
" Kamu bawa apa Bie ? " kerut Ashe.
" Oiya. Ini bole pisang kayaknya....! Dimas meraih paper bag dan melihat isinya. " Ayo duduk...! Kamu udah makan belum ? Udah pesen makan belum ? " tarik Dimas dengan antusias.
Bahkan kursi yang di susun untuk makan nuasa romantis di geser Dimas sesuka hati. Ia malah jadi duduk bersebelahan dengan Ashe. Kursinya dibuat berhadapan🤦♀️
" Tadi aku udah makan di kereta... ! Tadi siang...! " sahut Ashe.
Dimas menatap Ashe.
" Heeeh, kamu naik kereta ? Kamu sendiri atau sama siapa sih ? "
" Hahha...! Ya kenapa kalau naik kereta ? Aku sama Ajudan Anda Pak Presdir...! "
" Kenapa aku sama sekali nggak tahu...? " Dimas meraih tangan Ashe. Menatap wajah Ashe lekat persis abg pacaran. Tak mau lepas.
" Kalau di kasih tahu namanya bukan kejutan Bapaaaak....! " tepuk Ashe pada pipi Dimas pelan.
" Benar sih ! Aku benar - benar terkejut...! " senyum Dimas.
Ia menarik tangan Ashe dan memeluknya dalam posisi duduk.
" Aku kangen banget Bu...! Pekerjaan dari Papa memang berat. Tapi sangat berat sekali berpisah denganmu...! " bisik Dimas.
Ashe menepuk punggung Dimas.
" Kamu itu yang terhebat. Makanya Papa percaya sama kamu...! "
Dimas melonggarkan pelukannya sedikit. Menatap wajah Ashe. Memegang dua tangan erat dan sibuk memainkan jarinya untuk mengelus tangan Ashe🤣.
" Cium Bu....! " rengek Dimas manja.
Wajah Ashe merona. Ia mencubit perut Dimas.
" Ini tempat umum...! " delik Ashe.
" Ini VVIP...! Nggak ada yang lihat...! " bujuk Dimas.
Tetap saja Ashe malu memulai dulu. Dimas nggak sabaran langsung menyambar bibir Ashe. Mengecupnya cukup lama dan menuntut.
Ashe mendorong kembali dada Dimas.
" Kenapa ? "
" Nggak baik di tempat umum...! " Ashe merasa risih.
" Kamu ngasih kode ? Bisa eksekusi nggak nih ? " senyum Dimas nakal menggoda Ashe.
" Apaaan sih...? Kamu ini kan nggak tahu tempat...! " sungut Ashe.
" Tahuuu dong...! Masak mau di eksekusi di sini...? " toel Dimas.
" Nggaaaak....! "
" Hahhaha...! Terus gimana ? "
" Apaanya yang gimana ? "
" Bisa eksekusi nggak ? " kerdip Dimas nakal.
" Tahuuu lah....! " Ashe menunduk malu menahan senyum.
" Hahhaha....! Nggak ada portalnya kan ? " Dimas masih saja menggoda Ashe.
" Ihhhh....! Ngapain juga jauh - jauh ke sini bawa portal... ? " sungut Ashe sewot dikerjain Dimas. Meski dirinya sendiri deg deg serr.
" Hahahhhaha....! Asyik...! Eksekusi...! " Dimas memutar bola matanya penuh ekspresi kenakalan. Ia mengangkat jarinya menghitung sesuatu.
" Ngitung apa ? " tepuk Ashe sewot.
" Ngitung berapa hari ngurung kamu....! Hahahha.... "
" Hisssss....! " Ashe langsung berpaling dari Dimas.
Dimas tertawa senang langsung menarik Ashe hingga masuk ke dalam pelukannya.
" Bahagiaku mengalahkan rasa laparku...! " bisik Dimas.
" Kamu ini emang demen banget nggak ngasih makan istri...! " tepuk Ashe di paha Dimas keras hingga Dimas pura - pura mengaduh.
