Perfect Boy

Perfect Boy
102. Aku kurang update ?



" Ihhh apaan siihhh ? Orang kamu yang mau cerita kok ngatain aku kurang update ! " Ashe tak terima dan menatap tajam pada Dimas yang tiduran di pahanya. Dimas juga menengadah menatap Ashe. Tapi justru ia tersenyum dengan tangan jail. Satu menyusup ke baju Ashe, satu membelai wajah Ashe.


" Teruskann dulu iniii " Dimas memejamkan mata.


" Tangannya cobaaaa "


" Iyaa sayang " sahut Dimas tanpa berniat memindahkan tangannya. Tetep jail di tempatnya.


" Kamu tahu Gena ? "


" Ihhh.. jangan ngaco deh ! " tepuk Ashe gemas.


" Hehe... Mantan yaaa ? Lanjut nggak nih ? "


" Bodoooo... " kesal Ashe, padahal dalam hati kepo.


" Hihihi...! Gena jadi tersangka trading ! Kerugian korban hampir 2, 5 T. Kini semua aset di jual. Termasuk saham GG di JAE Grup. Papa sedang negosiasi Bu ! "


" Haaahh... Banyak amat. Itu duit semua Bie ? "


" Ya enggak. Mereka juga main aset "


" Alhamdullilaahhh... "


" Kok alhamdullilahh ? "


" Ya alhamdullilah aku selingkuh sama kamuu ! Enggak nikah sama dia "


" Hisss...! Jadi sampai sekarang masih selingkuhan nihhh ? "


" Iyaaa. Selingkuhan di kasurrr ! "


" Mana bisaaa ? Pelukan doang kok "


" Terus istrinya gimana ? "


" Depresilah Bu ! Secara kan istrinya Gena high sosiality . Mainnya keluar negeri dan suka borong produk branded. Beda sama kamu. Levelnya cuma sibuk nyari tukang jajanan... " toel Dimas di dada Ashe.


" Hiiihhh apaaan sihh ! " kesal Ashe.


Tangan Dimas emang tak bisa tak jail. Dimas terkekeh.


" Udah selesai Bie... "


" Tapi aku masih mau seperti ini ! " elus Dimas di pipi Ashe.


" Aku pegel. Tiduran aja sihh "


Dimas bangun dan membetulkan posisinya. Kini mereka sudah nyaman di bawah selimut dengan berpelukan.


" Buuu.... "


" Hmmmm ! "


" Aku beli rumahhh... "


" Belinya berapa ? Buat siapa ? Terus belinya dimana ? "


Dimas mengenyit menatap Ashe yang seolah tak sadar menanyakan hal itu. Ashe balik menatap Dimas. Dimas akhirnya terkekeh karena ia sadar Ashe paham diajak bicara.


" Nggak usah ketawa. Aku nanya beneran "


" Iya. Iya. Buat Nasrul dan Silia, terus buat Dema dan Ozen "


" Haaaahhh ? "


" Kalau kamu nggak setuju aku bisa jual lagi "


" Kamu tahu, barang yang di beli tak bisa di tukar lagi "


" Ini barang yang ku beli bisa di pakai berkali - kali " kedip Dimas nakal dengan tangan yang sumpah beneran nakal. Ashe menepuknya keras.


" Kalau dia bangun, aku nggak mau niduri. Kamu usaha bujuk sendiri. Mana dia baper banget, kesenggol dikit aja langsung ngamuk "


" Hahhahha.... " Dimas mencomot bibir Ashe yang membuatnya sangat gemas. " Kamu sungguh mengemaskn sekali " kecup Dimas di bibir Ashe.


Judulnya sih tak hanya mengecup, tapi menuntut lebih hingga Ashe mendorong dadanya.


" Udaaah malam, tidurrr ! " Ashe mengedipkan satu matanya membuat Dimas terkekeh geli. Soalnya kalau udah gitu, sebentar saja ada kerjaan dadakan buat Ashe. Dan mulut Ashe sedang malas.


