Perfect Boy

Perfect Boy
32.OB Rasa CEO



" Nita, saya mau ketemu Papa " ucap Dimas begitu sampai di depan meja sekretaris Pak Fajar.


Ashe langsung menatap Dimas mendengar ucapan Dimas.


" Bapak di dalam Mas. Eh, ada Mbak Ashe, silahkan mbak " kata Anita ramah.


Ashe nyengir. Langsung berasa anak tiri. Ia mengandeng lengan Dimas masuk ke ruang Pak Fajar.


" Assalamualaikum Pa " Dimas mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam. Yaelaaah.... orang kalau lagi kasmaran ilang kantuknya ya " celetuk Pak Fajar begitu melihat Ashe dan Dimas masuk.


Dimas tersenyum. Mencium tangan Pak Fajar, diikuti Ashe.


" Duduk Dim...! " kata Pak. Fajar.


Sementara Ashe sudah menghempaskan diri di sofa empuk ruang kerja Pak Fajar. Seolah tak peduli urusan dua orang lelaki yang tampak ngobrol serius itu. Ashe membuka gawainya. Melihat referensi drakor yang menarik untuk ditonton.


Cukup lama, obrolan Dimas dan Pak Fajar belum juga kelar. Ashe menatap dua lelaki itu. Pemandangan yang kontras. Satu berbaju OB, satu berjas dan berdasi. Namun justru OB iitu tampak memberi petunjuk teknis dan administratif pada pria setengah baya berjas didepannya. Benar - benar OB rasa CEO. Memang sikap dan tingkah laku Dimas serta pemikiran Dimas jauh out of the box. Karena itu sejak dulu Pak Fajar sangat percaya pada Dimas. Bahkan percaya diri Ashe jatuh cinta pada Dimas.


" Kalian ngabahas lamaran ? " Ashe pura - pura bego.


Pak Fajar dan Dimas menoleh refleks penuh ekspresi yang susah dijelaskan.


" Dimas sudah ngelamar kamu " ucap Pak Fajar. " Mana ada orang dilamar kayak kamu. Nggak bisa dibangunin "


Kali ini Ashe yang nampak kaget. Tapi kemudian menyesali seolah mati saat dia tidur.


" Capeeek Pa " elak Ashe.


" Kan udah yakin diterima juga ya Bu... " celetuk Dimas.


Ashe mengacungkan dua ibu jarinya bersamaan dengan senyum termanisnya.


****


Flash back


Dimas menjejakkan kakinya di bandara setelah lewat jam 23 : 00 wib. Nasrul dan Lino setia mengiringi langkah Dimas. Di ruang tunggu bandara, Faisal menunggunya. Sengaja , Dimas tak memberi tahu Ashe. Dimas yakin Ashe tentu akan nekat menjemputnya saat tahu dia pulang.


" Mas, suruh Bapak pulang kerumah dulu " kata Faisal.


Dimas mengangguk. Setelah Lino dan Nasrul menaikkan barang - barang Dimas ke bagasi mobil mereka pulang ke rumah Pak Fajar.


Pak Fajar ternyata masih menanti Dimas. Mereka ngobrol di ruang kerja Pak Fajar. Dimas menyerahkan semua sisa bukti mark up Gena Grup pada Pak Fajar.


" Pa , sebelumnya saya minta maaf kalau ini bukan waktu yang tepat. Tapi saya udah janji sama Ashe. Begitu pulang saya akan melamar Ashe Pa "


Pak Fajar tersenyum.


" Papa kan memang awalnya jodohin kamu sama Ashe. Mama juga udah setuju. Jadi buat Papa nggak masalah Dim "


" Terima kasih Pa. Secepatnya saya bawa orang tua saya ke sini setelah masalah saya selesai "


" Ya Dim. Meski Nasrul dan Faisal yang membereskannya. Tapi kamu tetap harus memberi klarifikasi "


" Makasih ya Pa. Saya tidak akan seperti ini tanpa Papa "


" Sama - sama Dim. Aku hanya gambaran jalan untukmu. Kamu sendiri yang membangun bagus jalanmu "


Dimas mengangguk.


" Saya boleh ketemu Ashe Pa ?? "


" Tentu saja. Kamu tahu kamarnya kan ? "


Dimas mengangguk.


" Tidurlah disini Dim. Kamar Ashe luas. Atau kamu mau tidur di kamar tamu ! "


" Ya Pa. Tapi saya nggak mau kalau Ashe tahu saya pulang... " cengir Dimas.


Pak Fajar tertawa.


" Suruh Faisal antar kamu pulang ya...! "


Dimas mengangguk. Mencium tangan Pak Fajar dan pergi ke kamar Ashe.


