Perfect Boy

Perfect Boy
106. Bumil Aneh



Ohhhh ya ampunnn....! Dimas melirik pelan ke piring Ashe. Nasinya seuprit, lauknya banyak.


Ingin sekali Dimas protes, tapi urung karena tak ingin membuat Ashe tersinggung. Pasalnya Ashe baru bangun. Dimas melinting kemejanya dan mulai makan saat Ashe menyodorkan bagian Dimas.


" Makanya pelan sayang ! " peringat Dimas.


" Iya Bie ! Kamu juga buruan makan ! "


Ashe mulai menyuap makanan di depannya dan menghabiskannya. Dimas tersenyum melihat Ashe yang benar - benar mebghabiskan makanannya tanpa sisa. Bahkan nasinya.


" Minum dulu Bu ! " Dimas menyodorkan air putih miliknya.


Ashe mengambil dan meneguknya. Ia tampak kekenyangan dan menyender di punggung sofa.


" Matiin ac dong Bie ! " pinta Ashe sabari memejamkan mata dan mengusap - usap perutnya.


Dimas mengiyakan, mencari remote ac dan menuruti Ashe. Tak sampai 5 menit.


" Biee... gerahhh ! "


" Laahh tadi minta di matiin ac nya ! " Dimas menghidupkn kembali acnya.


Ia kemudian membereskan peralatan makan mereka dan meletakkan di tempat biasa yang nanti akan di ambil staf pantry.


Ashe masih di posisinya.


" Hmpfffttttt..... !! " Ashe berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.


" Hoeeeeeeeeeeekkkkk ! "


Dimas mengerut kening dan langsung menyusul Ashe.


" Buuuuuuuu !!!! "


" Di situuuu ajaa ! Jangan mendekatttt ! Hoeeeeeeekkkkk.....! "


Ashe memuntahkan semua yang ia makan. Dimas yang tak diizinkan masuk mondar mandir di depan pintu.


" Kenapa aku nggak di izinin masuk ? " protes Dimas begitu Ashe keluar.


Dimas mengelap mulut Ashe dengan tangannya. Ashe tampak pucat dan lemas.


" Aku nggak mau kamu ikut muntah ! Kan tadi habis makan ! " sahut Ashe memegang tangan Dimas.


Dimas menghela nafas.


" Yidi bawain teh panas, minum dulu ya ! " tuntun Dimas ke sofa.


Ia menyodorkan gelas besar yang biasa ia pakai. Gelas itu khusus, dulu dipakai Dimas untuk membuatkan teh untuk Ashe.


" Gimana ? Udah enakan ? Aku antar pulang ya ! Kita mampir dulu ke rumah sakit " usap Dimas di kepala Ashe.


" Terus kerjaanku gimana ? "


" Udahh, nggak usah di pikirin ! Kamu kerjanya di kamar aja " goda Dimas.


" Kamu nih Bie ! Tapi aku nggak mau ke rumah sakit, aku mau ke bidan aja. Tapi kita beli testpex dulu ! "


" Iyaaa deh ! Aku beres - beres dulu ! Tunggu sebentar ya ! "


" Iyaaa ! " Ashe rebahan di sofa.


" Terus kerjaanmu gimana Bie ? "


" Kan ada Papa mertua, ada Faisal dan Nasrul "


Ashe hanya berdehem.


Kepalanya pening dan lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Tangan Ashe sibuk dengan remote AC. Dinyalain bikin pusing, dimatiin bikin gerah.


" Bieee.... ! Aku laperrrrr ! " rengek Ashe.


Ia menyeruput tehnya mengganjal rasa laparnya. Semua makanan sudah selesai di beresin Dimas tadi. Ashe malas membongkarnya karena itu mau di bawa pulang😆😆.


" Itu di bungkusan masih ada ! Makan dulu aja Bu ! "


Dimas menghampiri Ashe.


" Dimakan di rumah aja ! Hoeeeeeekkkkk..... "


Ashe langsung berlari ke kamar mandi. Teh yang di minum pun percuma. Keluar lagi. Kali ini Dimas menyusul dan mengusap tekuk Ashe.


" Udah enakan ? " tanya Dimas.


Ashe mengangguk.


" Kita pulang ya ! Barang - barangmu di bawa Dema ke lobby, jadi kita nggak perlu turun ke divisimu " jelas Dimas.


Ashe mengiyakan dan mengelayut di lengan Dimas.


Mereka keluar ruangan. Dimas bicara sebentar dengan Nasrul dan Faisal. Kemudian masuk lift dan turun ke lobby. Benar saja, Dema sudah menunggu.


" Maaf ya Dem...! " ucap Ashe menerima tasnya.


" Iya Bu. Tenang aja. Bu Ashe istirahat dulu di rumah ya ! " ucap Dema.


" Terima kasih Dem ! Aku pulang dulu ya ! " pamit Ashe.


Dema mengangguk. Dimas menuntun Ashe perlahan. Mobilnya sudah di siapkan Nasrul di sana.