Ashe meringsek mencari posisi nyaman membelakangi Dimas namun tubuhnya nemplok pada sang suami.


" Eisttt tungguuu ! Tadi yang di bawa Nasrul apa ? " Ashe membalik badan mendadak ingat sesuatu.


" Oleh - oleh dari Mertuamu ! Udah aku beresin ! "


" Makanan ? "


" Iyaaa ! "


" Ohhhh ya ampuuunnn ! I love you full pokoknya buat Nasrull "


" Ckkk ! " tatap Dimas tajam. " Kamu bahkan belum mengatakan I love you padaku ! Kenapa malah Nasrull ? Hiiiss... Menyebalkann! "


" Hahahhaha....! Aku mencintaimu Bie. Seluruh jiwa raga ini ! " Ashe langsung mencium bibir Dimas berkali - kali. Membuat Dimas yang tadinya kesal langsung terbit senyum di bibirnya.


" Aku tidak akan mengizinkanmu mengucapkan kata cinta lagi untuk Nasrul. Pokoknya cintamu harus hanya untukku ! " toyor Dimas pelan di kening Ashe.


" Iyaaa. Itu kan hanya ungkapan kebahagiaanku saja Bie "


" Aku tak terima alasan apapun "


" Iyaaa ! " Ashe mencium kembali bibir Dimas.


" Duuhhhh " mendadak Dimas melengos.


" Kenapa ? " kenyit Ashe.


" Ada yang minta dicium " unjuk Dimas.


" Ogaaah. Tidurrrr ! " Ashe kembali memunggungi Dimas.


Dimas menghela nafas.


" Aku bilang jangan mendesah " peringat Ashe membuat Dimas justru terkekeh.


" Buu, kamu mau tidur ?"


" Habisnya kita mau ngapainn ? "


" Iya sihhh ! Entar mulutmu dower kalau kerja mulu ya ! " Dimas ikut menarik selimut dan memeluk Ashe dari belakang.


" Buuuu ! "


" Hmmmm "


" Aku beli rumah atas nama Silia dan Ozen. Tapi aku tidak akan bilang sebelum mereka serius membangun rumah tangga. Dan itu satu kompleks kita. Kamu juga jangan keceplosan. Nasrul sudah melamar ke Jogja, tapi ibunya belum merestui. Ibunya mau menantunya anak orang kaya "


" Keluargamu kurang kaya apa sih Bie ? "


" Bukan kurang kaya Bu "


" Terus kurang apa ? "


" Kurang pamerrr "


" Hissss...! Itu nggak banget dehh ! "


" Yang banget ini yaaaa....! " remas Dimas membuat Ashe kembali menepuk tangan Dimas yang selalu nggak bisa diem.


" Udah kunci pintu Bie ? "


" Udaaahh "


" Matikan lampuuu "


" Iyaaa " tapi Dimas tak bergerak malah asyik mencari pegangan dan menekan layaknya saklar lampu.


" Ohhh, tidak matiii lampunya. Malah tegang "


Ashe menepuk tangan Dimas yang jelas di balik kaosnya. Dimas terkekeh tapi tak menarik tangannya.


" Ada Pak Idi yang mulai kerja di sini sayang ! Dia bergantian jaga. Terus mulai besok juga ada Art yang bakal bersihin rumah dan bantu masak. Istrinya Pak Satpam Anto sayang ! "


" Hmmmm....! Tapi lampu kamar bukan Pak Idi yang matiin kan ? " mata Ashe nampak sudah terpejam tapi belum bisa tidur.


Tangan Dimas sukses membuatnya panas dingin. " Duuuh, sikon pinginnya kok nggak tepat banget siihhh ! Kalau nggak lagi dapet aku udah pingin remes yang di bawah sana " Batin Ashe meremang.


