Perfect Boy

Perfect Boy
61. Menikah



Ashe mendelik kesal.


" Ayo turun... " ajak Dimas.


Ashe menatap keluar dan membuka pintu. Rumah Dimas sudah ramai dan berpasang - pasang mata langsung menatap ke arah kedatangan mereka. Dimas langsung mengenggam tangan Ashe dan menyalami para tetangganya satu persatu. Bu Izun dan Silia datang menyambut mereka. Dimas bahkan mengajak Ashe bersalaman hingga dapur yang sudah di penuhi tetangga yang sibuk membantu acara hajatan.


" Iki calonne yo Mas Dim...! Ayu tenan lhooo... " sapa para tetangga.


" Iyo Budhe... " sahut Dimas. Ashe hanya tersenyum. Ia tak bisa bahasa jawa, tapi tahu apa yang mereka ucapkan.


" Halaaah.... ayu anakku...! Wes bidan meneh...! " celetuk seorang ibu - ibu dengan wajah sewot sambil mengulek bumbu. Tetangga lain cuek, tak ada yang menanggapi. Seolah sudah khatam dengan tingkahnya.


Dimas hanya tersenyum. Ashe langsung konek ke otaknya. Dimas permisi dengan ibu - ibu itu. Ashe melempar senyum yang langsung diangguki ibu - ibu. Seolah menyuruh Ashe segera meninggalkan dapur dan tak perlu mendengar ocehan emak gambreng di kampung mereka.


" Itu maknya " anjing tetangga " ya ? " bisik Ashe.


Dimas tertawa sambil mengandeng Ashe masuk ke ruang utama.


" Kamu tahu aja sih Buu... " kata Dimas sambil membuka pintu sebuah kamar.


" Istirahat dulu Bu, ini kamarku... eh bukan, kamarmu sekarang... "


Ashe tersenyum. Melihat sekeliling. Kamar Dimas memang tak luas dan terkesan begitu sederhana. Tapi cukup nyaman dengan kasur yang cukup untuk 2 orang. Ashe langsung masuk dan rebahan di kasur. Dimas menutup pintu seraya tersenyum.


" Cuma kamar mandinya di belakang Buu... " kata Dimas sambil membuka jendela. Hawa segar langsung masuk meski sedikit terganggu oleh aroma masakan.


" Nggak papa Bie... ! Toh, aku kan aman sampai semua orang pergi... " sahut Ashe.


Ashe mengoyang - goyangkan kakinya di kasur. Merasakan nyaman di kakinya.


" Apanya yang aman ? " tanya Dimas sambil duduk di samping Ashe. Ia melepas sepatunya.


Ashe melirik Dimas kesal. Dimas terkekeh.


" Istirahat dulu, sebelum banyak tamuuu..."


Yang diajak bicara diam saja. Dimas menoleh dan tertawa sendiri. Dimanapun asal itu kasur Dimas, Ashe langsung nyaman dan memejamkan mata. Dimas keluar dan menutup pintu kamar. Di ruang tamu, keluarga Dimas sudah berkumpul. Faisal dan Lino muncul dan membawa koper Ashe dan Dimas. Tampak para tetangga yang membantu memasak menyiapkan hidangan.


" Taruh mana Mas ? " tanya Faisal.


" Sini biar aku bawa masuk... " sahut Dimas mengambil alih kopernya dan Ashe. Memasukkan ke dalam kamar.


" Nasrul kemana Bang Isal...? " tanya Dimas, ia tak melihat Nasrul di sana.


" Izin minta cutiii.... " sahut Faisal.


Dimas mengenyit. Silia juga tak tampak, Dimas tersenyum meraih Hp di saku celananya. Menghubungi seseorang tapi tak diangkat.


Dimas bergabung dengan keluarganya dan makan bersama tanpa Ashe.


" Abangg.... " senggol Rozi. Dimas yang duduk bersila di tikar menoleh.


" Apaaaa ??? "


" Bagi duiiiit....!! "


" Buat apa ? Atmmu itu penuh duit... "


" Mau ngajak Emoo jalannn... " bisik Rozi.


Dimas menatap Rozi aneh.


" Ayolaaah....! Sore ini masih bisaaa....! Besok kan udah terima tamuuu.... " senggol Rozi lagi.


