
Ashe menatap nasi bungkusnya dengan takjub. Nasinya hanya sedikit, tapi masya allah, lauknya. Dimas terkekeh melihat ekspresi Ashe.
" Kamu emang suami idaman deh ! " cium Ashe di pipi gembung Dimas. Dimas yang sudah mulai mengunyah tampak merona. Mengelus pipi bekas ciuman Ashe.
" Diiihhh... Kayak anak SMA yang habis di cium pacarnya aja ! " ledek Ashe.
" Bahkan saat SMA aku belum pernah di cium cewek " sanggah Dimas namun langsung dapat ekspresi aneh Ashe. " Yaelaah, nggak percaya. Kamu satu - satunya yang menjamah tubuhku " kerling Dimas nakal.
Ashe langsung tersipu mendapat kedipan mata Dimas. Tak mampu berkata lagi dan mengalihkan dengan menyuap lauknya. Ayam bakar, telur dadar, rendang, ikan bakar, ayam pop, daun singkong dan sambal hijaunya. Ada juga rempeyek udang kesukaan Ashe.
" Makan nasinya sayaaang ! " lirik Dimas.
" Enggak. Kamu yang makan nasinya ! "
😓😓😓
" Kayaknya kamu titisan lelembut deh ! " gerutu Dimas.
Ashe menepuk lengan Dimas.
" Kamu nikahin demit berarti "
" Nggak papa. Yang penting itunya enak ! " kata Dimas ambigu namun menunjuk sesuatu di bawah Ashe.
" Jangan mulai deh ! Aku belum selesai "
" Haha.... Sejak kapan kamu nggak makan nasi sih ? " padahal Dimas memesankan nasi sangat sedikit untuk Ashe.
" Masih makan Bie. Tadi untuk lauk tertentu ! Aku eneg ! "
" Kamu nggak hamil aja rewel. Apalagi hamil.. " gumam Dimas.
" Apaaa ? " Ashe mengkerutkan kening. " Oiyaaa. Kalau gitu tidak ada kegiatan membuat istri bunting " sahut Ashe ikut bergumam.
" Hiii.... Bercanda Sayang ! Kamu serem amat sih kalau ngancem "
" Bodooo' "
" Diiiihh.....! Iya udah makan dulu habisin. Nasinya aku habisin sini... "
" Nggak usah. Nanti kamu gemuk ! "
" Emang kenapa kalau aku gemuk ? "
" Berat kalau di atas ! "
" Atas mana ? "
" Tahuuu ahhhh "
" Hahahhaa....! Asyek ! Berarti masih dapet jatah ! Alhamdullilah ! Aku nggak akan gemuk sayang. Sama sepertimu "
" Apaaaa ? "
" Badannya kecil, makannya banyak, tak punya daging, kalau di ranjang, ganassss " Dimas malah nyanyi.
" Apaaaan sih ? " Ashe tersipu malu.
" Kamu cantik kalau senyum.... "
" Jadi selama ini aku jelek ? "
" Iyaaaa. Jelek bangettt. Tapi aku cinta dan sukaaaa ! Apalagi bagian ini....! Hangaaaat sekali kalau malem " senggol Dimas genit.
" Ya ampun Bie ! " Ashe melotot ke arah Dimas. Dimas terkekeh dan mengelus rambut Ashe " Habiskan makannya ! Aku periksa surel sebentar "
Ashe mengiyakan dan menghabiskan makannya. Benar saja, ia menyisakan nasi namun menghabiskan semua lauk. Dimas terkekeh. Meski begitu, Ashe masih sanggup menghabiskan cemilan berupa udang tepung yang diam - diam bawa Dimas dari rumah dan segelas teh manis.
" Nak, ibumu luar biasa...! " elus Dimas di perut Ashe. Ashe memegang tangan Dimas trenyuh.
" Sabaaar ya Bie "
" Tentu saja. Aku mencintaimu dalam diam saja sabar kok. Apalagi cuma nunggu seminggu "
" Aku aku ngidamnya rewel banget gimana Bie ? "
" Ya gpp ! Pokoknya. Senyaman kamu aja Bu ! Aku akan mulai mengurangi jadwal luar kota dan mengurangi beban kerjamu ! Biar Pak Tua itu yang berkeliling " kekeh Dimas.
" Aku setuju ! "
" Anak durhaka kamu " sentil Dimas pelan.
" Kamu juga mantu durhaka " cubit Ashe hingga Dimas meringis manja.
Ashe dan Dimas menyelesaikan makan siang mereka. Setelah memberi kecupan mesra pada kening Ashe. Dimas pamit kembali ke ruangannya. Faisal terperangah bingung melihat ada sekelebat OB masuk ruangan Dimas. Faisal yang baru keluar lift langsung mengejar dan menahan tangan Dimas.