" Iya maaaf...! Mau makan apa ? " tatap Dimas.
" Heeee....! " cengir Ashe, udah kode minta sesuatu.
Dimas mengenyit menahan tawa.
" Apaaaa ? " tanya Dimas.
" Padang....! Hehe... "
Dimas terkekeh.
" Seleramu bukan hotel bintang lima ya...? " toyor Dimas gemas.
Bagaimana tidak, mereka di restoran hotel bintang dengan fasilitas mewah dan lengkap, Ashe malah minta pergi keluar mencari makan di warung.
" Hehe....! Kamu tahu itung - itungan prinsip ekonomi Bie ? " senyum Ashe.
" Udaah. Ayo kita pergi cari warung padang. Aku ngasih makan kamu nggak pakai itung - itungan kok...! " tarik Dimas untuk membantu Ashe berdiri.
" Itu di bawa nggak ? " tunjuk Ashe pada paper bag di meja.
" Bawa Sayang. Ini kan kesukaan kamu...! " Dimas mengambilnya.
Tangannya satu mengandeng Ashe. Mereka keluar resto. Ashe sendiri mengelayut manja di lengan Dimas. Udah nemplok aja kayak cicak di dinding.
" Lino kemana ? " Ashe celingukan.
" Biarin aja. Kalau kita aja di atur sama Nasrul, berarti Lino udah di angkut juga...! " sahut Dimas.
" Assistenmu otaknya dah ngalahin majikannya...! "
" Itu alasannya kenapa dulu aku milih dia. Dia kan tidak masuk rekomendasi Papa dulu...! Jadi Papa nempa Nasrul dulu sambil nunggu aku belajar...!
" Oh ya...? "
" Heem...! Belajar nunggu anaknya...! "
" Gombal....! "
" Diiih, serius....! "
" Nggak...! Kamu kan nggak kenal aku...! Tahunya juga waktu aku datang doang ke Surabaya kan...? "
" Siapa yang bilang ? "
" Hisss... kan kamu yang bilang waktu Q & A....! "
" Boooong sihhh....! " kerlip Dimas nakal
" Hiiisss...! Kenapa boong ? "
" Ya belum yakin aja. Yakinnya waktu liat di Surabaya ! "
" Terus....? "
" Penasaran kan ? "
" Bie...!!! " hentak Ashe gemas mengayun manja di lengan Dimas.
Membuat Dimas menahan tawa. Mereka bahkan tak peduli berpasang - pasang mata memperhatikan mereka yang memang jadi trend orang kasmaran.
" Kan ada foto kamu di ruang tivi... " toleh Dimas.
" Wedeeeeh...! "
" Seriusss sayang....! "
" Dasar emang mafia ! "
" Hehe...! Kan mafia baik hati...! "
" Ya deh. Kita naik apa Bie ? " tak sadar mereka sudah di depan pintu utama.
Dimas celinggukan, padahal depannya ada sebuah mobil terparkir dengan sopir berdiri di samping mobil.
" Pak Dimas dan Bu Ashe ya ? " ia mendekat sopan.
Dimas dan Ashe berpandangan, sontak mereka tertawa sambil saling tunjuk. Sopirnya sendiri sampai bingung.
" Kejutan yang sungguh matang...! " ucap Dimas begitu duduk dalam mobil.
Ashe tertawa.
" Pak, ke Padang...! " perintah Dimas membuat sang sopir berpikir bingung.
" Ke Warung nasi Padang Pak...! " ralat Ashe sambil menepuk lengan Dimas.
Dimas hanya terkekeh.
" Oh ya Bu. Maaf saya kira ke Padang beneran ! " sahut sang sopir mulai menjalankan mobilnya.
Tak lama, mereka sampai di sebuah restoran padang. Ashe berbinar di depan etalase.
" Makan di sini Bu ? " tanya pelayannya.
" Enggak. Bungkus aja...! " sahut Ashe membuat Dimas langsung mengangkat alis keheranan.
