Perfect Boy

Perfect Boy
35.Mood bobrok, Otak berjalan



Pukul 04 : 00 wib saat alarm Dimas berbunyi. Mata Dimas terasa berat untuk terbuka. Dengan masih menutup mata, Dimas meraba - raba meja meraih Hpnya. Mematikan Hpnya dan mengembalikan ke meja. Sesaat keaadarannya mulai pulih. Ia menatap langit - langit dan menyadari tak berada di kamarnya. Melainkan kamar Ashe. Perlahan Dimas menyingkap selimut dan bangun. Menoleh pada Ashe yang masih terlelap. Terhuyung, Dimas ke kamar mandi. Dimas ingin buang air kecil. Kembali ke kamar Ashe. Kini malah menyusul Ashe ke tempat tidur. Masuk dalam selimut dan memeluk Ashe dari belakang.


" Bieeee.... " Ashe merasa tangan seseorang melingkar pada perutnya. Matanya masih terpejam.


" Hmmmm..... "


" Kamu ngapain...?? " Ashe tetap tak membuka mata dan meletakkan tangannya diatas tangan Dimas.


" Tiduuuuurrrr.... " Dimas juga tak membuka mata.


Tak ada suara, mereka terlelap lagi rupanya.


Sesaat...


Tok.. tok...


Tak ada sahutan.


Tok.. tok...


"" Pak Dimas... "


" Bie... ada yang ngetok pintu... " Ashe masih dalam posisinya, tak membuka mata.


" Hmmm.... " Dimas lagi.


Terdengar lagi bunyi ketokan pintu dan suara Nasrul.


" Itu Nasruul Bieee...! "


Mereka masih tak bergerak dalam posisi nyaman mereka. Alarm Dimas berbunyi lagi. Ashe dan Dimas membuka mata.


" Coba biarkan kami setengah jam ajaaaa begini... " keluh Dimas.


" Hehehe... kesiangan ntar... " Ashe mulai bergerak.


" Pak Dimass.... " suara Nasrul terdengar lagi.


" Ya Rul...! Tunggu ya..." sahut Dimas.


" Bangun Bie....! " kata Ashe berbalik. Memainkan jarinya di dada Dimas.


Dimas tersenyum menatap wajah Ashe. Ia menahan tangan Ashe untuk tetap didadanya.


" Jangan salah megang... " goda Dimas.


" Apaaa....? "


" Berikan aku sarapan...! " senyum Dimas seraya mendekatkan wajahnya.


Ashe mencium bibir Dimas pelan. Mereka menikmati moment di pagi hari. Ashe melepas ciumannya.


" Kenapa ? " tanya Dimas mengeratkan pelukannya.


" Kebanyakan nonton korea kamu...! " umpat Ashe. Ia berusaha bangun. Tapi tangan Dimas lebih kuat menahannya, hingga Ashe kembali masuk dalam pelukan Dimas.


" Kamu yang ngajarin.... " sahut Dimas.


" Bangunlaah Bie.... "


" Ntar.... "


5 Menit.


" Bieee.... " Ashe mulai kesal. Ia meraba dada Dimas dengan tangannya.


Dimas berusaha menahan, tapi tangan Ashe mulai gesit hingga Dimas mulai kegelian.


" Cepatlaah banguuun.... " tangan Ashe berhenti dan kini ganti memeluk Dimas erat.


Dimas merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel di dadanya.Wajah Ashe tepat di wajahnya. Dimas mendadak frustasi. Otaknya mulai traveling. Ia langsung melepas pelukan Ashe dan bangun. Berlari ke kamar mandi.


Ashe menatap heran.


" Kenapa Bie...? "


" Kepalakuuu puusing.... " sahut Dimas dari kamar mandi.


Ashe tersenyum , langsung paham konotasi ' kepala pusing ' yang diucapkan Dimas.


" Jangan lupa minum obat Bie.... " teriak Ashe.


" Obatnya tidak mudah di dapat, harganya mahal... " sahut Dimas.


" Hahahhaha.... " Ashe tak dapat menahan tawanya.


" Ya udah. Direndem aja dulu. Biar dingin. Aku keluar dulu ya... " imbuh Ashe menahan tawa.


Dimas tersenyum kecut. Ashe tentu saja paham apa yang terjadi pada dirinya. Otaknya tak bisa berhenti traveling. Hangatnya dada Ashe tak bisa hilang dari pikirannya. Terpaksa, Dimas menunaikan hajatnya dikamar mandi. Ia pun buru - buru mandi dan berganti baju. Menyimpan baju kotor ditempat yang disiapkan Nasrul.