" Mas Dim...? Laah kirain siappaa ? " Faisal terkejut. Sementara Dimas terkekeh melihat reaksi Faisal.
" Kenapa pakai baju itu lagi ? " keluh Faisal.
" Sukaaaa ! "
" Hedeeeehhh! "
*****
Dimas tak ganti baju dan malah nyaman bekerja di temani Faisal di ruangannya. Mulai hari itu, Dimas memerintahkan Faisal mengalihkan sebagian besar pekerjaan Ashe ke dirinya.
Ia dan Faisal menyelesaikan berbagai perdokumenan yang ternyata cukup ribet di tangani Ashe. Meski sebagian sudah digital, namun tetap saja. Administrasi di JAE masih banyak yang butuh hard copy.
Hingga sore, Dimas tak keluar ruangan. Ia ingin cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Faisal mewakilinya pergi breafing sore dengan kepala divisi.
" Kopi Bos ? " tanpa sadar seseorang menyodorkan secangkir kopi kehadapan Dimas. Dimas menatap jengah pada seseorang yang menyembunyikan senyum di balik maskernya. Tanpa di suruh, ia pun langsung duduk di hadapan Dimas.
" Ckkk... kapan kamu kembali ? " Dimas bahkan tak menatap yang diajak bicara.
" Baru sajaaa ! "
Dimas menelisik penampilan orang di depannya sesaat.
" Kenapa sihhh ? " yang di pandang jadi tak terima.
" Kepo ajaa ! "
" Males di kepoinn ! "
" Hahaha...! Kamu bawa apa dari Jogja. Kalau kamu sampai nggak bawa apa - apa. Lihat aja Nyonyamu ! "
" Tenang aja sihh Bos. Ada siap pokoknya. Mertuaku is the best ! "
" Siapa yang kamu sebut mertua itu ? " delik Dimas.
" Hiii... ! Iya deh Abang ipar ! Bapak sama Mamak titip salam, pesennya jangan sampai jangan jadi anak durhaka yang nggak pernah pulang. Transferannya juga jangan lupaaaa...wkwkwkk "
Dimas membulatkan mata.
" Mertua loe itu matre. Hati - hati "
" Hahaha....! Bapak bilang hanya akan morotin Bang Dimas "
" Hedeeehh Rulll....! Itu Bapak atau Ozeeen. Buruan deh, loe pulang aja. Besok kerja pagi - pagi "
" Iya deh. Kopinya di minum dong Bang "
" Gue nggak ngopi Rul ! "tekan Dimas.
" Iya. Saya tahu Pak. Emang ini sengaja buat saya sendiri kok...! " Nasrul menyerutup kopinya tanpa rasa bersalah.
Dimas kesal sendiri. " Baru berapa hari loe di Jogja udah konslet kayak Ozen aja loe "
" Hahahahha....! Aku galau yang terhalang restu. Bagaimana pun ibu belum tahu kalau yang ku lamar itu adiknya Bosku " terdengar Nasrul curcol.
Dimas menghentikan pekerjaannya.
" Terus apa yang mau kamu lakukan ? Ibumu sepertinya ingin menantu yang kaya kan ? Dan yang jelas bukan anak SMA... "
" Iya Pak. Tapi aku akan memperjuangkan dengan caraku sendiri tanpa embel - embel di belakangmu Pak "
" Ok. Aku siap membantu "
" Terima kasih Pak. Saya jadi sopir ya sore ini ! "
" Enggak !! "
" Kenapa ? "
Dimas menghela nafas.
" Oiya, sekarang lepas kantor alih profesi kok ya ! Jadi sopir pribadi Bu Bos, bajunya aja udah ganti lagi " ledek Nasrul.
" Emang setan loe itu " umpat Dimas membuat Nasrul terkekeh.
" Kunci mobil sini ! "
Dimas melempar kunci mobil ke arah Nasrul, dengan sigap Nasrul menangkapnya.
" Oleh - oleh buat Bu Ashe saya taruh di bagasi Pak ! "
" Ok. Oiya Rul. Besok kamu dan Faisal ikut aku ! Jangan telat dateng "
Nasrul memberi hormat dan berlalu dari ruangan Dimas.
" Kopiii loeee.... "
Sore menjelang, Dimas bergegas membereskan ruangannya dan turun ke bawah tempat ruangan Ashe.
" Kemana karyawanmu Bu ? " mendadak Dimas mengagetkan Ashe yang masih sibuk di depan laptopnya.
" Haaah...? Di depan nggak ada ? " Ashe malah bingung ntah melupakan sesuatu.
