
Ashe cekikikan meski masih di bawah kungkungan Dimas. Dimas langsung menatapnya kesal tanpa merubah posisi.
" Kamu belum beruntung Bie... " senyum Ashe.
" Terus kapan beruntungnya ini..? " kata Dimas menatap Ashe. Mengecup bibir Ashe sekilas sebelum akhirnya bangun dan melepaskan Ashe.
Ashe ikut duduk di samping Dimas.
" Kamu belum mandi kan ? " terkah Ashe geleyot Dimas.
Dimas menoleh dengan senyum nakal.
" Beluuum...! Mandi bareng ? " kerlingnya nakal.
" Nggak bisaaaa....!! " Ashe menepuk pelan pipi Dimas.
" Kenapa ??? " kenyit Dimas.
" Aku lagi dapeeet... " senyum Ashe sambil beranjak.
Dimas ambruk di kasur. Mukanya langsung lesu. Ashe kembali duduk dan menepuk lutut Dimas. Dimas langsung berisut dan memeluk pinggang Ashe.
" Aku berangkat nggak di kasih bekal...! Pulang juga nggak di kasih makannn.... " keluhnya membuat Ashe tertawa.
" Mandi... ! Terus makan, nanti pasti kenyang... "
" Perutku yang kenyang... "
" Terus yang laperr apaa ? "
" Mulut macannn... "
" Diih... serem amat macannya... "
" Iya sayaaang...! Dia udah kelaparan sekalii... "
" Baiklahh...! Bilangin macannya, tahan bentar lagi. Nanti aku kasih makan... "
" Makan apa ? " goda Dimas.
" " Daging " yang enak... "
" Seriuss...?? "
" Lah, masak boong... "
" Ok. Nanti aku bilang macannya... " Dimas bangun dan duduk di samping Ashe.
Ashe tertawa tertahan. Dimas membetulkan anak rambut di kening Ashe.
" Seneng banget bisa ada di samping kamu Bu... " kata Dimas.
Ashe tersenyum.
" Sama Bie...! Aku juga seneng kamu pulang cepat...! Kiraain betah di sana...! " toleh Ashe.
Dimas tersenyum menatap Ashe. Meringsek dan memeluk Ashe dari samping.
" Kamu nggak tahu aja...? Tanya Nasrul sono...! Aku bela - belain lembur tiap harii. Suami orang aku bawa....! " kata Dimas menatap Ashe.
" Demi apaa ? "
" Demi kamulahh... "
Ashe menatap Dimas. Tersenyum malu. Wajahnya merona. Dadanya berdetak tak karuan.
" Kenapa ? " tatap Dimas.
" Aku kena serangan jantung... "
" Heeeh...! Manaaa ?? Coba aku periksa... " goda Dimas dengan tangan nakalnya.
" Hiiisss....! Maumu ajaa... " tepis Ashe.
" Laah...! Kenapa ? Aku kan cuma pingin mastiin kamu baik - baikk aja... " tetap saja tangan Dimas tak menyerah dengan tepisan tangan Ashe dan meletakkannya di dada Ashe.
Ashe memegang tangan Dimas memastikan tangan sang pacar tak kemana - mana. Tapi jangan tanya, bukan Dimas kalau ia tak suka jail. Tangannya mulai turun.
" Bieee... " tahan Ashe.
" Apaaaa ? " wajah Dimas mendekat.
Ia mengecup bibir Ashe.
" Bibir ini yang membuatku tak kuat pergi jauuh... " kata Dimas menatap Ashe.
" Nyatanya kamu selalu mengalah dari tua... " sungut Ashe.
" Hahaha....! Itu beda cerita sayang...! " Dimas mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Ashe.
" Apa bedanya...! Tengah malam jatahnya ngelonin istrinya kalau yang nyuruh si Pak Tua itu, kamu juga langsung cao... "
" Hahhaha....! Ada yang cemburu ternyata...! "
" Siapa yang cemburu...? " elak Ashe.
" Oh nggak cemburuuu....? Minta di keloni....? " goda Dimas.
" Siapa yang minta dikelonin...? Masih siang juga...! "
" Hahaha....! Nanti malemlah.... "
" Udaah sihh...! Mandi dulu sana Biee... " dorong Ashe pelan.
