Perfect Boy

Perfect Boy
12. Q & A



Dimas memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah. Ashe menatap sekeliling. Ia tahu itu kompleks punya JAE. Dimas turun dan membukakan pintu untuk Ashe. Kemudian mengambil kopernya. Rumah dan lingkungan sekitar tampak sepi. Mungkin karena sudah larut malam.


" Pak Dimas baru pulang ya ? " sapa seseorang dari jalanan.


" Eh, iya Pak. Patroli ya ? " sahut Dimas.


Ternyata satpam kompleks. Mereka bersepeda berdua.


" Sama siapa Pak ? " tanya salah satu dari mereka.


" Oh, ini istri saya Pak ! " sahut Dimas sekenanya.


Ashe melototi Dimas. Dimas hanya nyengir.


" Ya udah, kita permisi ya Pak. Selamat istirahat ! "


" Ya makasih Pak ! "


Dimas mengambil kunci di bawah pot. Ashe bersedekap minta penjelasan. Dimas membuka pintu dan menyalakan lampu.


" Nggak usah pasang tampang galak begitu Bu, Ibu maunya nemplok saya sih ! Ayo masuk Bu, nanti Pak Gena lewat ! "


" Omongan loe itu ya ! " Ashe berjalan mendahului Dimas.


Langsung duduk di sofa panjang di ruang tamu. Dimas menutup pintu. Meletakkan kopernya di sudut ruangan. Ia menaruh kotak karton berisi pesanan Ashe dimeja dan mie goreng serta minuman yang tadi mereka beli di jalan.


" Kamu tinggal sendiri Dim ? " Ashe menatap sekeliling yang tampak sepi.


" Maunya berdua terus sama Ibu..! " seloroh Dimas seraya duduk disamping Ashe.


Ia melepaskan blazzer dan sepatunya. Ashe menatap Dimas. Dimas hanya terkekeh.


" Sumpaaah... loe itu bukan OB ! "


" Kenapa ??? Karena kegantengan saya ? "


" Tak ada OB modelnya seperti loe ! "


" Haha.. adalah Bu. Buktinya saya...! "


" Gue nggak percaya ! " sinis Ashe.


" Hahahaha.... sudah. Ayo makan dulu Bu ! "


Dimas menyiapkan piring, gelas dan sendok. Ia membukakan bungkusan mie goreng untuk Ashe.


" Makan dulu, biar kuat ngamuknya ! "


Ashe melotot. Dimas tersenyum. Ia melahab mie gorengnya.


" Sebenernya kerjaan loe apa Dim ? " Ashe penasaran.


" OB - lah Bu...! "


" Jangan boooong.... "


" Boong gimana ? Kan beneran OB Bu...! "


" Banyak yang loe sembunyiin dari gue..! " umpat Ashe.


" Nanti Ibu akan tahu sendiri.. "


Ashe terdiam. Nampak menikmati mie gorengnya namun pikirannya melayang kemana - mana.


" Saya memang menyimpan banyak hal dari Ibu. Tapi saya tidak membohongi Ibu...! " kata Dimas.


" Bedanya apa ? Semua orang menyimpan banyak hal untuk bohongin gue ! "


" Setidaknya saya jujur dengan perasaan saya ! "


Ashe menoleh.


" Saya hanya menjalani apa yang perlu saya jalani Bu. Saya ngikutin proses saja ! "


" Gue bahkan tidak tahu siapa loe Dim. Gue juga nggak pernah ngotot ikut cowok ke rumahnya ! Kecuali loe... "


" Ikuti kata hati Ibu aja ! "


Ashe terdiam. Menghabiskan makanannya. Otaknya penuh tanda tanya yang entah bagaimana jawabannya.


" Semua jawaban ada di saya Bu ! " Dimas seolah membaca pikiran Ashe.


" Apaa ?? "


" Semua pertanyaan Ibu ! "


" Eisss... gue rasa loe memang beneran mafia ! " sindir Ashe.


" Bisa jadi juga sih dibilang gitu..! "


Ashe tersenyum kecut. Berjalan ke arah dapur dan mencuci piringnya. Dimas menyusul.