" Berapa Bu ? "
" Nasinya dibungkus sendiri dua, lauknya ini, ini, ini, ini, ini...! Lauknya dibungkus sendiri - sendiri, Dua - dua isinya ya... ! Sambelnya juga pisah. Nanti tinggal itung aja habisnya berapa ? "
Dimas menahan tawa, seolah menemukan istrinya kembali yang tadi sempat jaim saat bertemu.
" Udah, yuk. Nunggunya sambil duduk ! " tarik Dimas ke arah meja kosong. Ia menarik kursi dan menyuruh Ashe duduk lebih dahulu.
" Mau minum nggak ? " tanya Dimas sambil mengeluarkan sebotol teh dari paper bagnya. Nasrul benar - benar niat untuk membuatnya terkejut.
Ashe mengiyakan dan Dimas membukakan tutup botolnya.
" Kalau dibungkus makannya mau dimana Bu ? " tatap Dimas.
" Di hutan belantara tempat kamu tinggal...! " sahut Ashe polos.
" Hahhaha....! Ya...! Okelah sayang...! Sebelumnya mau nyari cemilan dulu nggak...? Nanti di kamar udah nggak keluar lho...! "
Ashe mendelik kesal. Mulut Dimas tak berhenti menggodanya sejak tadi.
" Emangnya kamarnya mau kamu gembok...? " sungut Ashe.
Daah, mulai deh Ashe. Ompreng ngikut Dimas yang mulutnya banyak ngomong😁.
" Iyaaaa...! " kedip Dimas menggoda.
Ashe memutar bola matanya malas. Dimas menangkup dua pipi Ashe gemas.
Tak lama pesanan Ashe jadi. Dimas membayarnya dan mereka pergi mencari cemilan.
" Bie...? " gelayut Ashe.
" Apaaa Bu ? " toleh Dimas.
Ashe seperti biasa suka nemplok di bahunya.
" Ehmmmm....? "
" Duitku iritttt....! "
Dimas berhenti dan menatap wajah Ashe dengan ekspresi aneh. Ia kemudian menoyor pelan kening Ashe dengan gemas.
" Kamu pikir selingkuhanmu ini nggak banyak duit...? Macem - macem... "ucap Dimas.
" Hahaha... " Ashe menutup mulutnya. Pasalnya jaraknya dengan Dimas hanya beberapa cm. Tapi bukan Dimas namanya kalau tak beraksi. Meski Ashe menutup mulutnya, tetap saja ia mencium Ashe meski hanya dapat punggung tangan Ashe.
Ashe mendelik kesal. Dimas cuek aja menggandeng tangan Ashe dan membukakan pintu mobil. Mereka menuju hutan belantara tempat Dimas tinggal 🤔🤔🤔.
******
Tok tok tok...
" Assalamualaikum...! " Dimas membuka pintu depan tanpa menunggu salamnya di jawab. Ia tahu di dalam ada orang karena lampu dan televisi menyala.
Nasrul dan Lino yang tengah makan langsung melongo menatap ke arah pintu. Speeachleess !! Lupa jawab salam 😔
Dimas masuk dengan tentengan di kedua tangannya. Ashe mengikuti di belakangnya dengan penuh senyum.
" Waalaikummussalam... " Dimas menjawab salamnya sendiri dan meletakkan tentengan di tangannya di meja.
" Bapak ngapain bawa Bu Ashe ke sini ? " tanya Nasrul ambigu.
" Kenapa emang ? Orang aku mau lihat Hutan Belantara itu kayak apa ? Emang nggak boleh ? " cecar Ashe.
" Ini Hutan Anugerah Bu Asheeeee....! " ralat Nasrul.
" Ya itulah... apa namanya ! "
Dimas menahan tawa melihat wajah Nasrul dan Lino yang tampak syok dengan kehadiran mereka.
" Duduk Bu...! " Dimas menyilahkan Ashe duduk di dekat Lino. Otomatis Lino meringsek ke lantai. Ia sama bengongnya dengan Nasrul.
" Terus gimana ini ? " bingung Nasrul.