Kalau Ashe nggak dapet, ia pasti sudah " dimakan " Dimas. Pasalnya, Dimas ngusel melulu.
" Manddiiin doongg... " pinta Dimas manja.
" Kamu itu udah gede... "
" Makin gede makin enak kali... "
" Apanyaaa ? "
" Ituuuunyaaa.... "
" Apa sih Bie....? Jangan pakai bahasa kode melulu.... "
" Hahhahha....! Kenapa kamu sangat cantik....? "
" Kenapa kamu sangat ganteng....? "
" Hahhha.... ditanya malah balik tanya... "
" Terus kalau aku jelek gimana ? "
" Lah terus kalau aku yang jelek gimana ? "
" Yang penting kamu kayaa... "
" Matreeee.... " toyor Dimas.
Ashe terkekeh.
" Udah ayo mandi...! " kata Ashe bermaksud melepas diri.
" Bareeengg.... " rengek Dimas.
" Jangan....! Nanti kamu ketakutann.... "
" Cium dulu dong... "
Ashe mendelik. Tak urung mendekat dan mengecup pipi Dimas. Dimas menunjuk bibirnya.
" Sekali dapet nambah... " sungut Ashe.
" Itu baru bibir atas... " bisik Dimas membuat Ashe merinding.
" Ayo...! "
" Apaa ? "
Dimas menunjuk bibirnya lagi. Ashe langsung mengecupnya singkat. Dimas tersenyum kegirangan dan melepaskan Ashe.
" Kamu mau mandi sekarang atau nanti Bie...? " tanya Ashe sambil berdiri dan melepas blazzer yang sejak tadi masih ia kenakan. Ashe menuju lemari dan memilih baju untuk ia dan Dimas pakai.
" Kan udah aku bilang bareng... "
Ashe mendelik kesal. Dimas terkekeh. Ia meraih kembali Hpnya dan mengetik sesuatu. Ashe masuk ke kamar mandi. Ia merasa sudah tak nyaman dan ingin segera mandi. Dimas meletakkan Hpnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia duduk di sofa kecil depan lemari yang entah sejak kapan ada di situ. Menunggu Ashe keluar.
" Biee ... " panggil Ashe.
" Apaaa ?? "
" Tolong dong.... "
" Tolong apaa ? "
" B*ku ketinggalan disitu ya...? "
Dimas celingukan. Benar saja, ia menduduki sesuatu di sebelah baju ganti yang Ashe siapakan. Dimas mengambilnya. Tersenyum penuh kenakalan.
" Nggak ada tuhh.... " goda Dimas.
" Ambilin di lemari dong... "
" Nggak usah pakai aja kenapa sih...? " Dimas berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Masiiih sore Bieeee... "
" Kalau malem berarti nggak paakai yaa... "
" Hissss... "
" Hahhahaa....! Nihhh, buka pintunya...! " seru Dimas sambil berjalan ke arah kamar mandi. Ashe membuka pintu kamar mandi sedikit sambil menjulurkan tangan. Tapi kaki Dimas tak kalah jail. Menghalang di pintu kamar mandi hingga Ashe tak bisa menutup pintunya.
" Bie...! Jangan mulai deh...! " kata Ashe.
Dimas terkekeh tapi tak menyingkirkan kakinya.
" Nanti kejepit lho... " kata Ashe lagi.
" Enak lho kejepit... "
" Bieeee.... " rengek Ashe.
Dimas tertawa dan menarik kakinya. Ashe menutup pintu kembali. Menyelesaikan memakai baju. Tak lama ia keluar dengan pakaian rumahan.
" Buruan mandii... " kata Ashe.
" Wangggiiinyaaa.... " kata Dimas langsung menutup pintu kamar mandi.
Ashe terperangah merasakan hangat ciuman Dimas. Tersipu dengan tertawa kecil. Ia kemudian menuju cermin dan menyisir rambut. Hanya sebentar. Dimas sudah keluar hanya dengan berbalut handuk dan langsung nemplok di belakang Ashe di depan cermin. Ashe menggeleng. Harum tubuh Dimas menyengat hidungnya.
" Kenapa kamu ?" tanya Dimas.