" Terima kasih adik ipar ! " senyum Dimas menerima kunci dari Nasrul.


" Belum resmi ! " celetuk Nasrul.


Ashe tertawa.


" Kalau Makmu tahu, Kiwil adiknya bos loe. Dia udah ngebet ngawinin kamu Rul... " sela Ashe.


" Bosnya galak Bu ! " ucap Nasrul setengah berbisik dan kabur dengan tawa menggoda.


Dimas langsung menatap tajam.


" Marah mulu, cepet tua " tarik Ashe.


" Emang kamu ! " delik Dimas tak terima seraya membuka pintu mazdanya.


Segera ia memutar menuju belakang setir. Dimas melajukan mobil menuju rumah.


******


" Bie, nyetirnya lebih cepat dong ! "


" Iya, sayang ! "


" Jangan lama - lama sihh ! Aku pusing ! " rengek Ashe.


Ashe mulai memijat keningnya. Rasanya benar - benar pening.


" Aku mual bau Ac Bie ! " keluh Ashe.


" Ya udah, aku matiin ya ! "


Dimas mematikan Ac mobilnya.


" Aku turunin jendelanya dikit ya, biar ada angin masuk ! " ucap Dimas seraya menoleh ke arah Ashe.


Ashe hanya mengiyakan. Dimas menurunkan jendela mobil sedikit. Tak lama, Ashe menutupnya karena dingin.


" Mau beli sesuatu ? " tawar Dimas.


Ia cukup bingung dan kasian menghadapi Ashe akhir - akhir ini. Apalagi jalanan agak macet, tentu itu membuat perjalanan agak lama.


" Aku pusing liat macet, q ingin tinggal di Jogja aja ! " lagi - lagi Ashe mengeluh.


Dimas menatapnya nanar.


" Minyak angin tadi mana Bie ? " Ashe berusaha menutup mulutnya.


" Nihh... nihh...! " Dimas meraba kantongnya dan mengulurkan minyak gosok cap penebang kayu itu.


Ashe menghirupnya buru - buru agar tak muntah. Sesaat rasa mualnya hilang. Ashe menyender seraya memejamkan mata. Hanya sepersekian detik, Ashe membuka mata kembali dan menurunkan kaca jendela tepat saat sebuah truk lewat di samping mobil mereka.


" Apa yang baunya seger ? " kenyit Dimas penasaran.


" Bau asap solar dari truk itu ! " sahut Ashe cuek tetap menikmati aroma asap solar.


" Haaaahhhh ??? " Dimas langsung speachless.


" Besok kalau pergi kita naik motor aja ! "


" Jangan aneh - aneh ! Tutup. Jendelanya ! Itu polusi, jangan dihirup sayang ! "


Dimas menggeleng kepala, makin pusing dengan diri Ashe. Bumil satu ini mulai aneh - aneh. Semoga ngidamnya masih masuk akal, batin Dimas.


Ashe menghirup kembali asap solar dan menutup kaca mobil. Mendadak tak ada udara di dalam mobil.


" Aku nggak bisa napas ! " gerutu Ashe.


Dimas menghela nafas. Ia gantian yang menurunkan kaca mobilnya. Sesaat kemudian mereka masuk sudah sampai rumah. Ashe lebih dulu masuk dan meninggalkan Dimas.


" Assalamualaikum Ma....! "


Tak ada sahutan, tampaknya Bu Fatimah tak ada di rumah. Ashe masuk kamar dan rebahan begitu saja.


Dimas masuk dan tersenyum melihat Ashe.


" Mandi nggak ? " kerling Dimas seraya menepuk lulut Ashe yang menjuntai ke lantai.


Dimas memijit pelan kaki Ashe.


" Nanti aja, masih siang ! " sahut Ashe seraya memejamkan mata.


" Ya udah, aku mandi dulu ya ! " pamit Dimas seraya membuka kancing kemejanya.


Ashe hanya mengiyakan. Dimas menatap wajah istrinya yang nampak memejamkan mata lengkap dengan kostum kerjanya. Hati Dimas meratap sedih. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan mengusap kening Ashe.


" Kenapa Bie ?? " Ashe membuka mata dan menatap Dimas.


" Maaf, membuatmu seperti ini ! " nanar Dimas.


" Nggak papa Bie. Memang kewajiban aku mengandung. Apalagi anak kamu....! Kan nggak mungkin juga kamu yang hamil... " seloroh Ashe.


" Andai aku bisa hamil... Biar aku aja yang hamil... " senyum Dimas seraya kembali mengusap kening Ashe.


" Hihii...! Coba bisa... Aku pingin liat perut buncitmu... hahaha... "


" Nanti kamu makin nafsu lhoo... " goda Dimas.


" Udahh sana mandi duluann Bie ! "


" Aku lepasin dulu sepatu kamuu.... " Dimas pindah posisi dan berjongkok melepas sepatu Ashe.


Ia kemudian meletakkan di tempatnya.


