
Dimas kini sudah duduk sebari bersedekap tangan dan memutar - mutar kursi duduknya. Beberapa kursi di depannya masih kosong. Dimas sengaja menggunakan meeting room di lantainya. Hampir semua perwakilan divisi dan cabang sudah hadir. Hanya dari divisi Ashe saja yang belum muncul.
Faisal menatap Bos.
" Mau di mulai sekarang sambil nunggu Pak ? " tanyanya tetap formal. Ia akan lain cerita saat tidak di forum.
" Kita tunggu 5 menit lagi " sahut Dimas sambil tetap memutar - mutar kursinya.
Pasalnya divisi Ashe terbilang krusial. Meski Faisal sudah mengatakan yang akan mewakili adalah Dema. Tapi Dimas memutuskan untuk menunggu.
5 menit menunggu, tapi yang di tunggu tak muncul juga. Dimas menghela nafas dan melihat ke layar Hpnya. Sejak tadi ia cukup gelisah karena Ashe tak membalas pesannya.
" Ok. Mari kita mulai meeting hari ini. Sebelumnya mari kita membaca doa agar pertemuan hari ini berjalan lancar dan usaha serta kerja keras kita memberikan hasil yang terbaik. Berdoa di tempat, mulai " Dimas mulai memimpin rapat.
" Selesai ! Langsung saja kita mulai ya, saya ingin pemaparan perkembangan bulan ini dan siapkan laporan projek untuk bulan depan ! Silahkan mulai dari unit lapangan unt..... "
" Maaaaaf terlambattt " seseorang dengan senyum lebar muncul dari balik pintu meeting room. Tangannya tampak menenteng note book dan buku catatan lengkap dengan alat tulisnya.
Suara yang langsung membuat Dimas melongo, menggantung ucapannya. Mata Dimas langsung beralih takjub. Menatap yang baru datang hingga duduk di samping Faisal masih dengan senyum lebarnya. Udahlahh, Dimas langsung ketara banget bucinnya. Faisal yang menyadari Bosnya keracunan istrinya langsung menggaruk tekuk.
" Pak, pindah sini ! " Faisal berdiri dan memaksa Dimas untuk menempati kursinya.
Dimas masih tak bergeming namun menurut saja di seret Faisal pindah kursi. Tatapannya tak berhenti pada wanita cantik di sampingnya.
Itu tentu saja tidak luput dari pandangan semua yang hadir di rapat.
" Ngeces tuh Bie " bisik Ashe meledek sambil mengusap punggung tangan Dimas.
Dimas tersadar dan tersenyum, ia menarik kursi Ashe hingga mempet padanya dan berbalik mengenggam tangan Ashe.
Faisal langsung cengo. Ia menghela nafas pasrah melihat bucin Bosnya di depan semua orang.
" Baiklahh. Mari kita lanjutkan meetingnya ! Silahkan bagian divisi yang ditunjuk untuk segela presentasi " Faisal akhirnya melanjutkan memimpin rapat yang sempat tertunda karena adegan iklan sejenak.
Benar saja, Dimas malah setia memandangi istrinya dengan menopang satu tangan pada dagunya.
" Kamu apaaan ? " senggol Ashe yang merasa sangat tidak enak di pandangi Dimas di depan semua orang.
Dimas malah tersenyum.
" Kenapa kamu hari ini cantik banget ! Dan kenapa bisa ada di sini ? " tanya Dimas dengan mode berbisiknya. Mode wibawanya hilang sudah saat ini, luntur begitu saja saat berhadapan dengan Ashe.
" Aku akan jawab nanti setelah selesai meeting "
" Ok. Di ruangku ya. Tak ada penolakan ! " Dimas membenarkan duduknya dan merapikan dasinya. Ia kembali ke mode wibawa dan memperhatikan perwakilan divisi yang sedang memaparkan laporan. Meski pikiran fokus, namun tangannya tetap tak bisa di kondisikan. Tangan kirinya tak lepas dari pinggang Ashe. Memang, kursinya pisah, tapi mereka bisa duduk dempet melekat tak bisa pisah.
Hingga giliran Ashe, Dimas masih cuek aja melingkarkan satu tangannya erat.
" Bos, aku mau bekerja ! " Ashe nampak rikuh di perhatikan oleh yang lain.