*****


Ashe tersenyum begitu Dimas menghampirinya di ruang tivi. Dimas sudah rapi dan terlihat sangat tampan. Membuat Ashe tak berhenti memandangnya.


Dimas gemas. Menoyor pelan kepala Ashe.


" Puas ya, ngerjain orang...! " Dimas duduk disamping Ashe.


Suasana masih sepi. Meski Bu Fatimah tengah memasak dibantu ARTnya. Pak Fajar di teras belakang. Memberi makan burung.


" Hehehe... " Ashe menampilkan senyumnya. Tangannya justru merengkuh pinggang Dimas. Aroma wangi Dimas tercium hidung Ashe.


" Mandi sana...! " toleh Dimas.


" Iyaaa. Mentang - mentang udah mandi. Keramas pula... " Ashe penuh senyum meledek.


Dimas kembali menoyor Ashe.


" Liat saja nanti Bu...! Secepatnya Bu nggak bakal bisa berkutik... " ancam Dimas.


Ashe menatap Dimas kesal. Dimas tersenyum cerah seraya membetulkan rambut Ashe.


" Yailaaah....! Belum juga penganten baru... " mendadak Rozi muncul dari depan.


Ashe dan Dimas menoleh ke arah Rozi.


" Darimana loe...?? " tanya Dimas.


" Nyuci mobil Bang... " sahut Rozi.


Dimas mengenyit dahi. Rozi mendekat.


" Mbak... ada cewek cantik nyariin Mbak Ashe ? " kata Rozi pelan.


Dimas membatin sesuatu. Merasa Rozi berbeda.


" Siapa ? " Ashe penasaran. Ia hanya janjian dengan Dema.


" Hehehe... lupa nanya namanya ! Tanyain dong Mbak, udah punya pacar belum...? "


" Ohhh... " bibir Dimas membulat. Ashe mencubit perutnya hingga Dimas meringis memohon Ashe melepaskan cubitannya.


" Iya. Nanti Mbak kenalin. Itu sekertarisku...! Dema namanya ! " kata Ashe seraya berjalan ke depan. Menemui Dema.


Tadi Dema memang izin karena ibunya sedang tidak enak badan. Jadi Dema mengantarkan berkas meeting untuk Ashe.


Rozi tersenyum. Dimas menoyor kepala Rozi hingga Rozi cemberut.


" Buruan siap - siap...! " perintah Dimas.


" Iyaaa Abaang... " Rozi ke kamar tamu yang tadi malem ditempatinya.


Dimas ke teras belakang. Menghampiri Pak Fajar yang sedang memberi makan burung dan ngobrol sebentar. Dimas kembali ke kamar Ashe dan ternyata Ashe tengah membereskan barang - barang Dimas.


" Baju kotormu ditinggal aja ya Bie... " kata Ashe.


" Iya... " Dimas menatap Ashe.


" Aku mau mandi dulu... "


" Yang wangi ya... " goda Dimas.


" Wangi atau enggak belum ngaruh sekarang...! "


" Apaaa ? " Dimas mendekat dan ingin mencium Ashe. Namun Ashe tersenyum seraya berlari ke kamar mandi. Dimas tertawa. Ia sangat senang menggoda Ashe. Melirik handuk yang tergeletak di sandaran kursi karena Dimas lupa mengembalikannya.


Dimas duduk di sofa memeriksa Hpnya melihat laporan dari Surabaya dan juga dari Kalimantan.


" Bieeee.....!! " terdengar Ashe memanggil dari kamar mandi.


" Apaaaa ?? " sahut Dimas.


" Jangan pura - pura.... " Ashe malah ngomel.


Otak Dimas yang udah singkron langsung tersenyum, bangkit dan mengambil handuk. Mengetuk pintu kamar mandi. Sesaat, tangan Ashe terulur.


" Kamu keluar dulu Bie. Ntar nyalahin aku kalau kamu harus mandi keramas lagi... "


" Hahha... iya ! "


Dimas berjalan keluar kamar. Ia malah membantu Bu Fatimah dan artnya menyiapkan sarapan.


Rumah Ashe memang besar dan sengaja dibuat tidak bertingkat. Halaman dan pekarangan pun dibuat luas dan penuh pohon perindang hingga AC di rumah seolah hanya pajangan karena banyaknya ventilasi. Selain bagian utama rumah yang ditempati keluarga Pak Fajar, ada juga bangunan yang berisi kamar yang ditempati assisten, ajudan sopir maupun art di rumah Pak Fajar.


