Perfect Boy

Perfect Boy
14. Nemplok Seharian



Berjam - jam Ashe nonton drama marathon. Mulutnya pun ikut marathon memamah biak. Sesekali jail menyumpal mulut Dimas yang banyak coment. Dimas lebih senang menggoda Ashe yang sibuk dengan tontonannya.


Beberapa saat Dimas sudah mendengkur halus di sofa. Menikmati liburnya sambil bekerja atau PDKT, entahlah. Namun nyatanya, Ashe nemplok padanya sejak semalam. Mereka belum berpisah sedetik pun. Ashe kini malah sudah memeluk lutut Dimas yang menguasai sebagian besar sofanya. Mereka sudah seperti sepasang kekasih. Mata Ashe masih belum beralih dari laptopnya. Hanya kini sudah berganti film. Shopacolic Louis yang berkali - kali di tontonnya masih saja belum saja membuatnya bosan. Apalagi Dots. Sudahlah, Ashe siap bergadang dan lupa jadwal kalau ketemu drama korea.


Beberapa jam berlalu, Dimas membuka mata dan tertegun melihat Ashe memeluk lututnya. Dimas menyadarinya sejak tadi. Hanya dia diam saja dan membiarkan Ashe.


" Bu, aku laper ! Ini jam berapa sih ? " tanya Dimas perlahan.


Ashe menoleh pada Dimas tanpa melepas lutut Dimas.


" Jam 14 : 00 Wib. Kamu mau makan apa ?? "


" Bubba belum kelar nontonnya ? "


" Belum. Kamu aja tidur. Saya nggak tahu mau ngapain ! "


" Ikut saya tidurlah ! " goda Dimas.


Ashe mencibir bibirnya.


" Aku ambil makan dulu, bangunlah ! " kata Ashe seraya beranjak.


Dimas mengangguk. Ia bangun dari tidur. Mendadak Hpnya berbunyi. Dimas meraihnya. *Rozi.


Dimas : Kenapa Zi ?


Rozi : Mas dimana ?


Dimas : Di rumah, lagi bangun tidur.


Rozi : Uangnya udah aku ambil. Udah aku bayarin kuliah. Itu lebihnya banyak Mas.


Dimas : Baguslah. Kuliah yang rajin. Mas tunggu lulusmu . Itu untuk uang sakumu.


Rozi : Iya, kapan Mas pulang ?


Dimas : Ntar, lagi banyak kerjaan.


Rozi : Ya udah, makasih ya Mas !


Dimas : Jagain Silia !


Rozi : Ya Mas*.


Dimas menutup telepon sesaat Ashe masuk membawa dua piring nasi.


" Siapa ? " Ashe penasaran.


" Adikku ! " sahut Dimas.


Dimas beranjak menuju kamar mandi Ashe. Mencuci muka. Kemudian kembali duduk lagi di sofa. Ashe kembali sambil membawa minum. Dimas memperhatikan isi piringnya. Telur ceplok balado, sayur capcai, tahu dan tempe goreng, dan sambel Acan.


" Kerupuknya mana Bu ? " ngelunjak Dimas.


Tanpa komentar Ashe keluar kamar. Kembali membawa setoples kerupuk. Ashe duduk di samping Dimas.


" Ayo makan Dim !" kata Ashe.


Mulut Ashe komat kamit membaca doa makan. Melahap nasinya seperti orang kelaparan. Dimas tertawa tertahan.


" Kayaknya dari tadi nguyah mulu tuh mulut ! " celetuk Dimas.


" Mulutku gatel kalau nggak nguyah ! " elak Ashe.


Dimas tertawa. Ia menyuap nasinya. Menu sederhana yang sangat mengugah selera Dimas. Makanannya sangat enak. Apalagi melihat Ashe yang sangat lahab.


" Bubba bisa masak ini ? " tanya Dimas.


" Bisa, aku bisa masak apa aja ! ".


" Beneraan ???? "


" Aku nggak banyak bohong kayak kamu ! "


" Hehehehe....! "


" Habis ini saya pulang ya Bu ! "


" Aku ikut...! "


Dimas menghela nafas. Ashe menatapnya.


" Kalau nggak boleh juga nggak papa ! Mungkin kamu janjian sama orang lain ! " ucap Ashe pelan.