" Buruan pakai baju sebelum aku khilaf..." senggol Ashe dengan lengannya pada perut Dimas.
" Aku suka di khilafin kamu kok..."
" Bieee...! "
" Apa sih sayang....?" Dimas malah menempelkan kepalanya pada kepala Ashe.
" Kamu bawain aku apa dari Kalimantan ?"
" Liat aja di kardus tuh..." kata Dimas sambil mengambil baju gantinya. Sangat cuek dan memakainya di situ. Ashe langsung pindah ke sofa dan tak mau melihat ke arah Dimas.Ia mengambil koper Dimas dan mengeluarkan isinya lebih dulu. Baru membuka kardus bawaan Dimas.
*****
Ashe mengeleyot lengan Dimas saat mereka keluar kamar. Hampir magrib. Nasrul yang duduk di sofa depan tivi memasang muka paling manis penuh godaan saat Dimas dan Ashe keluar.
" Kenapa kamu senyum - senyum...? " pelotot Dimas.
" Kunci pintu jangan lupa Pak... " goda Nasrul.
" Emang b*******k loeee... " umpat Dimas.
Nasrul hanya cengegesan. Ia menyembunyikan wajahnya di balik laptop.
" Sabaar ya Rul....! Bos kamu ini sedang penuh kegagalan.. " lerai Ashe.
" Tahan bentar lagi Pakk... " Nasrul tambah menggoda.
Dimas melotot kesal. Nasrul tertawa ringan. Muncul Pak Fajar dari belakang. Ashe menuju dapur. Sementara Dimas menghampiri sang Papa mertua dan menyalaminya. Mereka ngobrol sebentar sebelum makan malam.
Ashe kembali ke kamar setelah makan malam. Ia membereskan keperluan yang akan ia dan Dimas bawa besok. Sementara Dimas dan Nasrul tengah berbicara dengan Pak Fajar di ruang kerja Pak Fajar. Bu Fatimah sendiri juga tengah menyiapkan beberapa keperluan yang akan dia bawa. Tadinya memang mau belakangan. Tapi akhirnya ia dan Pak Fajar juga berangkat bersama esok hari dengan Ashe dan Dimas.
Ashe bersandar di kepala ranjang memainkan Hp saat Dimas membuka pintu kamar. Ashe menoleh sekilas. Dimas langsung menggeser Ashe.
" Geseran dong Bu... " kata Dimas. Padahal sebelahnya lebih lega.
" Ngobrol apa sih ? Ampe malem begini ? " tanya Ashe sambil bergeser.
" Kenapa ? Udah nggak sabar pingin dikelonin ya...? " mulut Dimas emang tak bisa tak jail. Kini Dimas malah memiringkan tubuhnya hingga memeluk pinggang Ashe. Tangannya tak kalah jail. Menyusup ke perut Ashe.
" Apaan cobaa ? " tepuk Ashe pada tangan Dimas yang terasa hangat dan nyaman di sana.
" Udah, taruh Hpnya...! Tidur...! Kita berangkat pagi lho... " kata Dimas.
" Iya Bie... " Ashe meletakkan Hpnya di meja sampingnya. Kemudian merosot dan meletakkan kepala di bantal.
" Bajuku yang mau dibawa udah di siapin...? " tanya Dimas tambah meringsek memeluk Ashe.
" Udaah beres Bie...! Kamu matiin lampu dong... " pinta Ashe.
" Bentar... " Dimas beranjak. Namun tak mematikan lampu. Ia menganti celana dengan celana pendek yang lebih santai untuk tidur. Dimas kemudian mematikan lampu sebelum akhirnya menyusup di bawah selimut menyusul Ashe.
" Coba tangannya di kondisikan Bie... " tepuk Ashe.
" Ini dalam kondisi sangat nyaman Bu....! " tangan Dimas makin meringsek ke atas. Menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman dan kerasan di sana.
" Tapi jangan gerak - gerak coba... " protes Ashe.
Dimas tak peduli.
" Kangen banget Buu...! " bisik Dimas. Ia menarik Ashe lebih ke dalam pelukannya.