Setelah semua berkumpul, mereka sarapan bersama. Seperti biasa meteka ngobrol kesana kemari.


******


" Pa, saya berangkat dulu ya ! " pamit Dimas mencium punggung tangan Pak Fajar.


" Hati - hati ya Dim. Jangan lama - lama. Ntar ada yang nangis bombay " masih aja Pak Fajar meledek Ashe yang berdiri tak jauh darinya.


Dimas tersenyum.


" Iya Pa. Berangkaat ya Ma... " giliran Dimas mencium tangan Bu Fatimah.


" Iya Dim. Mama bawain oleh - oleh ya ! " senyum Bu Fatimah.


" Beres Ma.... "


Ashe membulatkan mata, tak percaya Mamanya juga mulai ngeselin lagi.


" Om, Tante. Saya pulang dulu ya. Maaf kalau saya ngerepotin dan banyak sikap yang nggak sopan ! " Rozi juga pamit seraya mencium tangan Pak Fajar dan Bu Fatimah.


" Heeeh... siapa yang nyuruh kamu pamit pulang. Kamu harus balik lagi kesini... " Pak Fajar mulai klop dengan Rozi.


Mereka ternyata menghabiskan berjam - jam main gaple tadi malam.


" Iya Om. Nanti kita main gaple lagi ya...? " sahut Rozi.


Dimas mendelik tak percaya. Selera Pak Bos dan calon mertuanya ini sungguh kelas RT / RW. Elengan di kantor dan didepan klien, tapi sungguh berbeda saat dirumah.


" Iya Zi. Sering - sering kesini ya ! " imbuh Bu Fatimah.


Rozi mengangguk.


" Bu...! Aku berangkat ya... " Dimas mendekati Ashe, mengulurkan tangan.


" Iya. Hati - hati ya . Awas itu anjing tetangga kamu... " Ashe mencium punggung tangan Dimas dengan pipinya.


" Udaaah....! Nanti kebablasan.... " tarik Rozi pada lengan Dimas. Ia membaca gelagat Dimas dan Ashe yang mulai umbar kemesraan.


" Apa sih Ozzen...? " keluh Dimas.


" Nanti mesraannya di chattingan aja. Kalau langsung bahaya... " omel Rozi.


Ashe dan Dimas terkekeh. Pak Fajar dan Bu Fatimah hanya tertawa.


Dimas melambaikan tangan. Mereka berangkat ke kampung halaman Dimas di antar Faisal ke bandara. Sementara, Nasrul sudah stand by sejak tadi di mobil.


Ashe juga pamit berangkat kerja. Demikian Pak Fajar. Ashe berangkat bersama Pak Fajar diantar dengan sopir.


****


Ashe berjalan paling belakang melewati lobby mengikuti rombongan Pak Fajar. Bagaimana tidak, Pak Fajar dikawal Ramzi dan Anita yang telah menunggu di pintu masuk. Hanya Faizal yang tak ada karena tengah mengantar Dimas. Semua orang menunduk hormat pada begitu Pak Fajar lewat.


Ashe memasuki lift yang sama. Ia kini berdiri di samping Pak Fajar.


" Nanti kalau kamu nggak ada temen, makan sama Papa aja She... " kata Pak Fajar.


" Aku akan mengajak karyawan di divisi aja Pa. Sekali - kali traktir mereka "


" Ya udah... ! Papa duluan ya... "


Ashe mengangguk. Pintu lift terbuka dan rombongan Pak Fajar keluar. Ashe memang beda lantai dengan Papanya.


Semua karyawan di divisi Ashe berdiri mengangguk hormat begitu Ashe muncul. Ashe membalas dengan senyum.


" Ada yang mau makan siang dengan saya ? " tanya Ashe.


Mereka berpandangan. Pasalnya Ashe terkenal tegas dan galak bagi mereka.


" Ibu yang galak tidak akan memakan anak - anaknya " kata Ashe seolah tahu sungkannya karyawan didivisinya.


Mereka tersenyum.


" Ya Bu. Kita mau... " sahut mereka.


Ashe tersenyum.


" Terima kasih. Anggap saja saya ini teman yang galak ya..." kata Ashe seraya berjalan masuk ke ruangannya.


Ia membuka tabletnya dan memeriksa laporan yang masuk dan menandatangani berkas yang masuk. Setengah jam kemudian, Ashe membereskan mejanya. Ia akan pergi menemui klien. Ashe mengunakan mobil inventaris kantor untuk pergi. Ke sebuah resto yang sudah dijanjikan dan dijadwal Dema.