Dimas membuka pintu kamar Ashe. Lampu masih menyala dan terasa sangat sunyi. Dimas menutup pintu kembali. Terlihat Ashe terlelap dalam mimpi indah di atas kasurnya. Dimas mendekat dan membetulkan posisi tidur Ashe. Menarik selimut menutupi tubuh Ashe. Dimas duduk di samping Ashe.


" Buuuuu..... "


Ashe mengeliat.


" Buuuuu..... "


" Hmmmm.... "


Ashe kembali terlelap dan seolah sangat susah membuka mata.


" Saya pulang lho Bu... "


" Hmmm.... "


Dimas tersenyum. Ia mendekat dan mencium kening Ashe. Ashe berusaha membuka mata. Tapi sepertinya sangat sulit.


" Bieee.... " Ashe kembali terlelap.


Dimas tersenyum. Ia kembali mendekat dan mencium bibir Ashe. Ashe yang masih antara sadar dan tidak memegang lengan Dimas.


Ashe kembali terlelap begitu Dimas melepas ciumannya. Dimas tertawa sebari kembali membetulkan selimut dan rambut Ashe.


" Buu, saya pulang ya. Sampai ketemu besok " bisik Dimas yang diakhiri dengan mencium kening dan pipi Ashe.


" Hmmm... " Ashe seolah makin nyaman.


Dimas berdiri dan mematikan lampu. Kemudian menutup pintu kamar Ashe. Dengan diantar Faisal, Dimas pulang ke rumahnya di kompleks JAE.


****


" Papa denger kamu berantem She....? " tanya Pak Fajar.


" Belumm...! Baru tampar - tamparan " sahut Ashe cuek.


Dimas tertawa tertahan.


" Aku rasa kalau aku masuk penjara, Ashe juga bakal ngikut Pa ! " celetuk Dimas.


" Emang kamu berencana masuk penjara ? " tanya Ashe.


" Ya bisa jadiii.....! "


" Ciiih....! Mana ada...? Tuh si Ozzennn nggak bakal biarin kamu lecet... "


" Jelaslah Bu....! Bayaran dia tinggi "


" Siapa Dim ?? " Pak Fajar menyela sambil memeriksa surelnya.


" Rozi Pa "


" Kenapa kamu nggak suruh dia kerja disini saja ? "


" Biar dia selesai kuliah dulu Pa "


" Kan bisa part time. IT kita masih butuh banyak perbaikan setelah kasus GG ini . Kamu juga butuh bantuan... "


" Iya Pa. Soalnya dia tinggal skripsi.. "


" KKN sama kamu ya Bie....! Jadi mafia... " celetuk Ashe.


" Huuussssh.... "


Pak Fajar tertawa.


" Jangan nganggu suami orang kamu She..! Kamu juga bisa cari suami sendiri " ucap Pak Fajar berseloroh.


" Jangan asal sih Pa..! " sahut Ashe.


Dimas terkekeh. Tak hanya dia saja yang suka menggoda Ashe. Pak Fajar yang notabenenya tegas dengan karyawan tapi lebih senang bercanda dengan anak perempuannya itu.


" Asal gimana ?? Kantor heboh kamu didaprat " kata Pak Fajar.


" Papa aja kurang kerjaan. Kita bukan kantor gosip kenapa punya redaksi kantor ? "


" Kan buat publikasi... "


" Publikasi salah alamat... ! Ayo Bie... pulang ! " Ashe beranjak dan mendekati Dimas. Nempel pada bahu Dimas.


" Pulang kemana ? Aku harus kerja " ucap Dimas.


" Aku ngantuk. Udah nggak konsen "


" Ke rumah...?? " bisik Dimas.


" Ada Ozen... " Ashe balas berbisik.


Pak Fajar menatap mereka curiga.


" Planning apa itu ? " selidik Pak Fajar.


Dimas dan Ashe menoleh.


" Bolooosss Pa.... " sahut Ashe.


" Issssh....! Dah pergi sana ! Terserah kemana kalian mau ? Oiya... kamu mau pulang kampung kapan Dim ?? " tanya Pak Fajar.


" Tunggu urusan satu ini selesai Pa...! " tunjuk Dimas pada Ashe.


Ashe mencibir. Menarik tangan Dimas. Dimas mengikuti rajukan Ashe setelah berpamitan pada Pak Fajar.


Mereka memasuki lift menuju lobby. Begitu keluar lift semua orang memandang Ashe dan Dimas. Bagaimana tidak, semua orang mengenal Ashe sebagai atasan mereka. Dan kini turun pamor karena bergandengan dengan seorang OB.


Ashe menunggu di pintu masuk. Dimas mengambil mobil Ashe di basement karena tak mungkin dia menyuruh security. Security ini tak tahu siapa Dimas 😂.


" Bu mau kemana ?? " tanya Dimas saat mereka sudah melaju di jalanan.