" Nggak ada orang tuh, kecuali Dema "
" Ohh, udah pada pulang berarti "
" Terus kamu nggak pulang ? " Dimas duduk di meja Ashe dengan raut manja dan tangan yang mulai jail hingga Ashe kewalahan menepisnya.
" Pulaaang ! Bentar lagi ini lho ! Awas sihh, tangan kamu jangan kemana - mana "
" Udah tutup aja sih ! Lanjut besok ! Aku mau cerita sesuatu ! "
" Iya bentar doang Bie. Nanti ceritanya di kamar aja ! "
" Di kamar itu buat bikin anak "
" Heeh...! Pikiranmu tuh ya ! "
" Udahan sih ! Itu kamu kelamaan pakai pembalutnya lho. Kelamaan duduk jugaa ! Nggak baik, harusnya kita banyak gerak di ranjang. Bukan depan laptop "
" Astagaaaa ! Kenapa mesummu itu sekarang makin nggak ketulungan "
" Habisnya liat itu sih ! " Dimas menunjuk dengan raut wajahnya.
Sementara Ashe bingung mengikuti petunjuk Dimas dan langsung melihat ke arah dadanya. Ashe refleks menutup dadanya dan buru - buru mengancingkan kancing kemejanya.
" Jail banget sih tangannya " geram Ashe.
" Hehehe....! Udah sini aku selesain. Kamu yang beres - beres ! " Dimas menarik tangan Ashe lembut. Sebelum duduk di kursi Ashe, Dimas segaja mengecup bibir Ashe. Ashe merasa pipinya panas.
" Baperr yaaa ? " goda Dimas melihat istrinya merona.
" Auu ahh ! " elak Ashe yang langsung ke kamar mandi diikuti kekehan Dimas.
Tak lama Ashe keluar, ia kemudian beres - beres mejanya. Dimas selesai, Ashe pun selesai. Mereka segera pulang diikuti Dema. Dema tidak akan pulang kalau Ashe belum pulang.
****
Ashe menghempaskan tubuhnya di sofa di ruang tv. Dimas udah kayak pembantu berjalan masuk ke dalam rumah. Kemeja, blazzer, jas dan tas Ashe tersampir di pundaknya. Tangannya menenteng kantong kresek di tangan kiri, dan kardus di tangan kanan. Ashe terkekeh menatapnya. Perlahan Ashe bangun dari duduknya dan langsung menyusup memeluk Dimas dari belakang yang tengah meletakkan tentengannya di meja makan.
" Apa ini cobaaa ? " tatap Dimas, pasalnya kepala Ashe menyusup lewat ketiak Dimas.
" Kamu sangat ganteng dan romantis "
Dimas membulatkan mata dan tak bisa menahan senyumnya.
" Baru tahuuu. Udah buruan cuci tangan dulu. Ini bawa ke kamar. Aku panasin kuah baksonya " Dimas mengulurkan berbagai bawaannya.
" Nggak suruh mandi dulu ? "
" Mandinya nanti aja. Keburu nggak enak "
" Kamu emang suami idaman " kedip Ashe membuat Dimas tersenyum jahat.
" Senyum lagi, lembur lhoo. " Macan " jantan baper "
" Diiihhh....! Dia itu baperan " terdengar Ashe menyahut dan menghilang di balik pintu kamar.
Tak lama Ashe muncul lagi.
" Lama - lama kamu yang ku lempar di kasur lho Bu " ucap Dimas menghidupkan kompor.
" Dengan senang hati " senyum Ashe langsung menyusup kembali ke ketiak Dimas.
" Kenapa cobaaa ? " Dimas membelai rambut Ashe.
" Kamu akan pergi lagii ? "
" Hanya untuk urgent saja. Kenapa ? "
" Aku lebih sering kesepian. Punya suami tapi tidur sendiri " keluh Ashe.
Dimas meraih tubuh Ashe dan membawa ke pelukannya.
" Itu kemarin - kemarin. Sekarang aku tinggal monitoring aja Bu. Jadi aku akan lebih sering jadi OB pribadimu "
" Kamu kan lebih nurut sama Papa "
" Aku nurut karena Papa yang jadiin aku seperti ini ! Tapi tenang aja, semua bisnis di luar kota mulai berjalan baik. Kamu tidak perlu khawatir Bu. Nanti kalau aku keluar kota, kamu harus ikut. Sekalian bulan madu " kedip Dimas.
" Ogaahhh. Bulan madu aja di kamarr " Ashe berontak dari pelukan Dimas, tapi Dimas menahannya.
" Sekarang ??? " goda Dimas.
" Belum bisaa. Itu mendidih... " tunjuk Ashe di kompor.
Dimas terpaksa melepas pelukannya dan menuang kuah bakso di mangkok mereka.
" Ayo makan mumpung panas " ajak Dimas.
