
Ashe melotot kesal.
" Kamu bisa - bisanya Bie... "
" Bisalaah.... "
Ashe melepaskan diri dari Dimas. Ia meraih tasnya dan mengambil segepok uang yang kemudian diberikan pada Dimas.
" Cariin amplop Bie... "
" Iyaa...! Kamu mandi dulu sana...! " Dimas berdiri dan mencari amplop di laci mejanya. Ia menemukannya. Tapi ia berbalik lagi. Menarik tangan Ashe dan kembali mencium bibir Ashe dalam.
Ashe tak menolak namun sesaat kemudian mendorong dada Dimas. Dimas melepaskan ciumannya.
" Bentar doang... " rengek Dimas.
" Astaga Bie...! Bentarmu itu bisa sejam dua jam lho... " sewot Ashe membuat Dimas tak bisa menahan tawanya.
" Habisnya kamu begitu mengiurkan sih... " kerling Dimas menggoda penuh senyum.
Ashe melotot kesal.
" Emang kamu pikir aku apaan sih...? " sewot Ashe.
Ia mengambil handuk dan baju ganti.
" Aku ikut mandi dong... ! " rengek Dimas manja.
" Ngggaaak... " tegas Ashe.
Dimas tertawa. Ia memasukkan gepokkan uang ke amplop dan ikut keluar kamar. Ashe ke kamar mandi, sementara Dimas menemui Bu Izun dan Pak Kibul. Ia menyerahkan uang itu untuk orang tuanya.
****
" Buuu..... "
" Kenapa ? " sahut Ashe dari dalam kamar mandi.
" Ikut masuk dong....! " rengek Dimas dari luar.
" Ngggakkk....! "
" Ihhh Bu....! Bentar doang. Aku kebelet kencing ini... "
" Iket dulu ujungnya... "
" Plastik emang diiket.... "
" Bentar doang...! Kamu itu suka modus...! "
" Modus apa sih...? "
" 5 menit doang Bie... "
" Keburu ngompol Bu... "
" Mending ngompol daripada kita ketinggalan pesawat... "
Dimas tersenyum, tapi mendadak senyumnya hilang lagi. Otak mesumnya bekerja tapi tak di dukung kondisi. Ia berbalik, ke ruang tamu tempat Nasrul beberes.
Dimas mendekat dan duduk di sofa. Nasrul menoleh, udah feeling dengan melihat wajah Dimas.
" Kenapa Bang...? " tanya Nasrul.
" Di YIA ada hotel nggak ? " bisik Dimas.
" Kayaknya belum... "
Dimas langsung kecewa.
" Nanti saya suruh siapin hotel yang paling mewah di Jakarta...! Atau mau di mana ? " sahut Nasrul pelan.
Dimas nampak berpikir. Duitnya banyak dan bisa pergi kemana saja yang dia mau.
" Ya udah nanti aja Rul... " Dimas bangkit dari duduknya.
Pasalnya ia melihat Ashe sudah selesai.
" Kamu udah jadi BAK Bie....? " tatap Ashe sambil menyerahkan handuk pada Dimas.
Dimas mengikutinya lagi ke kamar. Persis kucing ngekor tikus tangkapannya. Nggak mau lepas.
" Nggak jadi, tempatnya berpindah - pindah... " sahut Dimas nyleneh.
" Haaah...? " Ashe mengenyit dahi tapi Dimas hanya tersenyum dan keluar kamar begitu saja.
Ashe bingung. Ia merapikan rambutnya dan keluar menemui Nasrul.
" Bos loe kenapa Rul...? " tanya Ashe pelan.
" Hmmm...! Tadi sih nanya hotel di YIA Bu... " sahut Nasrul.
" Astaga, jadi karena itu..." Ashe membulatkan mata malas dan berlalu.
Kembali ke kamar dan menyiapkan baju Dimas.
Tak lama, Dimas kembali sambil mengeringkan rambutnya. Ashe menatap Dimas yang sungguh mempesona.
" Kenapa dia tampan sekali ? " batin Ashe yang masih saja mengagumi Dimas. π€£Dia lupa kali ya, itu suaminya.
Dimas tersenyum tertahan. Ia melepas kaosnya dan mendekat ke Ashe.
" Kamu aja nggak tahan liat aku kan...? " bisik Dimas menggoda Ashe.
Wajah Ashe merona, terasa panas.
" Apaan sih... " elak Ashe berusaha menghindar.
Namun, Dimas menarik tangan Ashe dan mencium bibir Ashe.
" Itu sebabnya aku tidak tahan juga melihat kamu... " bisik Dimas.
" Bie...! Nanti malem full service deh...! Aku sudah mandi...! Kamu sudah mandi...! " Ashe beralasan.