" Kau bekerjanya di kamar " serigai Dimas dengan berbisik dan menatap Ashe.
" Hisss..." Ashe cukup kesal dan berusaha menyingkirkan tangan Dimas.
" Bisakah kau presentasi di kamar saja ! "rayu Dimas kembali.
Ashe mendelik sebal dan berdiri dari kursinya. Ia berlenggang diikuti dengan tatapan cinta Dimas. Ashe berusaha memaparkan kinerja divisinya. Pandangan Dimas memang penuh cinta, tapi buat Ashe itu seolah menelanjanginya saat ini.
" Rasanya aku ingin menghilang saja ! Ini udah berasa di kamar horornya " batin Ashe menggerutu.
Ashe mengucapkan terima kasih setelah menyelesaikan presentasinya. Ia kembali ke tempat duduknya di samping Dimas. Pandangan Dimas tentu saja mengekornya.
" Fokuslahhh Pak Presdirr " Ashe gemas dan mencubit kecil pinggang Dimas hingga membuat Dimas terkekeh. " Kau seolah ingin menyantapku di sini ! "
Dimas kembali terkekeh. Pikirannya memang membayangkan " itu - itu " dengan Ashe. š±Duuhhh, nggak singkron banget. Dimas menggerutu dalam hati. Sejak tadi Faisal tak henti memperhatikannya. Paham Bosnya nggak konsen sama sekali. Beruntung ia punya otak cerdas dan selalu bisa mengimbangi Dimas saat Nasrul menghandle yang lain.
Hampir dua jam, mereka masih berkutat di ruangan itu. Diam - diam Ashe menutup mulutnya yang berkali - kali menguap. Ia melihat ke arah Hpnya.
Bubba : Sudah hampir jam 11 . 00 wib
Dimas masih bersikap sama, merangkul pinggang Ashe dengan mata fokus ke karyawan yang presentasi. Ia menoleh dan membaca apa yang di ketik oleh Ashe. Dimas menatap Ashe yang tengah menutup mulutnya karena mengantuk. Dimas mendadak terkekeh.
" Bang Faisal, tolong handle " Dimas mengangkat tangannya.
Faisal langsung mengacungkan ibu jarinya meski dalam hati menggerutu. Sejak tadi emang dia yang menghandle rapat. Otak Dimas yang tidak menyatu di ruangan itu.
Sesaat Dimas sibuk merapikan apa yang ada di depan Ashe. Kemudian ia menarik tangan Ashe untuk berdiri dan pamit pada semua orang.
" Kamu nggak profesional sekarang " gerutu Ashe saat Dimas membawanya masuk ke ruangan Dimas dan menguncinya.
" Kamu belum jawab pertanyaanku tadi ! " Dimas meletakkan barang - barang Ashe dan ikut duduk di sofa berdampingan dengan Ashe.
" Pertanyaaan mana ? "
" Ckkk ! " Dimas gemas dan mencium bibir Ashe.
Ashe mendorong dada Dimas saat bibirnya terasa perih.
" Kebiasaan deh, bikin sariawan orang mulu ! "
" Habisnya kamu begitu menggemaskan sayang ! Kamu bener - bener ngeyel ! Kenapa kerja ? Aku kan nyuruh kamu di rumah ! " toyor Dimas pelan.
Ashe yang sejak tadi mengelayut di lengan Dimas menyender ke dada Dimas manja.
" Aku bosen nggak ada kamu di rumah Bie ! "
" Kan ada Mama ! " Dimas mengusap kepala Ashe.
" Kamu kan juga suka ke kebon ? "
" Aku lagi males ! Lemes, ngantuk. Aku pingin tidur ! " Ashe menguap dan langsung mencari tempat nyaman di paha Dimas. Ashe tak berhenti menguap.
" Aku anter pulang ya ? "
" Enggak !! "
" Tidur di dalam yukkk ! " usap Dimas.
" Nyaman nggak di sana ? "
" Nyaman kayaknya ! Aku kan nggak pernah makai ! Makainya kamu doang ! " goda Dimas. " Mau di pakai sekarang ? " kedip. Dimas makin menggoda seraya mengusap perut Ashe.
Ashe membulatkan mata jengah.