Dimas membulatkan mata.


" Iya boleh... "


Wajah Ashe sumringah.


" Habiskan makannya. Dodolnya udah habis berapa bungkus itu ?? " Dimas melihat bungkusan dodol yang tak ada isinya lagi.


Ashe nyengir. Dimas menggeleng kepala.


" Gimana Song Jong Ki mau sama Ibu ! Makan mulu " seru Dimas


" Aku bukan tipe halu Dim ! "


Dimas tertawa. Menyelesaikan makannya. Ashe yang membereskan semuanya. Setelah itu mereka pamit dengan Bu Fatimah.


" Kamu mau kemana lagi She ? " tanya Bu Fatimah heran melihat Ashe sudah rapi dan mengekor Dimas.


" Ikutt Dimas ! "


" Ceritanya kena pelet, lem atau apa sih ini ? Nemplok muluu ! "


Dimas tertawa.


" Besok sore saya balik Bu ! " sahut Dimas.


" Oh, jadi begitu ya ! " Bu Fatimah mengangguk - angguk, " terus kamu nggak pulang lagi She ? "


" Hehehehehe.....! "


" Saya tanggung jawab Bu ! " senyum Dimas.


" Ya udah, jagain Ashe ya Dim ! " pesan Bu Fatimah.


" Iya Bu ! " Dimas mencium tangan Bu Fatimah.


Ashe tersenyum mengikuti Dimas mencium tangan mamanya.


" Kalau nyari aku, pokoknya ikut Dimas ! "


" Iya. Hati - hati ya ! "


Ashe mengiyakan.


" Dim, pakai mobilku aja " seru Ashe.


" Iya Bu ! " sahut Dimas.


Ia membukakan pintu untuk Ashe. Kemudian Dimas mengambil alih kemudi. Ia menyetir menuju rumahnya.


****


Dimas memasuki halaman rumah tempatnya tinggal. Lingkungan sekitar tampak ramai anak - anak bermain. Juga ibu - ibu yang sedang ngrumpi sambil mengawasi anak - anak mereka bermain.


" Siap keluar Bu ? " kerling Dimas.


Ashe menoleh.


" Kenapa ?? "


" Siap jadi bahan gosip ibu - ibu noh ! " tunjuk Dimas.


Ashe mendesah.


" Mereka kenal kamu ? " tanya Ashe.


" Sekedar tahu aja Bu ! " kata Dimas sambil keluar mobil.


Berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Ashe. Dimas mengangguk hormat pada ibu - ibu kompleks seraya tersenyum. Ibu - ibu itu membalasnya. Ashe berjalan menuju teras Dimas. Dimas mengambil kunci pintu di tempatnya. Ashe melirik ibu - ibu yang tengah bisik - bisik dan nampak membicarakannya.


" Mereka pasti bilang " mereka pacaran " " kumpul kebo" bukan " istrinya " " " pasangan serasi " " tapi pak Dimas belum nikah " ya pacarnya berarti " "


mulut Ashe menyon menyon tak jelas.


Menafsirkan sendiri gibahan para tetangga Dimas. Dimas tertawa.


" Jangan gila, ayo masuk !! " kata Dimas menarik tangan Ashe.


Ashe mengikutinya.


" Dim...! "


" Hmmm....! " Dimas duduk di sofa ruang tamu sebari melepas sepatunya.


Ashe duduk disampingnya.


" Kalau kamu nggak dirumah, boleh aku tidur sini ? "


" Boleeh. Ada ART dateng berkala disini Bu. Nanti, aku akan bilang untuk siapin apa keperluan Ibu. Ibu bisa tidur di kamarku " kata Dimas.


" Kamu tidak bisa panggil aku selain ' Ibu ' ya ? " protes Ashe.


" Mulutku udah lanyah Bu ! " kekeh Dimas menuju kamarnya.


Ashe mendengus, mengeluarkan Hpnya. Memeriksa pesan Gena atau sekedar balasan. Tapi tak ada. Sebenarnya Ashe ingin bertemu Gena langsung dan memutuskan hubungan mereka.


Dimas keluar kamar dan duduk di samping Ashe yang masih menekuk muka.


" Kamu berani tidur sendiri Bu ? " tanya Dimas.


" Kalau udah biasa berani ! " sahut Ashe.