" Beneran ya...? "
" Hissss kapan aku booong...? Semalem juga udah...! "
" Baiklah, aku tidak akan membiarkanmu keluar kamar... " kerling Dimas nakal.
" Di kamar mana ? Hotel atau kamar rumah...? " terkah Ashe membuat Dimas tersipu.
" Habisnya di ajak gerak cepet nggak mau...! "
" Jangan cepet - cepet...! Nggak enak... " elak Ashe yang rasanya ingin membuat Dimas tergelak.
" Baiklah...! Cium dulu... " Dimas memajukan wajahnya.
" Dari tadi itu kamu ngapain...? "
Dimas tak menjawab dan hanya menunjuk bibirnya dengan telunjuknya. Ashe menghela nafas. Ia mendekat dan mencium pipi Dimas. Kening dan hidung Dimas.
" Satu lagiii.... " pinta Dimas.
" Astaga....! Bayi tua kebanyakan permintaan... " ucap Ashe dilanjut mengecup bibir Dimas singkat.
Dimas tersenyum puas.
" Nanti aku buatkan bayi kecil untukmu... " sahut Dimas mengambil kemejanya.
Ashe menghela nafas. Otak mesum Dimas masih tak surut juga. Ashe menatap Dimas kesal. Dimas mengangkat tangan membentuk tanda " V " lengkap dengan senyum mautnya.
****
Jam 13 : 00 Rozi sudah siap dengan mobilnya. Nasrul sibuk memasukkan koper, tas Dimas dan Ashe. Bahkan kopernya dan milik Dema. Dimas sendiri hanya duduk di teras tak mau bergerak. Beberapa tetangga Dimas mengobrol dengan Ashe , Pak Kibul dan Bu Izun. Mereka tak surut untuk tak kepo.
" Aku sudah biasa rajin, hari ini aku ingin malas dan pamer " toleh Dimas pada Nasrul dan Rozi.
" Serah loe lah Bang... " sahut Rozi malas dengan kelakuan abangnya itu.
Ashe menghela nafas. Menatap Dimas yang duduk ngampar di teras diam - diam. Kelakuannya yang suka narsis akhir - akhir ini. Beda dengan yang dulu suka menyembunyikan diri.
Ting
Dimas menatap layarnya.
Bubba : Apa kamu sudah berhenti jadi mafia...? π
Bie : Tentu belum...! Hatimu masih jadi rahasia yang butuh di
dikawal... πππ
Bubba : Ngacauuu...! Belum percaya...? π
Bie : Cium sinilah.... π
Bubba : Ngggakkk...
Bie : Kenapa ? πππ
Bubba : Ciuman itu bisa bikin vampir langsung jadi manusia π
Bie : π€ͺπ€ͺπ€ͺπ€ͺ
Bubba : Jangan pingsan... π
Bie : Nafas buatan dongπ€π€π€π€
Bubba : Ntar malem....
Bie : Pingsannya sekarang....
Bubba : Nafas buatan spesial ntar malem, kalau mau ya
pingsan ntar malem ..
Bie :πππ maksaaa....
Bubba : Mau enggak....? Pnawaran skli...?
Bie : π±π±π±π±
Bubba : Deal...!
Bie : Cium dulu....
Bubba : Kita udah nikah, kamu cuma mau minta cium doang π’
Bie : Akhhhhhh.... minta yang lain dong π₯°π₯°π₯°π₯°
Senyum Dimas tak berhenti mengembang. Nasrul menatap Bosnya jengah. Berganti menatap istri Bosnya. Mereka cuma berjarak beberapa meter tapi bikin kesepakatan pakai apps WA. Nasrul menggeleng kesal.
" Pak.... Mari berangkat sekarang... " Nasrul menghentikan kesepakatan tak jelas dua bosnya itu.
πππ, ekspresi Dimas.
Nasrul lupa.
" Baang.... " ralat Nasrul.
" Panggil Nyonyaa.... " suruh Dimas.
" Di chat aja sihh Bang... "
***********
Adakah yang penasaran dengan penampakan Ashe ? π€π€π€
Sabaaar yaaa...! Nanti saatnya tiba, dia akan muncul. Dan juga sang Bri. Siapa Bri...? Dimas yang sudah punya ancang - ancang itu. Tapi sayangnya masih proses... "π±π±
Dimas melotot kesal ke arah Nasrul. Nasrul hanya nyengir. Dimas pun berdiri dan menatap Ashe. Ashe langsung konek. Dimas dan Ashe pun pamitan dengan orang tua dan juga tetangga yang ada.
Nasrul sengaja pamit terakhir. Ia bahkan sudah berani memeluk Silia. Baru kemudian masuk mobil dengan berkaca - kaca.
" Sebentar lagi kelas 3 SMA ! Bahkan kalau Kiwil minta nikah sama kamu sekarang pun aku nikahkan... " celetuk Dimas tak seolah tak peduli perasaan Nasrul.