" Jangan menggodaku ! " Ashe tampak merona.
" Kenapa ? " kerut Dimas.
" Ishhh....! Nggak tahuuu ahhh ! " Ashe langsung bangkit dari pangkuan Dimas dan mengedarkan pandangannya.
" Mana kamarnya ? " Ashe celingukan.
Dimas menyusul Ashe berdiri dan memeluk Ashe dari belakang. Menciumi leher Ashe hingga empunya bergidik geli.
" Biee ! "
" Tebakan dulu ! Kalau kamu kalah kita main di sini ! "
" Ihhhh...! Jangan aneh - aneh deh ! "
" Aku nggak aneh - aneh ! Kamu lagi pingin kan ? " bisik Dimas.
" Bieeee ! " Ashe makin malu karena memang sejak pagi ia meleleh melihat suaminya sendiri. Lebih tepatnya tergoda. Melihat wajah suaminya saja ia sudah membayangkan yang " itu " .
Ihhhh, Ashe menggelengkan kepalanya saat Dimas menekan tombol kecil dari balik lukisan di dinding ruangannya. Sebuah pintu terbuka.
Ashe mengangga dan nyelonong masuk. Ia langsung takjub dan ambruk di kasur.
" Ya ampun, nyaman sekali Bie ! "
Dimas hanya tersenyum dan menutup pintu.
" Aku mau tidur ya Bie. Jangan lupa siapin makan siang ! " pesan Ashe yang sudah mulai memejamkan mata. Tak peduli pakaian yang ia kenakan.
" Iya Nyonyaaa ! " sahut Dimas sebari melepas sepatu Ashe. Saat selesai, Ashe sudah tampak terlelap. Dimas kembali tersenyum. Menatap istrinya yang bisa tidur dengan sangat cepat. Di sibaknya anak rambut di kening Ashe dan Dimas mengecupnya perlahan.
Ia merongoh saku jasnya.
" Nasi padang 2 ya Rul ! "
" Sambelnya di pisahh "
" Nanti aku suruh Yidi buatin di pantry aja ! Bawain cemilan juga ! "
" Aku mau mie kuahhh yang panas Bie ! " celetuk Ashe membuat Dimas langsung menoleh ke Ashe.
Orangnya masih tidur.
" Nggak ada Buuu ! Makan nasiii ! " tegas Dimas meski tak ada sahutan lagi.
Dimas menutup teleponnya. Namun tangannya mengetik sesuatu dan di kirim pada Yidi.
" Aku di luar ya sayaangg !!!" pamit Dimas. Ia kemudian keluar dan duduk di kursinya. Ia mulai membuka ipad dan bekerja. Tepat saat makan siang, Nasrul muncul dengan tentengannya.
" Bu Ashe kemana Pak ? " tanya Nasrul sebari meletakkan tentengannya di meja tamu.
" Tidurrr !" sahut Dimas tanpa mengalihkan pandangannya.
Nasrul hanya ber " oh " ria. Ia kemudian duduk di depan Dimas.
Tak lama, Faisal juga menyusul masuk ruang Dimas dengan mulut berisiknya.
" Ohh ya ampuuunnnn ! Pleasa deh Rul ! Ajarin bocil itu buat nggak leyot di depan istrinya Rul ! Dan dimana dia ngumpetin istrinya ? " cerocos Faisal yang langsung duduk bersebelahan dengan Nasrul.
Dimas yang sejak tadi fokus membulatkan mata jengah. Nasrul terkekeh.
" Sabaaarr Bang ! Emang situ yang nggak jinak - jinak " sahut Nasrul.
" Enak aja. Gue jinak kali sama istri gue ! Dia aja yang kelewat jinak ! " elak Faisal yang langsung duduk di samping Nasrul.
Dimas yang tersindir langsung meletakkan ipadnya dan menatap dua orang yang ada di depannya.
" Udaahhh selesai ngomongin gue nya ? " tatap Dimas pada Nasrul dan Faisal.
" Kenapa ? " sahut Nasrul.
" Kalian keluar. Gue mau nyusul tidur ! " ucap Dimas.
" Haaaaahhhh..? Loe mau mesum di sini juga ? " Faisal menatap bosnya tak percaya.
" Kalau nggak tahan ya iyaaa ! " sahut Dimas santai.