Perfect Boy

Perfect Boy
20. Problema



Ashe keluar lift di lantai divisinya. Melangkah menuju ruangannya berada. Beberapa karyawan mengangguk hormat. Ashe membalas tersenyum. Dema menghentikan langkahnya.


" Buu...! "


Ashe mengenyitkan dahi menoleh pada Dema.


" Apaaa ? " tanya Ashe.


" Pak Gena ada di ruangan Ibu ?? "


" Apaaa ??? Sepagi ini ?? "


Dema mengangguk.


" Saya meeting jam berapa Dem ? "


" Jam 08 : 30 Wib Bu ! "


Ashe mengangguk. Berjalan masuk ke ruangannya. Terlihat Gena duduk di sofa menyilangkan kakinya sebari mengisap rokok.


" Apa Mas Gena tidak lihat ada tulisan di larang merokok di sini ?? " tegur Ashe begitu membuka pintu ruangannya.


Gena langsung mematikan rokoknya di asbak dan berdiri menyambut Ashe. Ashe langsung duduk di kursinya, cuek.


" Maaf She ! Cuma menghilangkan bosan saja " ucap Gena.


Ia pun duduk di kursi dihadapan Ashe.


" Ada perlu apa kesini ? " Ashe to the point sebari membuka berkas di mejanya.


" Aku tidak ingin putus denganmu She. Aku serius ingin melanjutkan hubungan kita " ucap Gena.


Ashe menghentikan kegiatannya dan menatap Gena, jengah.


" Apa Mas Gena sadar dengan apa yang Mas katakan ? "


" Tentu saja She. Aku akan ceraikan istriku dan melanjutkan hubungan kita ! "


Ashe makin jengah, menggeleng kesal.


" Saya tidak mau jadi pelakor. Saya tidak mau merusak hubungan orang dalam ikatan pernikahan. Jadi cukup Mas. Kita putus. Kita tidak ada ikatan apapun lagi ! " tegas Ashe.


" Terus apa hubungannya kamu memutuskan kontrak kerja sama ?? "


" Itu kewenangan Papaku Mas ! "


Gena menggeleng.


" Ashe, bagaimana lagi aku harus meyakinkan kamu kalau aku benar - benar serius denganmu ? "


" Tidak ada yang perlu di yakinkan Mas. Lakukan saja tugasmu sebagai seorang suami ! Toh, istri Mas, tentu sangat mencintai Mas ! "


" Asheee.... "


" Mas, saya ada meeting. Jika hanya itu yang ingin Mas katakan, sudahlah. Saya tidak merasa itu penting lagi. Toh hubungan kita juga memang tidak sehat dari awal. Jadi Mas Gena terima saja apa pun kenyataan ini ! Seperti saya juga menerimanya ! "


" Apa maksud kamu hubungan kita tidak sehat dari awal ? Atau kamu sudah menyukai orang lain Ashe ?? "


" Saya menyukai orang lain atau tidak itu sekarang bukan urusan Mas Gena lagi. Saya harap Mas Gena tidak mencampuri urusan saya ! " kesal Ashe.


" Jadi benar kamu menyukai orang lain ?? " Gena malah ngeyel.


Ashe menghela nafas kesal.


"Iyaaa. Kenapa ??? "


" Siapa dia Ashe ?? Apa jabatan dia lebih tinggi dariku ? Apa dia lebih kaya dariku ? Aku bisa memenuhi semua kebutuhan dan apapun yang kamu inginkan Ashe ! "


" Tidaaak Mas. Saya tidak tertarik dengan suami orang ! " Ashe berdiri.


Buru - buru menutup berkasnya dan meraih tas dan Hpnya. Gena hendak menghentikan Ashe. Namun mendadak telepon Gena berbunyi. Ashe melangkah keluar. Gena memegang tangan Ashe tanpa peduli Hpnya yang terus berbunyi.


" Lepasskan Mas !! " Ashe menepis tangan Gena.


" Asshe....! Tolonglah, bagaimana saya harus menjelaskan padamu ! "


" Mas Gena, tidak ada yang perlu di jelaskan. Silahkan keluar dari kantor ini atau saya panggilkan security ! "


Gena melepaskan tangan Ashe.


" Baiklah. Hari ini saya mengalah Ashe " Gena berjalan keluar ruangan Ashe.


Ashe terdiam. Tak menyahut. Hanya menatap Gena keluar dari ruangannya. Dadanya terasa sesak.


****


Dimas duduk mengetuk - ngetuk pulpen di atas meja. Ia baru saja mendengar paparan keuangan dari manajemen Gena Grop. Di depannya berkas laporan keuangan penuh coretan. Beberapa kepala divisi terdiam menunggu Dimas. Manajemen ini baru bentukan dari Gena Grop. Jadi wajar saja laporannya amburadul. Dimas memijit keningnya. Nasrul tampak menyodorkan air putih dalam botol. Dimas menerimanya dan meminumnya.


