampak anak kuliahan.


" Sendirian. Temennya lagi pergi " sahut Ashe.


" Mbak ngabisin semua makanan itu ?? "


" Iyaa. Kenapa ?? Mau bilang kalau cowok nggak suka cewek rakus kayak saya ya ?? " Ashe ketus.


" Hahaha... bukan Mbak. Kok habis...?? "


" Habiss saja. Bahkan kalau kamu masih ngomong aja juga bisa aku habisin jadi lauk "


" Diiih.... serem amat !!! "


Ashe nyengir. Melanjutkan makan. Cowok di depan Ashe tampak menerima telepon. Ashe mendengarnya jelas. Mendengar suara orang yang menelepon cowok di depannya dengan jelas. Bahkan 100 % pendengaran Ashe tak salah.


" Kenapa Bang....?? "


" Kamu dimana ?? "


" Aku di Jakarta. Lagi makan di restoran padang "


" Ya udah. Nanti tidur di rumah aja. Udah ku kirim alamatnya "


" Iya Bang. Kapan balik ?? "


" Belum tahuu .. "


" Bang Dimas harus segera balik. Sebelum masalahnya makin ribet "


" Ribet kenapa ?? "


" Mamak udah panas pingin punya mantuu... "


" B*******k loeee....!! "


Ashe tahu jelas itu suara siapa. Ashe mencuci tangan dan mengelap dengan tisu. Tanpa sopan santun Ashe mengambil Hp cowok didepannya itu. Cowok itu tentu saja kaget dan ingin berteriak. Namun tak sampai dan hanya melongo mendengar kata - kata Ashe.


Ashe : Bieee.... ini Ozzzennn ???


Dimas kaget tiba - tiba mendengar suara Ashe.


Dimas : Buuu... ???


Ashe : Iyaaa . Ini Ozeen adikmu ??


Dimas : Hahhaha.... iya. Kenapa Bu bisa disitu ??


Ashe : Aku ingin menyantap daging adikmu...!!


Rozi melongo mendengarnya. Masih mencerna dan otaknya penuh tanda tanya. Siapa orang yang merebut Hpnya dan kini ngobrol dengan kakaknya.


Dimas : Diiih... daging dia pahit. Ntar keracunan. Mending Bu keracunan


cintaku aja...!!


Ashe : Ckkk....! Kamu sudah makan Bie ??


Dimas : Sudah Sayang...! Tolong jitak Ozen kalau kurang ajar sama kamu !


Ashe : Dia kayaknya aneh melihatku makan banyak lauk.


Dimas : Jangan pedulikan manusia satu itu. Udah, kasih Hpnya biar aku


ngomong...! !


Ashe langsung memberikan Hp kepada Rozi. Dengan bengong Rozi menerimanya.


Rozi : Appaa Bang ?? Siapa ini yang didepanku..??


Suara Rozi terdengar pasrah. Masalahnya segala hidup dan matinya seolah di tangan abangnya yang satu itu. Jadi sebisa mungkin Rozi tidak akan membuat masalah dalam hal apapun.


Dimas : Ituu kakak iparmu...!!


Rozi melotot tak percaya. Ia kembali menatap Ashe. Ashe juga menatap Rozi penuh kemenangan. Ia memang belum pernah bertemu adiknya Dimas. Namun feeling Ashe rupanya cukup tajam.


***Rozi : Serius loe Bang...! Sepertinya dia high class...!!


Dimas : Memang...! Temenin kakak loe. Jangan kurang ajar...!!


Rozi : Iyaaa***...!!


Dimas mematikan Hpnya. Rozi menatap Ashe segan.


" Maaf Mbak ! Bang Dimas soalnya nggak cerita punya pacar " kata Rozi.


" Iyaa. Udah makan tuh. Kasian makanannya udah dari tadi " sahut Ashe.


Rozi mengangguk dan mulai makan.


" Siapa namanya Mbak ? "


" Ashe... "


" Aku Rozi... "


" Kamu masih kuliah Zi ?? " tanya Ashe.