" Pulang aja ke rumahku Bie.... "


" Ok....! "


" Apa rasanya jadi OB ? " tanya Ashe.


" Nyaman... "


" Jadi CEO...?? "


" Hmmm.... nyaman juga sih. Otakku berkembang. Kalau OB yang tentu skill nyapu dan ngepel harus bisa... "


" Hahahha.... Kamu itu aneh ! Apa nyapu dan ngepel favoritmu kayaknya "


" Hahhaaha....! Karena itu pekerjaan pertamaku Bu. Aku menyapu jalan dan dibayar harian " tatap Dimas sejenak sesaat kemudian fokus pada jalan didepannya.


" Benarkah ?? "


" Iya. Dan aku bahkan tidur di emper toko. Saking nggak punya duit dan hanya pas buat makan. Besok harus mikir nyari duit lagi "


Ashe menatap Dimas tak percaya. Dimas hanya tersenyum.


Dimas menjalankan mobilnya menuju rumah Ashe. Tak lama mereka sampai.


" Maaaaa...... " teriak Ashe.


" Heeeeh.... " senggol Dimas yang berjalan di samping Ashe.


" Assalamualaikum.... " salam Dimas.


Ashe nyengir sambil terus berjalan masuk.


" Waalaikumsalam... " Bu Fatimah muncul dari halaman belakang , " kenapa teriak - teriak ? Udah sadar ??? " tatap Bu Fatimah pada Ashe.


Ashe hanya nyengir kuda dan mencium punggung tangan Bu Fatimah. Dimas melakukan hal yang sama.


" Ohhh.... sama pawangnya ! " sindir Bu Fatimah.


Sama seperti Pak Fajar, dia sangat suka menggoda Ashe.


" Apa sih Ma. Emang aku macan... "


" Macan betina.... " sela Dimas langsung duduk di sofa ruang tamu. Entah kenapa, kantuknya terasa menyerang.


Ashe mendelik sebal, " jangan sampai Mama tahu... "


" Tahu apa ?? " jelas saja Bu Fatimah mendengarnya, dia masih berdiri di samping Ashe.


" Hehhehehe.... "


" Apa Dim.... ? " tatap Bu Fatimah.


Tak ada gunanya bertanya pada Ashe.


" Ashe habis BERANTEM... sama istrinya Gena "


" Oiya...? Siapa yang menang ? "


Ashe mendelik mendengar pertanyaan Mamanya.


" Baru seri Ma.... " jawaban Dimas membuat Ashe manyun. Menghempaskan tubuhnya disamping Dimas. Bu Fatimah besedekap menatap Ashe dan Dimas.


" Kamu ini She...! " omelnya.


" Apa sih Ma...? Aku kan udah putus sama Gena. Dia aja yang ngejar - ngejar aku "


" PD banget sih... " toyor Dimas.


" Emang iyaa.....!! " Ashe tak terima.


" Sudaah....! Kalian udah makan belum. Mama masak lho....! Tadi katanya Papa mau pulang...! "


Ashe dan Dimas bertatapan seolah impian mereka pulang ke rumah terwujud. Mereka langsung berdiri bersamaan dan berlari menuju meja makan.


Bu Fatimah menggeleng tak percaya melihat anak dan calon mantunya itu.


Ashe dan Dimas duduk di kursinya masing - masing. Bu Fatimah ikut duduk.


" Nggak nunggu Papa ?? " tanya Bu Fatimah.


Tiba - tiba terdengar bunyi klakson mobil. Bu Fatimah kembali bangkit dan berjalan ke ruang depan. Benar saja Pak Fajar muncul bersama Bu Fatimah. Ia langsung bergabung dengan Ashe dan Dimas. Mereka kemudian makan siang bersama.


" Ya ampuun Bieee....! " Ashe mendadak berhenti makan.


" Kenapa Bu....?? "


" Ozzzen.....!! "


" Astafirullah.... " Dimas baru inget adiknya.


" Dia udah makan belum Bie ? Dia suka sekali ngirit " kata Ashe.


Dimas kini nyengir. Ingat adiknya itu.


" Dimana dia Dim. Panggil saja kesini untuk makan ! " kata Pak Fajar.


" Tadi aku hubungi nggak bisa Pa. Mungkin dia tidur... "


" Ya udah, panggil dia kesini nanti. Papa juga pingin kenal "


Dimas mengiyakan. Mereka melanjutkan makan. Selesai makan Pak Fajar kembali ke kantor. Sementara Dimas benar - benar bolos untuk menebus ciuman colongannya tadi malam. Pak Fajar terkekeh dan mengacungkan ibu jari begitu Dimas membisikkan hal itu . Apalagi ini bujukannya sebelum pulang kampung.