Ashe menepuk lengan Dimas. Rozi menahan tawa.
" Pak Dimas lebih parah lagi kalau jauh dari Bu Ashe... " sahut Nasrul tak mau kalah.
Mulutnya kayaknya lebih layah menyebut Dimas " Pak ". Mungkin saking biasanya Nasrul melayani Dimas.
" Mana ada ? " elak Dimas.
" Ada Pak Bos... " Nasrul menyodorkan Hpnya.
Dimas menerimanya dan menekan sebuah video yang sudah di buka oleh Nasrul. Itu video saat Dimas kelimpungan di atas king bed di Surabaya yang tengah vc an dengan Ashe.
Ashe ikut menontonnya dan tertawa melihat kelakuan Dimas.
" Haiiiis.... dasar loe setaaan... " umpat Dimas sambil mengembalikan Hp Nasrul kasar.
" Hapus nggak itu....? "ancam Dimas.
Nasrul terkekeh meski sangat menurut pada Dimas. Ia menghapus videonya.
" Hahhaha.... Abang...! Kenapa loe bisa kecolongan... ? " celetuk Rozi.
" Bagaimana tidak, hidupku bergantung sama dia... " sahut Dimas membuat Nasrul tertawa.
" Aku yang bergantung sama Pak Dimas kali.. " bantah Nasrul.
" Kelakuan kalian kalau di kerjaan juga seperti ini...? " tanya Ashe.
Dimas langsung menoleh ke Nasrul. Mereka bertatapan dan tertawa seperti orang gila.
" Aku bahkan sudah bukan Bosnya saat di luar jam kerja... " ucap Dimas.
" Pak Dimas yang mulai... " sahut Nasrul tak mau kalah.
Rozi melirik Dema yang duduk di sampingnya.
" Jangan lirak - lirik ! Selesaikan kuliahmu... " heis, mulut Dimas ngelebihin cewek.
" Astaga Bang...! Loe ngizinin Kiwil nikah sementara gue loe larang - larang melulu... " protes Rozi.
" Ozen dengerrr...! Nasrul bisa menghidupi Kiwil, nah loe ? Bisa menghidupi Dema nggak ? " cecar Dimas.
" Bie... nggak segitu juga kali... " lerai Ashe.
" Nggak segitu gimana ? Itu logika Bu...! " sahut Dimas.
" Iya deh. Abang emang yang paling tahu semua... " sahut Rozi.
" Nggak papa Pak...! Saya masih sabar nunggu kok...! " senyum Dema membuat Rozi tersenyum senang.
" Ayo berjuang Ozen. Ladang cuanmu itu banyak ! Syaratnya kan cuma satu... " imbuh Nasrul di belakang.
" Apaaa ? " sahut Rozi.
" Jangan minta duit Pak Dimas... Hahhahaa.... " derai Nasrul.
" Masalahnya gue nggak bisa nggak ngasih dia Rul. Gue nggak ngasih, si bandel ini juga di turutin sama Nyonya... " lirik Dimas pada Ashe.
Ashe nyengir.
" Ya orang di kasih adik sendiri... " bela Ashe.
" Hahaha...! Terima kasih Mbak Ashe. Mbak Ashe emang yang terbaik deh... " senyum Rozi.
" Apaaan sih loe...? Bangga banget di belain.... " sewot Dimas.
" Biarin weeeek.... "
" Dasarr loe Peng... !! sungut Dimas.
Rozi tersenyum penuh kemenangan.
Tak lama, mereka sampai bandara. Ashe mengelayut saja pada lengan Dimas. Nasrul yang sibuk mendorong bawaan mereka berjalan paling depan.
Rozi paling belakang bersama Dema. Sibuk foto. Nasrul menoleh.
" Tahu saya jadi obat nyamuk, saya tadi bawa Silia. Puas - puasin meluk... " gumam Nasrul namun terdengar Dimas yang di belakangnya.
Dimas menendang pantat Nasrul. Nasrul menoleh sinis.
" Bos nggak ada akhlak... " sungut Nasrul.
Ashe terkekeh. Ia mulai terbiasa dengan kelakuan mereka yang tak biasa itu.
" Gue itu peka... " sahut Dimas.
" Bulsyiiiiittttt.... " bantah Ashe yang langsung di toyor pelan Dimas.
Ashe membalasnya dengan mencubit perut Dimas.
"Awwww.... Buuuu....! Coba cubit yang lain.... " keluh Dimas tanpa peduli sekitar.
Nasrul tertawa mengejek dengan mempercepat langkahnya. Ia tak mau disasar tendangan lagi oleh Dimas.
Dimas menatapnya dengan pandangan membunuh. Nasrul hanya terkekeh di ujung. Meninggalkan Bosnya dan mengurus semua sendiri.