" Sabarrr...! Nanti boleh nggak cuma diremes doang kok " bisik Dimas membuat Ashe mendadak membuka mata. Ashe melirik tajam Dimas yang tersenyum menggodanya. Ashe lupa, Dimas ini cenayang sejati


" Kamu iniiii " omel Ashe.


" Apaaaa ? Aku juga udah nggak sabarr tahuu ! " kecup Dimas di kepala Ashe. " Aku matikan lampu dulu " Dimas beranjak mengunci pintu kamar dan mematikan lampu. Kemudian menyusul Ashe. Mereka menikmati tidur indah berdua.


****


Sebulan berlalu,


Si kurang update alias Ashe tengah sibuk menyelesaikan berkas di mejanya. Memang sudah tak sebanyak bulan - bulan sebelumnya sih. Karena Dimas jelas semakin mengurangi beban kerja Ashe. Meski begitu beban kerja Ashe tak bisa di bilang ringan.


Bie : Ke atas dong Bu πŸ’–


Ashe berhenti menatap laptop dan beralih ke Hpnya.


Bubba : Atas mana ?


Ashe tampak nggak nggeh entah mulai absurd karena kelakuan Dimas yang akhir - akhir ini makin nyleneh.


Bie : Atas tubuhkuuuu πŸ‘‰πŸ‘ŒπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Bie : Weiiiihhh...


Bubba : Ntar aja, pulangnya samperin


Bie : Pinginn nihhh 😳😳😳


Bubba : Jangan mulai deh Biee. Kebiasaan deh, macanmu itu makin baper ajaa. Nggak tahu tempatt !!!


Bie : Hehe... Habis dagingnya enak, empuk 🀭


Bubba : 😲😲😲😲😲


Bie : πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€— Ok. Nanti aku samperin. Selamat presentasii 😘😘😘😘😘


Bubba : 😘😘😘😘πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Dimas meletakkan Hp saat pintu di ketuk dan muncul Nasrul.


" Bapak manggil saya ? "


" Enggak...! Manggil setan "


" Diiihhh, mulutnya yaaa ! Awas aja di remes Bu Ashe "


" Mau donggg ! Coba panggilin Bu Ashe buat ngremes "


" Bosss gilaaaa !! Ada apa ? " sumpah Nasrul udah nggak ada sopan - sopannya. Apalagi Dimas, berdua udah kompak aja nggak ada akhlak.


" Kita keluarr ! " Dimas langsung mengenakan jasnya dan mengantongi Hp.


" Keluar kemana ? " tatap Nasrul.


" Loe udah makan belum sihh ? " Dimas gantian menatap Nasrul.


" Ya udahlahh. Gila aja gue belum makan. Udah tahu Bos gue kalau kerja kadang nggak ada akhlak. Gimana kalau gue pingsan gara - gara ngeladenin Bos yang mendadak bucin nggak karuan dan ninggalin kerjaan gitu aja ? " laaahhh, malah ada yang ngedumel.


" Udahh ngomelnya ? "


" Udaaahhh ! "


" Yook ke gudang ! " Dimas berkata lembut dan berjalan duluan.


" Loe mau bunuh gue Pak "


" Ckkk... Habis makan kadal loe ? " kesal Dimas.


" Hehehe.... " Nasrul ngintil di belakang Dimas. Mereka masuk lift dan turun ke bawah. Dimas berjalan lebih dulu melewati lobby diikuti Nasrul. Seperti biasa, pesona Dimas tetap tak ada surutnya. Semua memandang Dimas penuh rasa kagum.


Mereka menuju gudang logistik JAE Grup. Dimas melakukan pengecekan rutin kesana tanpa pemberitahuan seperti biasa. Meski kali ini hanya di temani Nasrul. Jelas saja mereka di depan karyawan berlagak normal😏. Tak ada pertikaian dan seolah Bos dan Assisten yang jaga image.


Selesai dari gudang, Dimas dan Nasrul langsung pergi ke outlet - outlet cabang JAE Grup, termasuk beberapa bisnis lain yang di jalankan oleh JAE Grup. Hingga tak terasa mereka keluar hari sudah malam.