" Saya mau laporan ini di perbaiki. Dan saya mau merombak semua manajemen di sini di bawah saya. Di bawah Fajar Grop. Jika diantara kalian ada yang tidak setuju dan tidak mau mengikuti monitoring saya, saya siap terima surat pengunduran diri ! " ucap Dimas yang tampak jauh berkharisma dan berwibawa.


Semua kepala divisi saling pandang.


" Ada yang mau menyampaikan sesuatu ?? " tanya Dimas.


Semua terdiam, saling pandang.


" Baiklah, kalau semua sudah jelas. Silahkan boleh kembali bekerja ! " kata Dimas.


Semua kepala divisi mengangguk. Kemudian pamit pada Dimas. Dimas mengiyakan. Ia masih pada tempatnya. Mendadak Hpnya berbunyi. Dimas melihat siapa yang menghubunginya. Rozi, adiknya. Dimas menggeser tombol hijau.


Rozi : Baaaaang.....???


Dimas : Apa Zi ???


Rozi : Ada yang gawat Bang !


Dimas : Gawat kenapa ? Duitmu habis ? Diberantemi si kiwil ??


Rozi : Bukaaan.


Dimas : Terus apa ?? Dimarahin Mamak e ???


Rozi : Ihhh.... bukan Bang !


Dimas : Hahhaha... terus kenapa ?


Rozi : Roni waktu itu yang ngajak Abang ke Surabaya kan ?


Dimas mengenyitkan dahi. Ingat tetangganya yang udah nipu dia.


Dimas : Kenapa dia ??


Rozi : Dia pulang kampung...!


Dimas : Terus kenapa Ozi ?? Kamu ini kalau kerja ma Abang yang jelas


dong ! Jangan maunya dijejelin duit mulu...!!!


Rozi : Hehe... bukan gitu Bang. Roni bilang katanya kerja sama Abang. Dia


...*b**ilang ke warga* kalau dia sama Abang bergerak di investasi. Dia...


... nawar - nawarin ke warga noh. Warga pada tertarik tuh investasi !...


Dimas : Kenapa gue jadi ikut - ikutan ? Investasi bodong itu Ozi !!


Rozi : Ya buat nyari duitlah. Dia bawa mobil mewah, hasil nipu !!


Dimas : Mulutt loe tuh yaaa...


Rozi : Heeeh... ya emang ! Abang aja di tipu ! !


Dimas memijat keningnya. Semua uangnya dulu memang habis dibawa oleh Roni dan ia ditelantarin begitu aja dikontrakan Roni. Sampai akhirnya Dimas diusir dari kontrakan dan luntang lantung di jalanan.


Dimas : Bapak nggak ngasih tahu warga ??


Rozi : Udaah Bang ! Cuma si Roni terlalu pintar buat ngelabuhin warga.


Dimas : Pinter amat dia ya ! Itu ujung - ujungnya gue jadi korban !


Rozi : Iyalaah. Ntar duit warga dibawa kabur dan Abang yang bakal di kejar


warga buat tanggung jawab.


Dimas menghela nafas.


Dimas : Kamu bisa meng - handle nggak ?? Aku nggak bisa pulang Ozi !!


tinggi semeter.


Rozi menyindir Dimas yang mulai jarang pulang karena banyaknya tanggung jawab yang di emban dari Pak Fajar.


Dimas : Maless...! Ujungnya suruh bawa mantu !!


Rozi : Hahhahahha.... makanya jangan kerja mulu. Pikirin tuh istri..


Dimas : Iyaaa....! Liat aja nanti siapa yang bakal gue bawa pulang.


Syok kamuuu....!!


Rozi : Siapaaaa ?? Anak presiden ???


Dimas : Halu gue nggak selangit Ozeeen.....!!!


Rozi : Wkekkkwkwk.... Serah loe lah Bang !!


Dimas : Bapak ngantor ???


Rozi : Pajek mobil, gue kan banyak kerjaan dari loe !!


Dimas : Anak durhaka loe...! Bapak dikerjain mulu..


Rozi : Biarin. Lagian mau kok ! Pakai uang jalan tapi...


Dimas : Sejak kapan Bapak loe matre...


Rozi : Sejak loe manjain dia duit...! Orang kelurahan ampe pada ngomong


noh. Baapak kerja doang, gajinya boro - boro diambil..


Dimas : Biarinn aja lah. Ya udah. Handle si Roni ya...! Kamu tahu apa yang


harus dilakukan ! Itu pidana...!


Rozi : Siaaap Bang !!


Dimas menutup teleponnya saat Nasrul mendekatinya dan membisikkan sesuatu.