" Iya Mbak... "


" Jurusan apa ? "


" IT... "


" Kenapa kamu takut sekali dengan abangmu ? "


" Bukan takut...! Cuma segan. Bang Dimas yang berjuang buat biaya saya dan Silia kuliah dan sekolah. Gaji bapak cuma pas - pasan untuk makan ".


Ashe mengangguk.


" Kamu andalan abangmu kan ?? "


Rozi mengangguk.


" Ada apa kamu kesini ? Ada masalah penting ? "


Rozi ragu mengatakannya.


" Nggak papa kalau kamu nggak mau bilang ! "


" Bang Dimas nyuruh saya nyari Roni ! "


" Roni kabur kesini...? "


" Mbak tahuu masalah Roni..?? "


" Tentu saja Ozeeen....! "


Rozi terkekeh.


" Oiya, Bang Dimas pasti cerita ya. Kan mbak pacarnya... eh kakak ipar " kekeh Rozi.


" Iyaa. Sudah selesaikan makanmu. Kamu mau ikut ke kantorku ? Aku ada meeting soalnya "


" Makasih Mbak. Tapi urusanku belum selesai Ntar Bang Dimas ngomel kalau kerjaku lelet "


Ashe tertawa. Ia telah menyelesaikan makannya.


" Ya sudah. Aku tinggal ya. Makananmu biar aku bayar " kata Ashe seraya beranjak. " Sampai jumpa Zi ! "


" Ya Mbak. Makasih "


Ashe mengangguk. Ia membayar makanannya dan Rozi. Kemudian kembali ke kantor.


****


Rozi sendiri menyelesaikan tugasnya memburu Roni. Ia udah hampir seperti interpol. Tugasnya hanya mencari keberadaan Roni dan melapor ke polisi. Dimas sama sekali tak mengizinkan Rozi menyentuh sedikitpun Roni. Selama di Jakarta, Rozi menempati rumah Dimas di kompleks JAE.


Ashe bekerja seperti biasa. Menyelesaikan semua berkas, rapat koordinasi. Meminjau lapangan, dan berbagai pekerjaan lain. Beberapa hari ini Gena dan Adit tak terlalu menganggu Ashe. Hingga Ashe bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


****


Ashe meliukkan pinggangnya. Rapat laporan akhir bulan baru selesai. Ashe sangat mengantuk dan lelah. Ia masih di kantor dan harus menyetir pulang. Lewat jam 18 : 00 jalanana pasti macet luar biasa. Perut Ashe keroncongan.


Ting,


Sebuah pesan masuk, Ashe mengambil Hpnya. Rozi, Ashe mengenyitkan dahi.


Rozi : Mbak , udah mau pulang belum ? Makan dulu nggak ?? Aku laper !!


Ashe : Kenapa loe jadi manja sama gue ??


Rozi : Kan Mbak kakak iparku ! Kemana lagi aku harus minta makan ?


Aku harus irit Mbak !


Ashe : 😁😁😁 Ya, mau makan dimana ??


Rozi : Terserah Mbak ! Yang penting makan !


Ashe : Kamu dimana ??


Rozi menyebut tempatnya. Ashe mengiyakan karena itu tak terlalu jauh dari kantornya. Mereka sepakat bertemu. Kali ini Rozi menemani Ashe makan.


****


Dimas tersenyum membaca pesan Ashe.


Ashe : Biie... adik kamu makan sama aku ! Dia kelaperan. Kamu nggak


kasih duit lebih.


Dimas : Biar belajar nyari duit itu susah !!


Ashe : 😱😱😱😱


Dimas : 😘😘😘😘


Ashe : Tak berasaa....


Dimas : Awas ajaaa....! Nanti begitu ngerasain njerit - jerit ketagihan..


Ashe : 🤭🤭🤭🤭🤭


***Dimas : Makan yang banyak Bu ..


Ashe : 👍👍👍***


Rozi menatap Ashe yang senyum - senyum tak jelas. Ia sudah paham pasti kakaknya yang membuat Ashe begitu.