" Berapa ? "


" Terserah Abang ngasihnya....! "


Dimas mendengus kesal. Rozi pasang muka memelas pada calon manten itu. Dimas beranjak. Ia menuju kamar. Mencari dompet yang tadi sengaja ia letakkan di laci mejanya. Ashe masih terlelap. Nasrul sengaja menarik tunai dan menjejal dompet Dimas dengan uang chas. Dimas menarik beberapa lembar merah dan mengantonginya. Kemudian ia keluar lagi.


Dimas langsung duduk kembali ke tempatnya, di sebelah Rozi. Dimas memberikan uang saat tak ada yang memperhatikan mereka. Pak Fajar dan Pak Kibul tampak sudah selesai makan dan kini keluar rumah. Melihat persiapan pemasangan dekor. Faisal dan Lino membuntuti mereka berdua.


Bu Izun dan Bu Fatimah malah ikut bergabung dengan ibu - ibu. Dimas selesai makan. Seorang ibu tetangga siap membereskan bekas makan mereka.


" Budhe, sek dhe, aku rung maem....! " kata Dimas.


" Oh, yo gek maemm.... " sahutnya.


" Aku tak njipuk wae nek arep di beresin... "


" Yo maem sek Mas, dipenakke wae...! Engko tak mrene meneh " tetangga Dimas kembali ke dapur.


Padahal Dimas sudah makan, tapi kan sang calon istrinya belum 😊. Dimas meletakkan hp yang tadi dipakai untuk memeriksa laporan. Ia buru - buru mengambil nasi lengkap dengan lauknya. Juga mengambil segelas teh untuk Ashe.


" Kalian jadi pergi ? " toleh Dimas melihat Rozi dan Dema berkemas.


" Iya. Kenapa Bang...? Nggak laama kok... " sahut Rozi.


" Beliin air mineral ya... " pesan Dimas sambil masuk menuju kamarnya.


Terdengar Rozi mengiyakan.


****


" Bieeeee.... "


" Heeeh.... " Dimas menoleh kaget karena berjalan menyamping sebari membuka pintu dengan sikunya. Kedua tangannya menyangga piring dan membawa gelas.


" Kamu udah banguuun...? " tanya Dimas sebari meletakkan makanan di meja.


" Mataku ngantukk, tapi hidungku mencium aroma yang membuat perutku laparr... " sahut Ashe sambil bangun dan duduk di kasur. Matanya bahkan belum terbuka sempurna.


" Kamu kan ahli penciuman...! Makan dulu...! Aku ambilin air putih... " Dimas hendak keluar, tapi terdengar Rozi di depan pintu. Dimas membuka pintu dan membawa sekardus air mineral gelas dengan penuh senyum.


" Ini air mineralnya Tuan....! Aku juga yang beliii... " seloroh Rozi.


Dimas menyungging senyum di bibirnya. Menerima kardus itu.


" Istirahat aja dulu Bang....! Ntar malem, pasti udah mulai ada tamu... " si adik ini mulai nasehati abangnya.


" Iyaa adikku sayang...! Cepet loe pulang...! Abis acara, loe masih bisa puas jalan - jalan... " sahut Dimas.


" Wasiaapp... "


Dimas berbalik dan menutup pintu. Meletakkan kardus minuman di lantai. Ashe sudah berisut mengambil piring dan mulai makan. Ia duduk bersila ngampar di lantai. Dimas mendekati dan duduk di kasur bersampingan dengan Ashe.


" Makannya pelan...! Kalau mau nambah nanti aku ambilin... " kata Dimas mulai membuka koper dan mengeluarkan isinya.


" Kamu udah makan Bie ? "


" Udaah, tadi bareng - bareng ! Mau bangunin kamu tapi kasihan... "


" Ini enak Bie...! Kenapa kamu ngambil lauknya sedikit ? " protes Ashe.


Dimas tertawa tertahan.


" Iyaaa... " Dimas beranjak dan keluar kamar.


Makanan yang dihidangkan di meja ternyata belum ada yang beresin. Dan rumah Dimas mulai lalu lalang orang dan penuh makanan. Dimas mengambil piring dan mengisi hanya dengan lauk. Ia juga mengambil suguhan yang ada. Membawanya ke kamar.


" Itu banyak sekali Bie.... " Ashe bengong begitu Dimas meletakkan piring di depan Ashe.