" Bersih - bersih dulu, jangan tidur ! Kita ke rumah sakit sekarang ! " seru Dimas seraya masuk ke kamar mandi.


" Nggak mau ke rumah sakit, aku mau ke bidan ! " sahut Ashe seraya bangun. Ia kemudian beres - beres seraya menunggu Dimas.


*****


" Sayang...! " Dimas keluar kamar mandi tapi tak mendapati Ashe di sana.


Bergegas Dimas menuju lemari dan berganti baju. Kemudian ia keluar dan melihat Ashe tengah duduk di meja makan seraya mengunyah sesuatu.


Dimas mendekati dan mencium kening Ashe.


" Ayo buruan mandi dulu ! "


" Ok. Tunggu sebentar ya Bie ! " sahut Ashe.


Ashe beranjak ke kamar dan mandi. Sementara Dimas menunggunya seraya berbincang dengan Bu Fatimah.


" Kita berangkat aja sekarang Bie ! " Ashe menghampiri Dimas.


" Jadi ke bidan Monika ? " tanya Bu Fatimah.


" Iya Ma ... ! Aku udah nggak kuat mualnya...! Tiap makan muntah mulu...! " sahut Ashe.


" Kamu dibilangin nggak percaya sih kemarin....! " ucap Bu Fatimah.


" Kemarin - kemarin masih tahan Ma "


Dimas tersenyum menatap Ashe yang cemberut.


" Kenapa nggak ke rumah sakit aja ? " tanya Bu Fatimah.


" Malesss....! Aku mau ke bidan aja ! "


" Hiss... dasar Bumil aneh...! Maunya yang aneh - aneh aja ! " gerutu Bu Fatimah.


" Udahhh, ntar berantemnya Ma. Kasian tuh anakku ah pingin makan tapi mak nya muntah terus ! " lerai Dimas.


" Ya udah sana hati - hati ya Dim ! Nggak usah dengerin kalau dia rewel ! " pesan Bu Fatimah.


" Mamaaaa.....! Aku tuh nggak rewel... " bela Ashe.


Dimas terkekeh seraya mengandeng tangan Ashe agar segera meninggalkan ruang tamu.


Dimas hendak membuka pintu mobil.


" Kenapa naik mobil ? Aku mau naik motormu aja Bie ! "


" Haaahhh....! " Dimas langsung mengangga mendengar permintaan Ashe.


" Kan rumah bidan Monika deket ! Kita naik motor aja ya ! " Ashe mengedip - ngedipkan matanya.


" Sayang.... nanti kalau anak kita kenapa - kenapa gimana ? Kalau kena gajlukan gimana ? "


" Isshhh... nggak usah alay deh Bie ! Ya kaliii gimana emak - emsk di luar sana yang hamidun dan akses jalannya rusak "


Dimas mengenyit dahi. Mengingat sesuatu.


" Jalan dimana ituu ? " tak urung Dimas kepo juga dengan sahutan Ashe.


" Tahuu ahhh.....! " Ashe nampak langsung anjlok moodnya dan bersedekap tangan.


Dimas tersenyum dan mendekati Ashe. Mengelus rambut Ashe dan turun ke pipi Ashe.


" Iyaa... kita naik motor sayang ! Bukannya itu lebih romantis kan ? " senyum Dimas menatap Ashe dengan bujukan senyum mautnya.


Ashe masih tak bergeming.


" Nanti jumat kita booking heli atau pesawat komersil. Kita ke Jogja..! Kamu di pamerin buah mangga kan sama Ozen ? " bisik Dimas.


Ashe melirik Dimas yang tersenyum sangat manis.


" Udahh ayookk... nanti kita belii bakso kuah yang mangkal di kompleks JAE...! Itu enak banget "


Ashe tersenyum seraya mencubit perut Dimas.


" Ayo berangkat ! " ucap Ashe.


" Tunggu... aku ambil jaket dulu ! Nanti kamu masuk angin ! Duduk dulu sayang ! " kerlip Dimas.


" Ihhh... kenapa kamu itu bikin aku diabetes tahu nggak ! " Ashe salah tingkah dengan sebalnya.


Dimas terkekeh seraya masuk kembali ke dalam rumah. Ia mengambil jaket dan segera keluar menemui Ashe. Mereka naik motor dan ke tempat bidan Monika.


Ashe menjalani pemeriksaan kehamilan di sana. Entah kenapa, Ashe merasa cukup nyaman di situ, apalagi ongkos periksa masih di bawah gocap. Dimas mengeleng kepala saat Ashe keluar penuh senyum.


" Bayarnya cuma Rp 35.000 " bisik Ashe dengan mata berbinar.


" Haah... seriusan ? " kenyit Dimas.


" Eheem....! Sisanya buat beli bakso kuahh...! " bisik Ashe penuh senyum.


Dimas menatap istrinya yang tampak sangat senang.


" Ya udahh ayookk ! Habis ini kita mau pulang atau ngajakin jalan kemana ?" Dimas membantu memasangkan jaket Ashe.


" Pulang aja....!"