" Mampus gue Ruuulll. Entah malem gue tidur di sofa inii " gerutu Dimas saat melihat Hpnya. Hpnya udah kehabisan batre dan ini sudah malam.


" Kenapa ? Hpnya matii ? " tanya Nasrul di balik kemudi.


Dimas hanya mengiyakan dan memijat pelipisnya yang mendadak pening. Ia ingat janjinya tadi dengan Ashe.


" Buruan nyetirnya ! " sentak Dimas.


" Iya, sabar kali. Udah kayak di ujung aja " gerutu Nasrul.


" Loe nggak nawarin Hp ? "


" Enggak. Hp gue juga mati. Kiwil udah pasti juga ngambek ini " Nasrul tersenyum kecut. Adik Bosnya tak beda jauh dengan abangnya.


" Mampus loe ! Punya Hp mahal percuma "


" Punya situ mahal nggak sih Hpnya ? " Nasrul malah balik tanya.


Dimas terkekeh. Tak lama mereka sampai kantor. Lobby sepi, hanya satpam yang berjaga. Dimas langsung meninggalkan Nasrul yang menatapnya entah dengan pikiran apa.


Dimas ke divisi Ashe. Satpam di divisi Ashe meyapa Dimas ramah, namun tak di tanggapi. Di divisi Ashe tinggal beberapa orang karyawan yang tampak lembur. Dimas masuk ke ruangan Ashe, sepi dan rapi. Tanpa bertanya, Dimas langsung keluar dan terburu ke lift. Menuju ruangannya. Dimas memutar seluruh ruangannya, namun tak ada yang di cari. Segera Dimas meraih tas yang berisi peralatan kerjanya. Faisal tentu sudah membereskannya. Bergegas Dimas turun.


" Kamu ngapain di situ ? " tegur Dimas saat melihat Nasrul duduk santai di lobby sebari mencharge Hpnya.


" Nunggu Pak Dimas. Ayo saya antar pulang ! Mazdanya udah di bawa Bu Ashe " sahut Nasrul.


Saat ada orang lain begitulah mereka bicara😝.


" Kok kamu tahuuu ? "


" Pak...! Kalau bucin dan khawatir sih tiap wanita jelas aja meleleh. Tapi tolong dong, berpiikirlah yang jernih " bisik Nasrul yang langsung membuat Dimas melirik kesal.


Nasrul menahan tawanya. Ia tahu calon kakak iparnya itu kesal namun sengaja dia godai. Dimas tanpa berkata langsung keluar dari lobby dan masuk ke dalam mobil yang masih terparkir di pintu utama lobby. Nasrul terkekeh menyusul Dimas dan langsung duduk di belakang kemudi.


" Pakai seatbellnya Tuan " peringat Nasrul.


Dimas tak menyahut tapi tangannya bergerak menuruti ucapan Nasrul. Nasrul sekilas tersenyum dan melajukan mobilnya menuju rumah Dimas dan Ashe. Tak ada pembicaraan antara mereka berdua, Dimas sibuk dengan Hpnya menghubungi Ashe. Mendadak Dimas kesal sendiri karena tak ada respon dari Ashe.


Nasrul tertawa melihat wajah frustasi Dimas.


" Ketawa aja loe yang kenceng ! Bulan depan gue pastiin loe nggak gajiann " ancam Dimas.


" Weissst tenang ! Ada Tuan Besar yang siap membantu ! "


" Yakiiiinnn ? "


" Ohhh tidaaakkk ! Nyonyaa Dimass ! "


Dimas mendengus kesal. Apalagi Nasrul tiba - tiba menghentikan mobilnya.


" Kenapa berhenti ? "


" Nggak mau bujuk istri yang ngambekkk ? "


" Kenapa loe perhatian sama istri gue ? "


" Ckkk... Ya udahhh ! " Nasrul hendak menjalankan mobilnya lagi.