" Kamu kan ular...! Makannya sekali doang, banyak, buat berapa hariii... " ledek Dimas sambil menata bajunya dan baju Ashe di lemari.


" Hehehe... " gitu doang sahutan Ashe.


" Kamu udah berapa hari mensnya Bu...? "


" Tiga hari...! Kenapa ? "


" Ya kira - kira aja...! Kapan bisa malam pertama... ? " kekeh Dimas.


" Udahh, kelar hidupppku.... "


" Hahhahhaaha.... "


" Seneng bangeeeet.... "


" Iyalahhh....! Bahagia sebelum ketemu " anjing tetangga".... Hahhaha.... "


" Apaaa itu cobaaa....? " Dimas menahan senyum.


" Kayak apa sih Bie...? "


" Cantiiik.... "


" Kamu yang suka apa dia yang suka ? "


" Takon opo kuii ? Kan koe cinta pertama pada pandangan pertama Bu.... "


" Cieee.... cieee... "


" Gek dientekke...! "


" Ehhmmmm.... "


" Piringnya mau ku cuci... " iseng Dimas mengambil piring di tangan Ashe.


" Hiiiih.... Bieeeee... " sewot Ashe.


Dimas tertawa. Ashe menjejalkan makanan ke mulutnya.


" Pelan. Nanti perutnya sakit kalau terlalu banyak makan.... "


" Bukaaan.... "


" Apaaa....? "


" Ngantuuuukkk.... "


Dimas tertawa. Ashe menyudahi makannya dan minum. Dimas membereskan piring Ashe dan membawanya keluar. Ashe mengikuti Dimas. Tapi bingung mau ngapain.


" Mandi, ganti baju...! Takutnya udah ada tamu... " kata Dimas seolah tahu kebingungan Ashe.


Ashe mengangguk. Ia kembali ke kamar dan mengambil baju. Diantar Dimas, ia pun pergi mandi.


****


Benar saja, malam itu tamu sudah ada yang datang. Cukup larut mereka menyapa para tamu hingga Ashe minta pamit. Hanya Dimas yang masih bertahan ngobrol dengan para tetangga, remaja kampung dan juga sepupu - sepupu Dimas. Saat menyusul Ashe ke kamar, Ashe sudah tertidur lelap.


Esok harinya pun. Full mereka terima tamu hingga malam. Hingga keesokan harinya tiba akad nikad. Semua persiapan memang sudah matang dari segala hal. Dimas pun mengucapkan akad nikah dengan tenang dan lantang. Sah, kini Ashe dan Dimas resmi menjadi suami istri.


Selesai akad mereka pun mengelar acara resepsi. Ashe mengikuti prosesi acara dengan antusias dan kagum. Meski badannya rasanya remuk karena banyaknya acara dan banyaknya salaman dengan tamu. Apalagi Dimas memakai adat jawa. Jadi benar - benar penuh tradisi.


Untungnya hari terakhir, jam 13 : 00 wib acara resepsi selesai. Semua undangan bubar demikian juga para tetangga yang sudah 3 hari membantu acara di rumah Dimas. Hingga tinggal keluarga dari Pak Kibul dan Pak Fajar serta anak - anak KKN yang tinggal di rumah Dimas.


Ashe dan Dimas selesai berganti baju. Perias pengantin juga sudah pamit pulang.


Ashe duduk di kursi meluruskan kakinya. Dimas tersenyum seraya membawa air minum dan duduk di depan Ashe.


" Capeek ya....? " senyum Dimas seraya menyodorkan minum.


" Lumayan Bie...! " sahut Ashe. Ia mengambil gelas dari tangan Dimas dan minum.


" Aku akan bantu bersih - bersih dulu Bie... " imbuh Ashe. Ia melihat yang lain memunguti sampah - sampah yang berserakan.


" Nyonya bisaaa....? " ledek Dimas.


" Aku kan istri OB.... " sungut Ashe membuat Dimas tertawa. Tak urung. Ia juga ikut membantu bersih - bersih.


****


" Tangan Papa jadi kapalan.... " keluh Pak Fajar. Ia kini tengah duduk bersantai bersama dengan Pak Kibul, Rozi, Dimas, Nasrul, Lino dan Faisal. Kini tinggal keluarga dua penganten itu. Kerabat Pak Kibul dan Bu Izun juga sudah pamit pulang istirahat. Sementara Bu Fatimah, Bu Izun, Ashe, Dema dan Silia masih sibuk beberes.