" Lepas aja sih ini...! Menganggu acara aja... " tangan Dimas makin bergerilya membasmi penjajah. Ashe terkekeh kegelian. Tangan Dimas cekatan menumpas penjajah dan ia bebas merdeka. Menguasai lahannya dan mengolahnya dengan leluasa.
" Sakiiit Bieee...! Pelan - pelan kenapa ? " tepuk Ashe.
" Hehe...! Maaf, saking gemesnya sih... "
" Habis kalau tidur sama kamu tiap malem...! "
" Siapa bilang...? Nambah kali...! "
" Nambah apa ? "
" Nambah gede... "
" Apanya....? "
" Ini dan ini... " Dimas menepuk dada dan perut Ashe.
" Itu juga nggak instan... "
" Tenang aja...! Aku siap bekerja tiap malam... "
" Maumu.... "
" Nanti kamu juga mau kalau udah ngerasain...! Ihhhh.... " gemas Dimas.
" Hiiiih...! Sakiiit Bie... "
" Hehehe... " Dimas makin ngusel ke leher Ashe.
" Berhenti kenapa sih...? Ini udah nganjel tahu nggakk... " keluh Ashe kegelian.
" Apanya sihhh...?"
Ashe malah menggerakan kakinya menyentuh sesuatu milik Dimas di bawah sana.
" Kamu sih...! "
" Kenapa aku...? "
" Bikin pingiin... "
" Salah siapaaa....? "
" Salah kamulahhh... "
" Enak aja....! " Ashe tak terima.
" Kapan macan ini bisa makan daging enak...? " keluh Dimas.
Ashe terkekeh. Memegangi tangan Dimas yang tak berhenti bermain.
" Pijitin aja kenapa Bie...? "
" Ini aku juga mijitin.... " tangan Dimas megkode dengan mengeraskan pijitannya.
" Di badan...! " ralat Ashe.
" Tapi aku lagi pingin mijit ini... "
" Ngeyelll.... "
" Ngeyeell tapi kamu menikmatinya kan...? " goda Dimas.
" Biee...! "
" Apa sayang ? "
" Tadi kamu bilang ada insiden...? Apaan...? "
" Oh ituu... "
" Itu apa ? "
" Tadinya kan aku mau ngasih prank sama kamu...! Besok aku langsung muncul di bandara. Yang menuin kamu hanya Nasrul dan Faisal. Tapi bingung mau ngumpet dimana...? Terus aku pulang ke rumah Nasrul, eh di sana ada sepupunya, cewek. Aku feeling nggak enak. Ya udah...! Nggak jadi ngeprank... "
" Hahhaha....! Kenapa bisa gitu..? Ceweknya terhipnotis kamu ya...! "
" Iyaaalah...! Aku males cari masalah...! Mending pulang aja...! Bisa meluk kamu ampe puass tanpa tekanan batin... "
" Tumben kamu pinter...? "
" Enak ajaaa....! " toyor Dimas pelan. Tapi kemudian mencium kening Ashe.
" Pulang pada istri itu pilihan paling tepat Pak...! " Ashe menjulurkan tangan memeluk Dimas.
Dimas mencium kening Ashe. Kemudian mengecup bibir Ashe.
" Maaf, niatnya agak burukkk... " kata Dimas.
" Aku kan nggak perlu macem - macem. Aku perlunya itu kamu Bie... "
" Haisss...! Gombal banget sih kamuu... "
" Itu suara hati terdalam Pak... "
" Benarkah....? " tatap Dimas.
" Emangnya aku bohong....? "
" Iya, aku percaya sayang...! " Dimas mengeratkan pelukannya.
Ashe memejamkan mata.
" Sayang, coba lihatlah aku
Seluruh tubuhku inginkan kamu
When I say I love you
Please, baby, say you love me too
Sayang, coba dengar bibirku
Seluruh jiwaku dambakan kamu
When I say I love you
Please, baby, say you love me too "
Mulut Dimas bersenandung pelan membuat nyaman Ashe.
" I love you Bie... " bisik Ashe.
" I love you too Buu... " balas Dimas.
" Dah tidur... "
" Ehemmm.... " tapi tangan Dimas nyelip lagi, mencari tempatnya yang paling nyaman. Ashe membiarkannya. Toh, ia juga merasa begitu nyaman dengan tangan Dimas bertengger disana.