Ashe memarkirkan mobil. Ia berjalan masuk dan mencari meja untuk duduk. Ashe memesan minum. Sesaat ia menunggu. Seseorang menghampirinya dengan pakaian kantor yang rapi. Tersenyum menyapa Ashe.


" Ashe.... " panggilnya.


Ashe yang sibuk dengan gawainya mendesah berat. Ia khatam sekali dengan suara itu. Ashe menengadah. Seseorang tersenyum menatap Ashe.


" Bu Ashena Adenia... JAE Grup ? " sapanya.


" Iyaaa.... " sahut Ashe malas.


Moodnya langsung anjlok saat itu juga. Karena apa ? Itu Aditya Fira. Mantan Ashe.


" Boleh duduk... ? Saya dari ARASA "


" Ya silahkan... " Ashe menyahut malas.


" Apa kabarnya She ? Kamu tambah cantik sekarang ! " pujinya.


" Seperti yang kamu liat sekarang.. " Ashe udah jelas jengah. Ia sudah pasti malas menghadapi Adit.


Ting,


Hp Ashe berbunyi. Ashe meraihnya. Membaca chat dan mengacuhkan Adit. Adit menatap Ashe.


Dimas : Bu, aku take off dulu ya. Nanti aku bawain sesuatu yang ndesit


abis... 🤭😂😂


Ashe : 🤔🤔🤔


Dimas : Mertua... 🤣🤣🤣


Ashe : 😱😱😱😱😱


Dimas : ❤❤❤❤


Ashe : 😘😘😘


Dimas : 🥰🥰🥰🥰


Ashe tersenyum. Adit nampak memperhatikan Ashe.


" Siapa She ? " tanya Adit begitu Ashe meletakkan Hpnya.


" Bukan ranah kamu untuk bertanya soal itu Dit ! Kita kesini untuk membahas pekerjaan kan ? " Ashe terdengar ketus.


Adit tersenyum.


" Kamu keras kepala sekarang... "


Ashe hanya tersenyum.


" Mana proposal dari atasanmu...? " Ashe mengulurkan tangan kanannya.


Adit memberikan berkasnya. Ashe membuka dan membacanya. Adit nampak memperhatikan Ashe.


" Maaf She, sudah membuatmu seperti ini...! "


" Tidak ada yang perlu dimaafkan Dit... " Ashe cuek.


" Aku dengar kamu sudah putus dengan anak pemilik GG Line ya..? " Adit makin berani bertanya.


Ashe menghela nafas berat.


" Iya. Kenapa ? " Ashe terdengar ketus.


Adit tersenyum.


" Aku punya kesempatan dong... "


" Nggaaak. Takut kalah saing sama atasan loe... " sewot Ashe.


Adit terkekeh.


" Aku sudah tak begitu lagi She. Aku fokus membantu bisnis ayahku sekarang... " sahut Adit.


" Dit.... ketika aku naik motor dan masuk lubang di jalan rusak, maka besok aku akan mengingat jalan itu dan lebih berhati - hati... "


Adit tersenyum.


" Kamu sangat bijaksana sekarang. Apa kamu sudah punya pacar ? "


" Calon suami lebih tepatnya...! " ralat Ashe.


" Ohh... benarkah ?? Siapa dia ? Apakah dia seorang pengusaha ? "


" Bukaaan. Dia OB....! "


" Apaaa ? Nggak mungkin seleramu cuma OB She...? "


" Cuma OB itulah yang sadar diri dan beretika... "


Adit terdiam tak percaya.


" Kau harusnya mencari yang lebih selevel denganmu She. Bagaimana pun kamu juga harus memikirkan kedudukan orang tuamu... "


" Orang tuaku tidak pernah memandang kedudukan seseorang kecuali karena etikanya...! Aku mau proposal ini di perbaiki. Hubungi sekretarisku untuk presentasi . Waktuku habis. Aku ada rapat di kantor... " Ashe meletakan proposal Adit di meja. Meminum minumannya.


Tanpa menunggu Adit bersuara, Ashe membereskan Hp dan tasnya.


" Kamu mau kemana She...? Ada baiknya kalau kita makan dulu... " cegah Adit.


" Maaf Dit. Aku harus pergi... " Ashe berdiri dari kursinya dan meninggalkan selembar uang untuk membayar minumannya.


Ashe melangkah meninggalkan Adit yang hanya bisa memandang mantan pacarnya itu. Mantan yang dia khianati karena Adit tak bisa LDR lama dan tergoda dengan bosnya.