" Pak, di perumahan JAE lagi heboh Pak Dimas punya istri simpanan "


Dimas menatap tak percaya Nasrul. Namun rasanya ucapan Nasrul sangat mengelitik dan membuatnya ingin tertawa.


" Kamu denger dari siapa itu ? "


" Security JAE ada yang temen saya ! "


" Ok, bilangin temen kamu itu ! Kalau sampai Bu Ashe denger gosip itu. Perumahan bisa - bisa di ancurin lho...! "


Nasrul mengenyitkan dahi.


" Bapak kencan sama Bu Ashe ?? " kenyit Nasrul bingung.


" Bu Ashe tidur di rumah saya ! Waktu itu saya bilang sama security, Bu Ashe istri saya ! " cengir Dimas.


" Ya ampunn ! Kenapa Bapak nggak nikahin Bu Ashe aja ? Lagian Bapak lebih cocok dengan Bu Ashe daripada Pak Gena ! "


" Nikah harus pakai cinta Rul. Saya mau itu ada, bukan karena terpaksa "


" Iya juga sih Pak ! Ya udah, biar saya bereskan masalah ini ! Ayo makan siang Pak ! " ajak Nasrul.


Dimas mengangguk. Membereskan berkasnya dibantu Nasrul. Lino tampak menunggu mereka di pintu.


*****


Ashe menyelesaikan meetingnya. Walau bagaimana pun pikirannya harus tetap fokus bekerja. Ia berjalan menuju kantin di temani Dema. Beberapa hari Yidi tidak masuk. Kali ini Ashe memilih untuk tak meributkan apapun tanpa ada Dimas.


Ting...


Dimas : Makan apa Bu ??


Ashe tersenyum membaca pesan Dimas begitu duduk di bangku kantin kantor. Dema sekilas memperhatikannya.


Ashe : Baru mau makan. Aku di kantin.


Dimas : Ok. Makan yang banyak ya ! Saya jg baru mau makan !


Ashe : Sama siapa ???


Dimas : Nasrul dan Lino. Papa terbang tadi ke Jakarta !!


Ashe : Pappaa ???


Dimas : Papa mertua 😍


Ashe : 😀😀😀😀


Dimas : Wkwkkwkwk.... ! Bu sudh putus dari Gena, berarti saya punya kesempatan dong !


Ashe : Blm putus aja kamu nyari kesempatan mulu...


Dimas : Skrang kan beda yang dihadapi saya ! Wanita single..


Ashe : Beraninya jauh doang !


Dimas : Nantang saya ceritanya ???


Ashe : Tauuuu....


Dimas : 🀣🀣🀣🀣, Baiklah ! Tapi saya tidak bisa terbang langsung untuk


pulang !!


Ashe : Iya, aku tahu !!


Dimas : Makan dulu Bu, nanti kalau pingsan saya tidak bisa memberi


nafas buatanπŸ˜€πŸ˜€


Ashe : Maumuuuu....


Dimas : 😘😘😘


Ashe tersenyum. Meletakkan Hpnya dan memesan makanan .Dema yang lebih dulu pesan makanan menatapnya heran. Pasalnya ia jarang melihat Ashe tersenyum - senyum sendiri membalas chat. Namun beberapa saat ini Ashe nampak lain.


" Ibu balikan sama Pak Gena ya ? " tanya Dema pelan.


" Enggak !! "


" Terus Ibu chat dengan siapa ? Kenapa senyum - senyum sendiri ?? "


" Kepo kamu Dem !! "


Dema terkekeh.


" Kan pingin tahu Bu !! "


Ashe menatap Dema. Umur Dema hampir sebaya dengan Ashe. Ia cekatan dan handal dalam bekerja. Hanya dengan Dema, Ashe bisa nyaman pergi dan mengerjakan segala hal.


" Dimas !!! " ucap Ashe.


Dema melongo kaget.


" Pak Dimas ??? "


Ashe mengenyit dahi. Dema terkekeh.


" Pak Dimas yang jadi OB di sini kan ?? " tanya Dema.


" Kamu tahu sesuatu ??? " cerca Ashe.


Dema mengangguk. Ashe menggeleng.


" Kayaknya saya nggak tahu apa - apa ! " umpat Ashe.


Dema tersenyum.


" Hanya saya, Pak Argo dan Bu Anita yang tahu Bu ! Lagian Ibu cocok sama Pak Dimas kok. Pak Dimas itu baik banget orangnya ! " kata Dema.


Ashe tersenyum. Ia mulai makan begitu pesanannya datang.


" Saya liat Ibu menyukai Pak Dimas dari pertama ketemu ! Kayaknya Pak Dimas juga iya !! " ucap Dema.


Ashe hanya menatap Dema, kemudian mengangguk. Mereka menyelesaikan makan siang dan kembali bekerja. Sore ini Ashe juga punya jadwal meeting dan janji temu dengan orang.