" Jangan jalannn ! " Dimas langsung keluar dari mobil membuat Nasrul menggeleng kepala.


Terlihat Dimas menghampiri tukang sekuteng. Kemudian membeli martabak telur. Tak lama ia kembali.


" Sudaahhh ? " tanya Nasrul menatap Bosnya lewat kaca spion.


" Hmmm.....! " sahut Dimas kembali mengutik Hpnya. Meski yang dihubungi tak kunjung memberinya kabar.


Tak lama mereka sampai.Dimas langsung turun dan membawa tentengannya. Mendadak Dimas berbalik dan mengetok pintu mobil. Nasrul menurunkan kaca mobilnya.


" Yang di belakang itu buat loe. Jangan lupa di makan ! Gue nggak mau loe sakit " ucap Dimas meski wajahnya masih kesal.


" Cieee.. Perhatiaan sama gue si Abang " ledek Nasrul.


" Itu ucapan terima kasih. Dan gue nggak suka Bu Ashe love you, love you sama loe " ceplos Dimas.


Nasrul langsung membulatkan mata, sesaat ia tertawa terbahak.


" Dasaaar bucin loe Bangg ! Dahh, gue pulang aja. Selamat lemburrrr " Nasrul melambaikan tangan dan menutup pintu kaca mobil tak peduli yang Dimas makin kesal padanya.


Nasrul membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Dimas dan Ashe. Sementara Dimas bergegas masuk rumah.


" Assalamualaikumm....! Sayaaaanggggg ? " teriak Dimas.


" Waalaikumsalam " bukan Ashe yang menjawab.


" Maaa ? Kapan pulang ? Kok nggak lihat mobilnya di depan ? " Dimas langsung mencium punggung tangan mertuanya.


" Tadi sore. Lagi di bawa pergi Papa ketemu orang ! "


Dimas mengangguk.


" Ashe di mana Ma ? "


" Di kamar ! Masuklahh, makan terus istirahat ya ! "


" Iya Ma ! " sahut Dimas kumudian berlalu dari hadapan Bu Fatimah. Dimas membuka pintu kamar dan menutupnya perlahan. Dahinya mengenyit. Ashe nampak tiduran di kasur dengan Hp di tangannya.


" Di wa nggak di bales, di telpon nggak di angkat ! Tapi Hpnya di tangan " celetuk Dimas sebari meletakkan jajannya di meja. Perlahan ia duduk di pinggir ranjang. Tangannya bergerak membuka dasi dan jasnya.


" Baru juga di pegang ini ! Tadi mau di bales, tapi udah denger suara mobil masuk " Ashe bangun dan membetulkan posisi duduknya. Pandangannya menatap ke arah Dimas.


" Sinian sihhh ! " tatap Dimas karena Ashe terlalu jauh darinya. Ashe tak bergeming.


" Kamuu maraah ? " telisik Dimas.


" Enggak ! "


" Terus kenapa ? Udahh makan belum ? Aku bawa sekuteng sama martabak lhoo "


" Aku pingin di kerokin " pinta Ashe.


" Sekarang ? " kenyit Dimas.


" Terserah kamu Bieee... "


" Ya udah, aku mandi dulu aja. Kamu makan dulu. Sini dong, cium bentar... " Ashe masih tak mau bergerak. Terpaksa Dimas meringsek ke kasur dan mencium kening, mata, hidung dan bibir Ashe.


" Bilang aja lagi ngambeeekk ! " kikik Dimas menjitak pelan kening Ashe hinggaa Ashe mendengus kesal.


" Tungguu...! Kok kamu nggak marah - marah aku lupa jemput kamu ? "


" Kepoooo ! Update makanya ! " sungut Ashe yang langsung beranjak meninggalkan Dimas yang bengong. Berasa makan ucapannya sendiri.


" Kenapa sih, sensi amatt ? " bingung Dimas menatap Ashe yang keluar kamar.