" Taruh saja Bu, biar saya yang cuci ! " kata Dimas.


" Kata loe, cewek itu harus rapi ! "


" Nggak perlu dipaksa juga kali.. "


" Sini piring loe... gue cuci..! "


Dimas menyerahkan piringnya. Berkacak pinggang melihat Ashe.


" Jangan begitu. Loe itu akan kaget liat gue sebenernya ! Sama kayak gue liat loe..! " ucap Ashe karena merasa di perhatikan Dimas.


Dimas tertawa.


" Baguslas. Cocok jadi istri ! " goda Dimas seraya berlalu.


Ashe menoleh menatap Dimas yang pergi meninggalkannya.


" Itu sindiran atau lamaran ??? " teriak Ashe.


" Nyindir dulu, baru nanti saya lamar ! " sahut Dimas.


" Apaaa itu, nggak romantis !! " umpat Ashe.


" Jadi Ibu mau yang romantis. Ok ! Kita cuma berdua lho dirumah !! "


Ashe datang berkacak pinggang. Menatap Dimas yang duduk tengah menatapnya juga.


" Jangan berpikiran yang anah - aneh " ucap Ashe.


" Ibu yang membuat saya mikir aneh - aneh " sahut Dimas.


Ashe terdiam, ia duduk di samping Dimas dengan muka ditekuk. Dimas hanya tersenyum.


" Beneran nggak mau pulang ? Nanti di cariin mama sama papa ! "


" Gue udah bilang ngikut loe. Jadi kalau terjadi apa - apa, loe orang pertama kali yang dicari polisi ! "


" Bisa gitu ya ?? "


" Bisa lah... "


" Ya udah. Ibu mau bergadang atau tidur ? "


Ashe diam.


" Kan sudah saya bilang, jangan mikirin yang nggak patut di pikirin ! "


" Siapa yang loe maksud itu ? Gena ?? "


" Saya pasti bilang iya !! "


" Kenapa kamu ngomong seperti itu ? Apa yang kamu tahu Dim dan apa yang tidak aku tahu ? " Ashe berdiri.


" Yang mana kamarmu ?? " imbuh Ashe.


Dimas menunjuk satu pintu. Ashe berjalan dan membuka pintu kamar Dimas. Nampak rapi dan bersih. Karena memang Dimas mempekerjaan seorang paruh waktu yang akan membersihkan rumahnya. Ia hanya datang berkala.


Dimas yang mulai menyalakan TV menepuk jidatnya. Lupa sesuatu. Dimas berdiri dan tergesa ke kamarnya. Ashe bersedekap tangan. Dimas nyengir.


" Jelaskan apa ini Dim ? " tunjuk Ashe pada foto yang berjajar di dinding dan berbagai piala penghargaan Dimas.


Dimas menunjukkan deretan giginya. Ashe masih menatap Dimas dengan pandangan menyelidik.


" Iya, maaf Bu ! " cengir Dimas.


" Saya nggak mau tidur dengan otak penuh tanda tanya ! " sewot Ashe.


Dimas masuk dan duduk di kursi yang ada di kamar itu. Ashe masih bersedekap.


" Ituuu..... "


" Itu apa Dim ?? " cerca Ashe.


" Saya sebenarnya CEO JAE Kacab Surabaya Bu....! " jujur Dimas.


" Terus siapa yang nyuruh kamu jadi OB di Jakarta ?? ".


" Pak Fajar !!! ".


" Papa...?? ".


" Iyaa ".


" Dalam misi apa ? ".


" Menjaga Ibu Ashe ! ".


" Dari ?? ".


" Gena Line Grop ! ".


" Maksudnya ?? ".


" Gena Line Grop punya 40 % saham di JAE. Mereka mengincar posisi Ibu untuk Pak Gena. Tapi orang tua Pak Gena berselisih paham. Saya harus mencari cara supaya kontrak dengan Gena Line keluar satu persatu. Mereka diduga melakukan mark up untuk beberapa proyek Pak Fajar ! ".


" Tujuan lain loe...? ".


" Sejauh ini hanya itu Bu ? ".


" Jangan bohong....!! ".


" Saya menyukai Ibu Ashe ! "


Ashe tampak kaget.