Ashe dan Dimas menikmati bakso mereka di meja makan tanpa obrolan berarti. Setelahnya, Ashe memilih mencuci bekas mangkok dan gelas kotor mereka. Sementara Dimas pergi ke kamar.
" Lahhh, aku kira kamu udah mandi ? " kenyit Ashe begitu masuk kamar dan melihat Dimas duduk bertelanjang dada di sofa mereka.
" Nunggu kamu " Dimas meletakkan Hpnya. Ia berjalan menghampiri Ashe.
" Buruan copot bajunya ! "
" Haaahh... mau ngapain ? "
" Kamu mandi ! "
" Nggak di sini kali nyopotnya Bie " protes Ashe yang tak di gubris Dimas. Tangannya langsung maju hendak melepas kancing kemeja Ashe. Ashe waspada dan langsung kabur. Dimas terkekeh melihat tingkah Ashe.
Tak lama, Ashe selesai mandi dan keluar hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Dengan cepat Ashe menyelinap ke depan lemari tempat ganti baju. Sekilas Dimas melihatnya dan meneguk salivanya. Namun, buru - buru ia menepisnya. Dimas beranjak mengambil baju kotor. Membawanya keluar kamar.
" Kamu mau kemana Bie ? " Ashe tampak curiga namun belum selesai berganti baju.
" Buang sampah "
Dimas langsung keluar kamar dan ke belakang. Ia mencuci baju di sana.
" Bieeee ? Sini aku terusin "Ashe mengambil alih tempat Dimas. " Kamu liatin piaraan Papa noh. Ntar kalau mati, Papa ngamuk lagi "
" Hahaha....! Biarin aja. Ntar aku goreng " Dimas akhirnya membiarkan Ashe mencuci baju. Ia sendiri pergi melihat piara Pak Fajar di belakang. Di sana, ada 2 orang pekerja yang tengah mengurus beberapa piaraan Pak Fajar. Dimas pun akhirnya ngobrol dan tak segan membantu.
*****
Ashe tengah membereskan kasur saat Dimas masuk dan menutup pintu kamar. Dimas langsung memeluk Ashe dari belakang.
" Belum selesai Bie "
" Aku tahuuuu "
" Kamu udah selesai ? "
" Udahh....! " Dimas mengendus leher Ashe. Tadi selesai membantu mengurus piaraan Pak Fajar, Dimas langsung membuka laptop dan mengerjakan sesuatu. Ia juga sempat telepon Pak Fajar dan Nasrul.
" Geliiii Bie "
" Iyaaaa ! Cabutin ini dong " Dimas mengkode dagunya dengan menggesek - gesek di leher Ashe.
" Ambil cabutannya "
Dimas melepas pelukannya dan berjalan ke meja rias Ashe. Mencari sesuatu di tempat pensil, setelah menemukannya Dimas mengambil Hp dan langsung ambruk di kasur. Ashe menghela nafas. Bukan karena ia baru selesai merapikannya, namun karena Dimas bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek di atas lutut.
" Heeeeehhh....! Ngeces tuhh " goda Dimas spontan Ashe mengelap ujung bibirnya.
" Hahahhhahaha.... "
" Hiiiihhh..... " kesal Ashe sadar telah di kerjain Dimas.
" Kenapa sihhh ? Ampe ngeces begitu liat akuu Bu ? " kembali Dimas menggoda.
" Kamu seksiii... " Ashe menutup mulutnya hingga membuat Dimas tergelak.
" Udahh, buruan siniii... " tepuk Dimas agar Ashe segera naik ke kasur.
" Iyaaaa ! " sahut Ashe meski masih saja terlihat cemberut.
Dimas langsung duduk di paha Ashe menghadap perut Ashe. Ashe meremang, tangan Dimas sudah melingkar di pinggangnya langsung menempel di kulit. Dimas menyingkap baju Ashe dan sengaja ngedusel di perut Ashe.
" Ini apa yang mau di cabutin ? " kekeh Ashe geli menepuk bahu Dimas.
" Gemeeess tahu nggak ! " wajah Dimas muncul dari balik kaos Ashe.
" Kamu mau masuuk ke dalem ? "
" Pingiiinnn....! Tapi pakai yang lain... " kerlip Dimas.
Ashe merona, " bisa aja siiihhh ! " kilah Ashe. " Tadi katanya kamu pingin cerita Bie ? Cerita apaaa Bie ? "
" Kepooo yaaa ? " kedip Dimas.
" Heeehhhh ? Orang kamu yang mau cerita jugaa " Ashe mulai mencabuti rambut - rambut yang tumbuh di dagu Dimas.
" Kamu kurang update... " olok Dimas membuat Ashe mengenyit dahi.