Rozi bersedekap tangan setelah mengucapkan perpisahan dengan Dema. Ia menunggu di pintu masuk.
" Cepet kelarin skripsinya itu... " mulut Dimas sepertinya gatel kalau tak berucap tanpa dosa.
Dema malu - malu saja.
" Berisik loe Bang... " sahut Rozi.
" Duitnya udah gue transfer... " ucap Dimas.
Rozi hanya mengacungkan ibu jarinya.
" Loe nggak bilang terima kasih sama gue ? "
" Engggaaaak Abaaaang..... "
Ashe menghela nafas. Kakak beradik ini kalau nggak berisik kayaknya nggak ada puasnya.
Dimas ikut bersedekap tangan. Mulai kesal. Rozi menahan senyum. Ia berjalan mendekat Dimas dan langsung memeluknya.
" Terima kasih Baaaaaang.... "
Dimas masih cuek. Nasrul, Ashe dan Dema menatap mereka berdua penuh keheranan.
" Bodoo amat.... " Dimas berusaha melepas pelukan Rozi.
Rozi malah makin mempererat pelukannya persis anak umur 3 tahun yang tak mau di tinggal pergi.
" Ozeeeen.... gue jijik tahu nggak sama loe....? " ucap Dimas tanpa peduli sekitar.
" Enggaaaak Bang.... ! " si adik juga makin ngeselin.
Dimas menghela nafas. Rozi belum melepas pelukannya.
" Udah tuh, pesawatnya udah dateng. Kalian ini penuh drama... " lerai Ashe sambil berjalan masuk.
Rozi akhirnya melepas pelukannya.
" Gue berangkat... " kata Dimas mengulurkan tangan.
Rozi menyambutnya dan mencium tangan abangnya. Dimas. berjalan masuk dan menyusul Ashe. Sementara Rozi melambaikan tangan memanggil Dema. Mereka berpelukan kembali.
Nasrul menatapnya miris.
" Jiwaku bergejolak...! " sungut Nasrul yang kemudian menghampiri Rozi.
Rozi tersenyum menyindir. Namun ia kemudian berpelukan dengan Nasrul.
" Tolong jagain Abang gue ya, sama tolong jagain Dema.... " pesan Rozi.
" Ogaaah, gue nggak mau jagain pacar orang... " eyel Nasul.
" Oyaaa...! Gue akan nyuruh Kiwil pacaran sama anak KKN yang paling ganteng... " ancam Rozi.
" Ganteng itu tak menjamin Bro... " optimis Nasrul.
Rozi tertawa menepuk pundak Nasrul.
" Loe yang jangan kecantel cewek lain... ! " ancam Rozi.
" Heeeh....! Kalian gay juga.... " teriak Dimas tanpa dosa dari kejauhan.
Teriakan yang membuat semua orang menatap jijik pada Rozi dan Nasrul.
Rozi dan Nasrul langsung menatap Dimas dengan tatapan sadis. Dimas nyengir. Ashe geram dan menarik lengan Dimas.
" Butuh gue apain itu...? " tanya Nasrul pada Rozi.
" Loe tendang aja dari pesawat... " saran Rozi.
" Gue dengeeeerrrr.... " masih aja Dimas berteriak.
Ashe mendecih kesal.
" Gue bungkam juga kamu Bie... " tarik Ashe.
" Pakai apa bungkamnya...? " kerling Dimas nakal.
" Pakai kaki... "
" Sadis amat sih....? " rangkul Dimas.
Ashe membalas rangkulan Dimas dengan menyusupkan tangannya di pinggang Dimas.
" Kamu bandel banget sih...! Mulutnya nurun dari Ibu... "
" Ibu Negara Republik Rumah Tangga itu emang begitu... "
" Terus kamu juga... ? "
" Iyaaa kan aku Presiden rumah tangga kita.... "
" Awas aja...! Mereka sedang berencana membunuhmu.... "
" Coba aja kalau bisaaa... "
" Pak Bos mana bisa sentuh...! Yang bisa nyentuh cuma Bu Ashe...! " seru Nasrul tiba - tiba.
Ia langsung berjalan mendahului Dimas dan Ashe.
Ashe menahan tawa, ia memcubit pelan perut Dimas yang hanya bisa nyengir mendengar kenyataan yang memang tak bisa disentuh oleh orang lain.
" Kamu terlalu perfect atau terlalu cool... ? " senyum Ashe.
Dimas menoleh ke arah Ashe.
" Prefect dan cool... " sahut Dimas penuh senyum.
" Jangan senyum terus... " Ashe salah tingkah.
" Kenapa...? " Dimas minta penjelasan.
" Nggak papa... " elak Ashe.
Dimas tersenyum melihat Ashe yang salah tingkah. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Ashe dan terus berjalan masuk pesawat.