" Saya melihat Bu Ashe waktu ikut Pak Fajar ke Surabaya 2 tahun lalu. Saat acara peresmian gedung JAE baru ".


Ashe mengenyit dahi. Ia ingat itu saat liburan kuliahnya. Tapi ia sama sekali tak melihat Dimas.


" Kamu beneran mafia ! " umpat Ashe sambil duduk di kasur.


Dimas hanya terkekeh.


" Sudah puas dengan jawaban saya ? " tanya Dimas.


" Kalau emang Gena Line dibawah pengawasanmu, kamu tahu dimana Gena ? " Ashe jadi penasaran dengan pacarnya.


" Ibu mau syok nggak ? "


Ashe melotot.


" Kamu pikir saya belum biasa syok ? "


Dimas kembali tertawa.


" Pak Gena di Bandung. Bulan madu dengan istrinya ! " sahut Dimas santai.


" Astofirullaaah...! " Ashe mengelus dada.


" Sini kalau mau nangis peluk saya ! " tawar Dimas membuat Ashe mendelik sebal.


" Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ! " sewot Ashe.


" Terserah Ibu aja. Nanti jangan kaget kalau dilabrak perempuan hamil "


ucap Dimas cuek seraya berdiri keluar kamar.


Ashe seolah tak percaya.


" Loe beneran OB kurang ajar loe ya ! Gue pecat loe...! "


" Kalau Ibu pecat saya, besok kalau nangis mau peluk siapa ? "sahut Dimas benar - benar cuek.


Ashe dongkol mendengar kata - kata Dimas. Dimas sendiri keluar kamar dan rebahan di sofa. Ashe menyusul keluar dan duduk mengeser kaki Dimas. Membuat Dimas kaget namun tak merubah posisi. Ashe malah beneran kayak istri yang menyusul suami tidur di luar. Dimas menatap diam menunggu apa yang ingin dikatakan Ashe.


" Bantu aku lepas dari Gena ! " pinta Ashe.


Dimas tersenyum.


" Tanda tangani pemutusan kontrak dengan Gena Line Bu ! ".


" Tapi kita rugi banyak Dim ! ".


" Itu hanya pancingan Bu ! "


" Baiklah " Ashe akhirnya mengalah.


" Saya punya bukti kalau Pak Gena menikah Bu, kalau mark up. Saya baru mengumpulkan bukti yang valid ! Kita hanya rugi 3 M. Tapi mereka bisa kehilangan 40 % saham mereka. Sekarang Ibu tidur saja. Jangan banyak mikir, cepet tua lho..! " sindir Dimas.


Ashe mencibir. Berdiri dan menuju kamar Dimas.


" Dim...! "


Dimas menoleh. Ashe masih berdiri depan pintu kamar Dimas.


" Kenapa Bu ? "


" Saya nggak berani tidur sendiri ! "


" Haaah....! "


Dimas mematikan tvnya dan juga lampu ruang tamu. Mengambil kasur lantai dan mengelar di bawah tempat tidurnya. Ashe sudah nyaman dibawah selimut.


" Kapan kamu kembali kerja di Jakarta Dim ? "


" Saya mentoring sebulan di Kalimantan Bu ! "


" Jangan panggil gue Ibu. Gue bukan Ibu loe ! " sewot Ashe.


Dimas terkekeh. Wanita disampingnya ini moodnya gampang berubah.


" Gue nggak boleh ikut ya ? " tanya Ashe.


" Tunggu Ibu lulus mentoring saya dulu ! ".


" Apaaa itu...!! " protes Ashe.


" Hahahaha....! "


" Tunggu....! Ini semua pasti seizin Papaku kan ? "


" Acara Q & A berakhir ! "


" Isssh... ! "


Dimas kembali tertawa. Ashe memeluk guling erat karena kesal.


" Gulingnya di ganti saya ya Bubba ? "


Ashe menoleh.


" Cari artinya di goggle ! " Dimas sudah berkata sebelum Ashe bertanya. Dimas tampak memejamkan mata. Tak lama, dengkuran halus terdengar darinya. Ashe menatapnya heran. Bisa secepat itu dia tidur, gerutu Ashe.