" Kamu sama Lino yang tidur di hotel. Aku mau tidur sini ! " perintah Ashe.
" Bu, itu hotel bintang 5, kamar VVIP. Fasilitas lengkap, makan 3 X sehari, pelayanan prima...! Kenapa malah ngajak ke sini ? "
" Aku maunya di sini...! Buruan pindah. Kalau enggak aku bilang Silia nih...! " ancam Ashe.
Nasrul nyengir menatap Dimas yang angkat bahu. Dimintain pertolongan malah menghindar.
" Udaaah. Habisin dulu makannya...! Terus kamu ke sana...! Dah, dua hari libur. Nanti aku kasih bonus chas sebelum berperang hari Senin...! " imbuh Dimas hendak mengeluarkan dompetnya.
" Nggak usah...! Bapak sebutin aja, mau ngasih chas berapa ? Nanti saya ambil sendiri...! " sungut Nasrul.
Nasrul menghela nafas.
" Aku menghadapi dua bosku ini aja pusing...! Apalagi kalau kalian punya anak...! Hmmmm.... " Nasrul menggaruk kepalanya frustasi.
" Udah, Lino makan. Habis ini kita minggat...! Kita diusir...! "
Nasrul meneruskan makan.
Dimas dan Ashe menahan tawa.
" Baru kali ini punya assisten ngelunjak...! " sindir Ashe.
" Bos saya yang ngelunjak...! " elak Nasrul.
" Udah, kita makan sendiri Bu....! " Dimas beranjak ke dapur dan mengambil piring. Dia mulai membuka tentengan yang ia bawa. Nasrul menatap bawaan bosnya.
" Bu Asheee....! " keluh Nasrul.
" Apaaa ? Selera gue bukan selera sosialita...! "
Nasrul menghela nafas.
" Baiklah. Aku tidur di hotel Pak. Pak Dimas sama Bu Ashe kalau ada apa - apa ! Hubungi saya ya...! " iiih, Nasrul. memang assisten sejati.
" Iya Rul...! " sahut Ashe yang mulai makan.
Nasrul sudah tidak mau saat di tawarin makan lagi. Ia hanya menggeleng melihat Ashe yang hanya memakan lauknya dan anggurin nasi yang ia beli.
" Ambil 10 juta Rul. Berdua dengan Lino...! " kata Dimas.
" Iya Pak. Bapak yakin di tinggal...? "
" Yakiin Rul. Aku ini gembel. Nggak ada orang yang ngincer gembel...! "
Nasrul pasrah. Ia hanya membawa tas dengan beberapa potong baju dan laptop.
*****
Ashe dan Dimas menikmati makan mereka setelah Nasrul pergi. Udah jam 20 : 30 wib. Udah bukan makan malam ini. Berasa sahur. 😄Tapi Ashe masih belum berhenti menghabiskan lauk. Nasinya masih utuh. Dimas hanya menahan tawa sambil makan.
" Kamu ini diet atau apa sih Bu ? "
" Aku lagi nggak suka makan nasi...! "
" Ya deh. Tapi jangan sampai nggak suka sama aku ya...! "
" Iyalah. Kamu itu rasanya pingin aku karungin biar nggak di lirik sama cewek - cewek genit di luar sana...! "
" Yaelaaah, segitunya...! " toel Dimas, ia memandangi Ashe yang sudah mulai berhenti makan.
" Udah makannya ? " tanya Dimas.
" Iya...! Taruh kulkas aja ya... ! " Ashe beranjak. Cuci tangan dan beberes meja makan. Dimas membantunya.
" Bie, aku ganti baju dulu ya ! "
" Ganti nggak pakai baju ? " kerlip Dimas nakal.
" Hiiiissss.... masih sore ! "
" Hahaha...! Kamarnya yang spreinya ungu...! "
Ashe melonggok
" Kenapa milihnya ungu ? "
" Spreinya doang Bu ! Bukan berarti aku suka janda...! " seru Dimas.
" Aku nggak ngomong ya...! " Ashe menutup pintu kamar.