Dimas rebahan di satu sofa yang sama menekuk kakinya.


" Ayo belanja. Isi kulkasmu ! " ucap Ashe.


" Nonton ya Dim ! " rajuk Ashe.


" Ya. Belanja dulu atau nonton dulu ? " Dimas udah berasa menghadapi istri.


" Belanja dulu ! "


" Aku mandi dulu Bu ! " Dimas berjalan ke kamar mandi.


Tak lama ia sudah selesai dan berganti baju. Dimas tampak lebih segar dan siap menghadapi rajukan Ashe yang lain.


Mereka keluar rumah lagi. Ibu - ibu kompleks masih ditempatnya. Belum ada satu pun yang bergeser. Masih sibuk bergibah ria. Dimas mengunci pintu. Ashe tersenyum seraya mengangguk hormat. Ia masuk mobil sendiri tanpa Dimas membukakan pintu. Dimas tersenyum, masuk mobil. Mereka menuju supermarket. Di sana Ashe memasukkan semua bahan kebutuhan pokok sampai yang nggak pokok.


" Kita seperti pengantin baru Bu ! " geleng Dimas.


" Aku nggak pernah belanja Dim ! "


" Tapi bukan berarti satu supermarket di beli semua ! " keluh Dimas.


" Aku ingin makan dari uang keringatmu ! "


Dimas terkekeh.


" Jadi istriku aja ! "


" Itu lamaran ?? "


" Iyaaa. Gimana ? Di tolak atau di terima ? "


" Ditampung dulu ! "


" Kok di tampung ? "


" Nggak romantis ! "


" Saya nggak bisa romantis ! "


" Terus gimana dong ? "


" Ya udah. Tinggal di jawab aja. Di tolak atau diterima ? "


" Saya nggak mungkin nolak kamu ! "


" Dan nggak mungkin nerima juga ?? "


Ashe mengulum senyum.


" Saya berasa arwah yang nggak diterima langit dan bumi. ' Ngambang '


" keluh Dimas.


Ashe tertawa, tetap memasukkan apa yang dia inginkan di troli.


" Ini siapa yang bayar Bu ? " tanya Dimas melihat trolinya penuh.


" Aku lihat pialamu berjejer banyak dari beberapa tahun. Kamu pasti gajinya nggak sedikit. JAE menggaji tinggi orang yang berprestasi ! " ucap Ashe.


Dimas tertawa seraya menoyor kepala Ashe pelan.


" Nyindirnya sampai ulu hati ! " ucap Dimas.


Ashe terkekeh.


" Mau tambah apa lagi ?? " tanya Dimas.


" Udah ! " sahut Ashe.


Dimas mengangguk seraya mengambil dua botol teh. Memasukkan troli dan mendorongnya menuju kasir. Ashe mengekor dibelakang Dimas. Memegang kemeja Dimas dari belakang membuat Dimas tersenyum geli.


" Nggak bakal ilang Bu, tenang aja ! " gurau Dimas.


" Biarin. Saya suka megang kemeja kamu kok " elak Ashe.


" Besok saya pergi cuciin baju saya ya " bisik Dimas seraya menunggu kasir menghitung belanjaan.


Ashe mendelik kesal.


" Nggak janji ! "


" Kok bisa nggak janji ? "


" Kalau saya nggak sibuk ya ! "


Dimas mencibir.


" Totalnya Rp 3. 784.465.00 Pak ! " seru sang kasir.


" Ya mbak ! " Dimas mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan black platinum card dan memberikannya pada kasir. Ashe mengintipnya. Dimas menarik lengan Ashe yang nempel padanya.


" Nggak usah penasaran. Bubba juga punya itu kan ? " kata Dimas.


" Kalau kamu berseragam OB ngeluarin kartu itu, pasti kasirnya bingung ! "


" Kenapa ? Baju doang ! "


" Baju juga identitas kalii...! "


" Bilang aja, Bosnya ngintil di belakang ! " Dimas mengacak rambut Ashe.


" Ini Pak, sudah. Terima kasih ! Istrinya cantik banget lho ! " kata mbak kasir.


Dimas menatap Ashe seraya tersenyum. Menahan tawa.


" Terima kasih kembali mbak ! " sahut Dimas.


Ia mendorong troli dan masih menahan tawa. Ashe hanya pasang muka tak jelas mengikuti Dimas.