" Emang Papa habis angkat besii...? " celetuk Rozi yang duduk bersila tengah makan. Sudah lewat tengah hari ia baru sempet makan.


Nasrul, Lino dan Faisal apalagi. Mereka kini juga menikmati makanan siang dan sore dengan santai.


" Bukan...! " sahut Pak Fajar.


" Terus apa ? Jangan buat teka - teki... " tepis Dimas yang malah rebahan di tikar berdampingan dengan segala makanan dan suguhan yang sengaja di hidangkan untuk keluarga. Pinggangnya terasa encok.


" Kamu ini kayak ceweeekkk.... ! Mletreeee.... " sindir Pak Kibul.


" Isssh.... Abang nih....! Orang terkenal sekarang....! " elak Pak. Fajar.


" Terkenal apaa....? " sahut Pak Kibul.


" Terkenal satu provinsi kayaknya. Aku ampe bingung kenapa tamunya bisa begitu banyak...? Tanganku kebas ini Bang...! Mulutku nggak bisa balik cemberut... "


" Hehehehe.... "


" Papa lebayy...! Lagian itu duitku yang buat nyumbang kemana - mana " celetuk Dimas dengan mata terpejam. Rasanya mengantuk sekali. Dimas merasa matanya di gelayuti monyet sekandang - kandang😂.


" Kan Bapak nggak tegaan Nak... " Pak Kibul membela diri.


" Tahuu ahhh.... " Dimas meringkuk.


Tak lama, dengkuran halus terdengar. Faisal dan Nasrul tertawa.


" Pak Bos tumbang juga akhirnya.... " celetuk Nasrul.


" Orang dia bergandang muluu... " sahut Faisal.


" Untung Mbak Ashe lagi baik hatiii.... ! Coba kalau udaah kena sindrom Mamak sama Mama....! Bang Dimas di bayclin sebersih - bersihnya.... " imbuh Rozi.


" Berisiiiikkk.... " mulut Dimas masih bisa nyahut hingga mereka tertawa. Faisal, Rozi dan Nasrul bergegas menyelesaikan makan. Pasalnya si Ibu negara terdengar mulai mengabsen nama mereka.


Pak Fajar dan Pak Kibul tertawa melihat mereka bertiga kelabakan. Rozi, Faisal dan Nasrul langsung meletakkan piring dan bergegas ke dapur. Hanya Lino yang sering aman diantara mereka.


Ternyata, mereka kebagian tugas menggosok panci gosong😅😅.


Rozi langsung manyun.


" Semangat Ozeeen.... " lirik tajam Dema membuat Rozi langsung kecut.


" Ayo Mas.... " senggol Silia pada Nasrul yang dari tadi linglung melihat banyaknya panci kotor.


" Untung istriku di rumahh...! Jadi tak ada yang membuatku takuut... " celetuk Faisal.


"Eeeehhh, iki emak e Dimas neng kene. Dimas ki Bosmu to...? Saiki aku emak e Bosmu...! " sentil Bu Izun dari belakang.


Nasrul dan Faisal langsung tertawa mengejek. Faisal jadi manyun. Bersama Nasrul dan Rozi akhirnya mereka menggosok panci dan juga peralatan kotor yang lain.


" Ayo, semangatt....! Saya mandoriiinnn.... " kata Ashe padahal sambil berlalu.


" Jangan ngikut Pak Dimas jadi kejam Buuu.... " sahut Nasrul.


" Emang si OB itu kejam...? " tanya Ashe.


" Kadaaaanggg....! "


" Kenapa bisa....? "


" Karena Bu Ashelaaaah.... "


" Diiihhh....! Aku dibawa - bawa.... " sungut Ashe masuk ke dalam. Ia melihat Dimas tidur meringkuk diantara makanan dan suguhan. Sendirian. Karena Pak Kibul dan Pak Fajar terlihat di depan melihat orang membongkar tenda.


Ashe masuk kamar. Ia sebenarnya sangat lelah. Tapi rumah mertuanya begitu berantakan sehabis pernikahannya dan Dimas. Jadi Ashe hanya memeriksa Hpnya dan keluar lagi. Kembali membantu beberes segala hal.