" Kenapa pintunya ditutup ? " hiiiih....! Dimas masih aja belum ngerem mulutnya.
" Ntar ada singa masuk...! " sahut Ashe setengah berteriak.
" Emang...! " Dimas muncul di pintu saat Ashe mulai membuka baju.
Ashe menghela nafas. Dimas menutup pintu dan menguncinya, Iangsung memeluk tubuh Ashe yang membelakanginya.
" Ntar aku nggak jadi ganti baju...! " Ashe menepuk lengan Dimas yang melingkar di tubuhnya.
" Nggak usah pakai baju aja...! " Dimas mengendus - endus leher Ashe.
" Bieee...! Geliiii tahu nggak....! Kumis kamu baru di cukur ya...? "
" Heee' em....! " Dimas tak peduli dan terus mengendus leher Ashe.
Tangannya udah piknik ke mana - mana. Ashe udah paham aja.
" Pelan sih Bie...! "
" Kangeeen Buu....! " parau Dimas.
Tak bertemu Ashe seminggu benar - benar membuatnya tak bisa menahan dirinya. Niatnya tadi Ashe mau nganti baju, malah sekarang jadi nggak pakai baju 😜.
Dimas mencium kening, pipi, hidung dan bibir Ashe. Ashe hanya bisa memejamkan mata.
"
"
" Shiiiiiiiit.... " Dimas mengumpat.
Kepalanya mendadak pening. Konsentrasinya pecah. Ashe membuka mata.
" Angkat dulu coba...! " usap Ashe ke lengan Dimas.
" Kamu nggak tahu ini udah siaga penuh...! " sungut Dimas. " Biarin aja Buuu.... " Dimas kembali mencium bibir Ashe. Ia melanjutkan yang tertunda. Tangannya udah lebih dulu jalan - jalan dengan pemandangan yang indah.
"
"
"Heeedeeeeeh....! Gue bunuh ini orang ! " umpat Dimas membuat Ashe menahan tawa.
Konsentrasi Dimas benar - benar buyar saat ia sudah setengah eksekusi.
" Coba ambilin Bu...! " Dimas seolah tak rela melepas setengah jam yang ia perjuangkan.
Tangan Ashe yang lebih dekat dengan Hp Dimas meraihnya.
" Si kampreeeet nih...! Haloo kenapa ? " kesal Dimas.
" Bapak sensi amat sih....! Kenapa ? "
" Laaah, kamu kenapa telepon ? Keburu mengkeret ini ! "
Ashe menepuk lengan lengan Dimas dengan delikan sebal.
" Apaanya... ? "
" Hiiih... ada apa ? Buruan ngomong...! "
" Iyaaa. Tadi aku belum lapor ke RT lho. Takutnya nanti Bapak di grebek warga karena bawa Bu Ashe. Ntar repot pas lagi panas - panasnya.... "
" Kamu yang gue grebek. Gue cekik kalau perlu...! "
Dimas menutup teleponnya dan langsung menjatuhkan dirinya pada tubuh Ashe.
" Kampreeeeet.... " umpat Dimas.
" Sabarrr....! Semua butuh proses....! "
" Matiin semua Hpnya....! " perintah Dimas.
Ia langsung mematikan Hpnya demikian juga Ashe. Selesai.
Dimas tersenyum kecut.
" Maaf ya sayang....! Jadi kacau...! Kita ulang lagi ya ! " kedip Dimas nakal membuat Ashe merasakan wajahnya panas karena malu.
" Emang kamu pikir ujian ? Di ulang lagi ! " gumam Ashe.
" Iya. Ujian berat setelah seminggu menahan hasrat...! " Dimas langsung membungkam mulut Ashe. Menciumi pipi Ashe tak henti - henti.
Dimasberaksi lagi dan membuat Ashe kelimpungan tak karuan berkali - kali . Hingga akhirnya Ashe dan Dimas terlelap kecapekan. Lebih capek daripada sudah jadi suami istri tapi LDRan. 🤭