" Apa senyam senyum ?? " omel Ashe.


" Tubuh saya ada lemnya ya Bu ! " kata Dimas tak bisa menahan senyumnya.


" Tahu ah ! " sewot Ashe.


Dimas tertawa. Menyodorkan dua botol minum untuk Ashe.


" Bubba tunggu sini. Saya taruh belanjaannya di mobil " kata Dimas.


" Jangan lama - lama ! '


" Iyaaaa. Jangan kemana - mana ! " pesan Dimas.


" Emang kenapa ? "


" Susah nyari model kayak Bubba ! " Dimas ngeloyor pergi.


Tak peduli Ashe yang berceloteh tak jelas.


Ashe menatap sekeliling. Mendapati tempat duduk di pojok. Ashe berjalan ke sana dan duduk menunggu Dimas. Ashe sudah lama tak mengunjungi tempat ramai. Apalagi mall. Setelah teman - temannya sibuk. Ia mulai menempatkan diri. Menyibukkan dengan bekerja dan jarak keluar bersama teman - temannya.


Agak lama, Dimas muncul. Celingukan mencari Ashe sekeliling. Ketika hendak menelepon, mendadak pandangannya tertuju pada lambaian dan senyum seseorang. Dimas tersenyum menghampiri.


" Saya pikir ilang beneran Bu ! " seloroh Dimas.


" Apaan sih ? " Ashe bangun dari duduknya.


" Ayo, kita liat ada film apa !" Dimas mengulurkan tangan.


Aahe menyambutnya. Mereka bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Mereka menuju lantai atas. Tempat bioskop berada. Mereka memilih film yang ingin di tonton Ashe. Dimas mengantri membeli tiket. Ashe duduk menunggu. Teater hampir penuh karena malam minggu.


Dimas menghampiri Ashe.


" Nunggu ya Bu ! " kata Dimas.


" Iyaa... " sahut Ashe mendongak.


Dimas berdiri di depan Ashe karena tak dapat tempat duduk


Ia melirik jam tangannya. Hampir pukul lima sore. Teater dimulai tepat pukul lima. Benar saja. Tak berapa lama menunggu terdengar pengumuman teater akan dimulai. Dimas mengulurkan tangan. Ashe menyambutnya. Dimas seolah memanjakan Ashe dan mengandeng Ashe masuk teater.


Film selesai dua jam kemudian. Ashe mengelayut tangan Dimas seraya keluar gedung teater. Dimas hanya tersenyum.


" Udah puas belum, seharian nonton ? " senyum Dimas.


" Udah.. "


" Semoga Bubba tidak pernah bosan manja sama saya ! "


Ashe tersenyum kecil. Ia tahu Dimas berusaha menghiburnya.


" Mau makan nggak ? " tawar Dimas.


" Makanlah. Ntar aku nggak bisa tidur kalau nggak makan ! " sahut Ashe.


Dimas tersenyum. Menarik tangan Ashe ke lantai atas lagi. Ke food court. Ia membiarkan Ashe memilih makanan yang diinginkan. Dimas membayarnya dan mereka memilih tempat duduk. Menikmati makan.


" Pelan makannya Bu ! " Dimas mengusap ujung bibir Ashe.


Ashe tertegun. Jantungnya terasa berdebar - debar. Ia tidak pernah merasakan sebahagia itu. Bahkan ketika dengan Gena, Ashe merasa seolah berada di penjara. Pikirannya penuh beban.


" Terima kasih sudah memberiku makan ! " ucap Ashe.


Dimas tersenyum.


" Sama - sama. Saya bungkusin kalau ntar malem laper ya ! "


Ashe mengangguk. Dimas bangkit dan kembali memesan makanan. Membayar dan kembali pada Ashe. Mereka menyelesaikan makan malam mereka. Seorang pramusaji membawakan makanan pesanan Dimas


Ashe menunggu Dimas yang masih menyelesaikan makan.


" Sudah kenyang belum Bu ? "


" Sudah ! " tatap Ashe.


" Ya udah, ayo pulang " ucap Dimas seraya berdiri.


Ashe mengikuti Dimas, memegang ujung lengan kemeja Dimas.


Dimas tersenyum, meraih tangan Ashe dan mengandengnya.